My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Fitnah..



Aditya sedang pergi keluar kota untuk peresmian salah satu hotelnya, Fatimah tidak berniat memberitahu suaminya tentang kejadian tadi siang disekolah, dia tidak ingin membebani suaminya dan menambah beban pikirannya.


Zahra sedang tertidur bersama Zidane, Fatimah menatap wajah kedua anaknya. Tatapannya lebih tertuju kepada Zahra, dia mengingat kembali kejadian tadi siang, hatinya berdesir mengingat Zahra yang menangis tersedu-sedu.


"Mama..kata tante Nadya aku nakal, sama seperti mama kandung aku yang sekarang berada di dalam penjara.."


"Penjara itu apa ma..?" Zahra masih menangis tersedu-sedu


Kata kata itu selalu terngiang di telinganya, Fatimah kembali menangis.


Dia tak menyangka Nadya akan tega mengatakan hal sekeji itu kepada Zahra.


"Kenapa Nadya dan Ibunya melakukan hal ini kepadaku dan Zahra..?" Tanya Fatimah dalam hatinya.


"Apa yang sebenarnya yang sudah aku lakukan sehingga mereka begitu membenciku seperti ini..?


Dan Fatimah mengingat kembali perkataan Nadya.


"Setelah kamu rebut kasih sayang kedua mertuaku kepadaku dan kepada anakku, kamu ambil juga harta mereka sekarang kamu juga berhasil mengadu domba aku dan adik ipar ku.."


Fatimah mencerna kata perkata dari ucapan Nadya.


"Apa maksudnya dengan merebut kasih sayang mama dan papa, dan apa maksudnya dengan mengambil harta mereka..?"


Setelah lama berpikir, Fatimah kini bisa mengambil kesimpulan.


"Rupanya selama ini dia cemburu dengan kehadiranku dan Zahra yang telah mengalihkan perhatian mama dan papa darinya dan Nabila.."


"Dan tentang harta, aku yakin ini adalah masalah saham mama.."


"Rupanya dia marah karena itu.."


Fatimah kini mengerti, dia tidak menyangka Nadya dan Ibunya mempunyai sifat iri dan dengki, rupanya Nadya dan Ibunya merasa takut dirinya akan mendapatkan banyak harta dari keluarga Handoko.


Ponsel Fatimah berdering.


"Fatimah papa menunggu kamu dirumah sekarang.." Handoko meminta Fatimah untuk kerumahnya.


"Iya pa.."


"Baiklah..kami tunggu.."


Fatimah menutup teleponnya, dia sudah mengira ini pasti terjadi, dia akan dipanggil oleh Handoko.


Nadya pasti sudah mengadukannya.


Fatimah bersiap untuk pergi, dia menitipkan kedua anaknya kepada para pegawai.


Fatimah diantar oleh mang Redo, selama dalam perjalanan, dia bersiap dengan segala kemungkinan, kemungkinan kemarahan kedua orangtuanya dan kemungkinan Nadya akan membalikkan situasi dan bertindak sebagai korban.


Demi membela anaknya, Zahra. Fatimah tidak takut apapun.


Tak disadari, Fatimah telah sampai di kediaman Handoko yang mewah, Fatimah turun dari mobil dan melihat sudah ada beberapa mobil terparkir disana, salah satunya mobil Nadya dan Kevin.


Fatimah memasuki rumah ibunya, dia berjalan perlahan dan ketika sampai di ruang keluarga dia melihat beberapa orang telah duduk menunggunya.


Selain Handoko, dia melihat Annisa, ibunya yang seperti habis menangis, dan tentunya ada Nadya bersama ibunya dan juga Kevin.


Annisa tidak menyambutnya seperti biasanya, ibunya tetap duduk di samping suaminya.


"Silahkan duduk.." Kata Handoko.


Fatimah duduk.


Suasana semakin hening dan tegang, Fatimah melihat Nadya yang sepertinya menangis, lebih tepatnya pura pura menangis.


"Tentu kalian sudah tahu, kenapa saya memanggil kalian kesini.."


"Ada apa pah..?" Tanya Kevin, diantara semua orang disini, hanya Kevin yang masih belum mengetahui apapun.


Handoko menyuruh salah seorang asistennya untuk memutar video di layar televisi.


Dengan cekatan orang itu menyalakan televisi, dia akan memutar video itu akan tetapi tiba-tiba seseorang datang.


Aditya datang dengan sedikit tergesa-gesa.


Fatimah melihat suaminya, kedatangan suaminya membuat Fatimah kaget, dia sebenarnya tidak ingin Aditya mengetahui hal ini.


"Syukurlah nak Aditya bisa datang..duduklah.." Sambut Handoko dan mempersilahkan Aditya untuk duduk di samping Fatimah.


Aditya semakin heran, melihat semuanya yang terlihat sedih dan tegang. Dia duduk di sebelah istrinya.


Apalagi ketika dia melihat Fatimah yang terus menunduk, kini dia tahu ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya.


"Putar videonya.." Perintah Handoko kepada asistennya lagi


Semua orang melihat layar televisi dengan serius.


Kevin dan Aditya kaget melihat video yang baru saja disaksikannya.


Kevin melihat Nadya istrinya, begitu juga Aditya melihat Fatimah dengan penuh tanda tanya.


Nadya semakin terisak dengan tangisnya, begitu juga dengan ibunya.


"Kamu tahu kami hanya orang miskin, tapi aku tidak rela anakku diperlakukan seperti itu.." Linda menangis meraung-raung.


"Aku sendiri ibunya tak pernah memukul atau bahkan menampar anakku sendiri.." Tambah Linda dengan masih menangis.


Annisa terlihat menangis juga.


"Fatimah..bisa dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi..?" Handoko bertanya dengan lembut.


Fatimah terdiam.


Dia tidak tahu harus memulai dari mana.


"Nadya..jelaskan pada kami.." Handoko kali ini bertanya kepada Nadya.


Dengan sesenggukan Nadya berusaha untuk menjelaskan.


"Fatimah memintaku untuk menjaga jarak dengan papa dan mama, dia berkata bahwa dia adalah anak kandung mama dan dia memintaku untuk tahu diri, karena aku hanya menantu.."


"Aku menolaknya..dan Fatimah kemudian memukuliku.."


"Dia menamparku dua kali dan bahkan mendorongku dengan keras.."


Fatimah terperanjat kaget mendengar perkataan Nadya.


Sama halnya dengan semua orang, terlebih Annisa.


Annisa melihat Fatimah dengan tak percaya.


Lain halnya dengan Aditya, dia tidak mempercayai semua perkataan Nadya.


"Nadya..kamu.." Ucap Fatimah melihat Nadya dengan marah.


Nadya semakin menangis terisak, sedangkan Linda mengusap punggung anaknya.


Handoko tidak lantas percaya dengan perkataan Nadya.


"Apa itu benar Fatimah..?"


Fatimah hanya menggeleng.


"Katakan kenapa kamu melakukan itu kepada Nadya..?" kali ini Annisa bersuara.


"Mama..apa mama mempercayai ucapannya..?" Tanya Fatimah menahan tangisnya.


Ibunya terdiam, dalam hati terdalamnya tentu saja dia tidak mempercayai semua perkataan Nadya.


Melihat ibunya terdiam, Fatimah tidak kuasa menahan tangisnya.


Nadya telah memfitnahnya dengan keji, kali ini dia hanya ingin orang tidak mempercayai semua perkataan Nadya terutama mamanya, Annisa.


Kevin terus saja menunduk, dia seakan tidak mempercayai apa yang telah terjadi.


"Kenapa kamu diam saja, Fatimah telah menyakiti istrimu, tapi tidak ada yang kamu lakukan.." Linda memarahi Kevin yang terus saja terdiam dari tadi.


Kevin tidak menjawab, dia terlihat bingung.


Aditya memegang tangan istrinya.


"Maaf tapi saya tidak mempercayai semua perkataannya.."


"Tidak ada yang mengetahui sifat istri saya melebihi saya..Fatimah tidak mungkin melakukan itu.."


"Dan pasti ada sesuatu hal yang membuat istri saya melakukan itu.."


Semuanya diam.


"Aditya benar..ada alasan jelas kenapa Fatimah melakukan itu.." Tiba tiba Clara datang dengan wajah yang berseri-seri.


"Dan aku tahu kenapa Fatimah melakukannya.." Lanjut Clara.