
"Kamu gak kerja..?" Tanya Fatimah melihat suaminya yang masih tertidur.
"Gak.." Jawab Aditya masih dengan menutup kedua matanya.
"Kenapa..?"
"Ga enak badan.."
Fatimah menaiki kasur perlahan, dia menghampiri suaminya dan memegang kening Aditya.
"Gak demam kok.." Gumam Fatimah.
Aditya menyimpan kepalanya di atas paha Istrinya, dia mengelus dan menciumi perut Fatimah.
"Aku mual, kepalaku pusing dan rasanya pengen makan yang asem asem.." Ucap Aditya tidak bersemangat.
Fatimah tersenyum.
"Kamu kayak orang ngidam saja.."
"Oh ya..bisa jadi.."
Fatimah kembali tersenyum, selama dia hamil, tidak merasakan ngidam apapun kecuali ingin menciumi bau badan suaminya, selain itu dia tidak merasakan apa apa. Mungkin kali ini Aditya yang harus mengalami ngidam.
Aditya berdiri, dia menghampiri jendela dan melihat sesuatu.
"Sepertinya pohon mangga kita berbuah.." Ucap Aditya bersemangat, dia langsung mengajak Fatimah ke halaman belakang rumah.
Fatimah mengernyitkan dahi melihat suaminya dengan lahap memakan mangga muda dan sambalnya.
-----------
Ayu kembali menerima paket amplop coklat itu, tanpa membukanya dia langsung menyimpan di dalam lemari di bawah bajunya, di menyingkap semuanya dan hampir sudah 8 amplop yang sudah dia terima.
Dia melanjutkan kembali pekerjaannya membersihkan rumah dan memasak, sebentar lagi suaminya akan pulang untuk makan siang.
Tak lama Romi datang, dia segera menghampiri Ayu yang masih memasak di dapur.
"Belum beres sayang.." Ucap Romi memeluk Ayu dari belakang.
"Bentar lagi ya.." Jawab Ayu sembari tersenyum.
Romi tetap memeluk istrinya.
"Oh iya..mami menyuruh kita untuk mengunjunginya nanti malam.."
Ayu mengangguk.
"Kita harus bawa apa ya..?" Tanya Ayu sambil memutar badannya menghadap ke arah Romi.
"Mami tidak mau apa apa, di cuma mau cucu.." Jawab Romi menciumi istrinya.
Ayu cemberut.
"Iya..Ayu belum ada tanda tanda hamil.." Jawab Ayu lemas.
"Ya udah..kita buat dulu sekarang, kali aja nanti malam langsung jadi.." Goda Romi sambil menarik Ayu masuk ke dalam kamar.
"Bentar.." Jawab Ayu tersenyum.
Ayu segera mematikan kompornya, dia mengikuti suaminya yang mengajaknya masuk ke dalam kamar. Mereka melupakan makan siangnya.
Beberapa saat kemudian.
Romi dengan tergesa-gesa mengambil baju di lemari, dia harus segera kembali ke kantor karena jam makan siang sudah habis, sementara ayu masih membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Tiba tiba.
Beberapa amplop coklat jatuh ketika tidak sengaja Romi menarik baju dengan kencang di dalam lemari.
"Apa ini..?" Tanya Romi dalam hati.
Dia segera membuka satu dari beberapa amplop yang dipegangnya.
Dia terkaget, dia kemudian membuka semua amplop di tangannya satu persatu.
Dia kaget dengan semua isi di dalamnya.
Tak lama Ayu keluar dari kamar mandi.
Ayu kaget ketika Romi memegang amplop coklat yang dia sembunyikan di dalam lemari.
"Apa ini..?" Tanya Romi dengan mata memerah karena marah.
Ayu terdiam, dia menghampiri suaminya dan segera mengambil amplop dan semua isinya di tangan suaminya.
Ayu masih terdiam.
"Jawab aku.." Tanya Romi lagi, kaki ini dia memegang tangan Ayu.
"Sudah beberapa hari ini aku dapat paket, dan ini isinya, aku tidak tahu siapa yang mengirim.." Jawab Ayu pelan.
Romi menghela napas.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku..?"
"Untuk apa..?" Jawab Ayu kembali.
"Mereka hanya ingin membuat kita ribut.." Lanjut Ayu tersenyum.
"Tapi aku tak sebodoh yang mereka kira.."
Romi memeluk Ayu erat.
"Aku sungguh beruntung mendapatkan kamu sayang.." Bisik Romi.
Ayu tersenyum, dia menatap lekat suaminya.
"Mereka hanya ingin memisahkan kita tapi aku tahu kamu sudah berubah.."
"Itu hanya masa lalu kamu.."
"Aku sama sekali tidak terpengaruh dengan semua foto itu.." Ucap Ayu.
"Terimakasih sayang.." Romi menjawab menahan tangisnya, dia mencium kening istrinya berkali kali.
"Kamu sudah telat, aku siapkan dulu makanannya.." Ucap Ayu melepaskan pelukan suaminya dan berjalan keluar kamar.
Sepeninggal Ayu, Romi mengambil semua foto foto dirinya dan beberapa wanita itu, dia menyusunnya dan memasukannya ke dalam jas miliknya.
----------
Aditya terperangah melihat semua foto yang ditunjukkan Romi kepadanya.
Hampir semua foto memperlihatkan kemesraan Romi dan beberapa wanita, terlihat Romi memeluk dan mencium mereka, bahkan ada beberapa foto yang menunjukan Romi dan beberapa wanita diatas tempat tidur tanpa mengenakan baju dan hanya memakai selimut.
"Mereka mengirim ini semua ke Ayu..?"
"Dan Ayu sama sekali tidak marah..?" Tanya Aditya heran.
Romi hanya mengangguk lesu.
Aditya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Loe yakin Ayu cinta sama loe..?" Tanya Aditya bercanda.
Romi tak terpengaruh dengan pertanyaan Aditya yang bercanda, dia terus merenung memikirkan siapa kira kira yang telah mengirim semua foto itu kepada Ayu.
"Kalau bukan Ayu yang jadi istri gue, sudah pasti ribut besar.." Ucap Romi masih setengah merenung.
Aditya mengangguk.
"Entah apa yang akan dilakukan Fatimah, seandainya ini semua foto gue.." Jawab Aditya menghayal.
"Loe beruntung.." Lanjut Aditya.
Romi hanya mengangguk.
"Tapi gue yakin dalam hati kecilnya dia merasa sakit, dia hanya tidak mau menunjukannya.." Jawab Romi.
"Dan Loe harus pastikan, Ayu tak akan menerima semua foto foto itu lagi.."
"Jujur aza, gue kasihan sama dia.." Lanjut Aditya.
Romi mengangguk.
" Ayu terlalu baik untuk terus tersakiti.." Lanjut Aditya.
"Loe bener..dan gue pastikan akan menangkap orang yang telah mengirim semua foto ini kepada Ayu.."
"Gak bakalan gue kasih ampun.." Lanjut Romi kesal.
"Sudah pastinya dia adalah salah satu dari mantan mantan loe.."
Romi mengangguk.
"Atau bisa jadi semua mantan mantan loe bersekongkol.." Ucap Aditya bercanda.
Romi memegang kepalanya.