
Aditya bermain dengan baby Zidane yang baru dimandikan oleh Fatimah, dia bermain-main dengan putranya di atas kasur, Aditya berencana untuk bolos kerja hari ini karena ingin menghabiskan waktunya seharian bersama kedua anaknya.
Zahra sudah pergi ke sekolah bersama Dewi dan Erik, Zahra mengerti akan kesibukan baru Fatimah yang harus mengurus adiknya, jadi dia tidak pernah lagi minta diantar ke sekolah oleh ibunya.
Disaat Fatimah sedang pergi keluar kamar, dia mencuri kesempatan untuk melihat lihat ponsel istrinya, Aditya masih sangat penasaran tentang Ali. Dia segera mengambil ponsel Fatimah diatas meja, dan segera melihat isinya.
Rupanya Fatimah memang tergabung dalam grup WhatsApp Alumni SMA. Dengan cepat dia mencari nama Ali dalam daftar anggota grup.
Tanpa disadarinya, Fatimah sudah berdiri di depannya.
"Lihat apa..?" Tanya Fatimah penasaran.
Aditya yang kaget, langsung salah tingkah, dengan segera dia menyimpan ponsel istrinya.
"Tadi aku dengar sepertinya ada pesan masuk, jadi aku lihat, siapa tahu penting..tapi ternyata tidak ada pesan.." Aditya berkelit.
Fatimah tersenyum, dia sudah mengetahui kalau Aditya pasti mencari tahu tentang Ali, pria yang kemarin berhasil membuat Aditya terbakar api cemburu.
Fatimah mengambil Zidane yang sedari tadi tertidur dalam gendongan suaminya, dia memindahkan putranya ke dalam box bayi di samping tempat tidur.
Aditya berdiri memeluk istrinya dari belakang, menciumi leher Fatimah.
"Aku mau mandi, mumpung Zidane tidur.."
"Aku sudah tidak pernah lagi kamu perhatikan.." Ucap Aditya manja.
"Jangan bilang, kamu juga cemburu sama anakmu sendiri.."
"Memangnya aku sudah cemburu sama siapa..?"
"Ali.." Jawab Fatimah enteng.
Aditya kesal karena Fatimah menyebut nama laki laki itu.
"Bukan cemburu, tapi marah. Kenapa dia mengirim pesan kepada istriku.." Aditya jengkel.
"Kali ini aku memaafkannya..tapi kalau aku tahu dia masih mengirim pesan kepada istriku, aku tidak akan membiarkannya.."
Fatimah tersenyum.
"Aku mandi dulu.."
"Aku ikut.."
Fatimah menggelengkan kepalanya.
"Kenapa..?"
"Aku tidak mau kamu melihat perutku sekarang.."
"Kenapa..?" Aditya membalikkan badan istrinya menghadap kearahnya.
"Aku tidak ingin kamu melihat perutku sekarang.."
"Perutku menggelambir, banyak stretchmark, bahkan luka bekas operasi masih kelihatan jelas.."
"Aku tidak ingin kamu ilfil melihatku.."
"Apalagi banyak wanita cantik dan sempurna di sekelilingmu.."
Aditya kaget mendengar semua perkataan istrinya.
"Kenapa aku akan ilfil melihatnya..? "
"Justru aku semakin mencintaimu.."
"Malah aku ucapkan terima kasih atas semuanya.." Aditya mencium istrinya.
"Telah melahirkan Zidane untukku.."
Kemudian dia menghela nafas panjang.
"Entah laki laki seperti apa aku dalam pikiranmu.."
"Aku kaget ternyata kamu berpikiran seperti itu kepadaku.."
Fatimah tersenyum.
"Berdasarkan pengalaman.." Jawab Fatimah enteng.
"Sayang...aku hanya mencintaimu, kamu segalanya buatku.." Aditya merayu.
"Dan laki laki memang pintar gombal .." Fatimah mencoba melepaskan tangan Aditya di pinggangnya.
"Aku serius.." Aditya malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sangat mencintaimu.."
"Tak akan mudah bagiku untuk berpaling darimu.."
"Walaupun seribu gadis cantik mengelilingiku.."
Fatimah tersenyum.
"Baiklah..aku percaya, sekarang lepaskan aku.."
"Baik..tapi kita akan mandi bersama.."
"Baiklah.." Fatimah menyerah.
Aditya tersenyum.
"Memangnya kamu berpikir aku mau apa..?"
"Jangan minta macam macam, belum 40 hari.."
Kini Aditya tertawa. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
------------
Restoran Romi akan membuka beberapa cabang di beberapa negara Eropa, mau tidak mau Romi sendiri yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan harus turun langsung untuk meninjau lokasi strategis dan beberapa hal lainnya.
Perusahaan sudah menjadwalkan waktu kepergian Romi dan Papinya untuk melakukan perjalanan bisnis, sebenarnya Romi sangat berat hati meninggalkan Ayu, dia berniat akan mengajak istrinya untuk ikut sekalian pergi liburan, akan tetapi sudah jelas Margareth melarangnya, di usia kehamilan Ayu yang masih kecil, akan menginjak 4 bulan masih rentan untuk Ayu melakukan perjalanan jauh apalagi menggunakan pesatnya.
Akhirnya Romi menuruti semua perkataan ibunya, dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada kehamilan Ayu.
Ayu memasukkan baju suaminya satu persatu kedalam koper.
Romi yang sudah siap menghampiri Ayu dan memeluknya dari belakang.
"Seandainya kamu bisa ikut.." Ucap Romi dengan lemas.
"Mami tidak mengizinkan.."
"Aku akan menyuruh papi saja untuk pergi.."
"Loh..kenapa..?"
"Karena aku tidak tahan jauh dari kamu.."
"Cuma seminggu.."
"Walaupun sehari aku tidak bisa.."
"Jangan seperti itu..kakak harus menunjukkan rasa tanggungjawab kakak pada perusahaan.."
Romi membalikkan badan istrinya menghadap ke arahnya.
"Apa kamu tidak sedih..?"
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Aku pergi lama kamu tidak sedih..?"
Ayu menggelengkan kepalanya lagi.
"Apa kamu benar benar mencintaiku..?" Tanya Romi serius.
"Aku sedikit ragu.." Romi mengeluh.
Ayu tersenyum dan mengangguk.
"Sebenarnya aku membayangkan kamu akan memasukkan semua baju bajuku ke dalam koper sambil menangis, kemudian kamu akan memohon agar aku tidak pergi lama.."
"Seperti dalam sinetron sinetron.."
Ayu tertawa geli.
"Kakan ingin aku menangis sekarang..?"
Romi terdiam sesaat.
"Jangan..jangan nangis..mami akan memukuliku lagi dengan sapu nanti.."
Ayu semakin tertawa geli.
"Bekas kemarin saja masih sakit.." Romi mengusap punggungnya.
Ayu mengusap punggung suaminya.
"Sudah pergi sana..nanti telat.."
Romi memeluk dan menciumi Ayu.
"Baiklah aku pergi dulu.."
"Hati hati dirumah, jaga anak kita baik baik.." Romi mencium perut istrinya.
"Kalau bosan, pergilah main kerumah Fatimah.."
Ayu mengangguk.
"Minta sopir yang antar.."
"Tapi ingat, jangan bergosip tentang laki laki, apalagi si Firman itu.."
Ayu tersenyum.
"Aku akan meminta Aditya untuk mengawasi kalian.."
"Aku mencintaimu.." Tiba tiba Ayu mencium bibir Romi yang masih terus berbicara.
Romi kaget, dia tidak menyangka Ayu bisa bersikap agresif.
"Kalau kamu seperti ini, aku benar-benar akan membatalkan perjalanan bisnis ini.."
Ayu mendorong suaminya keluar kamar.