
Suasana begitu khidmat, ketika hanya dengan satu tarikan napas, Angga mengucapkan ijab qobul dengan lancar, saat penghulu mengucapkan kata ' sah ' diikuti oleh saksi dan orang orang yang menyaksikan prosesi akad nikah tersebut.
Suasana berganti menjadi haru, Annisa yang duduk di samping besannya Wati, terlihat beberapa kali menghapus air matanya.
Dia merasa bersyukur karena akhirnya Clara bisa menikah dengan lelaki pilihannya, ada sedikit kesedihan karena Clara telah menjadi seorang istri, dimana sekarang Clara akan dibawa pergi oleh suaminya.
Hingga saatnya Clara dibawa masuk ke dalam ruangan akad nikah, dia berjalan dengan perlahan digandeng oleh Fatimah dan Nadya, Angga sudah menatap Clara dari kejauhan, dia melihat Clara sebagai istrinya untuk pertama kalinya, pandangannya tak terhenti karena dia merasa pangling akan kecantikan Clara yang semakin bersinar dengan kebaya putih yang dikenakannya.
Clara telah berdiri di depannya, sesaat mereka saling berpandangan, Clara nampak tersenyum malu, Angga memakaikan cincin pernikahan dan menyerahkan mas kawinnya, selanjutnya semua prosesi akad nikah dilaksanakan dengan lancar.
Acara akad nikah yang berlangsung sore hari, di sebuah aula hotel bintang lima telah selesai, akan dilanjutkan dengan acara resepsi nanti malam di tempat yang sama.
Malam hari..
Acara resepsi malam itu berlangsung dengan meriah, banyak tamu yang hadir, didominasi oleh kerabat dan rekan kerja dari kedua belah pihak, satu persatu menyalami dan memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
Hari sudah semakin malam, namun tamu yang hadir semakin banyak, Angga melihat Clara yang berdiri di sampingnya sedikit kelelahan, dia beberapa kali memegang kepalanya.
"Kamu kenapa..?" Tanya Angga khawatir.
Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau capek kita istirahat saja.."
Lagi lagi Clara menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Clara merasa sedikit pusing semenjak tadi pagi, badannya sedikit demam, tidak bisa dipungkiri kedatangan Camelia, ibu kandungnya sedikit membuatnya stres hingga membuat jadwal makan dan tidurnya terganggu, akibatnya sekarang, dia merasa badannya sangat lemah dan kepalanya yang pusing, namun dia tetap memaksakan diri, dia tidak ingin mengecewakan para tamu yang hadir.
Akhirnya acara telah selesai menjelang pukul 11 malam, Clara terlihat terduduk lemas, dia merasakan keadaannya semakin memburuk.
"Aku tahu, badanmu kurang sehat.." Ucap Angga khawatir, dia melihat Clara yang mengeluarkan keringat dingin.
Clara mencoba untuk tersenyum dan menggelengkan kepalanya
Namun kepalanya semakin pusing dan dirinya sudah tidak mempunyai tenaga lagi.
Annisa mengetahui ada yang aneh dari putrinya.
"Kamu kenapa sayang..?"
Clara memeluk Annisa.
"Ya Allah..badan kamu panas nak.." Ucap Annisa kaget.
Seketika orang orang menghampiri.
Handoko memegang kening putrinya.
"Sebaiknya bawa Clara masuk ke dalam kamar, sepertinya dia kecapaian.."
Angga dengan cekatan menggendong Clara, dia membawa Clara ke kamarnya, diikuti oleh Annisa dan yang lainnya.
Sesampainya di kamar hotel, Nadya dan Annisa beserta beberapa orang perias pengantin membantu Clara membuka baju pengantin dan semua aksesorisnya termasuk menghapus make-upnya.
Tak butuh waktu lama, Clara telah berganti baju, dia telah diberi obat oleh Annisa dan kini terbaring di atas kasur.
"Sayang..mama pergi dulu, sekarang ada Angga yang akan mengurus kamu.."
Entah kenapa Clara merasa takut, dia memegang tangan ibunya dengan erat.
Annisa tersenyum, dia mengerti ketakutan Clara.
"Kamu jangan seperti ini, kamu bukan anak manja mama lagi, kamu seorang istri sekarang.."
Handoko memanggil Annisa beberapa kali di luar kamar.
"Lihat, papamu sudah manggil mama, kamu istirahat ya..Angga akan menjaga kamu dengan baik.."
Akhirnya Clara melepaskan tangannya, dia membiarkan ibunya pergi dan meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
Clara terlihat ketakutan, seseorang terdengar membuka pintu kamarnya, dia melihat Angga masuk dan menghampirinya.
Angga duduk di samping Clara, dia memegang kening istrinya dan merasakan panasnya sudah turun.
"Bagaimana keadaanmu..?" Tanya Angga lembut.
"Sudah lebih baik.."
"Syukurlah.." Ucap Angga pelan.
Clara merasa jantungnya berdetak kencang, dia merasa takut Angga akan melakukan sesuatu yang bahkan dirinya belum siap.
Angga tersenyum, dia mengerti ketakutan Clara.
"Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu.. sekarang kamu harus tidur.." Ucap Angga sembari akan beranjak dari duduknya.
Clara merasa tidak enak terlalu memperlihatkan ketakutannya pada Angga.
Melihat Angga yang akan pergi, Clara memegang tangan suaminya dan menariknya dengan sedikit kuat.
Hampir saja Angga terjatuh menimpa badannya, namun Angga bisa dengan segera menahan dengan kedua tangannya.
Kini mereka saling berhadapan, wajah mereka sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja.
"Maafkan aku..jangan pergi.." Ucap Clara dengan pelan.
Angga tersenyum.
"Aku tidak kemana-mana..aku disini.."
Mereka masih dalam posisi seperti itu, Angga malah semakin mendekatkan wajahnya, dia melihat bibir Clara yang merah merona, dia mengecupnya sekali.
"Aku mencintaimu.." Ucap Angga pelan.
Clara kaget, itu adalah ciuman pertama mereka, jantungnya semakin berdegup tak karuan, mungkinkah Angga akan memintanya untuk melakukan malam pertama mereka sekarang.
"Tidurlah..kamu sedang sakit.." Ucap Angga tersenyum.
Seketika Clara merasa lega, dia tahu Angga tidak akan memaksanya, apalagi suaminya itu tahu, dirinya yang sedang sakit.
Angga mengangkat badannya, dia membenahi selimut Clara.
"Aku shalat isya dulu, kamu tidurlah duluan.." Ucap Angga dengan lembut.
Clara menganggukkan kepalanya.
Dia melihat Angga masuk ke dalam kamar mandi.
Entah karena efek obat atau kecapaian, Clara langsung tertidur dengan pulasnya, dia bahkan tidak membuka jilbab yang masih dipakainya.
Selesai shalat, Angga melihat Clara yang sudah tertidur dengan pulasnya, dia menaiki kasur dan berbaring di samping istrinya.
Berkali kali dia mengecek suhu badannya, dia bersyukur karena suhu badan Clara tidak naik lagi.
Angga kaget karena tiba-tiba Clara membalikkan badannya kearahnya, dia memeluk Angga dengan erat, bahkan salah satu kakinya naik ke atas kaki Angga.
"Mama.." Clara mengigau, dia yang terbiasa tidur bersama Annisa mengira itu adalah badan ibunya.
Angga tersenyum, dia membiarkan Clara tidur dengan posisi seperti itu, tak lupa di mengecup kening Clara yang tepat berada di sampingnya.
Dini hari.
Clara terbangun karena merasa haus, dia merasa kaget menyadari dia tertidur dengan posisi memeluk Angga yang kini sudah tertidur lelap, perlahan dia mengangkat tangan dan kakinya yang menindih Angga.
"Kenapa aku memeluknya.." Gumam Clara kepada dirinya sendiri dengan kesal.
Dia membalikkan badannya membelakangi Angga, tiba tiba dia merasa tangan Angga merangkulnya dari belakang, dia juga merasa Angga mendekatkan badannya semakin dekat dengan dirinya.
"Mau kemana..?" Tanya Angga yang rupanya terbangun.
Clara terdiam, jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang sangat dekat, bahkan dirinya bisa merasakan hembusan napas Angga di atas kepalanya.
"Tidak kemana-mana.." Jawab Clara pelan, sebenarnya Clara ingin bangun dan minum, namun dia mengurungkannya.
"Taukah kamu, seorang istri tidak boleh tidur membelakangi suaminya.." Ucap Angga pelan.
Clara terdiam.
"Aku malu.." Jawab Clara pelan.
Angga tersenyum.
"Aku tahu.."
Angga terlihat akan melepaskan pelukannya, dia tak ingin membuat Clara semakin ketakutan, namun segera Clara menahan tangannya, dia memegang tangan suaminya yang melingkar diatas perutnya.
"Aku suka seperti ini.." Ucap Clara pelan.
Angga tersenyum.
Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Tangan merekapun saling berpegangan erat.