My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Ngidam Ayu..



Aditya yang sedang mengemudi sesekali melihat Fatimah yang masih terlihat sangat kesal. Fatimah yang merasa diperhatikan melihat Aditya dengan sinis.


"Maafkan aku.." Ucap Aditya yang tahu akan kesalahannya.


Fatimah tidak menjawab.


"Sudah jangan marah lagi, mereka kan sudah minta maaf.." Bujuk Aditya.


Fatimah lagi lagi tidak menjawab.


"Aku akan pindahkan sekolah Zahra.." Ucap Fatimah tiba tiba.


"Sayang itu berlebihan.." Jawab Aditya.


"Kalau Zahra disana terus dia akan diganggu terus oleh anak tadi.." Jawab Fatimah marah.


"Oke..oke.. terserah kamu.." Jawab Aditya takut karena Fatimah memarahinya.


"Zahra mau pindah sekolah..?" Tanya Fatimah lembut kepada putrinya.


Zahra menggeleng.


"Kenapa..?"


"Zahra sudah punya banyak teman disana.."


"Baiklah..kalau ada yang nakal lagi sama Zahra kasih tahu mama ya.." Pinta Fatimah.


Zahra mengangguk.


"Aku akan mengawasi terus anak itu, awas kalau dia berani ganggu Zahra lagi.." Kata Fatimah kepada suaminya kembali marah.


Aditya hanya bisa mengangguk, dia tersenyum kecil melihat istrinya yang berbicara sangat lembut kepada Zahra, sedangkan kepadanya Fatimah masih sangat marah.


Walau bagaimanapun Aditya menyadari kesalahannya, dia mempercayai omongan orang lain tentang Zahra tanpa bertanya terlebih dahulu kepada anaknya.


Dia sangat bersyukur Fatimah sangat memahami Zahra, ikatan batin diantara keduanya memang sangat dekat, selayaknya ibu dan anak kandung.


Mereka sampai dirumah, Aditya melihat Fatimah yang kelelahan, dia mengajak istrinya untuk duduk beristirahat.


"Kamu gak apa apa..?" Tanya Aditya cemas.


Fatimah menggelengkan kepalanya.


"Sudah jangan marah lagi..ingat anak kita.." Pinta Aditya sambil mengelus perut istrinya.


Fatimah menyandarkan tubuhnya pada sofa.


Bik Minah tanpa diperintah membawa Zahra ke kamarnya untuk berganti baju.


Rini datang dan memberinya minum.


"Aku mau ke kamar..." Kata Fatimah sambil akan beranjak bangun.


Dengan sigap Aditya menggendong istrinya, dia membawa Fatimah masuk kedalam kamar walaupun beberapa kali dia meminta diturunkan karena malu banyak yang melihat.


Aditya tidak menuruti permintaan istrinya, dia tetap menggendong Fatimah memasuki kamar.


Sesampainya di kamar, Aditya menurunkan istrinya di atas tempat tidur.


Fatimah berjalan ke arah kamar mandi karena dirasa badannya sangat kepanasan.


Aditya mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana..?" Tanya Fatimah


"Ikut kamu..mandi.."


"Aku gak mau mandi sama kamu.."


"Kenapa..? masih marah ya..? kan aku sudah minta maaf.."


Fatimah menggeleng.


"Boleh ya.." Bujuk Aditya.


Fatimah tetap menggeleng.


"Aku gak ikut mandi dech..cuma liatin kamu aza, nanti kamu jatuh.." Bujuk Aditya lagi.


Fatimah menyerah.


Dan benar saja, ada sedikit flek darah di celana dalam miliknya, Aditya yang melihat itu sangat panik dan khawatir.


"Cuma sedikit..gak apa apa kok.."


"Apa maksud kamu gak apa apa sayang.."


"Aku tidak apa-apa.."


"Kalau cuma flek segini tidak masalah.."


Aditya mengalah, dia menuruti kehendak istrinya untuk tidak pergi kerumah sakit.


Mereka melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, Aditya tidak berencana kembali lagi ke kantor karena melihat kondisi Fatimah yang lemah.


"Sayang..kita kerumah sakit yuk.." Bujuk Aditya sambil mengelus halus perut istrinya.


Fatimah menggeleng.


"Dari yang aku tahu, kalau flek cuma sedikit tidak masalah.. kecuali banyak.."


"Tapi aku khawatir sayang.."


"Aku takut terjadi apa-apa sama kalian berdua.."


Fatimah tersenyum. Dia menyimpan kepalanya diatas dada suaminya.


"Kalau sesuatu terjadi kepadaku, kamu harus berjanji akan memilih menyelamatkan bayi kita.."


"Tolong urus Zahra dan bayi ini baik baik.."


"Kamu ngomong apa seh.." Aditya marah.


"Kan aku bilang misalnya.."


"Kamu dan anak kita akan sehat dan baik baik saja, kita berdua akan merawat anak anak kita hingga mereka dewasa.."


"Amiinnnn.." Jawab Fatimah.


"Sudah jangan mikir macam macam.." Lanjut Aditya.


Fatimah mengangguk.


Tak lama Zahra masuk dan memeluk Fatimah.


Zahra menciumi dan mengelus perut ibunya, seperti biasa dia berebutan dengan Aditya.


--------


Kebahagiaan juga menyelimuti keluarga Romi, terlebih Margareth yang senang menyambut kehadiran calon cucunya.


Margareth memperlakukan Ayu seperti seorang putri, dia sama sekali tidak memperbolehkan menantunya itu untuk bekerja, dia melayani Ayu dengan sangat baik, dia menyediakan segala keperluan menantunya.


Kehamilan Ayu berbeda dengan kehamilan Fatimah sahabatnya, kali ini Ayu merasa tidak mau berdekatan dengan Romi, bahkan Ayu tidak mau Romi menciumnya.


"Kenapa sayang..?" Tanya Romi heran.


"Aku ga suka bau Parfum kamu.."


Ayu berlari ke kamar mandi dan muntah muntah.


Margareth yang mengetahui hal itu, meminta Romi untuk mandi dan berganti baju, untuk menghilangkan bau parfum di badannya.


Tetap saja, Ayu masih tidak mau berdekatan dengan suaminya, hal itu akan membuatnya kembali muntah.


"Apa itu wajar mih..?"


Margareth tertawa.


"Dia benar-benar anak kamu rom..kehamilan Ayu persis seperti kehamilan mamih dulu.."


"Maksud mamih..?"


"Coba tanya Papi kamu.." Jawab Margareth tersenyum menunjuk suaminya yang duduk disampingnya.


"Selama mami kamu hamil kamu, mamih sangat benci sama papi, kita tidak pernah tidur sekamar, dia merasa jijik sama papi, dia tidak mau berdekatan.. dibilangnya papi ini bau lah, ini lah..itu lah.."


"Persis seperti Ayu sekarang.."


Romi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu harus sabar Romi..ini bawaan bayi.." Lanjut Margareth.


Tidak berdekatan dengan Ayu..?


Mana bisa Romi tahan.


********


"Andai semua yang baca memberikan vote.." Author menghayal


Hehehe..