My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Nita 2..



"Kenapa baru sekarang anda meminta pertanggungjawaban..kenapa tidak saat kehamilannya masih kecil..dan kenapa saat anak saya Romi sudah menikah..?" Tanya Margareth.


"Itu karena Nita tidak mau memberi tahu kami siapa ayah dari anaknya, dia tetap bungkam ketika kami terus menanyainya.."


"Dia bertekad akan membesarkan anaknya sendiri, padahal dia tidak mengerti seperti apa mempunyai seorang anak itu.."


"Setelah kami memaksanya akhirnya kemarin dia memberitahu kami semuanya, bahwa anak andalah ayah dari bayi yang dikandungnya.." Jawab Ibu Nita.


"Tapi kami tidak mungkin akan menikahkan anak anda dengan Romi.." Jawab Margareth.


"Kami akan bertanggungjawab penuh atas biaya kehamilan dan persalinan Nita nanti, juga kepada bayinya, tapi untuk menikahkan keduanya saya rasa itu tidak mungkin.."


"Anak saya sudah menikah dan tidak mungkin menyakiti istrinya.." lanjut Margareth panjang lebar.


"Jadi maksud anda, anda ingin anak saya melahirkan anak ini tanpa menikah..?" Tanya Ibunya Nita marah.


"Coba bayangkan kalau posisinya dibalik, putri anda hamil dan laki lakinya tidak mau menikahinya, apa kata kerabat dan tetangga anda..?"


"Tapi kita juga harus memikirkan perasaan istri Romi sekarang.." Jawab Margareth.


"Maaf saya tidak mau tahu masalah itu, saya hanya ingin agar putra anda segera menikahi putri saya.."


Semuanya terdiam.


"Pernikahan harus segera dilaksanakan secepatnya.."


"Tolong beri kami waktu untuk memutuskan.." Jawab Margareth.


Akhirnya keluarga Nita pergi meninggalkan rumah dan menyisakan kesedihan di hati Margareth.


"Romi..mami tidak sanggup kalau kamu harus menyakiti Ayu lagi, dengan menikahi Nita.." Ucap Margareth menangis.


"Tapi tidak ada cara lain mi..kita harus menikahkan mereka berdua.." Sela Papi.


Romi terdiam menunduk.


"Mami akan menemui Ayu dirumah Aditya, mami merindukannya.." Ucap Margareth sambil beranjak berdiri.


-----------


Sekuat apapun Ayu menyembunyikan kesedihan dan kegelisahan hatinya, akan tetapi Fatimah bisa dengan jelas melihatnya.


Ayu yang berusaha untuk selalu tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa, justru semakin membuat Fatimah bersedih


Dia tahu persis bahwa Ayu sahabatnya kini sedang terluka dan bingung. Dia ingin sekali menolong Ayu, akan tetapi entah apa yang harus dia perbuat. Dia dan Aditya tidak bisa melakukan apapun.


Tak lama Margareth sampai di kediaman Aditya, dia segera menemui Ayu di kamar Zahra, Fatimah mengajak Zahra untuk keluar memberi mereka ruang untuk berbicara berdua.


"Sayang.." Margareth memeluk Ayu dengan menangis.


"Mami jangan menangis terus..Ayu tidak apa apa.."


"Mami tahu nak..kamu wanita yang kuat.."


Ayu menghapus air mata mertuanya.


"Bagaimana..apa orang tua Nita sudah datang..?"


Mami mengangguk.


"Jadi kapan pernikahannya mih..?"


Margareth tidak menjawab.


"Kita belum memutuskannya sayang.."


"Kenapa..?"


"Kami tidak ingin menyakitimu.."


Ayu tersenyum.


"Ayu tidak apa apa mih..segera nikahkan mereka.."


Margareth terdiam.


"Aku tidak akan pernah menikah dengan Nita.." Kata Romi yang rupanya dari tadi mendengarkan percakapan mereka.


Ayu berdiri menyambut Romi.


"Insya Allah Ayu ikhlas.."


"Ayu akan bertahan semampu Ayu.."


---------


Ayu memutuskan untuk kembali kerumah mertuanya, bagaimanapun Ayu tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang harus mengurus dan melayani suaminya.


Ayu bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk melihat pernikahan suaminya sendiri.


Margareth semakin salut dengan ketegaran hati Ayu, dia semakin menyayangi menantunya dan tak akan membiarkan Ayu kembali terluka.


Sedangkan Romi, rasa bersalah kepada Ayu semakin dirasa semakin besar melihat Ayu yang masih dengan taat dan patuh mengurusi dan melayaninya.


Ayu masih memberikan senyumannya dan tak pernah mengungkit atau membahas masalah Nita.


Suatu hari.


Nita memasuki rumah, disambut oleh Margareth yang berwajah sinis.


"Ada apa..?" Tanya Margareth.


"Kami belum memutuskan..jadi sebaiknya kamu menunggu dirumah dan menunggu keputusan kami.."


"Maaf Tante..saya sudah memutuskan.."


"Apa maksudmu..?"


"Saya tidak ingin menikah dengan Romi.." Jawab Nita pelan.


"Yang menginginkan pernikahan ini adalah kedua orangtua saya, saya tidak menginginkannya.." lanjutnya.


" Jadi apa maumu..?" Tanya Margareth.


"Orang tua saya telah mengusir saya dari rumah karena saya tidak mau menikah..jadi izinkan saya tinggal dirumah ini sampai melahirkan.."


Margareth mengerutkan keningnya.


"Sesudah saya melahirkan saya dan anak saya akan pergi meninggalkan rumah ini.."


"Kamu yakin dengan semau keputusanmu..?"


"Iya Tante..setelah saya melahirkan saya tidak akan menuntut apa apa.."


-----------


Akhirnya setelah berdiskusi dengan suaminya dan juga Romi, Margareth mengizinkan Nita untuk tinggal dirumahnya selama masa kehamilannya.


Ayu menyambut kehadiran Nita dan melayani Nita dengan baik padahal sudah dilarang oleh Margareth.


"Tidak apa apa mih..Ayu kasihan dia sepertinya kesulitan melakukan sesuatu dengan perutnya yang besar.." Jawab Ayu ketika Margareth melarangnya melayani Nita.


Margareth lupa kalau Ayu wanita yang baik dan tidak menyimpan dendam.


Sedang Nita semakin malu dengan perlakuan Ayu yang selalu bersikap baik alih alih memusuhinya. Dia akan semakin merasa bersalah kepada Ayu, kalau dia sampai menikah dengan Romi.


Romi selau menghindar setiap kali bertemu dengan Nita di dalam rumah, dia sama sekali tidak mau bertemu muka apalagi bertegur sapa.


Sudah hampir seminggu Nita tinggal dirumahnya..


Tiba-tiba Nita berteriak meminta tolong.


Semua orang menghampiri dan terkaget melihat Nita yang mengalami pendarahan


Segera mereka membawa Nita kerumah sakit, Romi yang berada di kantor segera dihubungi oleh Ayu yang memintanya untuk segera menyusul.


Ternyata Dokter memutuskan akan melakukan persalinan walaupun kehamilan Nita yang baru berusia 7 bulan.


Dokter menjelaskan bahwa keadaan janin dan ibunya sangat kritis, dokter mencurigai bahwa pasien pernah akan menggugurkan kandungannya ketika usia kehamilan masih kecil, akan tetapi janin bertahan dan rupanya sekarang janin mengalami keadaan yang kritis, bahkan resiko lahir dengan cacat atau bahkan tidak selamat sangat besar.


Margareth dan semuanya meminta dokter melakukan yang terbaik untuk Nita dan bayinya.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dan meminta Ayah si bayi untuk segera mendonorkan darahnya, Romi maju dan memasuki ruangan.


Beberapa saat kemudian dokter keluar.


"Maaf pak..golongan darah kalian berbeda..anda bukan ayah kandung dari bayi ibu Nita.."