
Kevin terkejut melihat kedatangan Nadya.
Dengan segera dia menjauh dari Lisa. Dia mundur sedikit demi sedikit sambil matanya melihat Nadya yang melihatnya dengan tatapan marah.
Lisa juga sempat kaget, namun dia berusaha untuk tetap tenang, dia berpikir mungkin ini kesempatan yang tepat untuk memberitahukan kepada Nadya hubungan terlarangnya dengan Kevin.
Kevin perlahan menghampiri Nadya.
"Jadi semua foto foto ini benar..?" Tanya Nadya dengan suara yang bergetar, air mata terus mengalir semakin deras.
Kevin mengambil foto yang dimaksud oleh Nadya istrinya, dia melihat foto itu satu persatu dengan rasa setengah tidak percaya.
"Siapa yang mengirimkan ini kepadamu..?"
"Apa itu penting sekarang..?" Jawab Nadya.
Kevin terdiam sejenak, dia berpikir harus menjawab apa.
"Maafkan aku.." Kevin menatap Nadya dengan penuh permohonan, dia memutuskan untuk tidak mengelak, dia akan mengatakannya dengan jujur.
"Apa..?" Tanya Nadya seolah tak percaya.
"Maafkan aku.." Kevin menunduk memohon.
Mendengar dua kali suaminya meminta maaf membuat hati Nadya sangat sakit seperti teriris pisau, karena secara tidak langsung suaminya mengakui perselingkuhan dengan wanita itu, dia mundur perlahan dari Kevin, sebenarnya bukan kata permintaan maaf yang ingin didengarnya, justru dia berharap Kevin membantahnya, mencoba memberi menjelaskan dan mengatakan bahwa itu tidak benar.
Nadya semakin mundur perlahan, menjauhi Kevin yang menatap dirinya dengan rasa bersalah.
"Kenapa kamu melakukannya..?" Tanya Nadya sambil berusaha menghapus air matanya.
"Aku salah..Maafkan aku.."
"Kumohon berhentilah meminta maaf terus..jawab pertanyaanku..?" Bentak Nadya dengan marah.
"Dan sejak kapan..?" Tanya Nadya lagi.
Kevin tidak bisa menjawab, dia hanya menatap Nadya yang melihat dirinya dengan penuh rasa kebencian.
Tak ada jawaban dari suaminya.
Kini Nadya melihat wanita selingkuhan suaminya yang sedari tadi hanya diam mematung.
"Siapa kamu..?" Tanya Nadya dengan marah.
Lisa tersenyum sinis.
"Saya mantan pacarnya Kevin sewaktu dia kuliah di luar negeri.."
Nadya tersenyum.
"Owh..jadi dia mantanmu..?" Tanya Nadya kepada suaminya.
Kevin tidak menjawab, hatinya dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat melihat air mata Nadya yang terus mengalir.
"Jadi kalian kembali menjalin hubungan..?"
Lisa terlihat mengangguk dengan tenang.
"Apa kamu tidak tahu kalau Kevin sudah mempunyai istri dan bahkan seorang anak..?"
"Aku tahu.." Jawab Lisa dengan santainya.
Nadya memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Jadi kamu berusaha merebut dia dariku..?" Tanya Nadya lagi.
"Begini............." Lisa belum sempat melanjutkan perkataannya.
"Sudah cukup Lisa.. berhentilah.." Bentak Kevin kepadanya dengan marah.
Nadya tersenyum kecil.
"Lisa.." Ucap Nadya sambil menghampirinya.
Nadya menghampiri Lisa semakin dekat, dia menatap wajah selingkuhan suaminya dengan penuh amarah.
Plakkkkkkkk
Nadya menampar Lisa dengan keras.
Lisa kaget, dia langsung memegang pipinya.
Sedangkan Kevin segera menghampiri mereka berdua.
"Nadya..kumohon jangan seperti ini..?"
Plakkkkkkkk..
Nadya juga menampar Kevin.
"Rasa sakitnya tidak setimpal dengan sakitnya hatiku.." Ucap Nadya dengan marah.
Kevin menerima tamparan Nadya, dia berpikir dirinya memang pantas untuk mendapatkannya.
Lain halnya dengan Lisa, dia merasa marah karena Nadya telah berani menamparnya.
"Aku akan merebut Kevin darimu.." Ucap Lisa sambil memegang pipinya yang kesakitan.
Nadya tersenyum kecil. Dia melihat Lisa dengan marah.
"Silahkan ambil saja...."
Kevin kaget mendengar perkataan Nadya.
Nadya terlihat akan meninggalkan mereka berdua.
"Kemungkinan aku hamil anaknya Kevin.." Ucap Lisa dengan datar.
Nadya menghentikan langkahnya, hatinya terasa teramat sangat sakit mendengar perkataan Lisa barusan.
Dia tidak menyangka, ternyata perselingkuhan suaminya sudah sejauh itu.
"Lisa.." Bentak Kevin dengan sangat marah, dia tidak menyangka Lisa akan membeberkan hal itu.
Kevin melihat Lisa dengan mata memerah menahan amarah.
"Kamu belum tentu hamil.." Ucap Kevin marah.
Nadya kembali terlihat menangis, bulir bulir air mata mengalir dengan deras.
Nadya kembali menghampiri Kevin.
Plakkkkkkkk
Dia kembali menampar suaminya.
"Jangan berharap bisa bertemu lagi dengan Nabila.."
Ucap Nadya dengan marah.
"Dan kamu, seorang pelacur murahan, dengan gampangnya tidur dengan suami orang.."
"Seorang wanita yang tidak mempunyai harga diri.."
Lisa terdiam mendengar Nadya yang menghinanya.
Nadya berusaha menghapus air matanya, dia berusaha tersenyum dan melihat suaminya.
"Aku tidak tahu sejak kapan dan sudah sejauh mana hubungan kalian, dan pengkhianatan kamu ini tak akan termaafkan.. sebaiknya kita berpisah saja.."
"Sayang..aku tidak akan menceraikanmu.." Kevin memegang tangan Nadya.
"Kamu boleh menghukum aku dengan cara lain, aku akan menerimanya, tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu.."
Nadya tersenyum dan melepaskan tangan Kevin.
"Aku tidak mau hidup lagi denganmu.." Ucap Nadya sembari pergi meninggalkan ruangan itu.
Kevin tidak mengejar Nadya, dia langsung duduk dengan memegang kepalanya.
Lisa berdiri memperhatikan Kevin yang terlihat frustasi.
Dia berpikir lebih baik meninggalkan Kevin sendiri.
Dia tidak ingin menjadi sasaran kekesalannya Kevin.
Lisa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
----------------
Rumah sakit.
"Bagaimana keadaan anda..?" Tanya Handoko kepada Angga.
"Alhamdulillah baik.."
"Syukurlah..saya sangat senang mendengarnya.."
"Oh iya, ada yang ingin saya katakan kepada Anda..Anda telah memasukkan lamaran pekerjaan ke salah satu perusahaan saya..apa itu benar..?"
Angga terlihat diam menerawang.
"Saya memang melamar ke beberapa perusahaan, namun saya tidak tahu jika perusahaan tersebut adalah milik bapak.."
Handoko terlihat tersenyum.
"Memangnya kenapa dengan perusahaan saya..?
"Maaf pak, jangan salah paham, saya hanya ingin perusahaan mempekerjakan saya sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang saya miliki.."
"Itu bagus..bagus sekali, jarang sekali ada anak muda seperti anda.." Puji Handoko.
"Saya membawa kabar baik, anda diterima bekerja di perusahaan saya sebagai manajer pemasaran yang baru.."
Angga terlihat tidak senang.
"Kalau anda berpikir saya menerima anda karena ingin balas budi, anda salah..karena saya tidak tahu menahu masalah perekrutan karyawan baru, itu adalah kewenangan dari pihak HRD.."
"Dan saya tahu itu anda, ketika mereka memberikan berkas anda kepada saya untuk ditandatangani.."
Angga terlihat tersenyum lega.
Begitu juga dengan Clara.
"Terima kasih pak.." Ucap Angga dengan bersemangat.
Handoko menganggukkan kepalanya.
"Lekas sembuh, perusahaan menunggu anda.."
Angga mengangguk.
"Saya kesini untuk mengatakan itu dan sekalian menjemput Clara.."
"Clara mari kita pulang.." Ajak Handoko kepada putrinya.
"Selama lelaki itu belum ditangkap polisi,papa terus merasa cemas, mulai besok kamu akan dikawal bodyguard kemanapun kamu pergi.."
Clara kaget, tapi kemudian dia mengangguk.
"Aku pulang dulu..besok aku kesini lagi.." Clara pamit kepada Angga.
"Tidak usah repot-repot, saya sudah lebih baik.."
Clara dan Ayahnya serta beberapa orang asistennya meninggalkan ruangan Angga.
"Clara..apa mamamu sudah memberitahu tentang perjodohan kamu.." Tanya Handoko kepada putrinya ketika mereka di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
Clara tersentak kaget.
"Sudah pah.."
"Besok..papa akan memperkenalkan kamu dengan lelaki itu, dia putra dari teman papa.."
"Besok..?"