My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Annisa..



Karena desakan istrinya, akhirnya Pak Handoko mencabut laporannya perihal kasus pemukulan yang dilakukan oleh paman kepada anak buahnya.


Akhirnya paman bisa bebas, hal ini tentu disambut gembira oleh istrinya.


Aditya mengantarkan paman kembali kerumah.


Selama di dalam perjalanan, Aditya menanyakan beberapa hal kepada paman, masih banyak yang masih belum dia mengerti.


Terutama tentang Annisa, seorang wanita yang selama ini dikenal Aditya sebagai pengusaha sukses, bahkan dia termasuk salah satu wanita paling berpengaruh di negeri ini karena kesuksesannya yang telah banyak menginspirasi banyak wanita lainnya.


Aditya sungguh tak menyangka bahwa wanita itu adalah ibu kandung dari Fatimah, istrinya.


Dari paman, Aditya kini mengetahui akan hal yang sebenarnya terjadi, ternyata disaat usia Fatimah berumur 2 tahun, ibunya pergi meninggalkan anak dan suaminya, karena tergoda akan rayuan Pak Handoko yang pada saat itu adalah adalah salah satu investor di pabrik teh milik kakek Fatimah, rupanya pak Handoko yang duda dan mempunyai 2 orang anak, jatuh cinta kepada Annisa dan berhasil merayunya untuk ikut bersamanya.


Aditya merasa iba, ternyata nasib Fatimah tidak beda jauh dengan Zahra anaknya, dia juga memikirkan bagaimana perasaan Fatimah apabila mengetahui semuanya, tentu akan membuatnya sedih dan terguncang.


"Paman harap kamu bisa mencegah Handoko dan Annisa menemui Fatimah.."


Aditya mengangguk.


"Jangan sampai Fatimah mengetahui hal yang sebenarnya.."


"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Fatimah tidak boleh mengetahui yang sebenarnya.."


Sesampainya mereka dirumah, Aditya segera pamit untuk segera kembali ke kota, dia takut Pak Handoko dan istrinya mendahuluinya dan datang kerumah untuk menemui Fatimah.


Aditya segera menaiki helikopter untuk segera kembali ke kota, tak butuh waktu lama, dia sampai di kota dan segera menaiki mobil untuk kembali kerumah.


Akhirnya Aditya sampai dirumah, sebelum masuk ke dalam, Aditya mengumpulkan semua security di rumahnya di depan pos penjaga.


"Mulai hari ini, perketat keamanan, kalau ada tamu yang datang, apalagi mau bertemu dengan istri saya, segera lapor kepada saya..tidak boleh masuk tanpa seizin dari saya, siapapun itu..mengerti..?"


Semua security mengangguk tanda mengerti.


Aditya berjalan masuk ke dalam rumah, sudah pukul empat sore hari, biasanya di jam segini Fatimah sedang bermain main di halaman belakang bersama Zahra dan Zidane.


Benar saja, Fatimah sedang menggendong Zidane, melihat Zahra yang sedang bermain.


Fatimah berjalan menyambut suaminya.


"Tumben sudah pulang.."


Aditya mencium kening istrinya dan Zidane.


"Pekerjaanku hari ini tidak banyak.."


Fatimah menelisik wajah suaminya, dia melihat ada sesuatu di raut wajahnya.


"Ada apa..?"


Aditya kaget.


"Apanya..?"


"Kamu terlihat aneh.."


"Aku hanya capek.." Aditya berusaha tersenyum.


"Pergilah ke kamar, sebentar lagi aku menyusul..."


Aditya mengangguk.


Aditya sungguh tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini, perasaan yang campur aduk antara marah, kesal dan benci kepada Pak Handoko dan istrinya, juga ada semacam rasa khawatir seandainya Fatimah akhirnya mengetahui semuanya.


Aditya mengetahui benar sifat Fatimah yang baik hati, dia tahu benar Fatimah tidak pernah menyimpan dendam dan benci kepada orang lain, juga sifatnya yang mudah mengasihani orang lain. Seandainya Fatimah sudah mengetahui semuanya, Aditya takut sifat istrinya itu akan dimanfaatkan oleh Pak Handoko dan istrinya untuk dengan gampang merayu Fatimah agar mendonorkan ginjalnya.


Dia tidak akan membiarkannya, Fatimah tidak boleh mengetahui yang sebenarnya, karena dia tidak akan membiarkan istrinya memberikan ginjalnya pada orang lain, sekalipun itu ibu kandungnya sendiri.


Aditya sangat mencintai Fatimah, tak akan dia biarkan siapapun menyakiti istrinya, tak akan dia membiarkan Fatimah bersedih dan terluka.


Annisa terbaring di ranjang rumah sakit, dia baru saja melakukan cuci darah, sesuatu yang harus dia lakukan terus karena ginjalnya sudah benar benar tidak berfungsi.


Annisa mengambil ponselnya, dia membuka beberapa akun berita.


Dia menulis Aditya Pratama di kata kunci pencarian.


Tak lama muncullah gambar Aditya dan berita seputar dirinya yang terbaru.


Annisa membuka salah satu berita, dimana disana menunjukkan dengan jelas sosok Fatimah, istri Aditya.


Annisa memandangi wajah Fatimah.


Tak terasa air matanya berderai membasahi pipinya.


"Anakku..kamu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.."


Annisa terus mencari tahu tentang Fatimah, air matanya semakin dengan deras keluar setelah mengetahui bahwa Fatimah baru saja melahirkan seorang anak laki-laki.


"Ya Tuhan..Aku sudah jadi nenek.."


Seseorang membuka pintu kamarnya, dengan segera Annisa menghapus air matanya dan dan menyimpan ponselnya.


"Mama.." Seorang wanita cantik seumuran Fatimah menghampirinya dengan wajah berseri-seri.


Annisa menyambut wanita itu, dia mengangkat kedua tangannya dan mereka saling berpelukan.


"Bagaimana kabar mama hari ini..?"


"Baik sayang.."


"Syukurlah ma..aku tidak bisa fokus bekerja di kantor karena terus memikirkan mama.."


Annisa tersenyum.


"Mama baik baik saja..kamu jangan khawatir.."


"Aku belum bisa tenang kalau mama belum menemukan pendonor ginjal.."


"Seandainya ginjal aku dan kak Kevin cocok, pasti sekarang mama sudah sembuh.."


Annisa tersenyum.


"Tidak apa apa, perhatian dan kasih sayang kalian sudah cukup untuk mama.."


"Kenapa ginjal kita tidak cocok, bukankah aku dan kan Kevin anak kandung mama..?"


Annisa terdiam.


"Tidak semua ginjal orang tua dan anaknya akan cocok sayang.."


"Tapi itu sangat aneh.." Gumam gadis itu.


"Oh iya..kak Nadya akan kesini nanti membawa Nabila, katanya Nabila kangen banget sama mama.."


"Mama juga sangat kangen sama cucu mamah itu.."


"Kak Kevin masih di luar negeri, sembari mengurus pekerjaan disana, dia terus mencari cari ginjal untuk mama.."


"Mama tahu..mama beruntung mempunyai dua anak seperti kamu dan Kevin.."


"Karena mama adalah mama terbaik di dunia.." Mereka saling berpelukan.


"Cepat sembuh ma..aku tidak mau sesuatu terjadi kepada mama.."


Annisa meneteskan air mata.


"Aku bukan ibu yang baik.. seandainya kalian tahu yang sebenarnya.."