
"Kalian silahkan mengobrol..kami akan menunggu di luar.." Ucap Fatimah sembari menyuruh Zahra untuk mendekati Sherly.
Zahra mengangguk.
Sherly tetap berdiri mematung dengan menundukkan kepalanya sambil sesekali melihat Zahra yang terus berjalan mendekat ke arahnya.
"Mama.." Ucap Zahra ketika dia berada dekat di depan ibunya.
Zahra semakin mendekatkan badannya kearah Sherly, sejenak dia melihat wajah sang ibu yang terus saja menangis terisak, kemudian dengan ragu ragu dan perlahan, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu, memeluk ibunya dengan erat.
Membuat Sherly kaget sekaligus bahagia, lagi lagi dia semakin menangis terisak
"Kenapa mama menangis..?" Tanya Zahra dalam pelukan ibunya.
Sherly menggelengkan kepalanya, kedua tangannya kini mengelus rambut Zahra dengan pelan.
Zahra perlahan melepaskan pelukannya, dia memegang tangan Sherly, membuat Sherly kaget, apalagi ketika putrinya itu menariknya mendekati kursi yang berada tidak jauh dari sana.
Zahra meminta Sherly untuk duduk.
Kini mereka telah duduk bersampingan, Zahra terus menatap wajah ibunya yang masih menangis dengan menunduk.
"Mama..kenapa mama menangis terus..?"
Sherly menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Apa karena mama bahagia bertemu dengan aku..?" Tanya Zahra polos.
Sherly melihat Zahra, dia menghapus air matanya.
"Iya..mama senang sekali bertemu dengan kamu sayang.." Jawab Sherly pelan dan terbata bata.
Zahra tersenyum bahagia.
"Aku juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan mama.."
Sherly tidak percaya dengan apa yang didengarnya, benarkah anak yang didepannya ini adalah Zahra putrinya yang telah ditelantarkannya dulu, anak yang hampir saja mati karena ditembak oleh suruhannya.
Kalau benar, dia tidak pantas diperlakukan seperti ini olehnya, bukan senyum manis dan tulus yang harus didapatkannya kini, melainkan rasa benci dan kekecewaan yang pantas dia dapatkan dari putrinya.
Lagi pula apakah Fatimah dan Aditya tidak menceritakan semuanya, semua kekejian dan kekejaman yang telah dia lakukan kepada mereka terutama Zahra, benarkah mereka tidak menceritakan semuanya? Pikir Sherly.
Pasti mereka tidak menceritakannya, karena kalau sampai Zahra tahu semuanya, dia tidak akan mungkin dia akan kesini dan menemuinya, kalaupun kesini, alih-alih tersenyum dan memeluknya apalagi memanggilnya mama, dia pasti akan mencaci maki dan membencinya.
"Mama.." Zahra membuyarkan lamunan Sherly.
Zahra menatap lekat wajah ibunya.
"Mama tinggal disini..?"
"Tempat apa ini..?"
"Kenapa mama tinggal disini..?"
Sherly tersentak kaget, bahkan Fatimah dan Aditya tidak menceritakan kalau dirinya sedang berada di dalam penjara.
"Ini penjara sayang.." Jawab Sherly pelan sembari melihat Zahra dengan sendu.
Zahra terlihat kaget, dia langsung melihat sekeliling, memutar kepala dan badannya memperhatikan setiap sudut dari ruangan kecil yang hanya ada mereka berdua disana.
Ternyata penjara tidak seperti di dalam bayangannya selama ini, dimana penjara adalah tempat yang seram dan menakutkan, Zahra melihat tempat yang sekarang dia kunjungi tidak menakutkan sama sekali, bahkan diluar sana tadi, dia bertemu dengan banyak orang yang ramah tersenyum dan melihat banyak orang mengobrol dengan gembira dan tertawa bersama.
Zahra melihat Sherly dengan penuh tanda tanya.
"Apakah ini penjara..?" Tanya Zahra masih tak percaya.
Sherly menganggukkan kepalanya.
"Kenapa mama bisa ada di penjara..?" Tanya Zahra heran.
Sherly menahan tangisnya.
"Karena mama telah banyak melakukan kesalahan.."
Zahra tersenyum, dia memegang tangan ibunya.
"Kata mama Fatimah, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.." Ucap Zahra dengan senyumannya yang manis.
Sherly menatap putrinya.
"Mama tahu, aku juga pernah melakukan kesalahan, aku pernah berbohong kepada papa dan mama Fatimah.." Ucap Zahra lagi setengah berbisik.
"Tapi mama dan papa memaafkan aku, karena aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.." Ucap Zahra kembali tersenyum.
"Tapi kesalahan mama sangat besar.." Jawab Sherly menunduk.
"Mamah bukan orang yang baik..mama adalah ibu kamu yang jahat, mama sudah meninggalkan kami sewaktu kamu kecil.." Ucap Sherly memilih untuk memberitahukan semuanya kepada Zahra.
"Bahkan mama sudah melukai kamu..disini.." Sherly menunjuk pundak Zahra.
Zahra mengingat sesuatu, dia ingat bahwa dirinya mempunyai bekas luka di belakang pundaknya.
Zahra terdiam.
"Mama pasti tidak sengaja melakukannya, tidak apa apa ma..aku sudah memaafkan mama.." Ucap Zahra dengan sungguh-sungguh menatap Sherly yang kembali menangis.
Sherly kaget, dia menatap putrinya.
"Kamu memaafkan mama, walaupun mama sudah meninggalkan dan melukai kamu..?" Tanya Sherly setengah tak percaya.
"Kata mama Fatimah, kita harus memaafkan kesalahan orang lain, kita tidak boleh menyimpan dendam.."
Sherly memeluk Zahra.
"Papa dan Mama Fatimah sudah mendidikmu menjadi anak yang sangat baik nak..kamu beruntung telah dibesarkan oleh mereka.."
Sherly menatap wajah anaknya dengan lekat.
"Sayangi mama Fatimah dengan sepenuh hati sayang, walaupun dia tidak melahirkanmu, tapi dia telah sangat menyayangimu dengan tulus dan membesarkan serta mendidikmu dengan sangat baik, sehingga kamu tumbuh menjadi anak yang baik seperti ini.."
"Kamu tahu, mama sangat berterima kasih kepadanya.."
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menyayangi kalian berdua.."
"Mama ini telah melahirkan aku, dan mama Fatimah yang sudah membesarkan aku.."
Sherly terharu, dia kembali memeluk Zahra putrinya.
"Terima kasih sayang.."
-----------
"Papa..kapan kita bisa kembali mengunjungi mama Sherly..?" Tanya Zahra ketika mereka baru saja tiba dirumah sekembalinya dari rutan.
Aditya terdiam, dia melihat Fatimah.
"Kapan pun kamu mau sayang.." Tanya Fatimah.
"Terima kasih mama.."
"Aku sayang mama.." Zahra memeluk Fatimah.
"Mama juga nak.." Jawab Fatimah menciumi putrinya.
Aditya tersenyum, kini dia merasa lega, selama di perjalanan tadi, Zahra menceritakan semua percakapan dirinya dan Sherly, ternyata Sherly telah berubah, dia juga kaget tidak menyangka ketika ternyata Sherly nekad memberitahu Zahra semua perbuatan jahatnya kepada Zahra selama ini, namun dia bersyukur dengan reaksi Zahra yang memaafkan ibunya dengan tulus.
Zahra berlari menuju Zidane yang sedang bermain dengan Zidane.
Fatimah tersenyum kepada Aditya.
"Zahra sudah mengetahui semuanya, itu berarti tidak ada rahasia lagi yang harus kita sembunyikan.."
Aditya mengangguk.
"Aku juga tidak menyangka Sherly akan menceritakan semuanya kepada Zahra..dia telah benar benar berubah.."
Fatimah tersenyum dan mengangguk.
"Kamu tahu, aku bahagia sekarang.."
"Aku juga.."
--------------
Annisa mendapatkan surprise pesta ulang tahun yang meriah dari semua anak dan menantunya di salah satu hotel bintang lima milik Aditya, semuanya sudah dipersiapkan dengan matang oleh Clara, Fatimah dan Nadya dengan dibantu oleh suami mereka masing masing.
Annisa tidak menyangka akan mendapatkan pesta kejutan seperti ini, awalnya dia hanya diajak malam malam biasa oleh suaminya, sesampainya di sana dia terkejut dengan pesta yang telah dipersiapkan untuk dirinya.
Bahkan Annisa sampai menangis terharu, dia mengucapkan terima kasih kepada semua anak dan menantunya.
Semua kerabat, teman dan sahabat juga diundang dalam acara itu.
Turut juga hadir Romi beserta istri dan kedua orang tuanya.
Setelah acara inti, para tamu dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan.
Aditya beserta yang lainnya seperti Romi dan Kevin serta Angga terlihat mengobrol santai bersama para istri mereka.
Namun tiba-tiba Romi menarik baju sahabatnya dengan ketakutan, dia memberi isyarat menunjuk seorang wanita dengan matanya.
Aditya terbelalak ketika dia melihat Alana sedang berjalan menghampiri meja mereka.
Alana, mantan pacar keduanya terlihat cantik dan seksi dengan gaunnya yang terlihat sangat minim.
Aditya dan Romi ketakutan dan menelan ludah beberapa kali, melihat Alana yang semakin dekat menghampiri keduanya dengan senyuman manisnya, mereka melihat istri masing masing, tak ingin membuat masalah, mereka langsung mengambil langkah seribu untuk pergi dari sana dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan para istri dan Alana yang keheranan.
Aditya dan Romi memilih untuk bersembunyi.
Mereka terlihat menyandarkan tubuhnya pada dinding, dan mengintip Alana yang kini sedang duduk dan mengobrol dengan Clara bersama para istri mereka.
Romi kaget ketika dia menyadari dibelakangnya ada Kevin yang ternyata juga mengintip Alana diam diam.
"Jangan bilang kalau Alana juga mantan pacar lo..?" Tanya Romi penasaran.
Kevin mengangguk pelan.
The End.
-------------
Terima kasih sekali lagi.
Bagi kalian yang sudah memfavoritkan novel ini, jangan dulu di Unfav ya.. author lagi buat novel baru ni, nanti akan ada pemberitahuan lebih lanjut lagi lewat novel ini mengenai Novel yang baru..
Terima kasih..🥰🥰🥰🥰😍😘😘😘😘😘