
Nadya semakin menangis dengan histeris melihat Kevin meninggalkannya tanpa memberikan maafnya.
Linda mencoba membangunkan Nadya yang menangis sambil terduduk.
"Sudah sayang..bangun.."
Nadya tidak mau mendengarkan ibunya dia tetap menangis berharap kedua mertuanya yang masih berada disana merasa iba.
"Untuk sementara, pulanglah dulu kerumah ibumu, Kevin sedang marah besar dan lebih baik kamu jangan mengganggunya dulu.." Ucap Annisa.
Nadya semakin menangis mendengar perkataan mertuanya.
Nadya menghampiri Annisa yang berdiri di depannya, dia berjalan dengan lututnya.
"Mama..maafkan aku..aku mengakui bahwa aku memang bersalah.."
Annisa terdiam.
Nadya kali ini menghampiri Handoko.
"Papa..maafkan aku, aku mohon ampun..Aku tidak mau pulang kerumah ibuku.."
Handoko menghela nafas panjang.
"Benar kata Kevin, kami tak menyangka kamu mempunyai sifat iri hati dan dengki.."
"Entah apa yang sudah kami lakukan sehingga kamu cemburu kepada Fatimah dan Zahra.."
"Sebagai orang tua, kami selalu berusaha untuk bersikap adil.."
"Akan tetapi kamu ternyata tidak menerima semua kasih sayang yang kami berikan, malah membandingkannya dengan Fatimah.."
"Kini sifat iri hati dan dengki itu telah merusak dirimu dan rumah tanggamu.."
Nadya menangis mendengar perkataan ayah mertuanya.
"Kami telah menganggap kamu seperti anak kami sendiri, bahkan kami sudah sangat menyayangimu.." Ucap Annisa
"Tapi kamu meragukan semua kasih sayang kami.."
"Kamu benar benar sudah mengecewakan kami.."
Handoko dan istrinya meninggalkan Nadya yang terus menangis bersama ibunya, diikuti oleh Clara di belakangnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ma..?" Tanya Nadya kepada Linda, ibunya.
"Mari kita pulang dan pikirkan jalan keluarnya dirumah.."
Nadya berdiri dengan dibantu oleh Linda, mereka pergi meninggalkan rumah itu.
-------------
Aditya berjalan memasuki rumahnya dengan memegang tangan Fatimah, kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Zahra.
"Hore..papa dan mama pulang.." Zahra menghambur ke pelukan Aditya.
Aditya berjongkok, dia memeluk Zahra dengan erat, dia kembali mengingat rekaman CCTV tadi, dimana putrinya dimarahi oleh Nadya dengan sangat kasar.
Aditya serasa enggan melepaskan pelukan putrinya, dia ingin mengobati luka di hati Zahra dengan pelukannya, memberitahunya bahwa ada dirinya yang akan selalu melindungi dan menjaganya dari orang orang seperti Nadya.
Fatimah mengerti perasaan Aditya.
Zahra melepaskan pelukannya, kali ini dia memeluk Fatimah.
"Mama dari mana..?"
Fatimah berusaha untuk tersenyum.
"Mama pergi ada urusan sebentar.. maaf mama tidak memberitahumu, tadi kamu sedang tidur.." Fatimah berjongkok dan memeluk Zahra.
Zahra mengangguk tanda mengerti.
Dia kembali berlari dan bermain lagi.
Aditya berjalan menuju kamarnya, di dalam kamar, dia menjatuhkan badannya di atas tempat tidur.
Fatimah datang dengan membawa Zidane.
Dia duduk di sebelah suaminya, kemudian menyusui Zidane.
Aditya terbangun, dia memeluk Fatimah sambil menciumi Zidane yang sedang menyusu.
"Sayang.."
"Ya.." Jawab Fatimah.
"Terima kasih.."
"Untuk apa..?"
"Untuk kasih sayangmu kepada Zahra.."
Fatimah melihat Aditya.
"Kenapa kamu mengucapkan itu, seakan kamu memberitahu posisiku yang hanya seorang ibu sambung.."
"Bukan itu maksudku..aku hanya terharu dengan segala perbuatan kamu yang selalu melindungi Zahra.."
"Tidak ada ibu yang akan membiarkan anaknya terluka dan disakiti.."
"Ada.. Sherly.."
Fatimah melihat Aditya lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba menyebut namanya..?"
"Karena kejadian hari ini disebabkan olehnya.."
"Apa maksudmu..?"
Fatimah kini mengerti.
"Sayang..aku takut Nadya adalah permulaan, takut Zahra akan menjadi bahan olokan orang lain lagi karena Sherly.."
"Semua orang pasti akan terus menghubungkan antara Zahra dan Sherly ibunya.."
Fatimah diam tidak bisa menjawab.
"Ada kita..kita yang akan mencegahnya..tidak akan kubiarkan orang lain menyakiti Zahra.."
Aditya memeluk Fatimah.
"Kamu benar, kita akan selalu melindungi Zahra.."
Fatimah mengangguk.
-----------------
Sudah 2 hari Kevin menginap dirumah orang tuanya, pagi ini dia sudah terbangun, atau lebih tepatnya tidak tidur sama sekali, masalah yang dibuat Nadya, istrinya membuat pikirannya kusut, terlebih dia sangat merindukan Nabila, sudah 2 hari dia tidak bertemu dengan anaknya.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, kemudian terdengar pintu kamar terbuka, Annisa berjalan memasuki kamar dan menghampiri Kevin yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Nak..kamu sudah bangun..?" Tanya Annisa dengan lembut.
Kevin mengangguk kecil.
Annisa duduk di samping putranya.
"Hari ini kamu mau ke kantor..?"
"Iya ma.."
Annisa menatap Kevin, mengusap lembut pundaknya.
"Pulanglah.. selesaikan masalahmu dengan Nadya.."
"Entahlah..aku masih tidak ingin bertemu dengannya.."
"Sampai kapan..?" Tanya Annisa lembut.
"Aku tidak tahu.."
"Bagaimana dengan Nabila, apa kamu tidak memikirkannya..dia pasti merindukanmu.."
Kevin memegang kepalanya.
"Tapi apa yang sudah diperbuat oleh Nadya sudah keterlaluan, aku malu pada Fatimah dan Aditya, juga kepada mama.."
"Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, untuk kali ini maafkanlah dia.."
"Lakukan demi Nabila, anakmu.."
Kevin menatap Annisa, ibunya.
"Bahkan mama tidak menyimpan dendam kepada Nadya.."
Annisa tersenyum.
"Semua orang tua akan selalu memaafkan semua kesalahan anaknya.."
Kevin terharu.
"Nadya sudah buta, kenapa dia tidak bisa merasakan kasih sayang mama yang begitu tulus ini.."
"Bagiku mama tidak berubah sama sekali, mama adalah tetap mamaku yang dulu, yang menyayangi aku dan Clara dengan tulus.."
"Bagiku, kehadiran Fatimah tidak berpengaruh, mama tetep menyayangi kami.."
Annisa mengelus rambut Kevin.
"Kalau begitu, dengarkan nasihat mama, pulanglah, bereskan masalahmu dengan Nadya, pikirkan Nabila..jangan sampai dia yang jadi korbannya.."
Kevin mengangguk.
"Baiklah mah..aku melakukan ini karena mama.."
Annisa tersenyum senang.
Handoko yang sedari tadi gak sengaja mendengarkan dibalik pintu menangis terharu.
Annisa.
Perbuatan baik apa yang sudah dia lakukan sehingga tuhan mengirim Annisa kedalam kehidupannya.
Annisa begitu dengan tulus menyayangi anak anaknya, dia bahkan sangat mengerti dan memahami kedua putra putrinya.
Setelah kejadian kemarin, Annisa bahkan tak menyimpan dendam kepada Nadya, dan meminta Kevin untuk memaafkan istrinya, padahal kesalahan yang dibuat Nadya begitu fatal, di telah memfitnah Fatimah, anak kandung Annisa sendiri.
Nadya salah, Annisa Istrinya tidak pernah pilih kasih, dia menyayangi semua anaknya dengan adil, baik Fatimah dan Clara maupun Kevin, Annisa tidak membedakan ketiganya, begitu juga dengan menantu mereka, Aditya dan Nadya, dianggapnya seperti anak sendiri.
-------------
Kevin akan mengetuk pintu.
Samar samar dia mendengar Nadya berbicara dengan ibunya.
Nadya terdengar tertawa.
"Tidak lama lagi, Kevin akan datang kesini, dia akan mengajakku untuk pulang dan berkata dia sudah memaafkan aku..dia sangat mencintaiku mama, dan tidak akan tahan berjauhan denganku dan Nabila.."
Nadya terus saja tertawa dengan riang.
Kevin menundukkan kepalanya, mengepalkan kedua tangannya.
Rupanya Nadya belum berubah.