
"Alhamdulillah.. anaknya laki laki atau perempuan..?" Tanya Fatimah dengan bersemangat.
"Sesuai perkiraan Dokter.. anaknya perempuan.." Jawab Romi dari ujung telepon.
"Wah senang sekali mendengarnya.."
"Iya..aku hanya ingin mengabarkan itu.."
"Iya..terima kasih..aku akan segera menelepon Aditya dan kami akan pergi kerumah sakit sebentar lagi.."
"Baiklah.." Romi menutup teleponnya.
Ayu sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Romi menghampiri Ayu yang berbaring di atas tempat tidur.
"Ibu dan Bapak sudah dikabari..?" Tanya Ayu.
"Tentu saja sayang.." Jawab Romi melihat Ayu dengan lembut.
"Kak..belajar adzan darimana..?"
Romi kaget.
"Kenapa sayang..?"
"Apa tadi adzan kakak ada yang salah..?"
Ayu tersenyum dan menggeleng.
"Tidak kak..malah bagus sekali, sampai membuat Ayu terharu.."
"Benarkah..?" Tanya Romi merasa tersanjung, dia berpikir harus mengucapkan terima kasih kepada Aditya.
Sementara itu.
Margareth menatap wajah cucunya dengan penuh takjub, seakan dia tidak percaya bahwa dirinya kini sudah menjadi seorang nenek.
Tak ketinggalan dengan papi, dia yang sedari tadi melihat cucunya yang terus menerus digendong oleh istrinya terpukau melihat cucu pertama mereka.
"Sayang sekali..dia begitu mirip dengan Romi.." Keluh Margareth sambil melihat Romi dengan lirikan mata yang tajam.
Margareth masih merasa kesal dengan Romi, gara gara dirinya, Ayu harus pergi kerumah sakit sendiri dan melahirkan anaknya juga sendirian, dan juga gara gara Romi dirinya dikira sebagai mertua yang kejam oleh perawat, mengingat itu membuat Margareth ingin memukuli Romi.
"Apa kamu tahu..mami sudah lama menantikan momen ini, mempersiapkan momen kelahiran Ayu yang akan diabadikan oleh fotografer profesional, bahkan mami akan membuat video kelahiran cucu pertama mami..tapi gara gara kamu yang meninggalkan istri kamu seorang diri dirumah, rencana mami gagal, padahal mami sudah membayar uang mukanya.." Mami melihat Romi dengan geram.
"Ampun mi..jangan marah terus, masih ada anak kedua dan seterusnya kan mi..?" Romi ketakutan.
Mami semakin marah mendengar jawaban Romi.
Ayu dan Papi hanya bisa tertawa melihat mereka berdua yang tidak pernah akur.
Beberapa saat kemudian, Fatimah datang bersama dengan Aditya dan kedua anak mereka.
Fatimah menghampirinya Ayu dan mengucapkan selamat, demikian juga dengan Aditya mengucapkan selamat kepada Romi.
Zahra antusias melihat bayi yang baru saja dilahirkan itu.
Dia menyuruh Fatimah untuk menggendong Bayi kecil itu.
Fatimah memberikan Zidane kepada suaminya, dia menuruti kehendak putrinya untuk menggendong bayi Ayu.
"Mama..kita bawa pulang kerumah bayinya.." Rengek Zahra.
Semua orang tertawa mendengarnya.
-----------
Annisa terlihat sangat pucat, badannya terlihat lemah. Seharian ini dia hanya terbaring di atas tempat tidur.
Handoko mengetahui kesehatan istrinya yang menurun karena permasalahan Kevin, dia sudah meminta dokter untuk datang.
"Apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja..?" Ucap Handoko memegang tangan istrinya.
"Tidak perlu..aku baik baik saja.."
Handoko terlihat mengeluarkan napas panjang, dia sudah mengetahui watak istrinya yang tidak bisa dipaksa.
Clara memasuki kamar orang tuanya.
Dia menghampiri Annisa.
"Bagaimana keadaan mama..?"
"Mama baik baik saja sayang.."
Clara terlihat sangat cemas.
"Ini pasti karena permasalahan Kak Kevin.." Ucap Clara kesal.
Annisa menggeleng.
"Bukan nak.. jangan salahkan kakakmu.."
"Mamah hanya kecapaian saja, istirahat sebentar juga akan kembali sehat.."
Tak beberapa lama, dokter yang mereka panggil datang dan segera memeriksa Annisa.
Handoko keluar kamar, dia berinisiatif akan menghubungi Fatimah dan memberi tahu keadaan kesehatan Annisa yang menurun.
"Assalamualaikum..iya Pah..?" Jawab Fatimah di ujung telepon.
"Waalaikum salam..Kamu dimana nak..?"
"Lagi dijalan akan pulang dari melihat teman yang baru saja melahirkan.."
"Begini..mamah sedang kurang sehat...sekarang sedang diperiksa oleh dokter.."
Fatimah kaget.
"Sakit apa..?"
"Mungkin hanya kecapaian.."
"Baiklah.. sekarang kami akan langsung kesana.."
"Iya nak..papa harap kesehatan mama kamu akan segera pulih setelah melihat kamu dan anak anakmu.."
"Iya Pah..kami langsung kesana.."
Fatimah menutup teleponnya.
"Mama sakit..kita langsung saja kerumahnya.." Ucap Fatimah kepada Aditya yang menyetir.
Aditya terlihat mengangguk.
"Apa..?" Tanya Fatimah penasaran.
Fatimah memang belum mengetahui tentang kekisruhan yang terjadi beberapa hari ini di keluarga Handoko, Fatimah tidak mengetahui bahwa Nadya sudah mengetahui perselingkuhan Kevin, dan bahkan Nadya meminta cerai, Aditya mengetahui itu dari Kevin yang bercerita kepadanya.
Fatimah kaget, dia kini mengerti kenapa ibunya yang tiba tiba saja sakit, padahal dua hari sebelumya dia baik baik saja.
"Bagaimanapun masalah Kevin pasti membuat mama stres dan tertekan, dia pasti memikirkan nasib rumah tangga Kevin dan Nadya kedepannya, belum lagi kalau semisalnya wanita selingkuhan Kevin itu hamil.." Ucap Aditya.
Fatimah mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
Tak lama mereka sampai di kediaman Handoko.
Fatimah segera turun dengan menggendong Zidane diikuti oleh Aditya dan Zahra.
Mereka disambut oleh Handoko yang berada diluar kamar, Handoko terlihat langsung menggendong Zidane dan menyuruh Fatimah segera masuk ke kamarnya.
Fatimah mengetuk pintu dan membukanya.
Dia melihat Clara yang duduk disamping ibunya
Fatimah menghampiri mereka berdua, diikuti oleh Aditya dan Zahra.
Annisa kaget dengan kedatangan Fatimah sekeluarga.
"Sayang.." Annisa mencoba untuk bangun.
"Mama tidur saja, tidak usah bangun.."
"Siapa yang memberitahu kamu nak..?"
"Papah..kebetulan aku dari rumah sakit, menengok Ayu yang baru saja melahirkan, dan kami langsung kesini.."
"Ayu melahirkan..?"
"Iya mah.. anaknya perempuan.."
"Alhamdulillah..mama juga harus datang melihatnya.."
"Iya..tapi sebelum itu, mama harus sehat dulu.."
"Mama tidak apa-apa nak..papah dan Clara saja yang berlebihan.."
Annisa mencoba untuk tersenyum.
Tiba-tiba mereka mendengar suara keributan diluar rumah, terdengar suara wanita yang berteriak.
Aditya segera keluar.
Annisa juga seperti akan bangun dan berdiri, akan tetapi Fatimah dan Clara menahannya.
"Kamu temani mamah, jangan biarkan mamah keluar, biar aku yang melihatnya.." Ucap Fatimah kepada Clara.
Clara hanya mengangguk.
Zahra menaiki tempat tidur neneknya, dia berbaring bersama Annisa sambil memeluknya, membuat Annisa merasa sangat bahagia.
Fatimah berjalan keluar rumah, rupanya dia melihat ada dua orang wanita di teras rumah yang terlihat sangat marah dan berteriak-teriak.
"Siapa kalian..?" Tanya Fatimah penasaran.
"Saya ibunya Lisa, mana Kevin, dia harus bertanggung jawab kepada anak saya.."
Fatimah melihat wanita muda di samping ibu yang barusan berbicara, dia pikir bahwa itu adalah wanita selingkuhan Kevin.
"Kak Kevin tidak ada disini.." Jawab Fatimah tegas.
"Bohong..saya tidak percaya, cepat panggil Kevin kesini, katakan dia untuk tidak lagi dari tanggung jawab.."
"Apa maksud anda dengan tanggung jawab..?" Tanya Fatimah heran.
"Dan kecilkan suara anda, kita bisa bicara baik baik, ibu saya sedang sakit.."
"Anak saya sedang hamil dan Kevin harus bertanggung jawab.." Teriak ibu itu dengan suaranya yang semakin keras.
Fatimah kaget, begitu juga dengan Aditya dan Papi yang sedari tadi hanya terdiam.
Fatimah melihat Lisa yang sedari tadi hanya menunduk.
"Apa itu benar..?"
"Apa kamu hamil.." Tanya Nadya kepada Lisa yang baru saja datang dan mendengar perkataan ibu tadi.
Semuanya kaget dengan kedatangan Nadya.
Lisa terlihat menganggukkan kepalanya sambil melihat Nadya dengan puas.
"Siapa dia..?" Tanya ibu itu kepada anaknya.
"Apa dia istrinya..?"
Lisa mengangguk.
"Hei kamu..jangan sembunyikan suami kamu, suruh dia keluar dan bertanggung jawab.."
Nadya kaget.
"Sembunyikan..?"
"Apa maksud anda, saya tidak menyembunyikan Kevin.."
"Sudah.. sebaiknya kita bicarakan ini dengan baik baik di dalam, tidak seperti ini.." Handoko menengahi.
"Benar sekali jangan seperti ini,mari kita bicarakan dengan baik baik.." Ucap Aditya juga.
Namun Nadya sudah terbakar emosi, dia marah mendengar kehamilan Lisa, juga marah mendengar tuduhan bahwa dia telah menyembunyikan Kevin.
Nadya menghampiri Lisa, dia terlihat memukul Lisa dan mendorongnya.
Ibunya kaget melihat anaknya diperlakukan seperti itu, dia menolong Lisa dan membalas memukul Nadya. Namun tanpa diduga Clara yang baru saja datang membela Nadya dan ikut melepaskan Nadya dari Lisa dan Ibunya yang marah.
Tentu saja Fatimah tidak tinggal diam, dia mencoba memisahkan perkelahian itu, akan tetapi dirinya malah terkena pukulan sehingga membuat Aditya geram melihat istrinya yang ikut dipukul.
Perkelahian terus berlanjut, Clara kini bukannya memisahkan malah ikut memukuli Lisa karena dirinya yang juga dipukuli olehnya, Fatimah yang berada di tengah, terus mencoba memisahkan, akan tetapi mereka semakin beringas, Aditya dan Handoko juga turut memisahkan dan percuma saja karena tidak ada yang mau mengalah dan mereka terus berkelahi saling menarik baju dan rambut.
Aditya merasa kasihan melihat Fatimah yang kewalahan dan bahkan ikut terpukul juga, dia mencoba melindungi Fatimah.
Aditya memeluk Fatimah di tengah perkelahian antar wanita itu.
Aditya tidak memperdulikan yang lainnya, dia hanya melindungi Fatimah, dia tidak rela kalau istrinya sampai ikut terluka.
Aditya melindungi Fatimah dari Lisa dan ibunya yang juga ingin menyakitinya, karena mereka pikir Fatimah berada di pihak Nadya.