
Margareth memeluk Ayu dengan erat.
"Kita mulai lembaran baru sayang..maafkan mami sekali lagi, cepat kembali ke kota, kami menunggu kamu disana.."
Ayu mengangguk.
Margareth dan suaminya kemudian pamit kepada seluruh keluarga Ayu kemudian pergi untuk kembali ke kota.
Prosesi pernikahan yang dimulai tadi pagi telah selesai dilaksanakan.
Banyak tamu dan rekan dari kedua pihak yang hadir dan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Walaupun di kampung akan tetap pesta pernikahan ini terbilang mewah, tentu saja karena ibunya Romi menginginkan yang terbaik untuk anak semata wayangnya, dia sendiri yang mengatur dekorasi dan catering dengan dibantu oleh ibunya Ayu.
Tak ketinggalan Fatimah sekeluarga dan beberapa ART yang dibawanya juga, kecuali nenek yang tidak bisa menghadiri mengingat usianya yang sepuh.
Aditya mengajak Fatimah untuk menginap beberapa malam disana, hanya para pegawai yang kembali pulang pada hari itu juga.
Hari sudah menunjukan pukul 8 malam, akan tetapi Fatimah masih asyik mengobrol dengan Ayu di kamarnya bersama Zahra.
Aditya mengetuk pintu.
"Sayang ayo kita pulang.." Ajak Aditya yang disusul oleh Romi yang memasuki kamar Ayu.
"Nanti kita ganggu mereka.." Lanjut Aditya menggoda keduanya.
Fatimah tersenyum.
Ayu menunduk menahan malu.
"Pelan pelan ya.." Bisik Aditya kepada Romi tetapi masih terdengar oleh Fatimah dan Ayu.
Fatimah memukul lembut suaminya.
Romi tidak menjawab dia hanya menatap Ayu lembut.
Fatimah, Zahra dan Aditya pun meninggalkan mereka berdua.
Jantung Ayu berdegup kencang, apalagi kini Romi duduk disampingnya.
"Kak mau mandi..?" Tanya Ayu.
Romi mengangguk
Ayu berdiri berniat akan mengambilkan handuk untuk suaminya.
Tiba tiba Romi berdiri dan menarik tangan Ayu dengan lembut
Romi dengan perlahan menarik Ayu ke arahnya.
Semakin dekat dan kini mereka berhadapan.
Romi mencium kening Ayu, dan Ayu menerima semua perlakuan suaminya dengan diam.
"Aku bahagia.."
Romi memeluk Ayu.
"Mandi ga..?" Tanya Ayu melepaskan pelukan Romi.
Romi mengangguk.
"Tapi kak..disini kamar mandinya bergantian.."
Romi tersenyum mengangguk.
Ayu melihat Romi meninggalkan kamar dengan jantung yang berdegup kencang.
Ayu merapihkan kamarnya, dia melihat sekeliling.
Melihat tempat tidurnya yang kecil yang terbuat dari kayu yang sepertinya sudah lama tetapi masih kokoh, dia berpikir bagaimana dia dan Romi akan tidur di kasur kecil ini, sebenarnya bisa akan tetapi mereka harus saling berdekatan bahkan menempel.
Ayu membuka koper Romi, dia memilih baju untuk suaminya, tetapi dia bingung harus memilih yang mana, cukup lama dia memilih sampai dia tak menyadari suaminya telah berdiri dibelakangnya.
"Cari apa..?"
Ayu kaget.
"Baju buat kamu, tapi aku bingung yang mana takut salah.."
"Apa kita butuh baju malam ini.."
Ayu kaget. Selain karena ucapan suaminya dia juga kaget karena dia melihat suaminya hanya mengenakan handuk saja, sehingga di melihat dengan jelas dada dan perut suaminya.
Romi tersenyum geli.
Romi kemudian mengambil bajunya sendiri.
"Aku mau pakai baju, kamu mau disini dan melihat..?"
Romi tertawa terkekeh-kekeh.
Ayu berdiri di depan pintu sambil senyum-senyum sendiri gak sadar ada dua adiknya memperhatikan.
"Kenapa kak..?"
Ayu kaget ternyata ada yang memperhatikannya.
"Ga papa.." Jawabnya malu.
Ayu tidak tahu apa yang harus dilakukannya kini, masih banyak pekerjaan dapur dan berbenah sisa pesta tadi, tapi dia tak mau menjadi bahan olokan orang orang yang melihatnya ikut berbenah.
"Aduh..udah sana pengantin masuk kamar.."
"Kok ada pengantin masih diluar udah malam gini.."
"Masuk ayu..kasihan suamimu menunggu.."
"Kalau suamimu minta jangan ditolak..dosa tau.."
Ayu malu dan memutuskan kembali ke kamarnya.
Ayu melihat Romi sedang sibuk dengan ponselnya sambil duduk di tepi kasur.
Melihat Ayu masuk Romi menyimpan ponselnya dan melihat Ayu dengan lembut.
Ayu perlahan menghampiri suaminya dan duduk disampingnya, agak jauh.
Romi bergeser mendekati Ayu.
"Deg degan ya..?" Tanya Romi.
Ayu menunduk malu.
Romi tersenyum.
Dia memegang tangan Ayu, kemudian menciumnya.
"Ayu aku mencintaimu.." Ucap Romi menatap wajah Ayu.
Ayu memberanikan diri untuk menatap balik wajah suaminya.
Romi semakin mendekatkan wajahnya, dan semakin dekat.
Romi mengecup bibir Ayu sekali, akan tetapi ketika dilihatnya Ayu memejamkan mata, membuat Romi mengecup kembali dan kali ini melumatnya.
Karena ini yang pertama buat Ayu, dia tak tahu cara membalasnya, Romi mencari celah untuk memasuki mulut ayu yang tertutup rapat, dia menggigit pelan bibir Ayu yang membuat Ayu membuka mulutnya sedikit dan akhirnya Romi melumat seluruh isi mulut istrinya.
Ayu mulai bisa membalas sedikit membuat Romi semakin bergairah, tangannya gini bergerilya mencoba membuka baju istrinya, satu persatu kancing baju piyama Ayu dibukanya.
Romi mendorong Ayu perlahan untuk berbaring diatas tempat tidur yang kecil itu, Romi yang semakin bergairah terus melumat bibir istrinya dan...
krekkkkkkkk...
Suara dipan yang berbunyi keras.
Romi langsung berdiri dan menarik istrinya dari atas kasur.
Mereka kemudian melihat kearah tempat tidur yang berbunyi tadi.
Ayu tersenyum geli
"Dipan ini sudah tua, dari Ayu masih bayi.."
Romi kaget mendengar perkataan istrinya.
"Jadi..?" Tanya Romi.
"Ayu takut roboh kalau dipaksakan.."
Romi menepuk keningnya.
Dan.....
"Kakak...mau bobo sama Kaka.."
Tiba-tiba suara adik Ayu yang berumur 5 tahun, masuk dan berlari memeluk Ayu.
"Gak dikunci..?" Tanya Romi kaget menunjuk ke arah pintu.
"Gak ada kuncinya...rusak" Jawab Ayu sambil menggendong adiknya.
Romi kembali menepuk keningnya.