
"Apa yang kalian lakukan..?" Tanya Annisa tercengang melihat perkelahian di teras rumahnya.
Mendengar suara Annisa, membuat Clara dan Nadya berhenti, diikuti oleh Lisa dan Ibunya, sementara Fatimah langsung menghampiri ibunya setengah berlari.
"Apa yang mama lakukan disini..mama seharusnya beristirahat dikamar..?"
Annisa tidak menjawab.
Annisa melihat wajah Fatimah dengan lekat, terdapat warna kemerahan di wajahnya, dia tahu Fatimah kena pukulan, dia memegang wajah putrinya dan mengusapnya dengan pelan.
Annisa juga melihat Clara yang juga menghampirinya, keadaan Clara lebih parah dari Fatimah, rambutnya terlihat acak-acakan dan bajunya yang sobek.
Bahkan ada luka cakaran di tangan putrinya.
Annisa merapihkan rambut Clara dan meminta pembantu membawa kotak obat.
Sedangkan Nadya langsung duduk menangis, Annisa langsung menghampiri menantunya, dia memeluk Nadya dengan erat.
"Mah..wanita itu hamil mah.." Ucap Nadya dalam pelukan Annisa.
Lisa dan ibunya terlihat sedang merapihkan diri mencibirkan mulutnya, mereka sama sekali tidak tersentuh dengan tangisan Nadya.
Annisa tidak bisa berkata apapun, dia ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Nadya, rasa sakit yang dulu dialaminya ketika mengetahui ada wanita hamil yang datang kerumahnya dan mengaku sedang mengandung anak suaminya kini dirasakannya lagi.
Annisa berdiri.
Dia melihat Lisa dan Ibunya dengan tajam.
"Kalian datang kerumah kami dan membuat keributan...apa yang kalian inginkan..?"
"Aku bisa saja menuntut kalian karena telah menyakiti kedua putriku dan juga menantuku.."
Ibunya Lisa tersenyum
"Menantu anda yang duluan menyakiti anak saya.."
"Saya yang akan menuntut kalian.." Teriak ibu Lisa.
"Dan mana anak anda Kevin..?"
"Kenapa dia lari dari tanggung jawab.."
Annisa menatap Lisa.
"Apa kamu hamil..?" Tanya Annisa penuh selidik.
Lisa mengangguk.
Dia memberikan secarik kertas kepada Annisa, rupanya itu adalah hasil tes yang menyatakan bahwa Lisa positif hamil.
Handoko menghampiri istrinya, dia melihat dan turut membaca kertas yang dipegang istrinya.
Annisa mengembalikan kertas itu kepada Lisa.
"Saya ingin anak anda bertanggung jawab, kalau tidak saya akan membeberkan hal ini ke publik dan membuat nama baik keluarga Handoko tercoreng.."
"Baiklah.."
"Kevin akan bertanggung jawab dan menikahinya.." Tanya ibu Lisa.
"Saya akan menikahkan Lisa dengan anak saya.."
Nadya seketika terkejut mendengar jawaban mertuanya, dia kembali menangis terisak.
Lisa dan ibunya merasa puas dengan jawaban dari Annisa, mereka akhirnya pergi setelah Annisa berjanji akan segera menemukan Kevin dan menikahkan mereka berdua.
Sementara Annisa mengajak semuanya untuk masuk kedalam dan mengobati luka mereka.
Annisa mengobati luka Clara terlebih dahulu, setelah selesai dia meminta Clara untuk berganti baju, kemudian Annisa meminta Nadya untuk mendekat dan berniat mengobati beberapa lukanya.
"Tidak usah mah.." Nadya menolaknya.
Nadya kecewa dengan jawaban Annisa tadi kepada Lisa dan Ibunya yang akan menikahkan Lisa dengan Kevin.
Annisa menghampiri Nadya.
"Nadya.. kamu percaya kan sama mamah?"
Nadya tidak menjawab.
Fatimah dan Aditya pamit untuk pulang kepada semuanya.
"Mamah harus banyak beristirahat dan jangan banyak pikiran.." Ucap Fatimah sembari menyalami Annisa.
"Iya sayang..."
Fatimah dan Aditya bersama kedua anak mereka pergi meninggalkan rumah Handoko.
Selama dalam perjalanan Fatimah seperti kesakitan, namun ditahannya karena tidak ingin membuat Aditya khawatir.
Sesampainya dirumah, Fatimah langsung ke kamarnya dan menidurkan Zidane yang tertidur.
Aditya langsung menarik Fatimah ke kamar mandi.
"Buka bajumu.." Ucap Aditya tiba tiba.
"Kenapa..?" Tanya Fatimah heran.
"Buka saja.." Jawab Aditya mendekati istrinya dan membuka jilbab Fatimah perlahan.
"Ini masih sore, nanti Zahra masuk.."
"Memang kamu pikir aku mau apa..?" Tanya Aditya serius membuka satu persatu baju Fatimah.
"Memangnya kamu mau apa..?"
Aditya tidak menjawab.
Setelah terbuka sebagian, Aditya melihat seluruh badan istrinya dengan cermat, tidak ada satu jengkal pun yang terlewat.
"Ada apa..?" Tanya Fatimah heran.
"Aku lihat tadi kamu terkena pukulan dan cakaran beberapa kali..aku takut kamu terluka.." Jawab Aditya masih terus mencari sesuatu.
Fatimah tersenyum dan kini mengerti.
Dia mendekatkan badannya pada badan suaminya.
"Aku tidak apa apa.."
"Kamu yakin..?" Tanya Aditya sambil memegang sedikit kuat pundak Fatimah.
Fatimah merintih kesakitan.
Rupanya bahu Fatimah sedikit terluka karena sempat terjatuh akibat dorongan Lisa dan ibunya.
"Sepertinya bahu kamu terluka.." Aditya melihat ada luka memar disana.
"Aku tidak apa apa.." Jawab Fatimah sembari memakai bajunya perlahan.
Dengan segera Aditya membantu istrinya.
"Kita periksa ke dokter.."
"Tidak usah..kamu terlalu berlebihan.."
"Kamu akan kesakitan nanti saat menggendong Zidane.."
"Sebentar lagi juga akan sembuh.."
"Baiklah..tapi kalau sampai besok belum juga sembuh, mau tidak mau kita pergi ke dokter.."
Fatimah mengangguk.
"Lain kali, kalau terjadi lagi seperti itu, kamu biarkan saja, aku tidak mau kamu ikut terluka.." Aditya memeluk Fatimah.
------------
"Lisa hamil..?" Tanya Kevin setengah tak percaya kepada ibunya.
Annisa mengangguk.
Kevin terlihat frustasi, dia terlihat menundukkan wajahnya dan menarik-narik rambutnya.
"Dan Nadya tahu..?" Tanya Kevin lagi.
Annisa kembali mengangguk.
"Apa yang dikatakannya..apa dia tetap meminta cerai..?"
"Iya..dia meminta cerai.."
Kevin terlihat semakin frustasi.
------------
3 hari kemudian.
Lisa mendapat telepon dari Annisa yang mengajaknya untuk bertemu dan membicarakan masalah pernikahan.
Lisa dan ibunya sangat senang, mereka telah berjanji bertemu di sebuah kantor Wedding organizer untuk menyusun rencana pernikahan Lisa dan Kevin, karena Annisa mengatakan bahwa dirinya akan melaksanakan pesta pernikahan yang sangat meriah.
Lisa dan ibunya menjadi sangat bersemangat, tak lama lagi impian mereka menjadi anggota keluarga Handoko akan tercapai, sementara Lisa sangat bahagia akan menikahi Kevin, laki laki yang sangat dicintainya.
Annisa mengirimi mereka sebuah alamat kantor, dan berkata dia telah menunggunya disana.
Lisa dan ibunya telah datang, mereka memasuki sebuah kantor, Clara dan Fatimah menyambut mereka dengan ramah.
"Maafkan atas kejadian tempo hari, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga..aku harap kalian memaafkan kami.." Ucap Fatimah dengan ramah.
"Iya.. mari kita lupakan kejadian kemarin, mulai hari ini kita akan memulai lembaran baru.."
Lisa dan Ibunya merasa sangat senang mendengar permintaan maaf dari mereka, tentu saja mereka menerima baik permintaan maafnya dan akhirnya mereka saling berpelukan.
Fatimah dan Clara mengajak mereka untuk masuk.
"Mama sudah ada di dalam menunggu kalian.."
Lisa masuk kedalam diikuti oleh ibunya, namun ada yang dirasakannya sangat aneh.
"Ini tidak seperti kantor wedding organizer.." Ucap Lisa sembari melihat sekeliling.
"Kamu benar, ini klinik kebidanan, sebelum pergi ke kantor itu, mama ingin memeriksakan kehamilan kamu, dia ingin memastikan kehamilan kamu sehat dan tidak ada masalah.." Jawab Clara dengan santai.
Lisa dan ibunya terkejut, mereka saling berpandangan.
"Apa maksudnya ini, kenapa kalian tidak memberitahu kami bahwa Lisa akan diperiksa di klinik..?"
"Loh..kenapa kalian marah..?"
"Wajar kan kalau ibu hamil diperiksa..?" Tanya Fatimah heran.
Ibu Lisa menyadari kesalahannya, dia telah bereaksi berlebihan.
"Iya..maksud saya, Lisa sudah punya dokter kandungan sendiri, biar nanti dia periksa disana saja.."
"Tidak ada salahnya juga kita periksa disini, hanya di USG dan itu hanya sebentar saja.." Jawab Fatimah.
Annisa datang, dengan wajah berseri-seri dia menyambut kedatangan Lisa.
"Mari Lisa..dokter sudah menunggu di dalam, Tante sedikit mengkhawatirkan kehamilan kamu mengingat perkelahian kalian tempo hari, Tante takut terjadi apa apa sama kehamilanmu .."
Annisa menarik tangan Lisa.
Lisa mau tidak mau menurut, dia mengikuti Annisa yang mengajaknya ke sebuah ruangan dimana sudah ada dokter yang menunggu disana.
Clara dan Fatimah serta ibu Lisa mengikuti mereka.
Terlihat jelas Lisa dan Ibunya yang menunjukkan wajah penuh kecemasan.
Lisa segera berbaring di atas tempat tidur.
Dokter segera memeriksanya dan menempelkan alat USG diperutnya.
Lisa dan ibunya terlihat semakin khawatir.
"Tidak ada apapun..ibu ini tidak sedang mengandung.." Ucap Dokter kepada semua orang.
Annisa dan Clara serta Fatimah terlihat puas dan lega.
"Alhamdulillah.." Annisa memeluk kedua putrinya.
Namun lain halnya dengan Lisa dan ibunya.
"Apa maksudnya ini..?" Tanya Ibu Lisa dengan marah.
"Harusnya kami yang bertanya apa maksud kalian mengatakan kalau Lisa sedang hamil..?" Jawab Clara dengan marah juga.
"Kalian ingin menipu keluarga kami..?" Lanjutnya.
Lisa terlihat sedih dan menahan tangis.
"Sudah mah..cukup..kita sudah ketahuan.."
"Walaupun Lisa tidak hamil, Kevin harus tetap bertanggung jawab karena sudah meniduri anak saya.." Ibu Lisa terlihat kesal karena rencananya telah gagal.
"Mereka melakukannya karena suka sama suka, bahkan Lisa tahu kakak saya sudah menikah..tapi dia tetap mau diajak tidur, jadi itu adalah kesalahannya.." Jawab Clara lagi.
"Maaf..tapi karena Lisa tidak hamil, kami tidak mungkin menikahkannya dengan anak saya.." Ucap Annisa.
"Dan jangan coba ganggu keluarga saya lagi, atau saya akan mengadukan kalian berdua dengan kasus penipuan.."
"Kami permisi dulu.." Lanjut Annisa.
Annis dan kedua putrinya pergi meninggalkan Lisa dan ibunya yang terlihat sangat marah.