
Pak Sobri datang kerumah sakit dengan diantar oleh Mang Redo.
Mendengar berita penculikan Zahra dan Ayu putrinya di televisi membuat pak Sobri menghubungi Fatimah dan datang ke rumah Aditya tadi pagi, Setelah Fatimah menceritakan semuanya dan mengatakan bahwa Ayu baik baik saja, Pak Sobri senang dan meminta untuk. diantar kerumah sakit untuk bertemu dengan Ayu
Aditya melihat kedatangan Pak Sobri dan kemudian menyambutnya.
"Bapak.." Kata Ayu yang keluar dari ruangan Romi.
Ayu tampak menyalami dan memeluk ayahnya.
Keduanya kemudian berbincang berdua beberapa saat.
"Kalau begitu nak, bapak ingin menemui nak Romi dan berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan kamu.." Kata Pak Sobri.
Ayu mengangguk dia kemudian mengajak ayahnya memasuki ruangan Romi.
"Ini bapak Ayu.." Ucap Ayu memperkenalkan ayahnya kepada Romi.
Romi tampak akan bangun dan menyalami Pak Sobri, akan tetapi Pak Sobri menahannya.
"Tidak usah bangun..berbaring saja, kamu harus banyak beristirahat nak.." Kata Pak Sobri.
"Maksud saya ingin bertemu dengan Nak Romi ingin mengucapkan banyak banyak terimakasih karena telah menyelamatkan putri saya, Ayu.."
Romi mengangguk.
"Iya pak.." Jawab Romi.
"Kalau tidak ada nak Romi saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan putri saya ini.."
"Saya doakan semoga nak Romi cepat sembuh seperti sediakala, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak.." Lanjut Pak Sobri.
"Iya pak..tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada bapak.." Jawab Romi.
Pak Sobri terlihat mendengarkan.
"Mohon maaf sebelumnya, saya tahu ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya, akan tetapi saya ingin bapak tahu bahwa saya sudah melamar Ayu, putri bapak.."
Pak Sobri terkejut dan melihat ke arah putrinya.
"Ayu sudah menerima lamaran saya, sekarang saya minta restu dari bapak sebagai ayah dari Ayu.."
Pak Sobri semakin terkejut mendengar bahwa Ayu telah menerima lamaran pemuda di hadapannya.
Pak Sobri kemudian tersenyum.
"Saya akan menyerahkan segalanya kepada Ayu, kalau Ayu sudah menerima tentu saja saya akan memberi restu.."
Romi tersenyum bahagia.
Begitu juga dengan Ayu yang terus menunduk malu malu.
"Setelah saya sembuh saya akan melamar secara resmi kepada bapak nanti ke kampung."
"Kalau begitu cepatlah sembuh karena saya menunggu nak Romi dirumah.." Jawab Pak Sobri sambil dilanjutkan dengan suara tertawa.
Pak Sobri pamit kepada Romi akan kembali kerumah Aditya.
"Bapak percaya sama kamu Ayu..Bapak yakin kamu memutuskan segala sesuatu sudah dipikirkan dengan matang.."
"Semoga Nak Romi jodoh kamu dunia akhirat.."
---------------
Fatimah kembali kerumah sakit membawa makanan dan baju ganti untuk Ayu, Fatimah tahu Ayu tidak bisa meninggalkan Romi karena tidak ada yang mengurusnya.
Ayu terlihat sudah berganti baju dan shalat Dzuhur di mushalla rumah sakit.
Ayu memasuki ruangan Romi, dilihatnya Romi tengah tertidur, akan tetapi mendengar kedatangan Ayu, Romi tiba tiba terbangun, Romi melihat Ayu yang terlihat lebih segar karena sudah mandi dan berganti baju.
"Kamu cantik sekali Ayu.." Goda Romi.
Ayu pura pura tidak mendengar.
"Katakan saja mau apa, biar aku yang ambilkan.." Kata Ayu sambil memberikan Romi minum.
"Baiklah..kalau aku minta dibantu untuk duduk, kamu mau memegang tanganku..?" Tanya Romi sambil mengangkat tangannya.
Ayu tertegun, bagaimana dia bisa memegang tangan Romi.
"Aku sudah tahu kamu tidak mau.." Kata Romi memelas.
Tiba-tiba Ayu menarik tangan Romi, bukan hanya itu, tangan satunya lagi juga memegang pundak belakang Romi yang terluka dengan hati hati, kini Romi sudah duduk dan menyandar diatas bantal.
"Terimakasih kasih.." Ucap Romi berseri seri. Baru memegang tangannya saja sudah membuat Romi berbunga-bunga. Romi semakin yakin dia sangat mencintai Ayu
Ayu hanya menunduk sambil membereskan seprei tempat tidur Romi.
Tiba tiba.
Seorang ibu ibu datang dengan terburu-buru dan wajahnya dipenuhi kecemasan.
Dia langsung memeluk Romi dan menciumnya.
"Kamu gak apa apa kan sayang..mana yang terluka coba mami lihat.." Kata Ibu tadi yang ternyata adalah ibu Romi.
"Romi tidak apa apa mi.. ngomong-ngomong darimana mami tahu kalau Romi terluka..?"
Ibu tadi gelagapan, akan tetapi dia baru sadar ada wanita berhijab di sampingnya.
"Apa ini Ayu yang kamu ceritakan sayang..?" Tanya Ibu Romi, melihat Ayu dengan jijik.
"Iya mah.. perkenalkan ini Ayu, calon istri Romi.." Jawab Romi.
Ayu menganggukkan kepalanya, tapi tidak dengan Ibunya Romi dia langsung mengalihkan perhatiannya kembali kepada Romi.
"Sayang..mami sangat khawatir sama kamu, apa lebih baik kamu dirawat di luar negeri saja, disana kamu akan cepat sehat kembali sayang.."
Romi melepas pelukan ibunya.
"Ayu..bisa tunggu diluar sebentar, tapi jangan pergi jauh-jauh, diluar kamar ini saja.." Pinta Romi.
Ayu mengangguk dan segera meninggalkan Romi dan Ibunya.
"Kenapa mama menyuruh orang untuk menculik Ayu? Mami bahkan menyuruh mereka menghabisi Ayu.." Tanya Romi dengan geram.
Ibunya kelabakan mendengar pertanyaan Romi.
"Apa maksud kamu sayang..penculikan? menghabisi? Mami gak ngerti sayang.." Jawabnya
"Mami jangan pura pura lagi, aku sudah tahu semuanya.."
"Mami tahu apa yang akan dilakukan Aditya kalau dia tahu mami dalang penculikan anaknya..?"
"Dia tak segan-segan akan memenjarakan mami.."
Ibu Romi terdiam.
"Mami masih tidak mengerti apa maksud kamu.." Jawabnya dengan pelan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Jangan coba-coba menyakiti Ayu lagi..Romi akan menikahinya walaupun mami tidak merestuinya.." Ucap Romi.
"Tapi sayang..apa kamu sudah tidak waras? dia hanya seorang gadis kampung dan seorang pembantu..dia tidak pantas buat kamu Romi.." Jawab Ibunya.
"Terserah mami mau ngomong apa, yang jelas Romi sangat mencintai Ayu.."
"Sebaiknya mami pergi, Romi mau beristirahat, dan katakan pada para penjahat yang menembak Romi semalam, jangan pernah berani menganggu Ayu lagi, atau kalian semuanya termasuk mami akan Romi jebloskan ke dalam penjara.."
Margareth sangat marah, kini Romi berani mengusirnya dan mengancamnya.
Dia keluar dari ruangan itu sambil melihat Ayu dengan tajam.
Aditya menyadari ada sesuatu hal yang aneh.