
"Fatimah.."
Clara terperanjat kaget. Dia langsung melihat Angga di sampingnya.
"Dia bukan hanya teman masa kecilku..dia juga cinta pertamaku.." Lanjut Angga pelan.
Clara mengalihkan pandangannya. Banyak hal yang berkecamuk di dalam hatinya kini.
Clara sibuk dengan pikirannya, memikirkan Fatimah yang ternyata cinta pertama dari lelaki yang dicintainya, entah kenapa menjadi dunia terasa sempit baginya.
Angga melihat Clara yang tidak merespon ucapannya.
"Aku tahu kamu pasti akan kaget, ini bisa mengubah perasaanmu kepa........"
"Mengetahuinya tak mengubah apapun..." Ucap Clara dengan cepat.
Dia melihat Angga dengan tersenyum manis.
Angga kaget.
"Dia hanya masa lalu kamu..aku tahu sekarang kamu sudah pasti melupakannya.."
Angga mengangguk.
"Sudah lama aku melupakannya, sekarang dia hanya seperti adik buatku...."
Clara tersenyum.
"Aku tahu..." Jawab Clara.
"Sekarang cintailah aku saja.." Pinta Clara.
Angga terdiam.
"Tapi kamu terlalu sulit aku jangkau.." Jawab Angga pelan.
"Terlalu luas perbedaan diantara kita.."
"Terlebih Pak Handoko sudah terlalu baik kepadaku, aku tidak ingin mengecewakannya, dan menjadi penyebab gagalnya perjodohanmu.."
Clara terdiam.
Angga benar, ayahnya sangat antusias dengan perjodohan ini, bahkan beliau sudah menginginkan dirinya dan Dennis untuk sesegera mungkin untuk menikah.
"Lelaki itu, aku lihat dia lelaki yang baik, selain itu dia sederajat denganmu.."
"Walaupun hanya melihat sepintas tapi aku tahu dia menyukaimu.."
Clara terdiam, Angga benar, Dennis menyukainya, bahkan sudah menyatakan cintanya.
Angga terlihat melihat jam tangannya.
"Sudah lewat jam makan siang, sebaiknya kita kembali ke kantor.."
Angga menghidupkan mobilnya.
Selama dalam perjalanan, keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Mereka telah sampai di depan kantor Clara.
Mobil sudah berhenti, namun keduanya masih terdiam, Clara belum berniat turun dari mobil.
Clara melihat Angga.
"Fatimah..sudah seperti saudara kandungku, tapi mengetahui dia adalah cinta pertamamu, tak mengubah apapun, aku tetap mencintaimu.."
Clara turun dari mobil, diikuti oleh tatapan Angga.
-------------
Clara turun dari mobilnya, sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang, dia segera masuk ke dalam dan melihat Annisa yang menyambutnya.
Clara memeluk Annisa erat, kejadian hari ini membuat hatinya merasa tak karuan, antara bahagia karena Angga yang ternyata mempunyai perasaan yang sama dengannya, galau karena Dennis yang menyatakan cintanya, sedih karena perjodohannya, dan kaget mengetahui Fatimah cinta pertama Angga.
Clara cukup lama memeluk Annisa.
"Ada apa..?" Tanya Annisa merasakan ada sesuatu yang terjadi kepada putrinya.
Clara menggelengkan kepalanya.
Dia berusaha memberikan senyuman manisnya untuk sang ibu.
Annisa membalasnya, dia mengusap rambut Clara.
Clara pergi meninggalkan Ibunya yang melihatnya dengan rasa sedih, dia tahu ada sesuatu yang terjadi kepada putrinya.
Clara beserta kedua orangtuanya sedang makan malam bersama.
"Clara..besok bersiaplah.. keluarga Dennis akan kesini untuk menentukan tanggal lamaran dan pernikahan.."
Clara kaget, dan membuatnya tersedak.
Buru buru Annisa memberikan minum kepada putrinya.
"Kenapa buru buru sekali..?" Tanya Annisa heran.
"Orang tua Dennis tadi menghubungiku, mereka ingin rencana pernikahan Clara dan Dennis dipercepat...."
Clara diam tak menjawab.
Annisa melirik Clara, dia melihat Clara yang sedih.
"Bagaimana..? kamu siap kan..?" Tanya Handoko.
Clara diam, ingin rasanya dia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dia menolak perjodohan ini, dia juga ingin memberitahu ayahnya bahwa dirinya sudah mempunyai lelaki pilihannya sendiri.
Namun apa daya, dia tak sanggup, itu pasti akan membuat ayahnya sangat marah dan kecewa.
"Ayah harap kamu siap.. kamu tahu, papa sangat menantikan pernikahan ini.."
"Dennis lelaki yang baik, papa sangat mengenal baik keluarganya, dan papa yakin dia akan membahagiakan kamu.."
Clara terdiam.
Dia semakin takut untuk mengutarakan keinginannya, dia hanya mengangguk mengiyakan semua perkataan ayahnya.
-------------
"Apa yang ada di dalam hatimu sebaiknya kamu utarakan..jangan kamu simpan sendiri.." Ucap Annisa ketika dirinya mendatangi kamar Clara.
Clara melihat wajah ibunya, dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu, tanpa dia katakan ibunya akan mengetahui jika dirinya sedang menyimpan suatu masalah.
Clara memeluk Annisa.
"Mama.."
"Katakan ada apa..? Mama tahu kamu tidak senang dengan perjodohan ini.."
Clara mengangguk.
"Aku takut.."
"Pernikahan bukan hal yang main main sayang, kamu tidak bisa menjalankan pernikahan hanya karena keterpaksaan dari orang tua.."
"Sebaiknya kamu katakan besok kepada ayahmu, sebelum acara pertemuan keluarga itu dilaksanakan, sebelum mereka menentukan tanggal lamaran dan pernikahan.."
Clara terlihat menangis.
"Katakan kepada Ayahmu yang sebenarnya, mama akan berada di sampingmu dan mendukungmu.."
"Papa pasti akan marah.."
"Itu pasti sayang..tapi mama yakin hanya sebentar dan setelah itu papamu akan mengerti.."
"Itu akan lebih baik daripada kamu menjalani sebuah pernikahan tanpa didasari oleh cinta.."
"Mama..ada satu hal lagi yang ingin aku katakan.."
"Apa..?" Annisa penasaran
"Aku sudah mempunyai lelaki pilihanku sendiri.."
Annisa kaget dan terdiam.
"Apa kamu mencintainya..?"
Clara mengangguk.
"Baiklah..katakan itu juga kepada Ayahmu.."
"Bawa dia kesini dan kenalkan kepada kami.."
"Tapi ma.."
"Kenapa.."
"Mama mengenalnya..mama mengenal pria yang aku cintai.."
"Benarkah..? siapa..?" Tanya Annisa penasaran
"Angga.." Jawab Clara pelan
Annisa kaget, namun kemudian dia tersenyum senang.
"Kamu mencintainya..?"
Clara mengangguk pelan.
Annisa tersenyum.
"Dia memang lelaki yang baik..kamu tahu, mama juga menyukainya..mama sangat senang mendengarnya.."
"Tapi belum tentu dengan papa.."
Annisa terdiam, Clara benar, suaminya belum tentu menyukai Angga.
"Bagaimana dengan perasaan Angga kepadamu..?"
"Dia bilang dia juga mencintaiku.."
Annisa tersenyum bahagia
"Mama akan mendukung kalian.." Annisa memeluk Clara.
Namun dalam hari terdalamnya, Annisa sedikit ragu, akankah suaminya nanti menerima Angga sebagai menantunya, dari yang dia tahu selama ini, dia menginginkan Clara menikah dengan orang yang sederajat dengan mereka, sedangkan Angga, dia hanya seorang lelaki biasa saja.
Clara tersenyum, kini hatinya merasa lega karena dia telah memberi tahu ibunya mengenai semua perasaannya, dia kini merasa tak sendiri lagi, karena dia tahu ibunya akan selalu bersamanya dan mendukungnya sehingga Clara yakin akan mengatakan semuanya kepada ayahnya besok pagi.
-------------
"Papa..aku ingin mengatakan sesuatu.." Clara menghampiri ayahnya yang tengah bersiap akan pergi ke kantor.
"Ada apa..?"
Clara melirik Annisa yang berdiri di samping ayahnya.
"Aku ingin membatalkan perjodohan ini.." Ucap Clara dengan ragu sambil menunduk.
Handoko kaget, raut wajahnya berubah seketika, wajahnya memerah menahan amarah.
"Apa yang kamu katakan..?!" Tanya Handoko marah.
"Aku tidak bisa menikah dengan Dennis, karena aku tidak mencintainya.."
"Apa maksudmu..?" Tanya Handoko kepada Clara dengan marah.
"Kita tidak bisa memaksakan semua kehendak kepada anak kita.." Ucap Annisa membela putrinya.
Handoko melihat Annisa.
"Tapi dari awal dia menerima rencana perjodohan ini.." Jawab Handoko dengan marah kepada istrinya.
"Aku tidak memaksanya.." Lanjutnya.
"Aku tahu, tapi mungkin sekarang dia baru berpikir bahwa dia tidak menyukai lelaki pilihanmu.."
"Sebelum semuanya berjalan lebih jauh, mari kita batalkan perjodohan ini, aku yakin keluarga temanmu itu akan mengerti.."
"Mudah sekali kamu berbicara, seakan akan semuanya hanya tinggal membalikkan tangan.."
"Kamu tidak tahu apa dampaknya bila kita membatalkan ini secara sepihak.." Jawab Handoko semakin marah.
"Kenapa seolah-olah aku mendengar bahwa perjodohan Clara seperti sebuah bisnis bagimu..?" Tanya Annisa heran.
"Ini anak kita, dia bukan barang yang bisa diperjualbelikan, dia bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk memajukan perusahaanmu.."
"Aku tak pernah mengatakan demikian..aku tak pernah menganggap Clara seperti itu.."
"Lalu apa maksudmu dengan dampaknya dari membatalkan perjodohan ini.."
"Diamlah kamu..kamu tidak akan mengerti.."
"Aku tidak akan diam selama menyangkut permasalahan anak anakku.."
"Anakku..bukan anakmu.."
Annisa kaget.
Dia mundur beberapa langkah.
Air mata mengalir di pipinya.