
Nadya terlihat sangat kesal. Dia mengingat kembali semua perkataan yang diucapkan oleh Clara kepadanya.
Beberapa kali ibunya bertanya, tapi dia tidak menjawab.
"Ada apa coba ceritakan kepada mama.." Desak sang Ibu.
Nadya menarik napas panjang.
"Rencanaku untuk menghasut Clara gagal..dia mendukung ibunya untuk memberikan saham itu kepada Fatimah.."
"Dan dia malah menceramahi ku..sangat menyebalkan.." Nadya terlihat sangat marah.
Kali ini ibunya yang terlihat kesal mendengar cerita putrinya.
"Ibu mertua kamu memang sangat pintar, entah apa yang dia katakan kepada anak anaknya sehingga suamimu dan Clara menuruti keinginannya alih alih memberontak.."
"Mama yakin ini hanya permulaan..setelah ini mertuamu akan memberikan lebih banyak lagi hartanya kepada Fatimah.."
Nadya semakin tersulut emosi.
"Mama benar..aku tidak bisa tinggal diam.."
"Kamu benar, kamu harus melakukan sesuatu.."
"Sesudah Fatimah mengambil kasih sayang dari kedua mertuamu kini giliran hartanya yang akan dia ambil.."
"Kalau dibiarkan kamu dan putrimu tidak akan mendapatkan apa apa.."
Nadya mengangguk menyetujui perkataan Ibunya.
------------
Di ruang kerja Aditya.
Fatimah melihat banyak dokumen yang diperlihatkan oleh beberapa pengacara kepadanya.
Orang itu terus saja meminta Fatimah menandatangani beberapa lembar kertas, padahal dia sama sekali tidak mengerti apa isinya dan untuk apa.
Untung saja ada suaminya, Aditya yang setia menemaninya. Terlihat dia begitu serius membaca beberapa dokumen.
"Terimakasih Nyonya Aditya.. sekarang anda sudah resmi menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan Nyonya Handoko.."
Fatimah hanya mengangguk dan merapatkan kedua tangannya di depan dada ketika beberapa orang pengacara itu berpamitan dan menyalami Aditya.
Semuanya sudah pergi, Aditya terlihat membereskan beberapa dokumen.
"Selamat sayang..kamu menjadi seorang pengusaha sekarang.." Ucap Aditya mendekati Fatimah.
"Bukan aku tidak menghargai pemberian ibuku, tapi sebenarnya aku tidak terlalu senang.."
Aditya tertawa.
"Kenapa..? Harusnya kamu senang, setiap bulan kamu akan mendapatkan uang yang banyak.." Jawab Aditya menggoda istrinya.
Fatimah sedikit tersenyum.
"Aku tidak memerlukannya, uang darimu saja sudah lebih dari cukup, bahkan sangat lebih.."
"Itulah yang aku suka darimu, kamu tidak diperbudak oleh harta, aku banyak belajar darimu sayang.." Aditya memeluk istrinya.
"Kamu bisa memanfaatkan uang dari perusahaan ibumu untuk kebaikan banyak orang.." Ucap Aditya sambil terus memeluk erat istrinya.
"Rencananya seperti itu, aku ingin memperbesar Yayasan yang diberikan oleh Almarhumah nenek kepadaku.."
"Itu rencana yang bagus sayang.."
"Dan kamu yang harus melakukannya, karena aku tidak mengerti apapun.." Fatimah melepaskan pelukannya, dia melihat suaminya dengan serius.
"Aku hanya ingin fokus mengurus anak anak kita.."
Aditya mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberi kamu anak lagi.." Aditya kembali menggoda istrinya.
Fatimah tersenyum malu, dia mencubit pinggang suaminya.
Aditya pura pura kesakitan.
Dia memeluk istrinya erat, Aditya menciumi Fatimah.
-------------
Sebulan kemudian.
Hari ini Ayu menggelar acara 7 bulanan kehamilannya, acara digelar dengan cukup meriah dengan mengundang ibu pengajian dan anak yatim piatu serta beberapa kerabat dan tetangga.
Kedua orang tua Ayu dari kampung juga datang, Margareth sengaja mengundang mereka agar menantunya bisa sekalian melepaskan rindu kepada kedua orangtuanya.
Margareth terlihat paling antusias pada kehamilan Ayu, dia sudah tidak sabar untuk menimang cucu dari anaknya satu satunya, Romi.
Dua bulan lagi dia akan menjadi seorang nenek, mengingat itu Margareth sangat senang dan bersemangat, rasanya waktu terasa menjadi sangat lama menunggu kelahiran cucu yang sangat dinanti-nanti.
Tamu tamu berdatangan, sudah pastinya Fatimah dan kedua anaknya juga turut hadir, hal yang tidak diduga Margareth adalah kehadiran dari Annisa, ibu Fatimah.
Margareth sangat mengidolakan Annisa, dia kagum pada sosoknya yang berhasil menjadi seorang pengusaha wanita yang sukses dan berbakat.
Rupanya Ayu yang mengundangnya, dengan senang hati Annisa datang bersama dengan putri dan cucunya.
Annisa duduk dengan menggendong Zidane, tiba tiba ada seseorang yang mencoleknya dari belakang.
Annisa menoleh.
Sungguh terkejut Annisa ketika melihat Siti, ibunya Ayu.
"Siti..?" Annisa membelalakkan matanya.
Siti mengangguk.
Mereka berpelukan.
"Apa kabar..?" Tanya Siti dengan linangan air mata di pipinya.
"Baik.." Jawab Annisa juga menangis terharu.
"Sudah lama sekali ya.."
Annisa hanya bisa mengangguk.
"Aku sudah tahu semuanya dari Ayu.."
"Ayu..? Apa Ayu itu adalah anakmu..?"
Siti mengangguk.
"Ya Allah..kenapa dia tidak memberitahuku..?"
"Jadi kedua putri kita juga bersahabat..?" Tanya Annisa lagi.
Siti mengangguk lagi.
"Iya seperti kita dulu.."
Annisa tercengang.
"Masya Allah..aku benar-benar tidak tahu.."
Siti kembali memeluk Annisa.
"Aku senang melihat kamu sekarang..Aku menghawatirkan keadaanmu setelah kamu pergi dari kampung.."
Annisa mengangguk.
"Tapi aku senang dan lega, setelah melihatmu di televisi, kamu akhirnya bisa bangkit dan menjadi wanita yang sukses.."
"Maaf aku tidak pernah memberi kabar kepadamu, kamu pasti mengerti keadaanku saat itu.."
"Aku tahu..aku mengerti.."
"Syukurlah sekarang kamu akhirnya bisa berkumpul bersama Fatimah lagi.."
"Iya..aku sangat bersyukur akhirnya bisa bersama kembali dengan putriku.."
"Kami pasti sangat merindukannya.."
Annisa mengangguk.
"Kamu tahu, Fatimah dan Ayu anakku berteman semenjak kecil, mereka persis seperti kita dulu.."
"Kalau itu aku tahu, tapi kalau Ayu adalah anakmu aku benar-benar tidak tahu.."
"Itu karena aku tidak pernah memberitahukan mereka..Maafkan aku, aku tidak pernah memberitahu Fatimah bahwa ibunya masih hidup, seandainya aku memberi tahu Fatimah, aku tidak bisa menjawab jika dia kemudian menanyakan keberadaan kamu.."
"Tidak apa-apa..aku mengerti.. sekarang aku mengerti kenapa Fatimah bisa tumbuh menjadi wanita yang shalihah, karena dia tumbuh bersama dengan Ayu dalam pengawasanmu..terima kasih.."
Annisa kembali memeluk Siti.
"Memang pada dasarnya Fatimah anak yang baik..sama seperti kamu dulu.."
Fatimah menghampiri mereka.
"Mama..apa mama mengenal ibunya Ayu..?" Tanya Fatimah heran melihat keakraban diantara keduanya.
Annisa dan Siti tersenyum.
Tak lama Ayu juga menghampiri mereka.
Kemudian mereka menceritakan semuanya, bercerita tentang persahabatan mereka semenjak kecil, sampai harus berpisah karena Annisa pergi meninggalkan kampung.
Fatimah dan Ayu tentu saja kaget.
"Maafkan ibu Fatimah, ibu tidak memberitahu kamu bahwa sebenarnya ibu kandung kamu masih hidup, ibu harap kamu mengerti.." Siti terlihat meminta maaf kepada Fatimah.
Fatimah mendekati Siti.
"Tidak apa-apa Bu..Aku mengerti situasinya, ibu sudah seperti ibuku juga karena telah merawat aku dari kecil.." Fatimah memeluk Siti.
Annisa senang telah bertemu kembali dengan Siti sahabat karibnya dari kecil, hal yang membuatnya lebih senang adalah tenyata persahabatan mereka dilanjutkan oleh Fatimah dan Ayu, putri keduanya.
"Kapan kamu akan pulang ke kampung..?"
Annisa terdiam.
"Bagaiman kabar wanita itu dan anaknya..?" Tanya Annisa menanyakan kabar wanita selingkuhan suaminya dulu.
Siti terdiam sejenak.
"Aku tidak tahu, semenjak ayah Fatimah meninggal, mereka juga meninggalkan kampung, pergi entah kemana.."