
Semua orang telah kembali kerumahnya masing masing, kini Zahra semakin ketakutan karena tidak akan ada lagi yang membelanya dari kemarahan Aditya, ayahnya yang masih terlihat marah.
Zahra berdiri tegap dihadapan Aditya yang duduk di kursi dengan menatapnya tajam, sementara Fatimah berdiri di samping Aditya dengan cemas, dia tahu, suaminya itu sangat marah kepada putrinya, dan kali ini dia tidak bisa menolongnya dari kemarahan ayahnya.
"Sebutkan semua kesalahan kamu hari ini.."
Zahra terlihat menunduk.
"Berbohong kepada mama dan papa.." Jawab Zahra pelan
"Apa lagi..?" Tanya Aditya.
Zahra terdiam dan menunduk.
"Membuat semua orang khawatir.." Jawab Zahra pelan.
"Apa kami pernah mengajarkanmu untuk berbohong?" Tanya Aditya lagi.
Zahra menggelengkan kepalanya.
"Niat baikmu untuk menolong orang lain itu benar dan baik, tapi cara yang kamu lakukan salah.." Ucap Aditya lagi.
"Kami berbohong kepada mama dan papa, dan itu sangat fatal.."
"Kamu pasti tahu, kalau papa sangat tidak suka dengan kebohongan.."
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Itu berarti kamu akan mendapatkan hukuman.." Lanjut Aditya
Zahra dan Fatimah kaget.
"Sayang.. jangan terlalu keras kepadanya, dia memang salah sudah berbohong kepada kita, tapi kita harus menghargai niat baiknya yang ingin menolong orang lain.." Fatimah mencoba merayu suaminya.
Aditya berdiri dan melihat Fatimah.
"Tapi dia tetap harus mendapatkan hukuman atas perbuatan salahnya karena telah berbohong kepada kita.."
"Aku tahu, tapi berbohong untuk kebaikan sepertinya itu tidak apa apa.." Bisik Fatimah masih berusaha merayu suaminya.
"Apa maksudmu, berbohong tetap saja berbohong,..dan itu tetap tidak boleh dilakukan.." Jawab Aditya kesal.
"Tapi kadang kala, kalau keadaan terpaksa berbohong sedikit itu tidak apa-apa.." Bisik Fatimah lagi semakin pelan.
Dia tidak ingin Zahra mendengar perkataannya yang salah, biar bagaimanapun berbohong tetaplah tidak baik, dan Fatimah melakukan itu hanya karena ingin membebaskan putrinya dari hukuman Aditya.
"Apa..?" Aditya kaget, dia melihat Zahra yang kini tengah melihat dirinya dan Fatimah yang sedang berdebat.
"Perdebatan kita ini, akan membuat Zahra kebingungan, kamu dan aku seharusnya kompak.." Bisik Aditya semakin kesal.
Fatimah melihat Zahra yang melihat kedua orang tuanya dengan heran.
Fatimah tersenyum kepadanya
"Tunggu sebentar sayang.." Ucap Fatimah kepada Zahra lembut.
"Kamu terlalu memanjakannya.." Bisik Aditya lagi dengan kesal.
"Bukan memanjakannya sayang..tapi kita harus mengapresiasi tindakannya yang mau membantu nenek itu.." Jawab Fatimah masih berbisik.
"Kamu tahu, kalau kamu membelanya seperti ini, aku pastikan dia akan mengulangi perbuatannya seperti tadi.."
Zahra terlihat heran melihat tingkah orang tuanya yang berbicara dengan berbisik.
"Aku jamin tidak akan sayang..aku sangat tahu sifat anakku, dia tidak akan pernah lagi berbohong kepada kita.." Fatimah merayu suaminya, dia mengelus halus dada Aditya sambil tersenyum manis kepadanya.
Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
Dia kemudian melihat Zahra yang masih berdiri di depannya.
"Kali ini kamu selamat karena ibumu, tapi jika kamu melakukan perbuatan seperti tadi siang lagi, papa pastikan kamu akan mendapatkan hukuman.."
"Jangan pernah melakukan hal yang seperti tadi, jika ingin menolong seseorang, berbicaralah dengan mama dan papa, kita akan melakukannya bersama-sama.."
"Dan kamu harus tahu kamu masih terlalu kecil berkeliaran di jalanan sendirian, diluar sana sangat berbahaya untuk anak seumuran kamu.."
"Papa harap kamu tidak mengulanginya lagi, dan papa harap kamu mendengarkan semua perkataan papa tadi.."
Zahra mengangguk, dia melihat Fatimah yang memberi kode secara diam-diam kepadanya untuk memeluk ayahnya.
Zahra menghampiri Aditya kemudian memeluknya.
"Maafkan aku papa..Aku sayang papa.." Ucap Zahra senang sambil memeluk Aditya.
Aditya melihat Fatimah.
"Kamu bahkan mengajarinya untuk merayu.." Ucap Aditya menunjuk Zahra yang sedang memeluknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Fatimah tertawa cekikikan.
Zahra kemudian berlari menghampiri adiknya yang sedang bermain.
Aditya terlihat berjalan memasuki kamarnya sambil memijit pelipisnya pelan.
Kejadian hari ini sungguh menguras emosinya, bagaimana tidak, Zahra menghilang, dia sudah berpikir macam-macam, hal terburuknya adalah Zahra diculik lagi seperti dulu.
Aditya memasuki kamarnya, diikuti oleh Fatimah yang tahu suaminya pasti merasa kelelahan karena kejadian hari ini.
"Apa kamu mau sesuatu..?" Tanya Fatimah melihat Aditya yang langsung menjatuhkan diri ke kasur.
"Iya.." Jawab Aditya pelan.
"Apa..?"
"Beri lagi aku seorang anak .." Jawab Aditya sambil menarik Fatimah yang berdiri sehingga istrinya jatuh tepat diatas badannya.
Tentu saja Fatimah kaget.
Kini badannya berada telat diatas badan suaminya yang memeluknya erat.
Aditya mengecup bibir istrinya.
"Apa kamu yakin..?Aku lihat satu Zahra saja sudah membuat kamu kewalahan hari ini.." Tanya Fatimah tersenyum.
Aditya tersenyum.
"Kamu benar..entah apa lagi yang akan dilakukannya nanti, aku takut, sifat kepeduliannya yang tinggi kepada orang lain justru akan membahayakan dirinya sendiri.."
"Jangan berbicara seperti itu, sebagai orang tua kita harus selalu mendoakan agar anak anak kita dijauhkan dari musibah dan marabahaya.."
"Itu sudah pasti sayang.."
Fatimah mengecup bibir suaminya.
Aditya kaget, dia kemudian memutar balik badannya, sehingga kini dirinya berada diatas badan istrinya.
"Malam ini tidurkan anak anak dengan cepat, pakai lingerie yang aku belikan kemarin, dan bersiaplah.." Bisik Aditya lembut.
Fatimah terlihat mengangguk-anggukan kepalanya sambil tertawa geli karena Aditya yang menciumi lehernya.
Beberapa hari kemudian.
Perbuatan Zahra rupanya menjadi inspirasi untuk Handoko dan Aditya, melalui yayasannya, Handoko menampung pengemis tua yang terlantar dan ditempatkan di sebuah penampungan seperti panti jompo, sedangkan para gelandangan muda dibina dan dikembangkan kreativitasnya.
Zahra senang setelah diberitahu bahwa nenek tua itu kini telah tinggal di sebuah panti jompo, dia senang karena kini nenek itu terawat dan terurus dengan baik.
"Terima kasih kakek.." Zahra memeluk Handoko erat.
Annisa dan Handoko tersenyum bahagia.
"Ini semua karena kamu sayang..kamu seperti mengingatkan kami untuk selalu berbagi kepada sesama.." Jawab Annisa.
Aditya dan Fatimah tersenyum.
Hari ini, Zahra bersekolah seperti biasanya, dia yang periang dan ceria serta mudah bergaul, disenangi hampir semua teman temannya, ditambah sifatnya yang pemurah dan baik hati membuat siapa saja ingin berteman dengannya.
Sekarang jam olah raga, salah seorang temannya yang bernama Chintya meminta izin kepada guru untuk tidak mengikuti jam olah raga karena merasa tidak enak badan.
"Kamu sakit apa..?" Tanya Zahra dengan penuh perhatian, melihat Chintya yang diam sendirian di dalam kelas.
"Bukan apa apa, aku hanya sedikit pusing.." Jawab Chintya lemas, dia terlihat menyimpan kepalanya di atas bangku.
Zahra merasa kasihan, dia melihat Chintya yang terlihat seperti menahan sakit.
Sampai akhirnya dia tidak sengaja melihat paha temannya itu yang biru lebam.
"Chintya..itu kenapa..?" Tanya Zahra spontan karena kaget.
Dengan sigap Chintya menutupi pahanya yang tidak sengaja terbuka.
"Bukan apa-apa.." Jawab Chintya seperti ketakutan.
Zahra tidak percaya.
"Coba aku lihat.." Zahra langsung membukanya sedikit, sehingga kini dia bisa dengan jelas melihat lukanya.
Zahra kaget karena ternyata luka itu sangat besar dan lebamnya terlihat dengan jelas.
Chintya dengan sigap lagi menutupinya, terlihat dirinya yang sedih dan menahan tangisnya.
Zahra tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Chintya.
"Aku akan bilang ke ibu guru kalau kamu terluka.." Ucap Zahra sambil akan berlalu pergi.
Dengan cepat Chintya bangun dan memegang tangan Zahra.
"Jangan.." Ucap Chintya menangis.
Zahra keheranan melihat temannya itu kini menangis.
"Kenapa kamu menangis..?" Tanya Zahra heran
"Jangan beritahu ibu guru tentang luka ini.." Chintya terlihat memohon.
"Kenapa..? itu luka apa..?" Tanya Zahra penasaran.
"Aku dipukuli ibu tiriku.." Jawab Chintya terisak.