
Pernikahan Clara akan dilaksanakan seminggu lagi, walaupun mendadak, namun segala persiapan sudah dilakukan dengan matang.
Annisa dan Wati akhirnya bertemu setelah sekian lama, mereka tidak percaya karena akhirnya akan menjadi besan, mereka terlihat saling melepaskan kerinduan setelah hampir bertahun tahun tidak bertemu.
Banyak hal yang mereka bicarakan, menceritakan kisah masa kecil mereka, keluarga dan anak-anak, namun pembicaraan menjadi lebih serius ketika Wati meminta Annisa menceritakan kisahnya dengan Handoko.
Flashback.
Annisa berjalan perlahan memasuki rumah besar itu, matanya yang sembab menandakan dia telah banyak menangis, Handoko yang berjalan didepannya terlihat memanggil seseorang.
"Tolong ajak ibu itu untuk beristirahat.."
Dengan cekatan, orang yang diperintah tadi menghampiri Annisa dan menggiringnya ke kamar tamu.
"Silahkan beristirahat disini, sebentar saya akan mengambilkan anda makanan.."
Annisa berusaha untuk tersenyum.
"Tidak usah repot-repot.."
Orang itu pergi meninggalkan Annisa di dalam kamar yang cukup besar itu.
Annisa kembali mengingat kejadian yang terjadi hari ini, berawal dari dirinya yang kaget dengan kedatangan seorang wanita hamil ke rumahnya dan mengaku sedang mengandung anak dari suaminya.
Annisa tentu saja kaget, dia awalnya tidak percaya sampai akhirnya Ruslan, suaminya datang.
Bukannya mencoba menjelaskan, Ruslan malah menceraikan Annisa dan dengan terang terangan mengakui wanita itu sebagai selingkuhannya, bahkan meminta Annisa untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Fatimah kecil yang masih berumur 2 tahun.
Diceraikan oleh Ruslan memang keinginannya dari dulu, karena selama dia membina rumah tangga dengannya, Annisa tak pernah sekalipun merasakan kebahagiaan, Ruslan bahkan tak segan untuk memukul dan menyiksanya hanya karena satu kesalahan kecil saja, terlebih dia sudah mendengar dari tetangga bahwa suaminya selalu terlihat dengan wanita lain, dia hanya mencoba bertahan demi Fatimah dan kebaikan Pak Ahmad, mertuanya yang selalu membela dan mendukungnya, namun kali ini, sesuai keinginannya, Ruslan akhirnya menceraikannya, dia akan pergi jauh, dan membawa Fatimah bersamanya, namun Ruslan tetap dengan pendiriannya, dia tidak ingin Annisa pergi membawa Fatimah bersamanya, pertengkaran hebat terjadi, Annisa bahkan beberapa kali dipukul dan dianiaya oleh Ruslan karena keinginannya untuk membawa Fatimah.
Untungnya Pak Ahmad datang, dia berhasil melerai dan mengambil Fatimah yang menjadi rebutan diantara keduanya.
Usaha pak Ahmad untuk mendamaikan keduanya gagal, Annisa sudah tidak tahan lagi dengan semua perlakuan Ruslan kepadanya terlebih sudah ada wanita yang dihamili oleh suaminya, dia bertekad untuk pergi jauh dengan membawa Fatimah, namun Ruslan tetap tidak memberikan izinnya, dia menyuruh Annisa untuk pergi tanpa membawa Fatimah.
"Kalau kami membawa Fatimah bersamamu, aku akan mengejar kemana pun kamu pergi dan menghabisi kalian berdua.." Ancam Ruslan.
Annisa tahu, itu bukan sekedar ancaman saja, mengingat perangai suaminya dia bisa saja melakukan itu semua, maka dengan berat hati, demi keselamatan Fatimah, dia pergi tanpa membawa putrinya, namun suatu saat dia pasti akan kembali untuk mengambil Fatimah.
Annisa sudah bertekad untuk pergi ke kota namun Pak Ahmad tahu, Annisa tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas, Annisa hidup sebatang kara, kedua orangtuanya sudah meningal dan tidak mempunyai sanak saudara.
Untung saja, pada hari itu ada Handoko, mitra bisnis Pak Ahmad yang datang kerumahnya untuk membicarakan kerja sama pembangunan pabrik teh, setengah memohon Pak Ahmad meminta Handoko untuk mengajak Annisa dan membawanya untuk pergi ke kota bersamanya.
Tentu saja Handoko bersedia membantu karena dia merasa iba dan kasihan kepada Annisa setelah mendengar semua ceritanya, akhirnya Handoko membawa Annisa pergi bersamanya dan membawanya ke kota.
Sampai akhirnya sekarang dia telah berada di kediaman Handoko.
Annisa menangis mengingat Fatimah yang ditinggalkannya, dia menangis tersedu memikirkan nasib putrinya nanti tanpa ada dirinya disampingnya.
Malam itu, Annisa tidak benar-benar tertidur, dia menghabiskan malam dengan penuh air mata dan kesedihan
Pagi hari.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Si sulung, yang kemudian dia tahu namanya Kevin yang kira kira berumur 9 tahun tersenyum manis kepadanya, dia terlihat memegang tangan adiknya bernama Clara yang berumur sama dengan Fatimah putrinya.
Seketika dia kembali mengingat Fatimah, dia langsung menggendong Clara dan menciuminya, melepaskan kerinduan pada Fatimah lewat Clara.
Tak butuh waktu lama, terjalin kedekatan diantara ketiganya, kehadiran Kevin dan Clara sedikit demi sedikit menyembuhkan luka di hatinya dan mengobati kerinduan pada Fatimah, putrinya.
Annisa akhirnya bekerja menjadi pengasuh Clara, Annisa merawat Clara dan Kevin selayaknya anak kandungnya sendiri, sehingga kedekatan diantara ketiganya terjalin sangat erat, membuat Handoko merasa senang karena akhirnya kedua anaknya mempunyai pengasuh yang merawatnya dengan tulus.
Hari demi hari dijalani Annisa dengan mengasuh Clara, tapi tak pernah ada satu detik pun dia melupakan Fatimah di kampung, namun dia merasa lega karena Handoko yang sering bertemu dengan Pak Ahmad terus mengabarkan bahwa keadaan Fatimah baik baik saja.
Tak terasa sudah hampir tiga bulan Annisa bekerja dirumah Handoko sebagai pengasuh Clara, hingga akhirnya dia merasa heran karena ibu kandung dari Clara dan Kevin tak pernah sekalipun datang, atau menghubungi menanyakan kabar kedua anaknya, dan dari para ART lain Annisa akhirnya tahu, bahwa Handoko bercerai dengan istrinya dan menyerahkan hak asuh anak ke tangan Handoko, sementara istrinya telah menikah lagi dan sekarang tinggal di luar negeri.
Mengetahui hal itu semakin membuat Annisa menyayangi Kevin dan Clara sepenuh hati, berusaha membuat mereka tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Dia juga berharap, semoga Allah membalaskan kasih sayang yang dia berikan kepada Kevin dan Clara dengan mengirimkan orang orang baik di sekitar Fatimah yang tulus menyayangi dan merawat putrinya.
Melihat ketulusan Annisa kepada putra putrinya, diam diam Handoko menaruh hati kepadanya, kedekatannya dengan Kevin dan Clara membuatnya jatuh hati kepada Annisa, cukup lama Handoko memendam perasaannya karena dia tak berani untuk mengungkapkannya.
Hingga pada suatu hari, kerinduan Annisa pada Fatimah tidak bisa dibendung lagi, dia bertekad akan kembali ke kampung untuk mengambil Fatimah dari mantan suaminya
Handoko yang mengetahui hal itu tidak bisa membiarkan Annisa pergi seorang diri, dia berhasil membujuknya agar mau diantarkannya ke pergi ke kampung.
Hingga akhirnya mereka pergi bersama dan setelah melakukan perjalanan jauh, mereka berdua sampai di depan rumah mantan suami Annisa.
Pemandangan tak diduga terlihat, Annisa dan Handoko melihat dari kejauhan bagaimana Ruslan tengah menggendong Fatimah dan bermain-main dengannya, ada juga wanita itu dengan perutnya yang sudah membuncit semakin besar dan ikut bermain bersama mereka.
Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia, suara tertawa terdengar hingga ke dalam mobil tempat Annisa dan Handoko melihat.
Annisa terlihat menangis sedih, dia tidak mungkin turun dan mengambil Fatimah begitu saja, sudah pasti terjadi keributan karena dia yakin mantan suaminya tidak akan membiarkannya mengambil Fatimah seperti waktu itu. Dia mengurungkan niatnya dan meminta Handoko untuk menjalankan mobilnya.
Lagi pula, melihat mereka mengasuh dan merawat Fatimah dengan baik saja sudah membuat hatinya tenang, ternyata tidak seperti yang dipikirkannya, kini dia bisa lega karena Fatimah sehat dan bahagia, karena dia tahu, mantan suaminya sangat menyayangi Fatimah.
Annisa kembali ke kota, di tengah perjalanan Handoko menghentikan mobilnya.
Annisa heran, dia melihat Handoko.
"Ada apa..?" Tanya Annisa penasaran.
"Mari kita menikah..mari kita buat keluarga bahagia seperti mereka.."
"Mari kita besarkan Clara dan Kevin bersama.."
Annisa tersentak kaget.
Dia melihat Handoko yang menatapnya dengan sungguh-sungguh.
Annisa terdiam. Dia terlihat memikirkan sesuatu.
Cukup lama akhirnya dia memberikan jawabannya.
"Aku bersedia menikah denganmu.."