
Fatimah mengingat kejadian di pesta tadi, dia terlihat termenung sambil menggendong Zidane yang sudah tertidur di pangkuannya.
"Ada apa..?" Pertanyaan Aditya membuyarkan lamunan Fatimah.
Aditya duduk di sebelah istrinya.
Fatimah terperanjat kaget, dia segera pura pura melihat Zidane yang ternyata tanpa disadarinya sudah tertidur.
Fatimah tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia hendak berdiri menidurkan Zidane di dalam box bayi.
Aditya menahannya, dia memegang tangan Fatimah, memintanya untuk tidak pergi.
"Ada apa..?" Tanya Aditya lagi.
Kali ini Fatimah tidak bisa menghindar. Dia duduk kembali karena tangan Aditya menahannya.
"Tidak ada.." Jawab Fatimah menunduk
"Jangan bohong.." Pinta Aditya.
"Aku tahu ada sesuatu, semenjak di pesta tadi sikapmu sudah aneh.."
Fatimah kaget, rupanya Aditya sudah memperhatikannya semenjak dari pesta tadi.
"Aku hanya kecapaian.." Fatimah masih berusaha berkelit.
"Sayang..aku tahu ada sesuatu, katakan padaku.." Aditya menatap Fatimah lembut.
Fatimah menunduk, dia berpikir haruskah dia mengatakan kejadian yang terjadi di pesta tadi kepada suaminya.
"Tadi di pesta, ibunya Nadya, ibu Linda mengatakan sesuatu kepada Zahra.." Fatimah melihat suaminya.
"Apa..?"
Fatimah menunduk, tak terasa air matanya mengalir.
Aditya semakin penasaran, dengan hati hati dia mengambil Zidane di gendongan istrinya, dia berdiri dan menidurkan Zidane di dalam box bayi.
Aditya kembali duduk di samping Fatimah.
Kini Fatimah semakin terisak dalam tangisnya.
"Katakan padaku apa yang ibunya Nadya katakan kepada Zahra.." Aditya memegang tangan istrinya, menatap lekat wajah istrinya yang basah oleh air mata.
Fatimah menceritakan dengan detail kejadian di pesta tadi dengan terisak.
Aditya kini mengerti. Dia memeluk Fatimah.
"Kenapa dia melakukan itu..?" Tanya Aditya heran.
"Aku tidak tahu.." Fatimah masih terisak.
"Aku sedih ketika melihat Zahra yang terlihat bingung dengan pertanyaan Ibu Linda.."
"Diusianya sekarang, aku rasa dia belum mengerti apa itu 'Ibu kandung' atau 'Ibu tiri'.." Fatimah terisak.
"Aku mengerti sayang, aku mengerti perasaanmu.." Aditya berusaha menenangkan istrinya.
"Aku tahu ini akan terjadi, tapi bukan sekarang, saat ini Zahra belum mengerti apa apa.." Lanjut Fatimah.
Aditya mengangguk.
"Sudah sayang..tidak usah kamu pikirkan lagi.."
Fatimah melepaskan pelukan suaminya.
"Entah kenapa aku tidak suka dengan pertanyaan Ibu Linda kepada Zahra.."
"Apalagi ketika dia bilang bahwa ibu kandungnya sekarang berada di dalam penjara.."
"Dan apa maksudnya aku tidak tahu, tapi aku merasa dia sangat tidak menyukaiku.."
"Beruntung Zahra tidak terpengaruh dengan semua perkataan ibu Linda.."
Aditya memeluk kembali istrinya.
"Sudah sayang, lupakan kejadian tadi..mari kita berpikir positif, mungkin Ibu Linda mengira kita sudah memberitahu Zahra semuanya.."
Fatimah mengangguk.
"Bisa jadi.. walaupun begitu, rasanya tidak pantas menanyakan hal seperti itu, apalagi kita baru pertama kali bertemu.."
Aditya mengerti perasaan istrinya, Fatimah terlalu menyayangi Zahra, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putrinya.
-------------
Aditya terlihat duduk di sebuah kafe seorang diri, terlihat dia sedang menunggu seseorang disana.
Tak lama seorang wanita datang menghampirinya.
"Sudah lama..?" Tanya Clara sambil duduk di kursi depan Aditya.
"Baru saja.." Jawab Aditya.
"Maaf..aku tahu kamu sibuk, aku pasti menganggu waktumu.." Ucap Aditya
"Santai saja, dan aku pikir yang paling sibuk disini adalah kamu.." Jawab Clara mencairkan suasana
Keduanya tersenyum.
"Ada apa..?"
"Sepertinya penting.." Clara heran, Aditya mengajaknya untuk bertemu.
"Masalah tadi malam.."
Wajah Clara berubah seketika, dia mengerti maksud pembicaraan Aditya.
"Fatimah tidak berniat membicarakannya kepadaku, tapi dia sangat terlihat sedih dan tertekan, dan aku memaksanya, kemudian dia menceritakan semuanya.."
"Aku sudah akan mengadukan semuanya kepada Kakakku dan Mama, tapi Fatimah melarangnya.."
"Kamu tahu, kenapa ibu Linda melakukan itu..?"
"Aku pikir itu terlalu frontal, hak yang tidak pantas dilakukan apalagi kepada seorang anak kecil.."
"Aku juga berpikir demikian, asal kamu tahu, aku benar benar marah malam tadi..Tapi aku tidak tahu apa maksud Ibu Linda, selama ini aku mengenalnya dan dia sangat baik.."
"Sebenarnya aku ingin menanyakan kepadanya secara langsung, tapi itu terlihat terlalu berlebihan, jadi aku ingin kamu membantuku menanyakan kepadanya.."
"Apa maksud semuanya.."
"Kenapa dia melakukan itu.."
"Baiklah, aku mengerti, sebenarnya tanpa kamu suruh aku memang berniat akan menanyakan kepada ibu Linda kenapa dia melakukan itu kepada Zahra dan Fatimah.."
Aditya mengangguk.
"Terima kasih.."
"Iya.. nanti akan aku kabari lagi.."
----------------
Entah kenapa, hari ini Fatimah terus merasa cemas dan terus memikirkan Zahra, dan ingin menjemput putrinya ke sekolah, padahal seperti biasanya, ada Erik dan Dewi yang sudah menunggui Zahra, Fatimah menitipkan Zidane pada Bik Minah dan pegawai lainnya, dia meminta Mang Redo mengantarkannya ke sekolah putrinya
Fatimah sampai di sekolah, dia berjalan masuk dan melihat sudah banyak ibu ibu yang juga menunggui anak mereka.
Ada satu sosok yang dikenalnya, Nadya. Fatimah melihat Nadya tengah melihatnya dengan sinis.
Fatimah mengingat kejadian tadi malam, mungkin Nadya marah kepadanya karena membela dirinya, Clara memarahi ibu Linda habis habisan.
Terlihat Nadya menghampiri Fatimah, dari sorotan matanya dia tahu Nadya sangat marah.
"Apa lagi yang akan kamu ambil dariku..?" Tanya Nadya dengan marah.
"Apa maksudmu..?"
"Setelah kamu rebut kasih sayang kedua mertuaku kepadaku dan kepada anakku, kamu ambil juga harta mereka sekarang kamu juga berhasil mengadu domba aku dan adik ipar ku.."
Fatimah kaget dengan ucapan Nadya, dia tidak menyangka bahwa Nadya berpikiran seperti itu kepadanya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu.." Jawab Fatimah.
"Jangan pura pura polos, aku tidak mempan kamu bodohi.."
Fatimah kaget dengan jawaban Nadya.
"Hati hati dengan omonganmu Nadya.."
"Kamu mau apa..?" Tanya Nadya seolah menantang Fatimah.
Fatimah berusaha menahan amarahnya, dia melihat Zahra yang sudah keluar dari kelas, tapi dia melihat ada yang aneh dari putrinya, dia melihat Zahra seperti menangis.
Fatimah segera menghampiri putrinya.
"Kamu kenapa sayang..?" Fatimah menghambur memeluk Zahra yang menangis.
Ibu guru datang menghampiri Fatimah.
"Kenapa anak saya menangis Bu..?"
Ibu guru terlihat ragu ragu untuk menjawab, dia melihat Nadya yang akan pergi meninggalkan sekolah bersama anaknya.
"Nadya..?"
"Apa karena Nadya..?"
"Begini Bu..tadi Nabila dan Zahra bertengkar..dan.." Ibu guru terlihat ragu ragu.
"Apa..?" Tanya Fatimah penasaran.
"Itu tadi Bu Nadya memarahi Zahra.."
"Apa..?" Fatimah kaget.
"Mama..kata tante Nadya aku nakal, sama seperti mama kandung aku yang sekarang berada di dalam penjara.."
"Penjara itu apa ma..?" Zahra masih menangis tersedu-sedu.
Fatimah kaget dan marah.
"Dewi..bawa Zahra masuk ke dalam mobil.."
Dewi menuruti perintah majikannya, dia dan Erik membawa Zahra dengan menggendongnya dan pergi ke parkiran mobil.
Sedangkan Fatimah menghampiri Nadya yang akan pergi meninggalkan sekolahan.
Fatimah terlihat sangat marah, dia semakin mendekati Nadya.
Nadya berdiri menunggu Fatimah mendekatinya.
Kini Fatimah berada tepat di depan Nadya.
"Plakkkkkkkk.." Fatimah menampar Nadya dengan sangat keras.