My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Terbongkar..



"Ayu..sekarang kamu sudah menjadi pemilik saham terbesar di restoran milik Keluarga Romi, kamu sudah punya penghasilan sendiri, ini perkiraan penghasilan yang akan kamu peroleh.." Kata Aditya sambil memberikan secarik kertas kepada Ayu.


Ayu kaget dengan nominal angka yang tertera disana.


"Maaf..tapi Ayu tidak bisa menerima ini.." Jawab Ayu.


"Ini sudah rezeki kamu..kamu harus menerimanya, sekarang kamu pakailah uang ini untuk membahagiakan orang tua dan adik adik kamu.."


"Laksanakan semua keinginan dan cita cita mereka, seperti naik haji atau umroh, sekolahkan adik adikmu ke jenjang yang lebih tinggi, berbagilah dengan para tetangga kamu di kampung, atau kamu mau membangun masjid atau apapun itu lakukanlah.."


Ayu menangis.


"Tapi ini terlalu banyak.." Ucap Ayu.


Aditya tersenyum.


"Tapi kamu jangan lupa dengan tanggung jawabku sebagai pemegang saham..nanti aku akan suruh Romi untuk memberitahu kamu.."


Ayu terdiam mendengar kata Romi keluar dari mulut Aditya.


"Kenapa..kamu ga mau diajarkan sama Romi? baiklah aku suruh ibu Margareth saja.." Ucap Aditya sambil mengedipkan matanya kepada Fatimah.


"Biar Romi saja.." Jawab Ayu pelan.


Fatimah dan Aditya tersenyum.


Hari itu Aditya meminta Ayu untuk datang ke perusahaan Romi, dan tentunya Aditya sudah bersekongkol dengan Romi.


Jantung Romi tidak karuan menunggu kedatangan Ayu, Margareth yang melihat merasa heran karena Romi tampak sangat bahagia.


"Mau ada Ayu kesini.." Kata Romi tanpa ditanya melihat Margareth melihatnya dengan tatapan heran.


Entah kenapa kali ini Margareth merasa malu bertemu dengan Ayu, maka sebelum Ayu datang dia berniat akan meninggalkan kantor.


Tanpa disangka, ternyata Ayu sudah berdiri di hadapannya.


Ayu menganggukkan kepalanya menyapa Margareth akan tetapi Margareth diam saja, sebenarnya karena dia salah tingkah, kemudian dia pergi meninggalkan Ayu dan Romi.


Romi mempersilahkan Ayu untuk duduk, dia membawa beberapa dokumen dan kemudian menunjukkannya kepada Ayu.


Romi yang sesekali mencuri pandang, mengajarkan Ayu tentang manajemen di perusahaannya, Ayu tampak memperhatikan dengan serius.


Tiba tiba Romi merintih kesakitan memegang Pundaknya.


"Aduh...aduh.." Teriak Romi merintih.


Ayu terkejut dan otomatis memegang pundak Romi dengan penuh kekhawatiran.


"Kenapa..? apa luka bekas luka tembak itu belum sembuh..?" Tanya Ayu dengan sangat khawatir dan mengusap pundak Romi.


"Iya.. mungkin karena aku banyak bergerak.." Jawab Romi yang sebenarnya hanya pura pura.


Ayu semakin mengusap pundak lelaki didepannya, tatapan matanya penuh dengan rasa cemas.


"Kenapa kamu banyak bergerak..harusnya kamu banyak istirahat.."


"Apa kamu sangat mengkhawatirkan aku.." Tiba tiba Romi bertanya dengan memandang wajah Ayu yang cemas.


Ayu melepas tangannya dari pundak Romi.


"Apa kamu pura pura..?" Tanya Ayu marah.


"Iya.." Jawab Romi tersenyum.


"Aku melihat cinta di matamu untukku, dan aku senang.."


Ayu menunduk dengan wajah yang kemerahan karena malu.


"Mari kita menikah..orang tuaku pasti akan merestuinya.."


Ayu tersenyum.


"Karena sekarang aku kaya..?" Tanya Ayu sinis tanpa berani memandang Romi.


"Padahal aku ingin orang tua kak Romi menerima Ayu karena memang menyayangi Ayu, bukan karena Ayu sekarang pemilik saham di perusahaan ini.."


Romi menunduk.


"Sebenarnya Aku malu mempunyai orang tua seperti mereka Ayu, mereka sama sekali berbeda dengan nenek Aditya yang menerima Fatimah apa adanya.."


Keduanya terdiam.


"Akan tetapi bisakah kamu mengesampingkan hal itu, yang terpenting sekarang aku ingin kita menikah.." Ucap Romi.


-------------


Romi masih belum mendapatkan jawaban dari Ayu.


Margareth menghampiri Romi yang tampak sedang bingung di meja kantornya.


"Ada apa sayang..apa ada masalah.." Tanya Ibunya


"Iya mi.. masalahnya adalah Romi terlalu mencintai Ayu.."


Margareth terdiam.


"Maafkan mami Romi.."


"Maaf..?"


"Apa kamu ingin mami mendatangi Ayu dan meminta maaf kepadanya?"


"Kenapa mami mau melakukan itu..? Apa karena sekarang Ayu adalah orang kaya? bukan orang miskin dan pembantu lagi..mami masih ingat, mami pernah menculiknya dan mencoba membunuh Ayu.." Kata Romi sangat marah.


"Mami tidak pernah mau membunuhnya, mami hanya ingin membuat dia takut sedikit..Maafkan mami Romi.."


"Dan sebenarnya Aditya sudah tahu mami dalang dari penculikan anaknya.."


Margareth tersentak kaget.


"Romi juga heran kenapa dia masih membiarkan mami dan tidak menjebloskan mami ke penjara.."


Margareth semakin menunduk dan menangis.


"Mami malu telah membuat masalah dengan mereka orang orang baik..mereka malah tidak menyimpan dendam kepada mami, padahal yang sudah mami lakukan kepada mereka sangat jahat.." Ucap Mami sambil terisak.


---------


Margareth dengan ditemani oleh suaminya memasuki rumah Aditya.


Aditya dan Fatimah segera menghampiri tamu mereka, akan tetapi tiba tiba Margareth lari kearah kaki Aditya dan menangis histeris.


"Maafkan saya pak Aditya..saya minta maaf karena telah banyak salah.." Tangis Margareth.


Aditya berusaha mengangkat tubuh Margareth.


Kini Margareth sudah berdiri dengan dipegang oleh suaminya.


Aditya meminta mereka untuk duduk.


"Maafkan saya karena telah khilaf menyuruh orang untuk menculik Ayu, saya khilaf..saya mohon maaf.."


Ayu yang kini berada disana tersentak kaget, dia tidak menyangka bahwa ibunya Romi yang telah menyuruh orang untuk menculiknya.


"Saya tidak berniat menculik Zahra, hanya kebetulan Zahra bersama Ayu waktu itu..maafkan saya Ayu.." Teriak Margareth berlari kearah Ayu.


Ayu terdiam, dia segera pergi meninggalkan Margareth yang masih menangis.


Fatimah segera menyusul Ayu yang pasti syok mendengar pengakuan dari Margareth.


--------


"Dia jahat banget Fatimah..aku tidak mau mempunyai mertua seperti itu, aku tidak mau menikah dengan Romi.." Tangis Ayu di pelukan Fatimah.


Fatimah mengerti.


"Penjahat itu hampir saja membunuh aku dan Zahra, kami ditembaki sambil berlari, aku masih ingat kejadian itu dan aku tidak akan memaafkan ibunya Romi.."


"Aku akan menolak Romi, aku tidak akan pernah mau menikah dengannya.." Lanjut Ayu.


Fatimah ikut menangis mendengar penuturan Ayu.


"Apa kamu tahu Fatimah, para penjabat itu berencana akan membunuh aku dan Zahra dan sebelum aku dibunuh aku akan diperkosa bergantian oleh mereka, kalau saja Romi tidak datang menyelamatkan aku malam itu, aku dan Zahra pasti sudah mati..."


Fatimah kaget, karena baru kali ini Ayu bercerita.


Tidak terbayang olehnya kalau pada saat itu Ayu dan Zahra tidak diselamatkan boleh Romi.


"Maafkan ibuku Ayu.."


Ternyata Romi daritadi mendengarkan percakapan mereka..


Romi menangis dengan sedihnya.


"Maafkan ibuku.."