
Kevin baru kembali kerumah pagi hari, baru sampai di depan pintu dia mendengar Nabila yang menangis, segera dia menghampiri arah suara tangisan putrinya.
Kevin melihat Nabila yang menangis dan sedang digendong oleh Annisa, neneknya.
"Kenapa ma..?"
Annisa bersyukur melihat kepulangan Kevin.
"Nabila menanyakan Nadya terus, mama sudah meneleponnya, sebentar lagi dia akan kesini.."
"Dan kamu sendiri..?kenapa semalam tidak pulang? tidur dimana kamu semalam..?" Annisa memberondong Kevin dengan banyak pertanyaan.
Kevin menundukkan wajahnya, dia terpaksa akan berbohong kepada ibunya.
"Di rumah teman mah.."
Annisa mengangguk, dia tidak ingin banyak bertanya kepada Kevin, dia tahu putranya sedang banyak masalah.
Nabila berhenti menangis, dia meminta Kevin untuk menggendongnya.
Kevin menggendong putrinya, dia juga merasa kasihan melihat Annisa yang sepertinya sudah kecapaian menggendong Nabila.
"Mama siapkan sarapan dulu buat kamu.."
Kevin membawa Nabila ke kamarnya, dia mengajak Nabila untuk bersiap pergi ke sekolah.
"Aku tidak mau sekolah..aku mau bunda.." Teriak Nabila.
Kevin menyerah, dia tidak bisa membujuk Nabila, kini dia hanya harus menunggu kedatangan Nadya.
Nabila sudah kembali ceria, karena Kevin memberinya ponsel untuk dimainkan putrinya.
Kevin termenung mengingat kejadian tadi malam, dia sudah melakukan sesuatu yang melewati batas dengan Lisa.
"Apa yang sudah aku lakukan..?" Kevin kesal pada dirinya sendiri, dia menarik narik rambutnya.
Rasa bersalahnya semakin besar ketika melihat Nabila putrinya, dia telah menyakiti banyak orang, karena selain Nadya yang pastinya akan tersakiti, ada Nabila dan Annisa, ibunya.
Tak lama seseorang mengetuk pintu, Nadya terlihat masuk dengan perlahan.
Nabila menghambur berlari menyambut kedatangan ibunya.
"Bunda.." Nabila memeluk Nadya.
Nadya memeluk Nabila putrinya sambil melihat Kevin yang terlihat sangat kusut dan kacau.
Kevin tidak menghiraukan kedatangan Nadya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Selain karena masih marah pada istrinya, dia juga mempunyai perasaan bersalah kepada Nadya.
Sedangkan Nadya sedih melihat Kevin yang sepertinya masih marah dan menghindarinya.
Nadya keluar kamar, dia hendak pergi meninggalkan rumah Annisa mertuanya, dia tidak ingin bertemu dengan Annisa karena biar bagaimanapun dia merasa malu kepada mertuanya itu, karena telah mencoba untuk memfitnah Fatimah, anak kandungnya.
Tapi ternyata Annisa telah menunggu Nadya di luar kamar Kevin.
"Nadya..mama mau bicara sebentar.."
Nadya menunduk malu dan takut, dia takut Annisa akan memarahinya.
Dengan perlahan Nadya berjalan menghampiri mertuanya dan mengikutinya ketika Annisa mengajaknya untuk berbicara di ruang keluarga.
Mereka duduk diatas sofa, sedangkan Nabila sibuk bermain dengan banyak mainannya yang tak jauh dari sana.
"Nadya..mama sebenarnya tidak mau ikut campur dengan masalah rumah tangga kamu dan Kevin.."
"Tapi..kalian harus memikirkan nasib Nabila, anak kalian.."
Nadya terlihat masih menunduk.
"Kejadian kemarin kami sudah melupakannya, Fatimah sudah memaafkanmu walau kamu tidak pernah meminta maaf kepadanya.."
Nadya semakin menunduk malu.
"Maafkan mamah dan papah juga jika selama ini kamu merasa tersinggung dengan ucapan dan perlakuan kami.."
"Tapi ketahuilah..kami berusaha menyayangi semua anak dan menantu kami dengan sama.."
"Tak pernah kami membedakan mana anak kandung, mana yang bukan, mana cucu kandung mana yang bukan.. semuanya sama bagi kami.."
Annis menatap Nadya dengan lembut
"Sekali lagi maafkan mama.."
Nadya melihat Annisa.
Dia kaget, alih alih memarahinya, Annisa justru terus menerus meminta maaf kepadanya.
"Mamah..aku yang harusnya meminta maaf.." Nadya menangis terharu.
Ternyata pikirannya selama ini salah, ternyata kasih sayang Annisa kepadanya sangat besar tidak pernah luntur hanya karena kehadiran Fatimah.
Nadya bersimpuh di kaki Annisa.
"Maafkan aku mah..aku telah banyak bersalah kepada mama dan Fatimah.."
Annisa kaget, dia tidak menyangka Nadya akan bersimpuh di kakinya.
"Bangun Nadya, jangan seperti ini, sudah mama katakan tadi, mamah sudah memaafkan kamu.." Annisa mencoba mengangkat badan Nadya untuk kembali duduk di sofa.
"Aku malu kepada mama dan Fatimah.." Ucap Nadya sambil terisak.
Annisa tersenyum.
"Fatimah juga sudah memaafkanmu..lupakan semuanya, mama harap kamu menjadikan ini sebagai pembelajaran, mari kita mulai dari awal lagi.."
"Tapi aku harus tetap meminta maaf langsung kepada Fatimah dan suaminya.."
"Itu bagus sayang, mama akan mengantarmu, dan mama harap hubungan kalian kembali baik seperti sebelumnya.."
Nadya mengangguk.
Ternyata Kevin mendengar dan melihat perbincangan ibu dan istrinya, dia senang karena Annisa berhasil menyadarkan Nadya, dia juga senang Nadya akan meminta maaf kepada Fatimah dan Aditya.
Tapi masalah belum selesai.
Karena sekarang permasalahan ada pada dirinya, dia telah melakukan sesuatu yang salah dengan Lisa.
-------------
"Fatimah maafkan aku.."
Fatimah tersenyum dan mengangguk.
"Iya..sudah aku maafkan dari kemarin.."
Nadya senyum sumringah, dia memeluk Fatimah erat.
"Kamu dan mamah memang berhati mulia, membuatku semakin malu karena pernah berbuat jahat kepada kalian.."
"Aku benar benar menyesali semua perbuatanku.." Ucap Nadya sambil memeluk Fatimah.
"Maafkan aku juga.." Ucap Fatimah dalam pelukan Nadya.
Fatimah juga merasa bersalah, bagaimanapun dia telah melakukan tindak kekerasan kepada Nadya.
"Aku harap kamu memaklumi kemarahan aku waktu itu.."
Nadya mengangguk. Nadya tersenyum.
"Aku tahu, aku memakluminya.."
"Kamu tidak salah, tapi aku yang salah.." Nadya melepaskan pelukannya.
"Sampaikan permintaan maafku juga kepada Aditya.."
Fatimah mengangguk.
Annisa yang mengantar Nadya kerumah Fatimah, tersenyum senang, dia bersyukur anak dan menantunya kini sudah berbaikan.
Nadya memanggil Zahra yang sedang bermain bersama Nabila.
"Maafkan tante sayang.." Nadya memeluk dan menciumi Zahra.
Zahra mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian berlari bermain lagi dengan Nabila.
-----------
"Pokoknya kita harus bertemu.." Kata Romi dengan serius di ujung telepon.
"Ada Apa..?" Tanya Aditya kaget.
"Apa ada masalah serius..?"
"Ya.. ini penting banget.." Jawab Romi tegas.
"Masalah apa..?"
"Pokoknya penting, ini masalah masa depan keluarga gw.."
"Baiklah.. di kafe biasa.."
"Jangan..jangan..gue akan datang langsung ke kantor lu.." Jawab Romi cepat.
"Masalah ini tidak bisa dibicarakan di depan umum.."
"Baiklah..gue tunggu.." Jawab Aditya semakin penasaran.
"Gue on the way.." Romi menutup teleponnya.
Aditya semakin penasaran, dia was was dan cemas menunggu kedatangan Romi, masalah apa kira kira yang yang disebut Romi sangat penting sampai sampai tidak bisa dibicarakan di depan umum.
"Masalah masa depan keluarganya..?" Tanya Aditya menerka.
"Apakah ada mantannya lagi yang mengganggu dia dan Ayu..?" Tanya Aditya lagi pada dirinya sendiri.
Tak lama Romi datang dengan tergesa-gesa, dia langsung duduk di depan meja Aditya, sahabatnya.
"Ada apa..?" Tanya Aditya tidak sabar.
Romi melihat Aditya dengan serius.
"Gue minta tolong.."
"Apa..?"
"Sebentar lagi ayu akan melahirkan.."
"Iya..terus..?"
"Ajari gw Adzan.."
"Hah..???!!!!!"
---------------
Setelah sekian lama, author kembali meminta dukungan vote lagi dari kalian semua, jumlah pembaca novel ini lumayan banyak, tapi sayang novel ini tidak pernah masuk 20 besar perolehan vote..
Karena itu, bagi kalian yang suka akan novel ini, jangan lupa vote, klik suka dan komentarnya, karena komentar dari kalian sangat membuat saya menjadi lebih bersemangat untuk terus menulis.