My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Klub Lagi..?



Malam itu, Kevin menjemput Nadya dan Nabila dirumah mertuanya.


Linda senang karena akhirnya Kevin datang untuk membawa kembali istrinya ke rumah mereka, kedatangan Kevin seakan memberi isyarat bahwa dia sudah memaafkan dirinya dan putrinya, Nadya.


"Maafkan ibu nak Kevin.." Ucap Linda ketika Kevin berpamitan dengannya.


Biar bagaimanapun Linda merasa dia turut andil dalam permasalahan yang terjadi kemarin, dia merasa takut dan was-was seandainya Nadya dikeluarkan dari keluarga Handoko, tentu akan menjadi petaka yang besar baginya dan Nadya, apabila putrinya itu sudah tidak lagi menjadi menantu konglomerat itu, dia dan putrinya akan kembali menjalani kehidupan sudah seperti sebelumnya.


Kevin tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.


Akhirnya mereka meninggalkan rumah Linda dan pergi untuk kembali kerumah mereka sendiri.


Selama dalam perjalanan Kevin lebih banyak diam, hanya suara Nabila yang terdengar terus berceloteh, dan banyak bertanya ini itu, sedangkan Nadya sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan oleh putrinya sambil sesekali melihat suaminya yang terus terdiam.


"Apa kamu masih marah..?" Tanya Nadya memberanikan diri.


Kevin menggelengkan kepalanya.


"Tidak.." Jawab Kevin singkat, tanpa melihat suaminya.


"Aku sungguh menyesal dengan semua perbuatanku.."


"Baguslah.."


Nadya melihat suaminya.


"Aku sudah meminta maaf kepada mama dan Fatimah.. mereka telah memaafkan aku.."


"Aku tahu.."


"Kalau begitu..kamu juga tolong maafkan aku.."


Kevin melihat Nadya sekilas.


"Iya..aku juga sudah memaafkanmu.."


"Tapi kenapa kamu seperti masih belum memaafkan aku, sikapmu masih sangat dingin kepadaku..?" Keluh Nadya pada suaminya.


"Aku hanya sedang menyetir.." Kevin berkilah.


Nadya melihat suaminya, biar bagaimanapun dia merasa suaminya masih marah kepadanya, sikap Kevin tidak seperti biasanya, dia terlihat sangat dingin dan pendiam, Nadya menghela nafas, dia menyesal telah melakukan kesalahan seperti kemarin, jika saja dia tahu sikap suaminya akan berubah seperti ini, dia hanya bisa berharap suaminya kembali seperti semula, menjadi suami yang hangat dan penyayang.


Sedangkan Kevin, dia merasa sangat bersalah kepada Nadya, entah mengapa melihat Nadya istrinya, mengingatkan dirinya pada perbuatan bejatnya bersama Lisa, Nadya memang bersalah, akan tetapi tidak seharusnya dia mendapatkan hukuman seperti ini.


Ponsel Kevin berbunyi, dia melihat nama di layar.


Lisa.


Kevin tidak menjawab panggilan tersebut, dia malah membalikkan layar ponselnya.


"Kenapa tidak diangkat..?" Tanya Nadya heran.


"Tidak penting.."


Nadya heran, dia bertanya tanya siapa orang yang menurut suaminya tidak penting itu.


Akhirnya mereka sampai dirumah, Nabila yang ketiduran di dalam mobil digendong Kevin masuk ke kamarnya.


Ponselnya berbunyi lagi, ternyata Lisa kembali meneleponnya, dia mematikan ponselnya.


"Aku pergi dulu sebentar.." Pamit Kevin kepada Nadya.


"Kemana..?" Tanya Nadya heran.


"Ada urusan penting, masalah kantor.."


"Malam hari seperti ini..?"


"Iya..besok akan ada rapat penting.." Kevin berbohong lagi.


"Baiklah.. jangan pulang terlalu malam.."


Kevin mengangguk, dia kemudian pergi dengan tergesa-gesa.


--------------


"Aku minta maaf..aku telah melakukan kesalahan besar dengan mendatangimu dan melakukan sesuatu yang tidak pantas denganmu.."


"Apa maksudmu..?" Tanya Lisa heran.


"Maafkan aku..aku ingin kita sudahi saja hubungan terlarang ini.." Ucap Kevin dengan hati hati.


Lisa tersenyum.


"Baiklah..aku mengerti.."


Kevin melihat Lisa yang masih tersenyum dengan heran.


"Kamu tidak marah..?"


"Tidak..aku hanya sedih, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa.."


Kevin tidak menyangka hal ini dari Lisa, dia terlihat pasrah ketika dirinya berkata ingin memutuskan hubungan.


"Mari kita lupakan kejadian kemarin.."


Lisa mengangguk.


"Lebih baik kita saling bertemu lagi.."


Lisa kembali mengangguk.


"Aku pergi dulu..jaga dirimu baik-baik.."


Kevin meninggalkan apartemen Lisa.


Lisa melihat kepergian Kevin dengan lelehan air mata di pipinya.


Kevin mungkin tidak mengetahui seberapa besar cinta Lisa kepada dirinya, dia bahkan rela hanya dijadikan pelampiasan oleh Kevin ketika sedang bermasalah dengan Nadya, istrinya, dan dibuang begitu saja ketika Kevin dan Nadya sudah berbaikan.


Lisa menghempaskan badannya ke atas tempat tidur, dia menangis sejadi-jadinya, menangisi nasibnya yang tidak bisa bersama dengan lelaki yang sangat dicintainya.


--------------


Bayu beberapa kali menghubungi Clara, tapi teleponnya selalu di reject dan tidak pernah diangkat.


Bayu terlihat sangat kesal, dia melemparkan ponsel miliknya ke lantai.


"Berani sekali dia melakukan itu padaku.." Teriak Bayu kesal di dalam ruang kantornya.


"Tak akan kubiarkan dia lepas begitu saja dari tanganku.."


"Akan kubuat dia menyesal telah meninggalkan aku.."


Bayu sangat tak terima Clara memutuskannya begitu saja, walau bagaimanapun dia sangat mencintai Clara meskipun dia sering berselingkuh darinya, tapi hubungannya dengan wanita lain hanya main-main saja, lain halnya dengan Clara, dia serius menjalani hubungan dengannya, bahkan Bayu berniat akan melamarnya dalam waktu dekat ini.


Hubungannya dengan Clara juga sangat didukung oleh kedua orang tuanya, siapa yang akan menolak mempunyai seorang menantu putri dari konglomerat seperti Handoko, walaupun Bayu juga bukan dari keluarga sembarangan, ayahnya adalah seorang menteri dan juga pebisnis yang sukses, sama halnya dengan dirinya sendiri yang memimpin beberapa perusahaan milik keluarga.


Bayu menyadari ini adalah kesalahan dirinya yang tidak setia dan masih melirik wanita lain, dia menyesal telah berulang kali menyakiti Clara, padahal Clara berulang kali juga sudah memaafkannya.


"Gw akan membuat Clara kembali lagi sama gw.."


"Apapun caranya.."


Bayu berjalan keluar meninggalkan kantornya, dia merencanakan sesuatu agar Clara kembali lagi padanya.


----------------


"Rom..ikuti mobil itu.." Aditya masuk kedalam mobil Romi dengan terburu-buru.


"Kenapa..?" Tanya Romi heran.


"Pokoknya ikuti saja.."


Mereka mengikuti sebuah mobil yang berjalan persis di depan mobil mereka.


Mobil itu terlihat berjalan dengan sedikit mengebut, tapi Romi dengan lihai bisa terus mengejar mobil di depannya.


"Siapa dalam mobil itu..?" Tanya Romi penasaran.


"Nanti gw ceritain, pokoknya lu ikuti terus mobil di depan itu.."


Romi menurut, tanpa banyak bertanya lagi, Romi terus mengikuti mobil di depannya hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah Klub.


Seseorang keluar dari mobil itu, dengan segera orang itu masuk kedalam klub, Aditya juga melakukan hal yang sama, dia segera keluar dan berlari mengejar orang tadi.


"Adit tunggu.." Romi juga turun dari mobil, memanggil Aditya sembari mengejarnya.


Aditya dan Romi berjalan tergesa-gesa memasuki klub.


Tiba-tiba Romi menarik tangan Aditya yang berjalan di depannya.


"Lu yakin ini bukan jebakan lagi..?" Tanya Romi ketakutan.


Aditya hanya melihat Romi sekilas dan tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, dia kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti orang yang dikejarnya tadi.


Romi kesal, tapi mau tidak mau dia kembali mengejar Aditya.


"Wah..cari mati lu dit, gimana kalau Fatimah dan Ayu kesini lagi.."