
"Tapi nak..jangan ambil keputusan dalam keadaan marah.."
"Pikirkan lagi secara matang,jangan cepat ambil keputusan dan jangan ikuti hawa nafsu, pikirkan Zahra anak yang sedang kamu kandung.."
Fatimah meneteskan air matanya, tentu saja dia terus memikirkan Zahra dan bayi yang sedang dia kandung, akan tetapi perlakuan Aditya kepadanya dirasa sangat keterlaluan, hati Fatimah sangat sakit mengingat Aditya membiarkannya pergi dari rumah tanpa berusaha mencegahnya atau menghalanginya.
"Terima kasih ibu.. Fatimah akan mendengar semua nasehat dari ibu dengan baik dan akan memikirkannya kembali.."
Tentu saja nasihat itu sangat berarti bagi Fatimah, disaat hatinya sedang kacau dan pikirannya kalut seperti sekarang ini, dia membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya dan memberinya nasihat.
Fatimah beruntung, ada Mbak Wati dan Ibu Sri, dia sangat bersyukur Allah telah mempertemukan Fatimah dengan orang orang baik seperti mereka.
Akhir akhir ini Fatimah merasakan nyeri yang tiba-tiba di perutnya, akan tetapi nyeri itu akan segera hilang dan sembuh sendiri.
Fatimah berpikir mungkin itu semua karena akibat dia yang terlalu stres dan banyak pikiran akhir akhir ini.
Setiap kali Mang Redo pulang, Fatimah selalu menanyakan keadaan Zahra, Fatimah sedih karena mang Redo memberitahunya bahwa Zahra sudah lama tidak bersekolah bahkan masih terus menangis menanyakan dirinya, mendengar itu semua seakan menyayat hati sanubari Fatimah, kalau saja dia bisa, Fatimah akan membawa Zahra bersamanya.
Di kediaman Aditya.
Zahra terlihat sembab, mainan di hadapannya seakan tak bisa mengalihkan perhatiannya dari kerinduannya kepada Fatimah.
"Tante..Zahra mau mamah.." Ucap Zahra terisak.
"Sabar ya sayang..mama sebentar lagi akan pulang.."
Ayu memeluk Zahra. Entah sudah berapa ratus kali Ayu membohongi Zahra dengan mengatakan bahwa Fatimah akan segera kembali.
Rini terlihat menangis.
Semua ART mengerti, bahkan ada pula yang ikut menangis, semuanya tertunduk lesu di dapur.
"Bagaimana nasib Nyonya kita sekarang.." Ucap Rini dengan sesenggukan.
"Dimana Fatimah.." Lanjutnya.
Tidak ada yang menjawab, semuanya sibuk dengan kesedihannya masing masing.
Mereka sangat mengkhawatirkan Fatimah, majikan mereka yang sangat mereka sayangi. Walaupun sudah menjadi seorang nyonya akan tetapi itu tidak menghilangkan kesederhanaan dan kerendahan hati Fatimah, Fatimah masih sering mengobrol santai bersama para ART seakan tak ada jarak diantara mereka.
"Kalau Fatimah tidak kembali kerumah ini lagi, aku akan berhenti kerja.."
"Aku tidak Sudi melihat lagi Tuan Aditya yang sudah menyakiti Fatimah demi cewek murahan itu.."
Yang lainnya mengangguk.
Mereka adalah saksi bagaimana Cindy dan Aditya selalu mengumbar kebersamaan dan kemesraan baik itu ketika sedang mengobrol atau pun berenang bersama, untung saja mereka hanya pegawai kalau tidak mereka akan mengeroyok Cindy yang sudah menghancurkan rumah tangga Fatimah, sahabat sekaligus majikan mereka.
------
"Terimakasih Ayu..kalau ada kabar lain lagi tentang Fatimah tolong hubungi aku.." Kata Angga menutup perbincangannya dengan Ayu.
Angga baru menghubungi Ayu untuk mengetahui kabar Fatimah, dari Ayu jugalah Angga mengetahui bahwa Fatimah belum kembali ke rumah bahkan tidak ada yang mengetahui keberadaannya sekarang.
Kali ini Angga bertekad akan menemukan dan mengambil Fatimah dari tangan Aditya, Angga berpikir Aditya telah gagal membahagiakan Fatimah, wanita yang sangat dicintainya selama ini.
"Kemana kira kira Fatimah akan pergi..apalagi kata Ayu dia tidak membawa apapun.." Pikir Angga.
"Pasti ada seseorang yang membantunya.."
-------
Aditya menghentikan kendaraannya, sudah hampir malam lagi dan seharian ini dia sudah mencari hampir ke seluruh kota, tapi hasilnya tetap nihil.
Aditya semakin frustasi, beberapa kali dia memukul kemudi depannya, menarik rambutnya dan menampar dirinya sendiri.
Aditya menangis entah untuk yang ke berapa kalinya. Beribu kali dia mengutuk dirinya sendiri yang sudah menyakiti dan membiarkan Fatimah pergi dari rumah, demi mempercayai Cindy, sahabat lamanya yang ternyata berniat menghancurkan pernikahannya.
Dia mengingat jelas kejadian itu, dimana Fatimah berusaha mengingatkan dirinya agar sedikit menjaga jarak dengan Cindy akan tetapi dia malah menyebut Fatimah cemburu buta kepada Cindy, dia juga mengingat jelas dimana dia menarik tangan Zahra dengan kasar hanya karena mendengarkan perkataan Cindy yang ternyata hanya rekayasa untuk mengadu domba dirinya dan Fatimah.
Dia juga mengingat jelas ketika Dia membiarkan Fatimah berjalan keluar rumah dan dia membiarkannya.
Sekali lagi, Aditya memukul dirinya sendiri.
--------
"Bu... Mbak Wati..." Teriak Fatimah.
Dengan segera Ibu Sri dan Wati menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Alangkah terkejutnya mereka melihat Fatimah yang menunjukan celananya yang terdapat noda darah.
"Kenapa nak..?"
"Tidak tahu Bu..Fatimah merasa celana Fatimah basah dan Fatimah lihat ada darahnya.."
"Tapi Fatimah tidak merasakan sakit bu.." Jelas Fatimah
Mbak Wati menelepon suaminya, tak lama Mang Redo datang dengan mobil milik Aditya.
Mereka segera membawa Fatimah kerumah sakit.
Fatimah segera diperiksa.
"Apa ini kehamilan pertama ibu..?
Fatimah mengangguk.
"Apa ibu pernah operasi pada rahim sebelumnya..?"
"Dulu sewaktu saya masih SMA saya pernah operasi karena kista dok.." Jawab Fatimah.
Dokter mengangguk tanda mengerti.
"Maaf ibu.. suaminya mana ya.."
Fatimah, mbak Wati dan Ibu Sri saling memandang.
"Kenapa ya dok..?" Tanya Mbak Wati.
"Apa ini berbahaya dok..?" Tanya Fatimah lagi.
"Tidak..tapi ada yang harus saya sampaikan kepada suami ibu.."
"Sampaikan kepada saya saja dok.." Ucap seorang laki laki tiba tiba.
Fatimah terkejut.
Angga berdiri disana.
************
Terimakasih pembaca setia, mohon dukungannya ya karena novel ini mengikuti kontes, untuk kalian yang suka jangan lupa untuk memberikan vote..
Sebisa mungkin sehari saya akan up minimal 2 eps. akan lebih kalau saya sedang ada waktu senggang.
Dukung terus ya novel Favorit kalian..
Terima kasih.