My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Awal kemenangan..



"Aku tak bisa memilih, kamu dan Zahra sangat berarti untukku, aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian, aku akan berjuang mempertahankan kalian berdua.." Ucap Aditya.


"Bertahanlah sebentar, tak lama aku akan mengambil hak asuh Zahra kembali kepada kita" Lanjut Aditya.


Fatimah hanya bisa terdiam di pelukan Aditya.


Besok waktu yang diberikan Sherly akan habis, Aditya akan menolak syarat yang diajukan Sherly untuk menikahinya kembali, walaupun konsekuensi yang harus diterima adalah berpisah dengan dengan Zahra.


Keesokan harinya.


Karena kesehatan nenek semakin memburuk 3 hari yang lalu nenek akhirnya dirawat di rumah sakit, ada maksud lain Aditya mengirim nenek ke rumah sakit, diantaranya agar nenek tidak melihat kepergian Zahra yang akan dijemput oleh ibunya hari ini, Walaupun eksekusi pengadilan seharusnya menunggu sidang banding akan tetapi Sherly bersikeras akan mengajak Zahra untuk menginap beberapa hari sebagai perkenalan agar mereka lebih akrab.


Dengan berlinang air mata yang sesekali dihapusnya agar Zahra tidak melihatnya, Fatimah memasukkan baju baju milik Zahra kedalam koper, dia tak sanggup memikirkan kalau kalau Zahra akan pergi selamanya.


Melihat bajunya di masukkan ke dalam koper Zahra beberapa kali bertanya bahwa mereka akan pergi berlibur kemana, akan tetapi Fatimah tidak sanggup menjelaskan sampai waktunya Sherly tiba dirumah.


Dengan sangat berhati Fatimah mencoba menjelaskan dengan sesederhana mungkin


"Zahra.. Zahra tahu kan kalua mamah dan papah sangat menyayangi Zahra.." Ucap Fatimah.


Zahra mengangguk.


"Zahra ingat kan sama Tante Sherly yang sering ajak Zahra jalan jalan dan beliin Zahra mainan yang banyak, Tante Sherly mau ajak Zahra bobo dirumahnya.." Lanjut Fatimah dengan senyum yang dipaksakan.


Zahra terdiam..


"Zahra mau kan sayang..tidak lama kok cuma sebentar..nanti mamah dan papah bakalan sering ke rumah Tante Sherly buat lihat Zahra.."


Mendengar hal itu, Zahra langsung menggelengkan kepalanya.


"Zahra gak mau..Ara mau bobo disini aza sama mamah dan papah"


Fatimah terdiam.


Tanpa diduga Sherly yang sudah tidak sabar menunggu diluar langsung menerobos masuk ke kamar Zahra.


"Zahra sayang...sudah siap kan.." Tanya Sherly sambil menarik tangan Zahra.


"Mamah udah siapkan kamar yang cantik, dan banyak mainan mainan buat Zahra, ayo sayang kita pergi.." Rayu Sherly.


"Kamu bukan mamah Ara..mamah Ara cuma satu, mamah yang itu.." Jawab Zahra sambil menunjuk Fatimah mengingat perkataan temannya bahwa dia mempunyai dua mamah.


"Zahra gak mau ikut Tante.." Teriak Zahra sambil berlari ke arah Fatimah.


Fatimah kini tak kuasa menahan tangisnya sambil memeluk Zahra.


Akan tetapi Sherly tak putus asa dia terus mencoba merayu Zahra bahkan menariknya dengan kasar.


"Lepaskan tangan anakku Sherly, kamu menyakitinya.." Ucap Fatimah sambil mencoba melepas pegangan Sherli pada lengan Zahra.


Akan tetapi Sherly yang sudah marah melihat penolakan Zahra kepada dirinya tetap tidak mau melepaskan pegangannya dan menariknya dengan semakin keras.


Tanpa pikir panjang, Fatimah yang melihat Sherly semakin menyakiti Zahra yang terus menjerit kesakitan menampar Sherly.


"Plakkkkkkkk..."


Sherly terdiam. Matanya merah menahan amarahnya kepada Fatimah.


"Jangan pernah menyakiti anakku.." Ucap Fatimah


"Jangan coba-coba menyakiti istri dan anakku.." Ucap Aditya menahan amarah.


Sherly melepas pegangan Aditya dengan kasarnya.


"Berani sekali seorang pembantu miskin sepertimu menampar ku.." Teriak Sherly.


Zahra yang semakin ketakutan memeluk Fatimah dengan erat sambil menangis tersedu sedu.


"Aku akan membalas kamu..ingat itu Fatimah" Kata Sherly menahan amarah


Fatimah terus memeluk Zahra dengan erat, dia kini semakin tak rela memberikan Zahra kepada Sherly.


"Dan aku akan mengadukan hal ini ke pengadilan.."


"Seharusnya kamu menunggu hasil sidang banding, kamu tidak bisa mengambilnya sekarang.." Jawab Aditya.


"Cepat atau lambat aku akan mengambil Zahra kembali.." Ancam Sherly sembari berlaku pergi.


Aditya menghampiri Zahra dan istrinya memeluk mereka berdua.


"Papah..Ara gak mau ikut Tante itu, Ara mau sama papah dan mamah terus.." Isak Zahra kepada keduanya.


"Zahra akan tetap bersama mamah dan papah.." Jawab Aditya.


Aditya semakin berat melepaskan Zahra setelah kejadian tadi pagi, kini dia harus semakin berupaya memenangkan sidang banding kali ini.


Disela sela sela Sidang banding yang terus berlangsung, Sherly mengadukan Aditya dan istrinya, dia mengatakan kepada majelis hakim bahwa Aditya dan istrinya terus menghalang halangi dirinya yang ingin menemui putrinya, bahkan Fatimah menamparnya,dia juga mengatakan bahwa mereka menghasut Zahra untuk tidak mau lagi bertemu dengannya.


Tentu saja Aditya membantah dengan pernyataan Sherly dan mengatakan bahwa sikap buruk Sherly kepada Zahra yang memaksa dengan kasar membuat Zahra tidak mau bertemu lagi dengan Sherly.


Akhirnya pengadilan mendatangkan Psikolog yang akan mewawancarai Zahra dengan didampingi oleh guru sekolah Zahra sebagai pihak yang netral. Sementara Fatimah dan Sherly menunggu diluar, entah apa yang ditanyakan dan dijawab oleh Zahra hanya mereka yang tahu.


Setelah penolakan Zahra yang kini tidak mau lagi bertemu dengan dirinya, Sherly kini semakin tersudut setelah Aditya memberikan bukti beberapa rekaman cctv dan foto dirinya yang sedang pergi ke club malam, terlihat juga bahwa Sherly meminum minuman keras.


Sherly marah besar ketika Aditya memberikan bukti itu, kini dia sadar dia telah masuk perangkap Aditya.


Flashback.


Selama kasus persidangan Sherly semakin berhati hati dengan sikapnya yang kini menjadi perhatian orang banyak, dia tidak mau sedikit saja kesalahannya membuat orang orang yang berempati kepadanya berbalik menyerangnya.


Padahal Sherly sudah sangat merindukan dunia malam yang dulu menjadi tempat favoritnya, bergembira bersama teman temannya.


Hingga pada suatu hari, Romi sahabat lama dirinya dan Aditya ketika dulu mereka belum menikah datang berkunjung ke apartemennya bersama beberapa sahabat mereka untuk menanyakan kabar karena sudah lama tidak bertemu.


Menjelang malam Romi mengajak semuanya untuk pergi ke club favorit mereka dulu, awalnya Sherly menolak akan tetapi semuanya terus memaksa dan akhirnya dia luluh juga, Sherly berpikir tidak apa sekali dan semoga tidak akan ada yang memperhatikannya.


Rupa rupanya dia salah, mereka adalah komplotan Aditya yang sengaja menjebaknya.


Tentu saja Sherly membela diri dan mengatakan dia dijebak Aditya, tapi dia tidak mempunyai bukti.


Dalam peraturan perundang undangan seorang ibu akan kehilangan hak asuh anak kalau dia terbukti mempunyai perilaku yang tidak baik diantaranya menjadi pemabuk, pemadat, penjudi.


Putusan akhir banding akan digelar seminggu lagi. Sherly kini berpikir untuk tetap mempertahankan hak asuh Zahra ada di tangannya.


Sementara Zahra mengalami trauma ketika melihat Sherly, dia akan langsung memeluk Fatimah dan menangis ketika Sherly datang hendak meminta maaf dan merayunya kembali.


Fatimah dan Aditya bahkan mendatangkan psikiater untuk menyembuhkan putri mereka, yang kini tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena terus saja mengigau teriak ketakutan.