
Mang Redo kaget melihat kedatangan Angga.
"Apa yang Anda lakukan disini..?" Tanya Mang Redo heran.
Angga tak menjawab, dia hanya tersenyum dan menghampiri Dokter.
"Segala sesuatu tentang Ibu Fatimah, saya yang akan bertanggungjawab jawab.."
Fatimah dan semua orang disana kaget dengan ucapan Angga.
"Apa anda suaminya..?" Tanya Dokter.
Angga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini, suaminya tidak bisa menemaninya dok.."
Dokter mengangguk.
"Begini..kehamilan Ibu Fatimah mengalami Plasenta Previa , itu keadaan dimana plasenta menghalangi jalan lahir, sebenarnya ini tidak mungkin terjadi di kehamilan pertama, akan tetapi mendengar ibu pernah melakukan operasi sebelumnya karena kista maka itu bisa saja menjadi penyebabnya.."
"Apakah itu berbahaya dok..?" Tanya Angga.
"Bisa iya bisa tidak..iya kalau Ibu Fatimah mengalami pendarahan terus menerus, bisa membahayakan ibu dan bayinya, oleh karena itu dianjurkan untuk ibu Fatimah agar Bedrest, istirahat total.."
"Kegiatan yang menguras fisik sangat tidak dianjurkan dan tentu saja tidak boleh stres.."
Fatimah menangis.
"Tapi bayi saya baik baik saja kan dok..?" Tanya Fatimah dengan terisak.
Melihat Fatimah menangis, Ibu Sri dan Mbak Wati menghampiri Fatimah untuk menenangkannya.
"Untuk sekarang baik baik saja asal ingat pesan saya untuk istirahat total dan yang paling utama jangan banyak pikiran.."
Fatimah mengangguk.
"Sekarang Ibu boleh pulang.."
"Segera datang ke rumah sakit kalau terjadi pendarahan lagi.."
Dokter meninggalkan mereka semua.
"Nak.. jangan banyak pikiran.." Ucap Ibu Sri.
Fatimah mengangguk dan melihat Angga.
"Apa yang Kak Angga lakukan disini..?"
Angga tersenyum.
"Aku mengikuti bapak itu.." Jawab Angga menunjuk ke Mang Redo.
"Aku mencurigai orang orang di rumah kamu lah yang telah membantu kamu bersembunyi, mengingat kamu tidak membawa apapun.."
"Aku tadi kerumah mu untuk bertemu dengan Ayu, dan tiba tiba aku melihat bapak ini pergi dengan terburu buru dan aku mengikutinya.."
"Dan ternyata dugaan aku benar..kamu bersembunyi dirumah bapak ini.."
Mang Redo mengangguk mengerti, dia memang melihat Angga tadi dirumah Aditya sedang mengobrol dengan Ayu di depan rumah, dia tidak menyangka kalau Angga akan mengikutinya.
Setelah menyelesaikan semua administrasi, akhirnya mereka kembali kerumah.
"Maaf Fatimah, aku tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kamu dengan Aditya, akan tetapi kamu tidak mungkin terus bersembunyi seperti ini dari Aditya.."
"Apalagi di tengah kondisi kehamilan kamu yang seperti ini, aku rasa kamu harus memberitahu Aditya.."
Fatimah menunduk.
"Tapi kak..Fatimah belum siap bertemu dengannya sekarang.."
"Aku mengerti..aku tidak bisa memaksa, sekarang kamu harus ingat pesan dokter, kamu harus istirahat total dan jangan banyak pikiran.."
"Kamu harus menjaga dengan baik kandungan kamu.."
Fatimah mengangguk.
"Kamu tidak keberatan aku kembali lagi kesini dan melihatmu..?"
Fatimah menggeleng.
"Tentu saja tidak kak.. Fatimah malah ingin mengucapkan banyak terima kasih.."
Fatimah bersyukur Angga datang dan membayar semua tagihan rumah sakit, Fatimah tidak tega kalau harus Mang Redo yang membayar.
Angga meninggalkan rumah Mang Redo dan diam-diam tanpa sepengetahuan Fatimah memberikan uang yang cukup kepada Ibu Sri dan Mbak Wati.
Angga meninggalkan juga nomor ponsel miliknya kepada mereka, dan meminta mereka menghubunginya dengan segera apabila terjadi sesuatu kepada Fatimah.
"Saya titip Fatimah, tolong pergunakan uang ini untuk memenuhi semua kebutuhannya.."
-----
"Maafkan mama nak..ini semua salah mama.."
"Kamu harus kuat..jangan menyerah.."
"Karena kamu sumber kekuatan mama.."
Fatimah mengelus perutnya dengan lelehan air mata di pipinya.
Mbak Wati datang menghampiri Fatimah dengan membawa segelas air dan obat milik Fatimah.
"Terimakasih mbak.. kalian sudah sangat baik kepada saya.."
"Saya sudah banyak merepotkan kalian semua.."
Mbak Wati tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Justru saya yang mengucapkan terimakasih karena Nyonya dan Tuan sudah banyak membantu keluarga saya selama ini.."
"Sudah saya bilang, jangan panggil nyonya.."
Mbak Wati menggeleng.
Dia dan suaminya tidak akan pernah melupakan jasa Fatimah dan Aditya dulu yang telah membantu membiayai biaya rumah sakit anaknya yang akan dioperasi.
-------
Fatimah terbangun tengah malam, teringat akan Zahra dan kali ini kerinduannya kepada Zahra tidak tertahankan lagi.
Fatimah menangis, sekuat apapun dia menahan, air matanya tumpah tak tertahankan, rasa rindu yang menyakitkan ini membuat Fatimah lupa akan nasihat dokter agar dirinya tidak banyak pikiran dan stres. Untuk sementara dia hanya ingin menangis berharap beban rindu di hatinya kepada Zahra akan berkurang.
"Zahra.."
Hanya itu nama yang terus diucapkannya.
"Nak.."
Suara Ibu Sri mengetuk pintu mengagetkan Fatimah.
Fatimah berdiri dan membuka pintu.
Ibu Sri memeluk Fatimah.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, dan jangan juga menyiksa Nona Zahra.. pulanglah.."
"Ibu benar..saya tersiksa karena merindukan Zahra, saya takut Zahra juga tersiksa karena saya.."
Fatimah memeluk Ibu Sri semakin erat.
Tiba tiba..
Mang Redo keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa..?" Tanya Ibu Sri.
Mang Redo terdiam melihat Fatimah.
"Saya harus segera kerumah tuan Aditya.." Jawab Mang Redo terbata bata.
"Ada apa..?" Tanya Fatimah dengan suara bergetar. Dia tahu terjadi sesuatu dirumahnya.
"Nona Zahra sakit.. Neng Ayu menyuruh saya segera kesana karena Nona Zahra akan dibawa ke rumah sakit.."
Fatimah tersentak kaget.
Badannya terhuyung, untung Ibu Sri dengan sigap memeganginya.
"Saya ikut Mang.."
"Jangan Nak..kamu nanti saja menyusul, kamu masih kaget..ingat kandungan kamu nak.."
Fatimah mengangguk sambil menangis tersedu memikirkan Zahra yang sakit, badannya kini sangat lemah bahkan untuk berdiri sendiri saja dia tak sanggup.
Mang Redo segera pergi dengan terburu-buru.
Tiba tiba..
"Nak..apa ini..?" Tanya Ibu Sri menunjuk ke sela sela kaki Fatimah yang mengucur darah segar.
Fatimah kaget.
"Bu..saya pendarahan.." Jawab Fatimah semakin lemas.
Mbak Wati dengan segera menghubungi Angga.