My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Ayu dan Zahra kembali..



Fatimah dan Aditya yang telah sampai di rumah sakit, segera berlari menuju ruangan IGD, sampai akhirnya Fatimah melihat Ayu yang sedang duduk memeluk Zahra di pangkuannya.


Fatimah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Zahra putrinya kini kembali kepadanya dengan selamat.


Melihat kedatangan Fatimah, Zahra berlari kencang ke arah ibunya, Fatimah membuka tangannya sambil menangis menyambut putrinya yang kini berlari ke arahnya.


"Mama...Zahra kangen mama..Zahra takut ma.." Tangis Zahra di pelukan Fatimah.


"Mama juga kangen sama Zahra.." Jawab Fatimah memeluk erat Zahra.


Aditya menghampiri dan memeluk mereka berdua. Dia menciumi Zahra.


"Papah..Zahra ga mau kesana lagi, Zahra takut pa.." Ucap Zahra kepada Aditya sambil menangis.


"Tidak sayang..maafkan papa, papah ga bisa jaga kamu.." Jawab Aditya memeluk erat putrinya


Ayu menghampiri Fatimah dan memeluknya.


"Terimakasih sudah menjaga Zahra..kamu tidak apa-apa..?" Tanya Fatimah kepada Ayu.


Aku menggeleng.


"Alhamdulillah Fatimah aku dan Zahra bisa selamat ..tapi mereka menembak Romi.." Jawab Ayu dengan tangis yang ditahannya.


"Keluarga pasien atas nama Romi.." Teriak salah seorang perawat tiba tiba.


Mendengar itu Aditya dan Ayu segera menghampiri perawat tersebut.


"Pasien harus segera di operasi untuk mengeluarkan pelurunya, siapa yang akan menandatangani surat persetujuannya..?"


"Saya.." Jawab Aditya.


Perawat meminta Aditya untuk mengikutinya.


Fatimah yang masih menggendong Zahra, mengajak Ayu untuk duduk di bangku belakang mereka.


"Apa yang terjadi..?" Tanya Fatimah.


Ayu dengan perlahan menceritakan kejadian yang dia alami bersama Zahra, dan kedatangan Romi untuk menyelamatkan mereka berdua.


Mendengar semua itu, Fatimah memeluk erat Zahra, dia tidak percaya putrinya telah mengalami kejadian yang berbahaya yang dapat mengancam nyawanya.


"Maafkan aku Ayu, kalau saja kemarin aku yang mengantar Zahra, kamu tidak akan mengalami kejadian ini.." Ucap Fatimah memeluk Ayu.


"Tidak apa apa.. sekarang yang terpenting kita berdua telah selamat.."


Aditya telah menandatangani surat persetujuan operasi Romi, dia meminta izin dokter untuk bertemu sebentar dengan sahabatnya.


Romi tengah dalam persiapan akan dioperasi, tapi dia masih sadar dan menyadari kedatangan Aditya.


"Apa yang terjadi.." Tanya Aditya.


"Gue titip Ayu, Ayu sebenarnya yang mereka inginkan, bukan Zahra" Ucap Romi terbata bata.


Aditya terkejut.


"Ayu..? Apa yang mereka inginkan dari Ayu.." Tanya Aditya.


Romi menggeleng.


"Gue akan mencari tahu nanti, yang terpenting tolong jaga Ayu, karena penjahatnya masih berkeliaran dan bisa saja menculik Ayu kembali.." Pinta Romi.


Aditya mengangguk. Akan tetapi kepalanya masih dipenuhi rasa penasaran.


Dia keluar dari ruangan dan melihat ke arah istrinya dan Ayu. Dia akan menjaga Ayu sesuai keinginan sahabatnya yang kini tengah dioperasi.


Tak lama polisi datang setelah Aditya menghubungi mereka.


Terlihat Ayu dengan berderai air mata menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada para polisi.


Aditya menyuruh Fatimah dan Ayu untuk kembali kerumah saja, dengan diantar oleh polisi.


"Kalau boleh saya mau disini saja menunggu Romi .." Ucap Ayu kepada Aditya.


Aditya mengerti, Ayu pasti khawatir dengan keadaan Romi dan dia mengizinkan Ayu untuk tetap tinggal di rumah sakit.


Sebenarnya itu juga memudahkan Aditya untuk menjaga Ayu. Karena banyak polisi disini yang akan juga menjaga Ayu sebagai saksi kunci penculikan yang baru dialaminya.


Sedangkan Fatimah pulang dengan diantar oleh polisi lainnya.


"Bagaimana keadaannya dokter.." Tanya Ayu kepada salah satu dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Keadaannya sudah stabil, kami sudah mengeluarkan peluru dari tubuhnya, dan sebentar lagi pasien akan segera sadar.."


Dokter hanya mengizinkan satu orang untuk masuk dan menunggu pasien.


Aditya mempersilahkan Ayu masuk ke dalam ruangan Romi.


Ayu berjalan perlahan mendekati tempat tidur Romi, kemudian duduk di kursi disampingnya.


Dia terus memperhatikan wajah Romi yang masih tertidur karena pengaruh obat bius.


Entah apa yang kini dirasakannya, yang pastinya Ayu ingin lelaki di depannya ini segera sadar dan sehat seperti sebelumnya.


Air matanya mengalir, Ayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis..aku belum mati.." Ucap Romi tiba tiba mengagetkan Ayu.


Ayu membuka tangannya, dia melihat Romi yang baru tersadar dan melihat kearahnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar.." Ucap Ayu senang.


"Aku tidak akan mati sebelum aku menikahimu.." Lanjut Romi menggoda Ayu.


Ayu tersenyum.


"Cepat sembuh.." Jawab Ayu.


Romi mengangguk.


Romi terus memperhatikan Ayu.


Ayu yang merasa terus diperhatikan menjadi salah tingkah.


"Apa kamu menginginkan sesuatu..?" Tanya Ayu basa basi.


Romi mengangguk.


"Apa..?" Tanya Ayu lagi.


"Tetaplah di sisiku.." Jawab Romi.


Ayu mengangguk.


"Aku tak akan kemana-mana.." Ucap Ayu.


Romi tersenyum bahagia.


---------


Semua orang menyambut kedatangan Fatimah dan Zahra, satu persatu menciumi dan memeluk Zahra.


Nenek dengan tubuhnya yang masih lemas, turut menyambut kedatangan Zahra, seketika dia merasa tubuhnya sehat kembali, karena cucu kesayangannya telah kembali dengan keadaan sehat dan baik baik saja.


-----------


"Jadi siapa yang akan bertanggungjawab atas kebodohan kalian..?"


Mereka semua menunduk.


"Apa yang harus saya katakan kepada klien kita, kalau tahanan kita telah kabur.."


"Kami akan menculiknya lagi bos.."


Plakkkkkk


Orang yang menjawab tadi ditampar dengan keras oleh pria yang mereka panggil bos.


"Sekarang tidak segampang itu kita menculiknya lagi.."


Semua semakin menunduk.


"Terlebih kalian malah menembak Romi.." Teriak pria tadi semakin marah.


"Itu akan membuat klien kita semakin marah.."