My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Mendatangi Cindy..



Kedatangan orang tua Cindy tadi siang sedikit banyaknya membuat Fatimah kepikiran, apalagi ketika diingatnya bahwa mereka meminta Aditya untuk membalas budi setelah apa yang telah dilakukan orang tua Cindy kepada orang tua suaminya.


Aditya mengetahui kegusaran hati istrinya.


"Kejadian tadi siang jangan kamu pikirkan.." Ucap Aditya menghampiri Fatimah.


"Mereka melakukannya karena sangat menyayangi putrinya.." Jawab Fatimah pelan.


"Iya..tapi cara yang mereka lakukan salah.."


"Aku tidak menyangka Cindy sangat mencintaimu.."


Aditya mendesah, dia memeluk Fatimah.


"Apapun yang mereka lakukan, semuanya tak akan mempengaruhi aku..aku tetap tidak akan menikah dengannya, dan berpaling darimu.."


Fatimah tersenyum.


"Kalau aku sendiri yang meminta kamu menikah dengan Cindy.." Tanya Fatimah iseng.


"Tak akan pernah aku lakukan..walau kamu yang meminta.." Jawab Aditya tegas.


"Kenapa..?"


"Karena hatiku tidak bisa dibagi.. di dalam sini hanya ada kamu.." Jawab Aditya.


"Gombal ya..?" Goda Fatimah.


"Aku serius sayang.." Jawab Aditya memandang Fatimah, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


Aditya melihat bibir Fatimah, dia mengecupnya sekali, Fatimah diam seperti pasrah, Aditya melumatnya kali ini, Fatimah membalas dan gairah mereka semakin memuncak. Aditya berpikir dia harus segera berhenti karena keadaan Fatimah yang tidak memungkinkan.


Aditya menghentikan ciumannya, dia menempelkan keningnya dengan kening istrinya.


"Aku mencintaimu sayang.." Bisik Aditya.


"Aku juga.." Jawab Fatimah pelan.


"Jangan menggodaku lagi..kamu sudah tahu berapa lama aku sudah berpuasa.."


Fatimah tertawa.


"Kamu bilang setahun pun kamu sanggup berpuasa.."


"Tapi melihat kamu semakin hari semakin cantik, aku tidak tahan..apalagi dengan baju tidur ini.." Jawab Aditya sambil memegang baju tidur Fatimah.


Baju tidur yang dimaksud Aditya adalah daster ibu hamil tanpa lengan dimana Fatimah akhir akhir ini sering mengenakannya karena sangat nyaman dikenakannya ditengah kehamilannya yang semakin besar, dan semakin mudah berkeringat.


Aditya sangat senang melihat istrinya memakai baju itu, panjangnya yang diatas lutut membuat Fatimah terlihat sangat seksi menurut Aditya.


"Tunggu pembalasan aku nanti, setelah kamu melahirkan.." Bisik Aditya lagi.


Fatimah kembali tertawa.


"Aku jadi takut.."


---------------


Romi dan Ayu pulang kampung demi memenuhi hasrat ngidam Ayu yang ingin makan masakan ibunya.


Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh keluarga Ayu terutama adik adiknya, ditambah kabar Ayu yang sedang hamil membuat mereka semakin bergembira.


Mereka berencana menginap satu hari.


Ayu terlihat kelelahan karena perjalanan tadi siang, Romi dengan telaten memijit Ayu yang terlihat pucat karena beberapa kali harus muntah.


Hari sudah malam, Ayu tertidur di pelukan Romi, mereka tidur diatas kasur lantai.


"Sayang..aku jadi ingat tragedi dipan di malam pertama kita.." Ucap Romi tiba tiba.


Ayu tertawa.


Mereka tertawa bersama.


----------


"Untuk sekali saja, om mohon temui Cindy.." Ayah Cindy memohon kepada Aditya yang ditemui di kantornya.


"Maaf om, saya tidak bisa.." Jawab Aditya pelan.


Aditya terdiam.


"Baiklah om..saya bersedia, tapi hanya sekali ini saja.."


"Terima kasih nak.."


"Waktunya nanti saya kabari, tidak bisa hari ini karena saya harus rapat.."


"Iya..om mengerti, kami tunggu.."


"Sekali lagi terima kasih nak.."


Aditya mengangguk.


Dia berpikir dia hanya akan menemui Cindy sekali ini saja, setelah itu dia tidak ingin lagi berhubungan dengannya.


Dia tidak akan mengatakan kepada Fatimah karena takut akan membuat Fatimah marah atau salah paham.


Keluarga Cindy tinggal di apartemen yang baru disewa oleh Cindy, beberapa kali orang tuanya mengajak Cindy untuk kembali ke London akan tetapi Cindy selalu menolak dan mengatakan akan tetap tinggal disini sampai Aditya menemuinya dan memaafkannya.


Karena pikiran yang terus memikirkan Aditya, dan waktu makan yang tidak teratur membuat kesehatan Cindy menurun, sudah hampir seminggu dia sakit dan tidak mau makan, hanya Aditya yang terus saja dia panggil.


Melihat keadaan putrinya, membuat kedua orangtuanya sangat cemas dan khawatir, mereka berpikir bagaimana caranya mendatangkan Aditya kerumah, sementara mereka tahu Aditya sudah memutuskan hubungannya dengan Cindy karena ulah anaknya yang mencoba menghancurkan rumah tangga Aditya.


Mereka merekayasa soal perjodohan itu, berharap Aditya akan luluh dan mau menikahi Cindy walau hanya menjadi istri kedua, tak masalah bagi mereka asal Cindy bahagia.


Ternyata mereka salah, Aditya tak bergeming, hal itu justru membuatnya semakin menjauhkan diri dari keluarga Cindy.


Akan tetapi akhirnya Aditya mau menemui Cindy setelah Ayahnya yang memohon, mendengar itu membuat Cindy bahagia dan bersemangat, dia mau makan dan berdandan menunggu kedatangan Aditya.


Tak lama Aditya datang, Cindy menyambut kedatangannya di ruang tamu.


Aditya disambut oleh kedua orang tua Cindy, lalu Cindy menghampiri lelaki pujaannya, dia berniat memeluk Aditya.


"Kamu tidak seperti orang sakit.." Ucap Aditya melihat Cindy yang tersenyum berseri seri.


Cindy tidak peduli dengan perkataan Aditya, dia kembali mendekati Aditya dan akan memeluknya.


Tanpa diduga Aditya menepis tangan Cindy.


"Cindy ada yang harus aku katakan padamu.."


Cindy kecewa karena kali ini Aditya telah benar benar berubah, bahkan tak mau lagi memeluknya seperti saat dulu setiap kali mereka bertemu.


Orang tua Cindy meninggalkan anaknya dan Aditya, mereka memberi ruang untuk keduanya berbicara, mereka berharap keduanya bisa berbicara dari hati ke hati, sehingga semua permasalahan diantara mereka segera selesai.


"Apa.." Tanya Cindy.


"Tolong.. jangan ganggu aku lagi.." Pinta Aditya.


Cindy tersenyum sinis.


"Apa karena Fatimah..?"


"Iya..aku sangat mencintainya.."


"Aku juga sangat mencintaimu.."


"Tapi tidak dengan aku..aku sama sekali tidak menyimpan perasaan apa-apa kepadamu.."


"Kamu bohong.. aku tahu, kamu juga mencintai aku, hanya perasaan itu terhalang oleh Fatimah.." Jawab Cindy marah


"Kamu tidak mencintai Fatimah.. semuanya hanya demi Zahra.." Lanjutnya.


Aditya menggelengkan kepalanya.


"Kamu salah..aku mencintainya sepenuh hati, bukan karena Zahra.."


"Kamu bohong.. aku tahu kamu sangat menyayangi Zahra, kamu akan melakukan apapun untuknya.."


"Termasuk menikahi Fatimah dan berpura pura mencintainya.."


Aditya menggelengkan kepalanya dan menjauhi Cindy.


"Aku tidak peduli dengan segala pemikiran salahmu..aku hanya ingin meminta kamu dan orang tua kamu, jangan ganggu lagi rumah tanggaku dengan Fatimah.."


Aditya meninggalkan Cindy terpaku mendengar semua perkataannya.