My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Hasil Tes..



Zahra sudah kembali kerumah dan keadaannya sudah semakin membaik.


Selain masih harus menjalankan pengobatan pada luka bekas tembakan, Aditya dan Fatimah juga mendatangkan psikiater anak untuk menghilangkan trauma pada putri mereka, walaupun Zahra terlihat baik baik saja, akan tetapi kedua orangtuanya khawatir Zahra mengalami traumatis akibat dari tembakan itu.


Terlebih Zahra belum mau pergi ke sekolah, Fatimah dan Aditya mempunyai ide untuk memindahkan sekolah putrinya agar Zahra kembali mau bersekolah dengan lingkungan sekolah yang baru.


Hari ini hasil tes akan keluar hari ini.


Aditya cemas, dia mengkhawatirkan Doni yang bertekad akan mengambil Zahra darinya kalau terbukti Zahra adalah anak kandungnya. Begitu juga dengan Fatimah, dia takut Doni akan mengambil Zahra darinya terlebih kini istrinya Doni sudah mengetahui semuanya, dia sudah memaafkan perselingkuhan suaminya dan dia mendukung suaminya untuk mengambil Zahra jika memang benar Zahra adalah putri kandung dari Doni.


Doni dan istrinya mempunyai 3 anak laki laki, wajar kalau mereka menginginkan Zahra dimana mereka sangat menginginkan kehadiran anak perempuan.


Aditya dan Fatimah tidak menyangka akan kembali menghadapi persoalan seperti ini lagi, dimana dulu mereka mempertahankan Zahra dari Sherly, dan sekarang dari Doni.


Fatimah terlihat sedih dan sedikit murung, ditengah kehamilannya yang semakin membesar, dia harus menghadapi beberapa masalah, setelah penembakan Zahra kini dia mengkhawatirkan hasil tes DNA itu.


Aditya mengerti kegelisahan istrinya itu berkali-kali dia meminta istrinya untuk tenang dan tidak banyak pikiran, karena itu tidak baik untuk kesehatannya dan bayinya.


"Seminggu lagi kamu akan melahirkan..Kamu harus tenang dan rileks sayang.."


Fatimah mengangguk.


"Aku mengkhawatirkan hasil tes DNA itu.."


"Aku tahu..seperti katamu, apapun hasilnya tak akan mengubah keadaan, Zahra akan tetap bersama kita.."


"Tapi Doni dan istrinya..?"


"Tidak akan segampang itu mereka mengambil Zahra dari kita.."


Aditya pergi kerumah sakit dengan didampingi oleh Romi dan beberapa orang pengacaranya, ternyata Doni dan istrinya telah berada disana.


Mereka menunggu Dokter memberikan hasil tes DNA.


Sampai tiba saatnya, Dokter datang membawa 2 lembar amplop putih.


Mereka menunggu dengan penasaran.


"Baiklah..saya akan memberikan hasil 2 tes DNA. Yang pertama antara Bapak Aditya dengan Zahra.


Dan yang kedua antara Bapak Doni dengan Zahra.."


"Ini kertasnya dan silahkan dibuka.."


Aditya dan Doni mengambil kertas itu.


Perlahan mereka mengeluarkan kertas dari dalam amplop.


Aditya tersenyum lebar, dia melakukan sujud syukur.


"Alhamdulillah..saya ayah kandung dari Zahra.." Ucapnya kepada semua orang.


Romi dan beberapa orang terlihat menyalami dan memberikan selamat.


Doni dan istrinya terlihat kecewa melihat hasil tes DNA itu, akan tetapi dia bersikap sportif dengan menyalami Aditya.


"Asal Anda tahu, saya sudah benar benar jatuh hati kepada putri anda.." Ucap Doni sambil tersenyum menyalami Aditya.


"Maafkan segala kesalahan saya kepada keluarga anda, mari kita perbaiki hubungan kita, kita mulai dari awal.." Lanjut Doni bersungguh-sungguh.


Aditya menerima ucapan selamat dari Doni.


"Saya juga minta maaf atas perlakuan saya tempo hari, anda bisa menemui Zahra kapan saja, kami sekeluarga dengan senang hati menerima kedatangan anda dirumah.."


----------


Aditya ingin memberikan kabar ini secara langsung kepada Fatimah, dia tidak meneleponnya dan memilih untuk segera pulang.


Sedangkan Fatimah tidak sabar menunggu kabar dari Aditya. Dia terlihat terus berjalan bolak balik sambil sesekali melihat ke ponselnya. Ayu mengingatkannya untuk bersabar karena pasti Aditya akan memberi kabar.


Tak lama, Aditya datang, dia berjalan menghampiri Fatimah.


"Bagaimana..?" Tanya Fatimah penasaran.


"Zahra anak kandungku.." Jawab Aditya memeluk Fatimah.


"Alhamdulillah..ya Allah.." Jawab Fatimah menangis.


Romi yang juga datang bersama Aditya juga memeluk Ayu bahagia.


"Zahra akan bersama kita selamanya.." Ucap Aditya juga menangis.


Fatimah mengangguk, air mata bahagia terus saja mengalir di pipinya.


"Kamu tahu, aku sangat bahagia.." Ucap Aditya lagi.


"Aku juga.."


"Aku bahagia karena memiliki kamu dan Zahra..Dan bayi ini menjadi pelengkap kebahagiaanku.." Aditya mengusap perut istrinya.


Fatimah tersenyum dan menghapus air mata di pipi suaminya.


Aditya mencium kening istrinya.


Zahra yang baru datang berlari kearah keduanya.


Aditya memeluk erat putrinya itu.


"Papah sayang sekali sama Zahra.."


"Zahra juga sayang papah.."


-------------


Sherly duduk di pojokan sel, dia melamun sampai ada yang memanggilnya dengan kasar.


"Hai kamu..sini.."


Sherly menghampiri wanita itu dengan pelan.


"Apa..?"


"Pijit kaki saya.."


Sherly duduk dan memijit kaki wanita itu.


Dia tahu akibatnya kalau dia tidak menuruti perintahnya, dia akan menjadi bulan bulanan dari wanita itu dan teman temannya. Seperti saat dulu dia baru menempati sel ini, dia dipukuli habis habisan oleh hampir semua penghuni sel, penjaga sel bahkan tidak menolongnya dan hanya melihatnya saja.


Tidak heran karena Sherly adalah penghuni sel yang paling dibenci oleh semua orang, karena dia telah tega akan menghabisi anaknya sendiri, semua orang merasa kesal dan benci kepadanya, mereka benci disatukan dengan wanita bejad yang tega menyakiti anak kandungnya sendiri.


Oleh karena itu mereka selalu merundung Sherly, badannya yang dulu bersih dan terawat kini sudah dipenuhi dengan bekas luka dan cakaran.


Wajah cantiknya kini tidak ada lagi, dia terlihat sangat berantakan dengan rambut yang tidak pernah disisir, wajah kusam tidak terawat dan badan yang semakin kurus kering. Kini Sherly hanya bisa meratapi nasibnya, dia menyesali semua perbuatannya.


"Zahra..maafkan mama.."