My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Baby Zidane..



"Zidane Askarullah Pratama"



Itu nama yang diberikan oleh Aditya dan Fatimah untuk anak laki laki mereka.


Fatimah sudah dipindahkan kembali ke ruang perawatan, kini dia merasakan kebahagiaan yang mengalahkan rasa sakit yang masih dirasakannya pasca operasi


Semua orang menyambut bahagia ketika dokter dan perawat membawa bayi Fatimah masuk ke ruangan, terlebih lagi dengan Zahra yang sangat antusias hingga melompat lompat kegirangan menyambut kedatangan adik bayinya.


Untung saja ada bik Minah dan Ayu yang membantu Fatimah mengurus bayinya mengingat kondisinya yang masih lemah pasca operasi.


Ayu yang memang sudah terbiasa mengurus bayi karena sering membantu ibunya mengurus adik adiknya, bahkan Romi sampai terpana melihat Ayu yang sangat lihai mengganti popoknya.


"Aku benar-benar tidak salah memilih istri.." Ucap Romi memuji Ayu.


Semua orang tersenyum mendengar ucapannya.


"Beb..berapa bulan lagi kita akan mempunyai bayi.. rasanya aku sudah tidak sabar.." Tanya Romi mengelus perut istrinya.


Dia merasa iri melihat sahabatnya Aditya menggendong bayi dan menciumnya di hadapannya.


Aditya bahkan menggodanya dengan tak mengizinkannya untuk menggendong dan mencium bayinya.


"7 bulan lagi.." Jawab Ayu tersenyum.


"Masih lama sekali.." Keluh Romi memeluk Ayu, dan menyimpan kepalanya di pundak istrinya.


Bik Minah kemudian memberikan bayi itu kepada Fatimah untuk disusui, dia juga membantu Fatimah agar bisa menyusui dengan posisi yang nyaman.


Aditya bahagia melihat putranya menyusu dengan sangat lahap sampai tertidur, dia dan Zahra terus memperhatikan bagaimana bayi kecil itu tertidur pulas dalam box bayi.


Ucapan selamat dan hadiah terus berdatangan dari para sahabat dan kerabat serta rekan kerja, bahkan seluruh kamar hampir dipenuhi dengan bunga dan kado yang mereka berikan, sampai tidak ada tempat lagi untuk menyimpan semua hadiah yang terus berdatangan.


Setelah diberi kabar akan kelahiran bayinya menjelang sore, paman dan bibi datang dari kampung, Fatimah dan Aditya menyambut hangat kedatangan mereka.


"Ya Allah pa.. liat cucu kita, tampan seperti ayahnya.." Ucap Bibi sembari terus menggendong bayi Fatimah dan menciuminya.


Paman tak kalah bahagianya, dia yang tidak dikaruniai anak merasa senang karena akhirnya bisa menggendong bayi Fatimah.


"Kalau orang tua kamu masih hidup, tentu mereka akan sangat bahagia Fatimah.."


Fatimah tersenyum terharu, sebenarnya selama proses persalinan, dia terus memikirkan almarhumah ibunya, karena kini dia merasakan begitu besar pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.


Tapi bahkan dia tidak mengingat jelas wajah kedua orangtuanya, karena mereka telah meninggalkannya ketika umurnya waktu itu baru lima tahun karena kecelakaan mobil.


Tidak ada sama sekali foto mereka untuk sekedar dirinya melepas rindu, kakek berkata bahwa foto keduanya hilang entah kemana.


Fatimah selalu mengirimi keduanya dengan doa, semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadah mereka.


Lima hari kemudian.


Hari ini Fatimah dan bayinya akan kembali kerumah, dia yang terus dibantu oleh Ayu dan Bik Minah mempersiapkan kepulangannya.


Akhirnya mereka sampai di rumah, disambut oleh para ART yang sudah tidak sabar ingin melihat bayi kecil majikannya.


Fatimah langsung beristirahat di kamarnya karena memang luka bekas operasi belum sepenuhnya sembuh, banyak bergerak selama di perjalanan tadi membuat perutnya yang terdapat bekas jahitan sedikit sakit.


Aditya menemani istrinya di kamar, sementara Baby Zidane masih dikerumuni oleh para ART yang belum puas melihatnya.


"Masih sakit sayang..?"


Fatimah menggelengkan kepalanya.


Aditya memeluk istrinya. Tak lama dia tertidur pulas, maklum saja karena beberapa hari di rumah sakit, Aditya kurang istirahat dan tidur.


Fatimah mengusap pipi suaminya yang tertidur pulas di sampingnya dia menatap wajah laki laki yang telah memberinya seorang putra.


"Aku sayang kamu.." Bisik Fatimah.


"Aku juga.." Jawab Aditya tiba tiba sembari membuka matanya, yang membuat Fatimah kaget.


"Kamu pura pura tidur..?" Tanya Fatimah kesal.


"Aku tidur, tapi kamu membangunkan aku.."


Aditya mendekatkan wajahnya ke arah Fatimah.


"Terima kasih sayang.."


"Kenapa kamu terus mengucapkan terima kasih..?" Tanya Fatimah heran.


"Karena kamu, aku benar-benar sangat bahagia.."


Fatimah tersenyum.


Bik Minah mengetuk pintu kemudian masuk membawa baby Zidane, dia menyerahkannya kepada Fatimah.


"Dia sepertinya kehausan, berilah susu dulu.."


Fatimah perlahan bangun dengan dibantu oleh Aditya.


Dia membuka resleting baju dan menyusui anaknya.


Zahra berlari memasuki kamar ingin melihat adik bayinya.


"Mama..apa Zahra dulu mimi susu juga seperti adik bayi..?"


Fatimah dan Aditya saling berpandangan.


"Iya sayang...sama.." Jawab Fatimah berbohong.


Aditya kembali mengingat masa lalu, dimana Sherly tidak mau menyusui Zahra, mengingatnya membuat Aditya semakin membenci mantan istrinya itu.


Kini dia bersyukur karena Sherly telah membayar atas semua perbuatannya kepada Zahra, akan Aditya pastikan Sherly akan membusuk selamanya di balik jeruji besi.


Fatimah sedih mendengar pertanyaan Zahra, dia merasa kasihan dan iba karena Zahra tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu semenjak dia dilahirkan, dimana seharusnya pada saat itu dia dilimpahi kasih sayang yang melimpah dari ibu kandungnya, Fatimah mencium kepala Zahra.


"Zahra..mama sayang sama Zahra.." Fatimah menahan tangis karena sedih.


Zahra hanya tersenyum, dia kembali fokus melihat adik bayinya yang sedang menyusu.


"Jangan menangis, kamu telah memberikan kasih sayang seorang ibu yang selama ini dia rindukan.." Ucap Aditya mencium istrinya.


"Aku akan terus melimpahkannya kasih sayang, Zahra dan Zidane, keduanya adalah anakku, aku tidak akan membedakannya.."


Aditya tersenyum mencium istrinya lagi.


"Aku tahu..aku tak akan pernah meragukan itu.."


Bik Minah yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka terharu, dia pamit keluar karena tidak ingin menangis di hadapan majikannya.


Bik Minah yang sudah mengabdi lama di keluarga Aditya dari dulu, tahu persis akan kejadian yang sebenarnya, dia dan nenek harus mengurus Zahra bayi karena Sherly menelantarkan putrinya, akan tetapi kini dia bersyukur karena kedatangan Fatimah dan menyayangi Zahra seperti anak kandungnya sendiri.