My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Extra Part : Clara dan Angga..



Clara terdiam tidak bisa menjawab apapun, kata kata terakhir yang diucapkan oleh Dennis terdengar sangat manis, seakan meyakinkan dirinya bahwa keputusannya untuk menikah dengan Dennis adalah benar, Dennis sangat mencintainya, dan dia yakin bahwa Dennis akan membahagiakannya, sesaat dirinya terhanyut, namun tiba tiba ada satu sisi dari perasaannya mengingatkan sesuatu, Angga.


Clara segera menepis pikirannya tentang Angga, mulai saat ini dia harus melupakannya, dirinya telah membuat keputusan memilih Dennis dan menikah dengannya. Walaupun sudah pasti dengan hati yang berat.


Sakit..?


Tentu saja, selama ini Clara tidak mudah jatuh cinta kepada pria, akan tetapi entah mengapa hanya dengan beberapa kali saja bertemu dengan Angga sudah membuatnya jatuh hati. Tapi malang, sekalinya Clara mencintai pria, bahkan cintanya tak bertepuk sebelah tangan namun mereka tidak bisa bersama, padahal dirinya pernah bertekad dan meminta Angga untuk memperjuangkan cinta mereka, namun dirinya juga yang mengkhianatinya.


Dan kini cinta mereka harus kandas, membiarkan dirinya menjadi milik orang lain, lelaki yang mencintainya namun tidak dicintainya, paling tidak, masih ada cinta di rumah tangganya nanti walaupun hanya sebelah pihak saja, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.


Dennis masih menatap Clara dengan tatapannya yang penuh cinta.


"Lupakan dia, lelaki yang sedang ada dipikiranmu, dan fokuslah kepadaku..kamu tidak salah memilih.."


Clara terperanjat kaget mendengar perkataan Dennis, seakan akan dia tahu apa yang sedang berkecamuk di pikirannya.


Clara segera tersenyum kecil.


"Aku tahu.."


-------------


"Aku akan menikah dengan Dennis..maafkan aku.." Ucap Clara kepada Angga di pantai itu, tempat Angga menyatakan cintanya waktu itu.


Angga tidak nampak kaget, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Semoga kamu bahagia.." Ucap Angga.


"Terima kasih.." Jawab Clara pelan.


"Semoga kamu mendapatkan wanita impianmu.."


Clara meninggalkan Angga, dia memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Angga yang kecewa sendirian.


"Aku bahkan belum melakukan apapun untuk memperjuangkan cinta kita.." Ucap Angga kepada dirinya sendiri.


Clara menghentikan mobilnya, tangisnya tak bisa dibendung lagi, dia menangis sejadi-jadinya, meratapi semua kesedihan dan pengorbanannya.


"Maafkan aku.." Ucap Clara disela sela tangisnya untuk Angga.


-------------


Fatimah dan Nadya beserta anak anak mereka memutuskan untuk menginap malam ini, keadaan tidak memungkinkan untuk meninggalkan ibu mereka sendirian di rumah dalam keadaan seperti.


Handoko sudah kembali dari kantor sedari tadi, namun dia memilih untuk menghabiskan banyak waktu di ruang kerjanya.


Kevin dan Aditya berbarengan sampai kerumah, setelah berganti baju mereka bergabung dengan semuanya yang berkumpul di ruang keluarga, mereka berinisiatif memberitahu ibu dan istri mereka kejadian yang sebenarnya, keadaan yang membuat ayah mereka bersikeras menikahkan Clara dengan Dennis, agar semua kesalahpahaman yang terjadi di keluarga mereka usai.


Kevin menghampiri ibunya, dengan perlahan dia memberitahu situasi yang terjadi, Annisa cepat mengerti,biar bagaimanapun dia juga adalah seorang mantan pengusaha, sedikit banyaknya dia tahu akan situasinya sekarang.


Tentu saja Annisa menangis, menyesal dengan semua perkataan dan perbuatannya kepada Handoko suaminya, dia tahu bahwa sebenarnya suaminya hanya terjebak pada rencananya sendiri.


Begitu juga dengan Fatimah dan Nadya, mereka menyesal karena sempat berburuk sangka kepada ayahnya, mereka baru sadar dan bangga memiliki ayah yang hatinya mulia, memikirkan nasib ribuan buruh dan keluarganya yang akan terkena dampak dan imbasnya bila ayahnya dengan gegabah memutuskan perjodohan itu seenaknya.


Handoko keluar kamar, dia kaget melihat istrinya yang menangis dan berlari menghambur ke pelukannya.


"Maafkan aku.." Ucap Annisa di dalam pelukan suaminya


"Ada apa ini..?" Tanya Handoko heran.


"Aku sudah tahu yang sebenarnya dari Kevin.."


Handoko melihat Kevin.


Kevin menghampiri ayahnya.


"Maafkan aku juga pah.." Kevin memeluk kedua orangtuanya bersamaan.


Handoko mengerti kalau Aditya sudah memberitahukan semuanya kepada mereka.


Handoko tersenyum.


"Tidak apa-apa, seharusnya papa yang meminta maaf karena telah mengucapkan sesuatu yang kasar kepada kalian.."


"Dan seharusnya papa juga memberitahu kalian situasi yang sebenarnya dari awal sehingga tidak terjadi kesalahpahaman seperti tadi siang.."


"Kami mengerti, setelah ini kita akan bersama-sama mencari jalan keluar permasalahan ini.." Jawab Kevin.


Annisa dan Handoko menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba seseorang masuk, mereka melihat Clara namun ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.


Clara tersenyum, dia segera menarik tangan Dennis yang berjalan di belakangnya.


Semuanya kaget melihat kedatangan Clara dan Dennis.


Dennis dengan ramah menyapa Annisa dan Handoko, kemudian kepada semua orang.


Clara melihat Dennis, memintanya untuk memberi tahu semuanya tentang tujuannya datang kesini.


"Kami ingin memberitahu semuanya, bahwa kami sudah memutuskan untuk menikah dengan secepatnya.."


Semuanya kaget dan terdiam, mereka langsung melihat Clara yang terus berusaha memberikan senyuman yang dipaksakan.


Dennis heran, karena tidak ada yang terlihat senang dengan kabar pernikahannya dengan Clara, dia semakin heran dengan reaksi semua orang yang justru terlihat kaget dan sedih.


Terutama Pak Handoko, selama yang dia ketahui, justru Handoko yang paling antusias dengan perjodohan ini, seharusnya dia merasa senang mendengar rencana pernikahan mereka.


Semuanya masih terdiam tak memberikan respon, membuat Dennis semakin keheranan.


"Apa kalian tak senang..?" Tanya Dennis memberanikan diri.


Dia melihat Clara yang menunduk.


"Papa..aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Dennis.." Ucap Clara kepada Handoko yang terlihat menunduk dan berpikir.


"Baiklah..kalau itu sudah keputusan kalian, tentu papa akan merestuinya.."


Annisa terlihat kaget, seakan tak percaya dengan apa yang tengah terjadi, dia melihat Clara dengan getir dan penuh tanda tanya, kenapa putrinya mengambil keputusan sendiri.


Begitu juga dengan Kevin dan semua orang disana, tidak ada satupun yang terlihat bahagia ataupun senang, reaksi yang jauh berbeda yang ditunjukkan oleh keluarga Dennis tadi pada saat dirinya dan Clara mengumumkan akan segera menikah.


-----------


"Ada apa..?" Tanya Dennis melihat Clara yang berjalan setengah melamun.


"Apa..?" Jawab Clara kaget.


Dennis menghampiri Clara, mereka semakin dekat, membuat Clara risih dan mundur beberapa langkah.


"Kenapa rasanya seperti keluargamu tidak senang dengan pernikahan kita.."


Clara kaget, rupanya Dennis menyadarinya, tentu saja, Dennis tidak buta, dia pasti melihat bagaimana reaksi seluruh keluarganya yang dingin mendengar pengumuman rencana pernikahan mereka.


"Seperti yang aku katakan padamu tadi siang, ini surprise, keluargaku pasti kaget karena ini mendadak.." Clara mencoba berkelit.


Dennis tersenyum.


"Semoga hanya begitu.."


Clara mengangguk dan tersenyum.


"Sudah malam..aku pulang dulu.." Dennis berpamitan.


Dia menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Handoko.


Clara berjalan perlahan-lahan memasuki rumahnya, dia tahu, seluruh keluarganya menunggu dirinya untuk meminta penjelasan.


Benar saja.


Setibanya di ruang keluarga, semua mata menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan..?" Tanya Kevin penasaran.


"Kamu membuat kami bingung, tadi siang kamu bilang ingin membatalkan perjodohan itu, tapi tiba-tiba kamu membawa Dennis kesini bahkan berkata akan menikah dengannya secepatnya.."


Clara menunduk.


"Maaf semuanya, ini mendadak, tapi papah benar, Dennis lelaki yang baik, dia mencintaiku..kalau aku menikah dengannya pasti aku akan bahagia.."


"Seharusnya dari awal aku tahu, kalau pilihan papa pasti yang terbaik untukku.."


"Maafkan kegaduhan yang terjadi karena kesalahanku.."


"Apa maksudmu sayang..?" Annisa menghampiri Clara dan memeluknya.


"Apa yang kamu lakukan..?"


"Kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini..?"


"Mama tahu, kamu melakukannya karena terpaksa.." Annisa menangis sedih.


Clara menggelengkan kepalanya.


Handoko melihat putrinya, ada rasa penyesalan didalam hatinya.


Dia tahu Clara melakukannya hanya karena ingin meredam situasi panas yang terjadi antara dirinya dan istrinya.


Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Dia hanya diam dan kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


----------


"Clara terpaksa melakukannya.." Ucap Handoko kepada Surya, ayah dari Dennis.


"Demi menjadi anak yang berbakti, dia menerima perjodohan ini dengan terpaksa.." Lanjutnya.


"Apa maksudmu..?"


Lain halnya dengan Dennis, dia hanya tersenyum kecil.


"Saya sudah tahu om.."


"Saya tahu, Clara mencintai lelaki lain..dia hanya dalam posisi terjebak, harus memilih diantara lelaki yang dicintainya dan pilihan orang tuanya.."


"Dan dia lebih memilih menuruti keinginan orang tuanya, dan mengorbankan cintanya.."


Handoko melihat Dennis, dia tidak menyangka kalau Dennis sudah mengetahui semuanya.


"Apa maksudnya ini, saya tidak mengerti.." Tanya Surya dengan marah.


"Maafkan saya, tapi saya ingin membatalkan perjodohan ini.." Jawab Handoko pelan namun tegas.


Surya membelalakkan matanya.


"Apa..?! Kamu tidak bisa seenaknya sendiri.."


"Mereka sudah berencana untuk menikah, kenapa kamu malah ingin membatalkannya..?" Tanya Surya heran.


"Kami bahkan sudah mempersiapkan semuanya.."


"Dan apa kamu ingat, kamu sendiri yang mempunyai ide perjodohan anak anak kita, dan sekarang kamu sendiri yang ingin membatalkannya.." Ucap Surya dengan marah.


"Saya tahu..karena itu saya meminta maaf.." Jawab Handoko pelan


"Kamu pikir bisa semudah itu..?" Bentak Surya.


Dennis memegang ayahnya.


"Papi..Aku memang tidak mau menikah dengan Clara.." Ucap Dennis membuat ayahnya langsung diam.


"Apa..?" Jawab Surya lebih kaget lagi.


"Bukankah kamu bilang menyukainya dan bahagia karena ternyata dia mau menikah denganmu..?"


"Itu benar pih..tapi aku tidak mau memaksanya, aku tidak mau, dia menjadi istriku tapi sebenarnya dia mencintai pria lain.."


"Kamu benar, dan itu semua salahnya..Handoko kamu telah mempermainkan perasaan anak saya..saya tidak akan diam.." Lanjut Surya semakin marah.


"Saya menerima resikonya, apapun yang akan kamu lakukan saya terima.." Jawab Handoko pasrah.


Surya tersenyum.


"Sepertinya kamu sudah tahu, apa yang akan saya lakukan.." Ledek Surya dengan senyuman sinisnya.


"Saya sudah memperkirakannya..."


"Sesuai dengan perkiraan kamu, saya akan menarik seluruh investasi saya.."


"Aku tahu kamu pasti akan melakukannya.."


"Dan langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan, juga sudah saya perkirakan.."


"Baiklah kalau begitu.. bersiaplah..!" Jawab Surya dengan marah dan meninggalkan Handoko beserta Dennis.


"Maafkan papi saya om...namun saya pastikan, beliau tidak akan melakukan semua ancamannya tadi..saya jamin.."


"Jangan Nak, biarkan dia melakukannya, saya memang pantas mendapatkannya.."


"Saya akan mencari solusinya nanti.."


"Sayang sekali, Clara tidak melihat kebaikan di hati kamu, seandainya dia mencintaimu, om akan sangat senang kalau kamu menjadi menantuku.."


"Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari Clara..dan kamu hidup bahagia.."


Dennis tersenyum.


"Aamiin..terima kasih om.."


"Semoga Clara bisa hidup bahagia dengan lelaki pilihannya.."


Handoko kaget.


"Kamu mengetahui siapa lelaki itu..?"


Dennis mengangguk.


"Bahkan om juga mengenalnya.."


-------------


"Mama...aku mau berhijab.."


Fatimah dan Annisa kaget, mereka melihat Clara dengan heran.


"Aku tahu reaksi kalian akan seperti itu.." Ucap Clara dengan tersenyum.


"Tapi aku serius.."


Annisa melihat Fatimah.


Mereka saling berpandangan.


"Alhamdulillah.." Ucap Fatimah senang, dia menghampiri Clara dan memeluknya.


Annisa melakukan hal yang sama.


"Kenapa..?" Tanya Annisa heran.


"Sebentar lagi aku akan menikah, aku akan menjalani hidup yang baru dengan Dennis..aku ingin memulai semuanya dari awal.."


Annisa memeluk putrinya.


"Kamu tahu, mama senang mendengarnya, semoga kamu Istiqomah sayang..."


Namun, ada satu kesedihan yang masih dirasakan oleh Annisa, dia tahu Clara tidak bahagia dengan pernikahan dirinya dan Dennis, namun karena keadaan, dia terpaksa melakukannya, seandainya dia bisa melakukan sesuatu untuk menolong putrinya tersebut.


Rupanya Clara telah memesan beberapa baju pilihannya melalui belanja online, sehingga dia langsung memakainya dengan dibantu oleh Fatimah dan ibunya.


Clara terlihat sangat cantik dengan baju tertutup dan rambutnya yang berhijab, sehingga membuat Annisa dan Fatimah terkagum-kagum.


"Subhanallah..kamu cantik sekali sayang.." Annisa memeluk putrinya.


Begitu juga dengan Fatimah, dia memuji kecantikan Clara yang semakin terpancar.


Clara menatap dirinya di depan kaca, berpikir bahwa Clara seperti inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Angga, diam diam dia menangis mengingatnya.


Fatimah hari ini berencana untuk kembali ke rumahnya, namun diurungkannya karena Handoko yang meminta semua anak dan menantunya berkumpul malam ini untuk membicarakan masalah pernikahan Clara.


Malam pun tiba.


Semuanya telah berkumpul, sembari menunggu ayahnya yang katanya masih dalam perjalanan, mereka semua memuji kecantikan Clara dengan penampilan barunya yang berhijab.


Handoko datang bersama dengan Dennis, tentu saja mereka juga terpana dengan penampilan baru Clara.


"Putri ayah cantik sekali.." Puji Handoko memeluk Clara.


Begitu juga dengan Dennis, dia melihat Clara bahkan hampir lupa untuk berkedip.


"Beruntung sekali lelaki yang akan menjadi suamimu.." Puji Dennis, semua yang mendengar berpikir bahwa Dennis tengah memuji dirinya sendiri.


Handoko tersenyum.


"Semuanya, papa ingin mengumumkan bahwa pernikahan Clara akan dilaksanakan sebulan lagi.."


Semuanya terdiam nampak tak antusias.


Begitu juga dengan Clara, dia menundukkan wajahnya, tak percaya bahwa dirinya akan menikah secepat itu dengan Dennis.


"Silahkan masuk.." Teriak Handoko kepada seseorang diluar pintu.


Seseorang terlihat berjalan, Clara seakan berhenti bernapas melihat Angga berjalan menghampiri ayahnya.


"Dan ini calon suami Clara.."


Semuanya langsung berdiri karena kaget, Annisa menangis bahagia, dia memeluk Clara yang berdiri disampingnya.


"Clara..sekarang papa ingin menjodohkan kamu dengan Angga.."


"Dan kali ini, kamu jangan membantah lagi.."


Clara tersenyum dan menunduk malu.


"Akhirnya kamu menikah dengan lelaki yang kamu cintai nak..mama sangat senang.." Ucap Annisa menangis bahagia.


Aditya dan Fatimah kaget, namun kemudian tersenyum bahagia.


Angga mencuri pandang melihat Clara dengan penampilan barunya, hatinya berdebar kencang, semakin anggun dan menawan dengan hijabnya, semakin membuatnya jatuh cinta dan mantap untuk menikahinya.


Dennis menghampiri Angga.


"Kamu tahu, kamu sangat beruntung.." Mereka saling merangkul.


Hampir semua orang menangis bahagia.


Kevin menghampiri Dennis dan merangkulnya


"Terima kasih.."