My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Clara dan Angga..



Bayu terkejut, dia melihat Angga yang telah berani masuk ke ruangannya.


"Apa yang kamu lakukan disini..??!!!" Teriak Bayu dengan marah kepadanya.


"Aku mendengar wanita itu butuh pertolongan.."


"Keluar atau aku akan memecatmu..!!!!" Teriak Bayu dengan marah.


"Sekarang aku mengundurkan diri.." Angga berjalan menghampiri mereka berdua, melepaskan Clara dari cengkeraman Bayu.


"Berani beraninya kamu.." Bayu akan memukul Angga, tapi sayang, Angga berhasil mengelak.


Kali ini Angga yang memukulnya.


Bayu jatuh terhuyung.


Angga melepaskan jas yang dipakainya, dan memakaikannya kepada Clara dimana seluruh kancingnya sudah terbuka.


Clara yang ketakutan, mencoba merapihkan dirinya.


Bayu bangun dan memegang pipinya.


"Apa yang kamu punya sehingga kamu berani melawan saya..?"


Angga tersenyum.


"Aku memang tidak mempunyai apa-apa, aku hanya mempunyai hati nurani, tidak akan membiarkan seorang laki laki brengsek seperti anda melecehkan wanita di hadapanku.."


"Kurang ajar.." Bayu mencoba memukulnya, dan kali ini Angga tidak sempat menghindar, dia terkena pukulan dari Bayu.


Clara kaget, dia memegang Angga yang terhuyung.


"Kamu akan mati karena telah berani melawan saya.."


Angga tersenyum, dia kembali berdiri dengan tegak.


"Saya tidak takut sedikitpun kepada Anda.."


"Kamu yang akan menyesal karena telah dua kali mencoba melecehkan aku.." Ucap Clara dengan marah.


Kemudian Angga menggiring Clara meninggalkan Bayu yang sangat marah.


Mereka keluar dari ruangan itu, semua mata karyawan tertuju pada Angga dan Clara, yang berjalan meninggalkan kantor.


Mereka salut dengan keberanian Angga yang berani melawan bos mereka Bayu, sebenarnya bukan mereka tidak mengetahui atau mendengar teriakan Clara yang sedang dilecehkan oleh Bayu, walaupun Bayu sudah menyuruh mereka untuk pergi meninggalkan kantor, tapi ada sebagian yang bertahan diantaranya adalah Angga, mereka hanya tidak berani untuk masuk, selain karena pasti akan kehilangan pekerjaan, mereka juga akan mendapat masalah besar karena melawan Bayu, bos mereka yang terkenal pemarah dan arogan.


Angga menemani Clara dengan sampai ke tempat parkir.


Mereka berhenti ketika sampai di depan mobil Clara.


"Aku akan mengantarmu.." Angga meminta kunci mobil Clara.


Clara memberikan kuncinya.


Mereka berdua masuk kedalam mobil.


Angga mengendarai mobil dan pergi meninggalkan basemen.


"Terima kasih.." Ucap Clara dengan suara bergetar.


Clara melihat wajah Angga yang lebam dan bibirnya tang terluka akibat pukulan Bayu tadi.


"Kamu terluka.." Ucap Clara kaget.


Angga memegang pipinya.


"Tidak apa-apa..hanya luka kecil.."


"Kamu kehilangan pekerjaanmu karena telah menolongku.."


Angga hanya tersenyum kecil, dia terlihat fokus menyetir.


"Dan saya yakin Bayu tidak akan melepaskan kamu begitu saja.." Clara terlihat mengkhawatirkan Angga.


"Jangan khawatirkan saya, sebaiknya kamu melaporkan apa yang sudah dilakukan Bayu kepadamu pada polisi, saya dengar tadi dia sudah dua kali mencoba melecehkan kamu.."


Clara menunduk dan mengangguk.


"Saya harap kamu tidak diam saja, kamu harus mengambil tindakan..."


Mereka terdiam cukup lama.


"Kita kemana..?" Tanya Bayu tiba tiba.


Clara kaget, dia tidak tahu harus pergi kemana.


"Saya hanya ingin menenangkan diri dulu.."


Angga menghentikan mobilnya.


"Saya turun disini, kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu jangan sendiri dulu, Bayu bisa melakukan apa saja.."


Angga terlihat akan turun dari mobilnya.


"Tunggu.." Clara mencegah Angga untuk pergi.


"Apa tidak sebaiknya kita untuk sementara bersama, aku juga takut Bayu akan mencelakaimu.."


Angga mengurungkan niatnya untuk luar dari mobil.


Dia pikir apa yang dikatakan oleh Clara benar.


Dia harus membantu gadis ini sampai dirinya yakin keadaannya sudah aman.


"Baiklah.."


Angga kaget, dia memang merasakan sakit di bibirnya.


"Tidak usah..saya tidak apa-apa.."


Clara tidak memperdulikan penolakan Angga, dia mengambil kotak obat dan membukanya.


Clara mengambil kapas, menambahkan sedikit alkohol dan melihat wajah Angga yang terlihat risih.


"Tidak usah.." Angga tetap menolak.


Clara tidak peduli, dia menarik wajah Angga hingga sangat dekat dengan wajahnya, kemudian mengoleskan kapas tadi ke bibirnya yang terdapat sedikit luka dengan darah yang sudah mengering.


Angga seakan pasrah, dia tidak bisa lagi menolak karena tangan Clara yang terus memegang wajahnya, jantung Angga berdegup kencang karena baru kali ini dia berada dalam jarak sedekat ini dengan seorang wanita, bahkan dirinya bisa merasakan setiap tarikan nafas Clara.


Dalam jarak sedekat itu pula, Angga baru menyadari bahwa gadis yang baru saja ditolongnya sangat cantik, menyadari dia terus menatap Clara, Angga segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Setelah mengobati lukanya, Clara kemudian membersihkan darah yang sudah mengering di bibir Angga.


Clara benar benar tidak memperdulikan Angga yang sudah salah tingkah karena merasa sangat risih.


"Sudah.." Ucap Clara sambil melepaskan tangannya.


Angga membenarkan posisi duduknya.


"Terima kasih.."


Clara hanya mengangguk.


"Clara.." Clara memperkenalkan diri.


Angga melihat Clara.


"Apa..?" Tanya Angga kaget.


"Kita belum saling memperkenalkan diri.."


Angga mengangguk mengerti.


"Angga.." Jawab Angga semakin salah tingkah.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Aku berniat ingin memberitahu kakakku kejadian hari ini.." Ucap Clara tiba tiba.


"Itu bagus.."


"Maukah kamu menemaniku..?"


"Baiklah.."


Angga menghidupkan mobil, mereka pergi ke kantor Kevin.


Selama perjalanan mereka terlihat diam, sesekali Clara melirik Angga yang sibuk menyetir.


Entah kenapa, Clara merasa kagum dengan lelaki di sampingnya, selain karena keberaniannya, juga karena pengorbanannya karena telah rela kehilangan pekerjaan hanya untuk menolongnya.


Akhirnya mereka sampai di kantor Kevin, sebelum turun Clara yang sedari tadi memakai jas milik Angga merapihkan bajunya, rupanya memang kancing bajunya sudah banyak terlepas karena kejadian tadi, sehingga mau tidak mau dia harus tetap memakai jas Angga.


Mereka berjalan beriringan memasuki kantor, ditengah tatapan orang orang yang merasa aneh dengan penampilan Clara yang terlihat berantakan.


Mereka sampai di ruangan Kevin.


Clara membuka pintu setelah diberi tahu oleh sekertaris kakaknya bahwa Kevin berada di ruangannya.


Kevin tengah sibuk bekerja, dia kaget melihat kedatangan Clara.


Apalagi dia melihat Clara adiknya sedikit berantakan.


Kevin berdiri, menghampiri Clara yang seperti akan menangis.


"Ada apa..?" Tanya Kevin penasaran.


Clara menghambur dalam pelukan kakaknya.


"Ada apa..?" Tanya Kevin lagi semakin penasaran dan cemas.


Kevin melihat ada laki laki yang menemani adiknya.


"Apa yang terjadi pada Clara..?" Tanya Kevin pada Angga.


"Dia baru saja akan dilecehkan oleh Bayu.."


"Apa..?!"


"Bayu..?!!!" Tanya Kevin kaget.


Dia tahu kalau adiknya berpacaran dengan Bayu karena Clara telah memberitahunya.


"Apa yang sebenarnya terjadi..?"


"Ceritakan pada kakak semuanya.." Tanya Kevin sambil melepaskan pelukannya dan melihat Clara.


Dengan terisak, Clara menceritakan semuanya, bercerita dari kejadian tadi malam disaat Aditya yang sudah menolongnya dari jebakan Bayu juga kejadian hari ini di kantor Bayu dimana sudah ditolong oleh Angga, pria yang mengantarkannya kesini.


"Apa kamu sudah gila..?"


"Kenapa kamu kembali menemui Bayu hari ini..?"


"Dan kenapa baru sekarang menceritakannya pada kakak..?"


Kevin terlihat sangat marah.