My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Pelampiasan..



"Tidak lama lagi, Kevin akan datang kesini, dia akan mengajakku untuk pulang dan berkata dia sudah memaafkan aku..dia sangat mencintaiku mama, dan tidak akan tahan berjauhan denganku dan Nabila.."


Nadya terus saja tertawa dengan riang.


Ceklek.


Kevin membuka pintu yang memang tidak terkunci.


Kevin tersenyum melihat Nadya dan ibunya yang kaget karena kedatangannya.


"Kamu benar, aku memang mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpamu, tapi mulai sekarang, aku akan belajar untuk bisa hidup jauh denganmu, dan Nabila, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya.."


"Aku kesini ingin mengajaknya menginap dirumah mamah.."


Nadya gelagapan, dia kini tahu Kevin suaminya telah mendengar semua perkataannya.


Nadya menghampiri Kevin.


"Maafkan aku, bukan itu maksudku.."


Kevin tersenyum sinis.


"Kenapa harus meminta maaf, semua yang kamu katakan itu benar, aku memang mencintaimu.."


Nadya semakin gelagapan dan salah tingkah, dia tidak menyangka Kevin akan mendengarkan semua perbincangannya dengan Linda.


Linda menghampiri Kevin.


"Nak Kevin..mama senang nak Kevin kesini mau menjemput Nadya.."


"Tidak ma..saya hanya mau menjemput Nabila.."


"Sayang.." Jawab Nadya kaget.


"Panggil Nabila.." Perintah Kevin kepada keduanya.


Ternyata tanpa perlu dipanggil, Nabila yang mengetahui kedatangan ayahnya, datang berlari menghampiri Kevin.


"Ayah.." Nabila menghambur dalam pelukan sang ayah.


Kevin membuka kedua tangannya, memeluk dan menggendong putri kesayangannya.


Kevin menciumi Nabila.


"Sayang..kita pulang yuk.." Ajak Kevin.


Nabila mengangguk.


"Aku akan mengajak Nabila untuk ikut bersamaku.."


"Tapi sayang..aku..?"


Kevin tersenyum.


"Kamu menginaplah lagi disini, aku akan memberi kalian waktu untuk banyak mengobrol seperti tadi.."


"Aku tidak mau, aku akan ikut.."


Kevin melihat Nadya marah.


"Kamu tidak ingat..?Aku sedang belajar untuk hidup tanpamu.." Jawab Kevin pelan.


Nadya terlihat akan menangis.


Kevin membawa Nabila, dia tidak ingin putrinya melihat ibunya menangis.


Linda tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bengong melihat kepergian menantunya yang membawa Nabila.


Di Rumah Annisa.


Kevin berjalan sambil memegang tangan putrinya.


"Nenek.." Panggil Nabila sambil berteriak.


Tak lama, Annisa datang menghampiri mereka dengan senyum yang berseri-seri.


"Cucu nenek..." Annisa membuka kedua tangannya melihat Nabila yang menghambur berlari kearahnya.


Mereka saling berpelukan.


Annisa melihat Kevin, dia melihat aura kesedihan dan kemarahan dalam wajah anaknya.


"Mana Nadya..?"


Kevin diam tidak menjawab, dia hanya menghempaskan tubuhnya pada sofa.


Annisa menyadari ada yang aneh.


Dia memanggil salah seorang pembantunya.


Dia menyuruh pembantunya untuk membawa Nabila mengajaknya bermain.


Setelah melihat cucunya pergi, Annisa menghampiri Kevin yang duduk dengan memegang kepalanya.


"Ada apa nak..?"


Kevin melihat Annisa.


Dia menceritakan apa yang terjadi, dia bercerita bahwa Nadya, istrinya bum berubah sama sekali, bahkan Nadya terlihat tidak menyesal dengan apa yang sudah diperbuatnya kepada Fatimah.


Annisa mengerti.


Dia mengerti kemarahan Kevin kepada istrinya.


Gak ada yang bisa dia lakukan, dia hanya memeluk Kevin yang terlihat sangat sedih.


"Aku tidak mau hidup bersama dengan wanita seperti itu mah.."


Annisa hanya mengangguk.


"Apa yang harus aku lakukan.."


"Sayang..ingat kamu tidak boleh mengambil keputusan disaat marah.."


Kevin mengangguk, dia melihat Annisa.


"Nasihat mama itulah yang selaku terngiang di kepalaku tadi, karena kalau tidak, entah apa yang yang sudah aku lakukan kepada Nadya tadi.."


Annisa tersenyum.


"Terima kasih sudah mendengarkan nasihat mama, sekarang jernihkan dulu pikiranmu, jangan terbawa emosi, pikirkan Nabila.."


Kevin mengangguk.


Dia pamit pergi dan menitipkan Nabila kepada ibunya.


"Sayang, mama berencana membawa Nabila pergi kerumah Fatimah..boleh kan..?" Tanya Annisa sebelum Kevin pergi.


"Tentu saja boleh mah..".


------------


Annisa dan Nabila turun dari mobil, dia melihat Fatimah dan Zahra yang sudah berdiri di teras rumah menyambutnya.


Fatimah menyalami dan memeluk ibunya serta Nabila, begitu juga dengan Annisa yang menciumi Zahra cucunya.


Zahra langsung menarik tangan Nabila, dia mengajak Nabila untuk bermain.


"Sayang maafkan mama, mama baru sempat kesini.."


Fatimah tersenyum.


"Tidak apa apa mah.."


Mereka memasuki rumah.


Annisa langsung menggendong Zidane, sementara Fatimah mengambil minuman untuk ibundanya.


Fatimah dan Annisa terlihat duduk di teras halaman rumah, bercengkrama sambil melihat Zahra dan Nabila yang sedang bermain.


"Sayang..kamu sudah memaafkan Nadya..?" Tiba tiba Annisa bertanya mengenai Nadya.


Fatimah tersenyum.


"Insha Allah sudah ma.."


"Syukurlah..mama senang mendengarnya.."


"Mama bangga kamu tidak menyimpan dendam dihatimu .."


"Kakekmu telah membesarkanmu dengan sangat baik.." Annisa menatap putrinya takjub.


Fatimah tersenyum.


"Bagaimana kabar Kak Kevin..?"


"Aku harap Kak Kevin juga sudah memaafkan Nadya.."


Annisa menghela nafas.


"Entahlah sayang.. keadaan semakin kacau.."


"Ada apa mah..?"


Annisa menceritakan apa yang terjadi pada hubungan Kevin dan Nadya.


Fatimah kaget, dia tidak menyangka Nadya masih belum berubah, malangnya Kevin memergoki Nadya dan mengetahui sifat asli istrinya tersebut.


"Semoga hubungan mereka segera membaik.."


"Mama tidak yakin, mama tahu betul sifat Kevin, dia tidak akan mudah berubah dengan pendiriannya.."


Fatimah terdiam, entah mengapa dia merasa sangat bersalah, kehadirannya di tengah keluarga Handoko justru membawa masalah pada rumah tangga Kevin dan Nadya.


"Semua karena aku mah.."


Annisa kaget dengan perkataan putrinya.


"Apa maksudmu sayang.."


"Seandainya aku tidak masuk ke keluarga mama, pasti sekarang rumah tangga Kak Kevin dan Nadya baik baik saja.."


"Tidak sayang..kenapa kamu berbicara seperti itu.."


"Tapi itu benar mah.."


"Kamu berbicara seperti itu, seakan akan telah menyesal bertemu kembali dengan mama.."


"Bukan itu maksudku mah.."


Annisa memeluk Fatimah.


"Bertemu kembali denganmu adalah anugrah terindah dalam hidup mama.."


"Kenapa mama menangis.."


"Jangan pernah berbicara seperti itu lagi sayang.."


"Maafkan aku mah.."


--------------


Annisa mengusap punggung Nabila yang tertidur di kamarnya.


Handoko membuka pintu kamar.


Melihat kedatangan suaminya, Annisa menyimpan telunjuknya di depan mulut, meminta suaminya untuk tidak bersuara.


Handoko menuruti permintaan Annisa, dia menghampiri istri dan cucunya yang sedang tidur.


Handoko menciumi Nabila dengan perlahan.


"Kenapa dia ada disini, aku tidak melihat Nadya atau Kevin.." Tanya Handoko berbisik


Annisa menceritakan semuanya. Bercerita tentang Nadya yang masih belum berubah dan kekecewaan Kevin yang kini sudah mengetahui sifat asli Nadya, istrinya.


Handoko mengangguk mengerti.


"Apa yang akan terjadi kepada rumah tangga mereka, akankah Nabila yang harus menjadi korbannya..?" Ucap Annisa dengan putus asa.


Malam itu, Kevin tidak pulang, sementara Nabila tidur bersama kakek dan neneknya.


--------------


Kevin memencet bel sebuah apartemen mewah.


Tak lama seorang wanita membuka pintu, dari raut wajahnya terlihat wanita itu terlihat heran dengan kedatangan Kevin.


"Ada apa..?"


Bukannya menjawab, Kevin menyelonong masuk kedalam.


Wanita itu melihat gelagat Kevin yang menurutnya aneh.


Kevin menghempaskan tubuhnya pada sofa.


"Lisa..kamu masih mencintaiku..?"