
Seminggu kemudian.
Berita tentang penculikan Clara yang sempat heboh beberapa waktu lalu kini perlahan menguap dengan sendirinya.
Pagi ini, Clara akan beraktivitas seperti biasanya, dia kembali menjalani rutinitas sehari-hari yakni menjalankan perusahaan kosmetik yang dipercayakan oleh ibunya kepadanya.
"Sayang..kamu siap lagi bekerja hari ini..?" Tanya Annisa kepadanya ketika mereka sarapan pagi ini.
Clara mengangguk senang.
"Iya ma..seminggu berdiam diri dirumah membuat aku hampir mati kebosanan.."
Annisa dan Handoko tertawa.
"Bagaimana hubunganmu dengan Denis..?" Tanya Handoko tiba tiba.
Clara hampir tersedak karena kaget mendengar ayahnya tiba tiba menanyakan hubungannya dengan Denis, pria yang dijodohkan dengannya.
"Baik.." Clara menjawab pelan.
Annisa langsung melihat perubahan drastis dari raut wajah putrinya, dia mengetahui persis Clara tidak suka dengan perjodohan itu.
"Papah harap hubungan kalian berjalan lancar.."
Clara mengangguk dengan menunduk sambil memakan perlahan makanannya.
Annisa menatap getir wajah putrinya, hatinya seolah terkoyak melihat kesedihan dan keterpaksaan di raut wajahnya.
"Jangan terburu-buru..biarkan mereka untuk lebih mengenal satu sama lain.." Ucap Annisa kepada suaminya.
"Iya..tapi jangan terlalu lama, aku ingin mereka cepat menikah, mereka bisa melakukannya setelah menikah nanti.."
Annisa kembali menatap wajah putrinya, yang terlihat semakin tidak nyaman mendengar perkataan suaminya barusan.
Clara dengan segera menyelesaikan sarapannya, dia pamit kepada kedua orangtuanya.
"Jangan pilang malam ya.." Pesan Annisa.
Clara mengangguk, dia mencium ibunya.
Selama dalam perjalanan menuju kantornya, dia melihat ponselnya, ada banyak pesan berderet dari Denis untuknya, namun tak ada satupun yang dibalasnya, terlihat sekali bahwa Denis ingin mencoba mengakrabkan diri dan mengenalnya lebih jauh namun Clara sama sekali tidak berminat, entah kenapa, sama sekali dia tidak bisa membuka sedikit hatinya untuk Denis, seolah-olah sudah ada yang mengisi ruang dihatinya.
Clara membuka pesan darinya untuk Angga, ada pesan yang dikirim olehnya, menanyakan kabar dan kesehatannya, namun Angga hanya menjawab sesekali, itupun dengan jawaban yang singkat.
Clara tahu, Angga mencoba bersikap sopan dan menjaga jarak, karena Angga pasti sudah mengetahui tentang perjodohannya dengan Denis dari banyak orang.
Setahu Clara, kini Angga sudah pulih dan sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya, dia menduduki jabatan sebagai manajer pemasaran, mendengarnya membuatnya senang dan lega, karena Angga
Clara mendesah, terlihat mengeluarkan napas yang panjang.
Entah kenapa dia tidak bisa mengeluarkan Angga dari pikirannya, semakin hari justru semakin membuatnya merindukan Angga, dan ingin bertemu dengannya.
Namun untuk menemuinya sekarang adalah hal yang mustahil, tidak ada alasan dirinya untuk menemui Angga lagi, dan itu membuatnya terus berpikir mencari alasan apa yang kira-kira bisa membuat dirinya menemui Angga.
Dia tak menemukan satu alasan pun, sehingga membuatnya sangat frustasi.
Clara sampai di kantornya, semua karyawan menyambutnya dengan gembira, Clara langsung masuk ke kantornya, dia terkejut karena sudah disambut dengan sebuket bunga mawar yang indah.
Dengan wajah berseri-seri, dia menghampiri bunga itu, di mengambil salah satunya kemudian menciumnya, dia melihat kertas putih berisi nama dari si pengirim.
Dennis..
Clara terkejut dia langsung menunjukkan wajahnya yang kecewa, dia kemudian duduk di kursi dan segera memanggil sekretarisnya.
"Simpan bunga ini di luar..."
"Kenapa..ini bunga yang cantik.." Jawab sekretaris keheranan.
"Aku alergi serbuk bunga.." Jawab Clara bohong
Mendengar jawaban itu, membuat sekretarisnya dengan segera membawa bunga itu keluar dari ruangan Clara.
Clara sibuk dengan beberapa dokumen yang baru diberikan sekretarisnya, dia membaca dan terlihat menandatanganinya.
Ponselnya berbunyi.
Clara segera mengambilnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
Dennis.
Siang ini bagaimana kalau kita makan siang bersama?
Aku akan menjemputmu..
Clara menyimpan ponselnya, moodnya kembali berubah, dia menyandarkan badannya pada sandaran kursi dan terlihat memijit kepalanya perlahan.
Dia tidak bisa terus menolak, karena entah sudah berapa kali Dennis mengajaknya, namun dengan berbagai alasan dia berhasil menolak ajakannya, namun kali ini, mau tidak mau, dia harus pergi untuk makan siang bersamanya.
Clara meyakinkan dirinya, kalau memang seandainya Dennis adalah jodohnya, dia berharap bisa membuka hati dengannya, karena itu dia juga harus perlahan mengenalnya lebih jauh.
Mungkin dengan beberapa kali bertemu, Dennis bisa merebut hatinya. Walaupun berat, dia akan mencoba melupakan Angga.
Jam makan siang sudah tiba.
Clara sudah bersiap karena Dennis baru saja meneleponnya dan mengatakan sudah dalam perjalanan menjemputnya.
Clara turun ke bawah, tak lama dia berdiri di lobby kantornya, mobil Dennis datang, lelaki yang dijodohkan dengannya itu dengan segera turun dan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Clara untuk masuk.
"Bagaimana kabarmu..?" Tanya Dennis basa basi.
"Baik.." Jawab Clara tanpa melihatnya.
Sembari menyetir sesekali Dennis mencuri pandang melihat Clara yang duduk di sampingnya, baru kali ini mereka bertemu setelah pertemuan pertama kedua keluarga, awalnya tentu saja Dennis ragu dengan perjodohan ini, dia merasa sekarang bukan zamannya lagi menikah karena dijodohkan, namun setelah melihat Clara pada pandangan pertama, Dennis merasa terpikat, aura wanita disampingnya ini begitu memancarkan sinarnya, selain tentu saja menurutnya Clara sangat cantik, Dennis sekilas bisa melihat Clara gadis yang baik, dia terlihat sangat menyayangi keluarganya, gadis seperti itulah yang diinginkan olehnya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Dennis kini mengerti, wajar saja jika Bayu tergila-gila kepada Clara bahkan rela akan melakukan apapun agar tetap membuat Clara menjadi miliknya, Clara memang wanita yang layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan.
Mereka sampai disebuah restoran terkenal, Dennis telah membuat reservasi disana, mereka memasuki restoran itu dengan dipandu oleh seorang pelayan.
Mereka berdua duduk, restoran cukup penuh karena itu memang jam makan siang,
Clara dan Dennis sibuk memilih menu, setelah menentukan pilihan, mereka bercengkrama sambil menunggu makanan datang.
"Bagaimana kelanjutan kasus Bayu..?" Tanya Dennis.
"Ayahku yang kakak kakakku yang mengurusnya, aku tidak tahu apa-apa.."
"Aku harap Bayu mendapatkan hukuman yang berat.."
Clara tersenyum.
"Yang dia lakukan kepadamu sungguh keterlaluan.."
"Aku menyesal, pada saat kamu mengalami itu semua, aku tidak ada di sampingmu.." Ucap Dennis dengan terus menatap Clara.
Clara tidak menjawab, dia hanya terus tersenyum mendengar perkataan Dennis.
Mereka terdiam sejenak
"Kenapa kamu tidak pernah membalas semua pesanku..?" Tanya Dennis tiba tiba dengan suaranya yang terdengar sedikit kecewa.
Clara kaget, dia tidak menyangka Dennis akan bertanya mengenai hal itu.
Clara terdiam, dia terlihat bingung dengan jawaban yang akan dia berikan.
"Aku mengerti.." Ucap Dennis seakan mengerti kebingungan Clara.
"Aku mengerti keadaanmu..kamu menyetujui perjodohan ini karena ingin menyenangkan kedua orang tuamu.."
"Tidak akan mudah bagimu untuk menjalin hubungan karena keterpaksaan, apalagi dengan pria yang baru saja kamu kenal.."
Clara terdiam.
"Aku pun demikian, awalnya aku sedikit ragu dengan rencana orang tuaku untuk menjodohkanku.."
"Namun, setelah bertemu denganmu, aku berubah..aku jatuh cinta pada pandangan pertama.."
"Mungkin ini terlalu cepat, kita baru sekali bertemu..."
"Akan tetapi, aku tidak bisa menahannya lagi.."
"Terimalah pernyataan cintaku yang tulus ini..aku jatuh cinta kepadamu.."
Clara kaget, dia melihat wajah Dennis yang menatapnya lekat.