My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Saham..



Menjelang sore, Aditya datang menjemput Fatimah dan anak anaknya.


Kedatangannya disambut oleh Handoko yang sedang bermain-main bersama kedua cucunya, Nabila dan Zahra.


Zahra mengadukan luka di kakinya kepada Aditya. Zahra menceritakan kejadian yang menimpanya hingga kakinya terluka.


"Iya sayang..nanti dirumah papa kasih obat lukanya biar cepat sembuh.." Ucap Aditya sambil memeluk putrinya.


Aditya kemudian terlihat mengobrol santai dengan Handoko, sembari menunggu Fatimah yang masih bersiap.


Tak lama Fatimah datang, Zidane masih di atas gendongan neneknya yang seakan berat ditinggalkan oleh anak dan cucunya.


"Nanti kami akan sering sering datang kesini.." Ucap Fatimah sembari memeluk ibunya.


Setelah berpamitan, mereka menaiki mobil, Zahra yang terluka digendong oleh Aditya sampai ke mobil.


Annisa dan Handoko melepas kepergian mereka dengan melambaikan tangan.


----------


"Bagaimanapun caranya kamu harus bisa mengambil kembali perhatian kedua mertuamu.." Ucap Linda, Ibu Nadya memanasi anaknya.


"Buat mereka kembali menyayangi Nabila.." Lanjut Linda dengan kesal.


Sang ibu ikut tersulut emosi ketika mendengar Nadya menceritakan semuanya.


Linda takut anak dan cucunya akan terabaikan oleh kedua mertuanya yang kaya raya, karena kehadiran Fatimah dan kedua anaknya.


Nadya adalah gadis dari keluarga biasa saja, dia yang awalnya hanya karyawan di salah satu perusahaan milik Handoko beruntung karena ternyata Kevin jatuh hati kepadanya, keduanya kemudian menjalin hubungan dan akhirnya menikah.


Beruntung Handoko dan Annisa tidak mempersoalkan status Nadya, dan menerima Nadya sebagai istri dari putra mereka, putra yang akan menjadi pewaris semua perusahaan ayahnya, bahkan mereka menerima Nadya dengan tangan terbuka dan menggelar pesta pernikahan dengan sangat mewah.


Tentu saja hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga Nadya yang memang dari keluarga biasa, mereka merasa bangga putrinya bisa masuk sebagai menantu kedalam keluarga konglomerat seperti Handoko dan Annisa.


Nadya menjadi menantu kesayangan keluarga Handoko apalagi ketika Nabila lahir, semua perhatian terpusat kepada anaknya, Handoko dan istrinya sangat memanjakan dan menyayangi Nabila.


Namun saat ini, Nadya merasa semuanya berubah semenjak kehadiran Fatimah dan anak-anaknya.


Kini Annisa dan suaminya terlihat lebih menyayangi Zahra dan Zidane, Nabila seakan tersingkirkan dan tidak dipedulikan lagi, apalagi Nadya sering melihat Annisa membelikan banyak baju dan mainan baru untuk Zahra dan adiknya.


Nadya kesal dan marah, kenapa Fatimah harus datang dan merusak segalanya, andai saja Fatimah tidak datang, maka dirinya dan Nabila pasti masih menjadi kesayangan kedua mertuanya.


Dan kali ini dia bertekad akan mengambil kembali perhatian Handoko dan istrinya, dia akan membuat Nabila kembali menjadi cucu kesayangan.


---------------


Nadya akan menjemput Nabila pulang sekolah, dia terkejut ketika melihat Annisa yang berada disekolah putrinya.


"Mama..kenapa kesini..?"


Annisa tersenyum.


"Tadinya mama mau menjemput Nabila dan Zahra, karena kamu sudah disini, mama akan mengantarkan Zahra saja.."


Nadya terlihat kaget.


"Memangnya kemana sopir yang biasa menjemput Zahra..?"


"Ada..Mama merasa kangen kepada Zahra dan Zidane dan akan pergi kerumah Fatimah, tapi sebelum itu mama sekalian saja menjemput Zahra.."


Nadya terdiam.


Tak lama Zahra dan Nabila berlari menghampiri keduanya, Annisa membuka tangan menyambut kedua cucunya.


Zahra dan Nabila serentak memeluk Annisa.


Secara bergantian Annisa mencium kedua cucunya.


"Yuk kita pulang.." Ajak Annisa kepada Zahra.


"Nabila sayang..kamu mau ikut nenek kerumah Zahra..?" Tanya Annisa kepada Nabila.


"Iya..aku mau ikut, boleh kan ma..?" Jawab Nabila senang.


Nadya terpaksa mengangguk.


"Kamu juga ikut ya.." Ucap Annisa kepada Nadya.


Lagi lagi Nadya terpaksa mengangguk.


Akhirnya dengan terpaksa dia mengikuti mobil Annisa dan pergi kerumah Fatimah.


Fatimah menyambut kedatangan Annisa dan Nadya.


Fatimah senang ternyata Nadya dan Nabila juga datang kerumahnya.


Fatimah mempersilahkan semuanya masuk kedalam rumah, mereka duduk di ruang keluarga. Sedangkan Annisa terlihat asyik menggendong Zidane, mengayunkan, memeluk serta menciumi cucu laki laki satu satunya.


Zahra langsung mengajak Nabila untuk main bersama di teras belakang rumah, Nadya memerhatikan mereka dari jauh.


Fatimah datang bersama beberapa orang pegawainya membawa minuman dan banyak makanan untuk menyuguhi Nadya dan Annisa.


"Jangan repot sayang..mama bukan tamu.."


Fatimah hanya tersenyum, dia mempersilakan Nadya untuk minum.


"Iya terimakasih.." Jawab Nadya sambil terpaksa untuk tersenyum.


Nadya semakin kesal, Ibu mertuanya dan Fatimah kembali asyik mengobrol, dia merasa menjadi patung yang tidak dianggap.


"Sayang..mama punya rencana, akan memindahkan semua saham mama di perusahaan atas nama kamu.."


Nadya kaget mendengar perkataan mertuanya.


"Mama tidak usah melakukan itu, lagipula aku tidak mengerti masalah perusahaan.."


"Mama akan melakukannya sayang, kamu tidak harus melakukan apa pun, karena ada Clara yang akan mengurus semuanya.."


"Jangan ma..aku tidak enak dengan Clara.."


"Kamu tidak usah khawatir, Clara sudah menyetujuinya, dan asal kamu tahu, perusahaan ini mama rintis sendiri, jadi ini semua adalah hasil jerih payah mama dan kamu sebagai anak mama berhak menikmatinya.."


Nadya semakin kesal mendengarnya. Ternyata bapa yang ditakutkannya selama ini benar, Fatimah mendapatkan harta yang banyak dari Annisa.


"Aku tidak membutuhkannya ma, uang dari suamiku saja sudah lebih dari cukup.."


"Mama tahu itu sayang..mama hanya ingin memberikan apa yang sudah menjadi hak kamu sebagai anak mama.."


"Anggap saja ini sebagai cara mama untuk menebus semua kesalahan mama.."


"Mama tidak bersalah apa apa kepadaku.."


"Sudahlah.. Pokoknya kamu harus menerimanya, pengacara mama akan mengurus semuanya.."


"Lalu bagaimana dengan mama.."


"Sayang..mama tidak memerlukan semuanya lagi, bahkan mama sudah mundur dari perusahaan, sekarang Clara yang akan melanjutkannya, mama merasa sudah tua, sekarang mama hanya ingin fokus mengurus keluarga, mengurus semua anak anak dan cucu cucu mama.."


"Dan mama ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah.."


"Sudah terlalu banyak dosa mama.."


"Oh iya minggu depan mama dan papa akan pergi umroh.."


"Oh ya.. Alhamdulillah.." Jawab Fatimah senang.


"Doakan mama ya.."


Fatimah memeluk ibunya.


"Tentu saja ma..aku akan selalu mendoakan mama.."


Nadya pura pura tersenyum, namun dalam hati terdalamnya dia merasa sangat marah mendengar bahwa Fatimah kini menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan mertuanya.


"Benarkah Clara sudah mengetahui hal ini?" Tanyanya dalam hati.


Kalaupun tahu, apakah mungkin Clara akan membiarkannya, memang benar perusahan kosmetik itu Annisa yang mendirikannya akan tetapi Handoko tetap memberikan investasi besar dalam perusahaan itu, sehingga orang yang berhak menjadi pemegang saham terbesar adalah Kevin dan Clara anak kandung Handoko.


Nadya tahu, Clara sudah menjadi pemegang saham, akan tetapi Kevin suaminya tidak mempunyai saham di perusahaan ibunya, maka seharusnya suaminya yang menjadi pemegang saham menggantikan Annisa, bukan Fatimah.


Nadya pamit pulang terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang harus diurusnya.


Dia akan mendatangi Clara dan membicarakan masalah ini.


Bahkan ada maksud lain, Nadya akan menghasut Clara untuk mencegah semua rencana ibu mertuanya.