My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Kehamilan Fatimah..



Romi meminta Aditya untuk mengantar Ayu pulang, dia merasa Ayu yang juga butuh istirahat pasca penculikan itu.


Sedangkan Romi sudah merasa lebih baik, dia sudah bisa berdiri dan melakukan semuanya sendiri.


Romi ingin cepat sehat kembali, dia ingin segera datang ke kampung Ayu dan melamarnya dengan resmi, bahkan Romi ingin segera menikah dengan Ayu agar ibunya tidak bisa macam macam lagi kepada calon istrinya itu.


Romi tidak memberitahu Aditya bahwa ibunya lah dalang penculikan Ayu dan Zahra, walau bagaimanapun Romi tidak ingin ibunya mendapat masalah karena kalau sampai Aditya tahu, maka dia tak segan-segan memenjarakan ibunya tanpa memandang Romi sebagai sahabatnya.


Romi hanya ingin memastikan ibunya tak akan melukai Ayu lagi, dengan itu dia akan memantaunya terus.


Beberapa hari berlalu..


Zahra sudah mau ke sekolah lagi dan Dewi sudah bekerja kembali, akan tetapi kini Aditya menambah seorang bodyguard lagi, seorang laki laki bernama Erik, yang direkomendasikan oleh Dewi.


Aditya mewanti-wanti para bodyguardnya untuk semakin menjaga Zahra dan Istrinya lebih baik lagi.


Semenjak penculikan tersebut hingga kini kesehatan Fatimah belum membaik, akan tetapi dia memaksakan diri tetap mengantar Zahra ke sekolah. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya lagi.


Dan hingga akhirnya Fatimah tumbang tidak sadarkan diri ketika baru saja sampai disekolah Zahra.


Dewi dengan cekatan segera menggendong Fatimah dan membawanya kerumah sakit bersama Zahra dan Erik, tidak lupa dia menghubungi Aditya.


Mendengar kabar istrinya pingsan Aditya segera menuju rumah sakit.


"Selamat pak..istri anda sedang hamil, usia kandungannya baru menginjak 5 minggu.." Kata Dokter yang baru memeriksa Fatimah.


Aditya kaget dan bahagia mendengar kehamilan istrinya, segera dia menggendong Zahra dan menciumnya.


"Kamu akan punya adik bayi sayang.." Ucap Aditya kepada Zahra.


Zahra turun dan melompat-lompat kegirangan.


"Akan tetapi pak.. kehamilan istri bapak ini sangat lemah, masih rentan keguguran, jadi saya sarankan istri bapak untuk istirahat total sampai usia 4 bulan kehamilan.."


"Sekarang istri bapak boleh kembali kerumah, dan jangan lupa istirahat ya pak.."


Aditya mengangguk.


Dia dan Zahra memasuki ruangan Fatimah, dimana dia lihat Fatimah sudah berdiri dibantu perawat dan membenarkan jilbabnya.


Aditya memeluk Fatimah dengan erat dia tidak menghiraukan perawat yang ada disana.


"Lepasin..lihat perawat melihat kita.."


"Aku tidak peduli..aku cuma mau bilang makasih sudah memberiku kebahagiaan ini.."


Fatimah tersenyum.


"Mama..mana adik bayinya..?" Tanya Zahra bersemangat.


Aditya kemudian berjongkok dan mengelus perut Fatimah lalu menciuminya.


"Masih disini sayang.." Jawab Aditya.


Zahra ikut mengelus dan menciumi perut ibunya.


Kini Aditya dan Zahra berebutan untuk menciumi perut Fatimah.


Perintah Dokter Aditya ingat betul, dia benar-benar menyuruh istrinya istirahat total, dan menyuruh Ayu untuk mengantar Zahra ke sekolah. Walaupun masih sedikit trauma akan tetapi Ayu tidak akan membiarkan Zahra pergi ke sekolah sendirian.


Sedangkan Fatimah benar benar dimanjakan oleh Aditya, tidak jarang Aditya bolos kerja hanya untuk menemani Fatimah seharian dirumah.


Mendengar Ayu yang kini mengantar Zahra sekolah lagi membuat Romi khawatir, dia takut suruhan ibunya akan melukai Ayu lagi.


Melihat kedatangan Romi, Ayu berdiri dan menghampirinya, mereka berjalan kearah kantin.


"Apa kabar..?" tanya Romi, karena semenjak dia keluar dari rumah sakit dia belum lagi bertemu dengan Ayu.


"Baik.." Jawab Ayu menunduk.


"Bagaimana kabar Fatimah, aku senang mendengar kabar kini dia sedang hamil.."


"Fatimah dianjurkan oleh Dokter untuk banyak istirahat, jadi sekarang aku yang mengantarkan Zahra ke sekolah.."


"Sepertinya aku harus menyuruh Aditya agar mencari orang lain untuk mengantarkan Zahra ke sekolah.."


"Kenapa..?"


"Karena besok aku akan melamar kamu ke orang tuamu.."


Ayu kaget. Dia menunduk.


"Kenapa..? kamu tidak senang..?"


"Maaf..tapi sepertinya ibunya kak Romi tidak menyukai Ayu..."


Romi kaget, ternyata Ayu menyadari sikap ibunya yang tidak menyukainya.


"Aku tidak peduli..aku akan tetap menikahimu walaupun keluargaku tidak merestui.."


"Pernikahan yang seperti apa yang akan kita jalani kalau tidak ada restu orang tua, apalagi ibu.." Jawab Ayu Pelan sambil terus menunduk.


Romi terdiam.


"Ayu tidak ingin kak Romi menjadi anak durhaka karena Ayu.."


"Ayu tidak akan mau menikah kalau belum ada restu dari ibunya kak Romi.."


Ayu pergi meninggalkan Romi.


Romi menunduk dan memegang kepalanya, berpikir apa yang harus dia lakukan kini, dia sudah mengetahui sifat sang ibu yang akan tetap pada pendiriannya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Ayu yang dianggapnya mempunyai derajat yang rendah, sedangkan Ayu gadis yang baik, yang mengutamakan ridha dan restu orang tua dalam menjalani kehidupan apalagi pernikahan. Dia tidak akan pernah mau diajak menikah tanpa restu ibunya Romi.


----------


"Mami tidak pernah setuju kalau kamu menikah dengan gadis kampung itu, mau ditaruh dimana muka mami ini Romi?? Apa kata teman teman mami nanti kalau tahu kamu menikah sama Gadis miskin dari kampung bahkan sekarang bekerja sebagai pembantu di rumah Aditya..?" Teriak mami Romi dengan lantang.


Romi sudah menyangka kata kata itulah yang akan dikatakan oleh ibunya.


Romi melihat kearah papinya.


Papinya hanya menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.


Selama yang Romi tahu, papinya selalu menuruti semua kehendak istrinya.


----------


Aditya terdiam mendengar cerita Romi tentang maminya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Ayu.


Dari semua yang diceritakan oleh Romi, Aditya bisa menarik satu kesimpulan.


"Apa mami loe dalang dibalik penculikan Ayu dan Zahra..?"


Romi menunduk.