
Sherly berteriak seperti orang kesetanan setelah hakim memutuskan hak asuh Zahra kembali kepada Aditya.
"Saya ibu kandungnya..saya lebih berhak mengurus Zahra dibanding mereka..." Teriak Sherly kepada semua orang meminta mereka merasa iba kepadanya.
Aditya yang kini sudah merasa puas segera meninggalkan Sherly yang masih saja berteriak dan menangis diruang sidang.
Aditya ingin segera kembali ke rumah dan memberikan kabar bahagia ini kepada Fatimah dan nenek.
Sesampainya dirumah, Aditya langsung memberitahukan hasil keputusan sidang kepada seisi rumah yang memang sudah menunggu.
Semua orang sangat bergembira terutama nenek dan Fatimah yang langsung melakukan sujud syukur. Nenek langsung meminta Fatimah mempersiapkan syukuran dan mengundang anak yatim piatu dari panti asuhan yang mereka kelola.
Malam hari
Fatimah menatap lembut Zahra yang sudah tertidur pulas, senyum selalu merekah di bibirnya, dia bersyukur dan tidak perlu was was lagi Zahra akan pergi meninggalkannya, bukan dia bermaksud egois dengan menjauhkan Zahra dengan ibu kandungnya, akan tetapi Fatimah tahu Sherly tidak benar-benar menyayangi Zahra.
Tanpa di sadari ternyata Aditya telah berada di kamar Zahra daritadi dan melihat bagaimana Fatimah selaku tersenyum sambil memandangi Zahra yang telah tertidur.
"Sayang.." Ucap Aditya membuat Fatimah terkaget.
"Owh kamu sudah pulang..maaf aku tidak tahu.." Jawab Fatimah langsung menghampiri suaminya.
"Bagaimana kamu bisa tahu..di duniamu hanya ada Zahra.." Ucap Aditya sambil mencium kening istrinya.
Fatimah tersenyum.
"Jangan bilang kamu cemburu.." goda Fatimah.
"Aku ini pencemburu buta.." Jawab Aditya.
"Siapa saja yang mengalihkan perhatian kamu dariku akan membuatku cemburu.." Lanjut Aditya seraya mengajak Fatimah keluar dari kamar Zahra.
Keesokan harinya.
Sudah hampir 6 bulan Fatimah menikah dengan Aditya berarti 6 bulan juga kematian kakeknya dan selama itu pula Fatimah belum pulang kampung dan berziarah ke kubur sang kakek.
Fatimah meminta izin Aditya untuk pulang kampung dan berziarah, tentu saja Aditya mengizinkan, akan tetapi masalahnya adalah Aditya tidak bisa menemani Fatimah kesana karena banyaknya pekerjaan. Fatimah memaklumi pekerjaan suaminya yang tidak bisa ditinggalkan.
Karena Zahra tidak mau ditinggal, maka Fatimah mengajak putrinya tentu dengan seizin Aditya dan neneknya. Mereka akan menginap hanya satu hati saja.
Akhirnya mereka sampai di kampung Fatimah dengan diantar oleh mang Redo, tanpa disangka kedatangan mereka disambut dengan bahagia oleh paman dan bibinya, Fatimah merasa senang karena perubahan sikap paman dan bibinya dan berharap mereka bersikap tulus bukan karena Aditya yang telah memberikan banyak uang kepada paman, Fatimah ingin dia dan paman bibinya kini berhubungan baik karena biar bagaimanapun mereka adalah satu satunya keluarga Fatimah yang masih ada.
Fatimah dan Zahra ditemani oleh Ayu berjalan keluar dari pemakaman umum setelah selesai berziarah ke makam sang kakek. Tanpa disangka mereka berpapasan dengan Angga.
Rupanya Angga yang mendengar kedatangan Fatimah menyusulnya kesana.
Angga ingin bertemu dengan Fatimah dan mengucapkan selamat atas pernikahannya walaupun sangat terlambat.
Fatimah merasa kaget karena tiba-tiba bertemu dengan Angga, walau bagaimanapun Fatimah merasa telah berkhianat kepadanya. Fatimah menolak lamarannya dan tiba tiba menikah dengan Aditya, dia hanya ingin Angga mengerti situasinya pada saat itu.
"Maafkan Fatimah kak.." Ucap Fatimah tertunduk ketika mereka mengobrol di bangku dekat rumah Fatimah, ada Zahra dan Ayu yang sedang bermain tidak jauh dari sana.
"Tidak apa-apa Fatimah.. kita memang tidak berjodoh.." Jawab Angga.
"Fatimah harap kak Angga dapat menemukan segera calon istri yang lebih baik dari Fatimah.."
"Amiiinn..tapi kak Angga rasa tak ada yang seperti Fatimah.."
"Jangan bilang begitu kak.."
"Asal kamu tahu Fatimah..setengah hidupku kulalui dengan hanya mencintai kamu..tak akan mudah bagiku mencari penggantimu" Angga akhirnya terbawa perasaan.
Fatimah terdiam, kini dia merasa sangat menyakiti perasaan Angga, dan merasa sangat bersalah.
"Sekali lagi maafkan Fatimah kak.."
Angga menyadari kesalahannya, tidak seharusnya dia mengatakan itu kepada istri orang lain.
"Maaf Fatimah..aku terbawa perasaan.."
Mereka terdiam.
"Apa kamu bahagia..?" Tanya Angga.
"Alhamdulillah kak..Fatimah sangat bahagia.."
"Syukurlah..kakak senang mendengarnya.."
"Asal kamu bahagia, kakak akan merelakanmu dengan suamimu kini.." Lanjut Angga.
"Terima kasih kak.." Jawab Fatimah.
Tak lama Angga berpamitan.
Setelah kepergian Angga, Fatimah semakin merasa bersalah, telah menyakiti laki laki yang tulus mencintainya dari dulu.
Ayu mengerti perasaan Fatimah, dia mengingatkan untuk tidak terlalu memikirkan lelaki lain karena hukumnya dosa bagi yang sudah bersuami, Fatimah beristighfar.
Ayu terlibat percakapan yang panjang dengan Fatimah masalah Ayu yang dilamar beberapa lelaki di kampung, akan tetapi Ayu menolak, karena dia masih ingin berbakti kepada orang tuanya yang masih harus mengurus banyak adik Ayu.
"Fatimah, boleh aku ikut denganmu ke kota dan bekerja di rumahmu, aku ingin membantu orang tuanku dan membiayai sekolah adik adik aku.." Tanya Ayu.
Tentu saja Fatimah mengizinkan dan merasa senang, sahabat karibnya dari kecil akan ikut bersamanya dan menemani dirinya dirumah.
Keesokan harinya Fatimah dan Zahra serta Ayu yang akan ikut mereka ke kota, pergi meninggalkan kampung, orang tua Ayu mengizinkan karena mereka memercayai Fatimah akan menjaga anak gadisnya. Selain memberi pamannya uang yang cukup Fatimah juga memberi orang tua Ayu uang untuk kebutuhan sekolah adik adik Ayu.
Sepanjang perjalanan Aditya terus saja menghubungi Fatimah dan bertanya sudah sampai dimana, rupanya Aditya tidak tahan berpisah dengan Fatimah dan Zahra walau hanya sehari saja.
Sementara di tempat lain.
Sherly tersenyum puas melihat beberapa foto di depannya.
"Kali ini saya akan membuat rumah tangga kalian benar benar hancur.."