My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Extra Part : Zahra dan Cindy..



"Saya pernah mendengar dari kedua orang tua saya, dan saya ingin menanyakannya langsung kepada kalian..saya dengar kalau Cindy bukan anak kandung kalian, kalian mengadopsinya dari panti asuhan..apa itu benar..?"


Semuanya langsung terlihat kaget.


"Kalau itu benar, sepertinya sekarang sudah saatnya untuk Cindy mengetahui kenyataan bahwa dia bukan anak kandung kalian.."


Cindy terlihat amat sangat kaget, dia melihat kedua orang tuanya dengan penuh tanda tanya.


"ADITYA..KAMU SUDAH SANGAT LANCANG.." Bentak ayah Cindy dengan sangat marah sambil berdiri.


Cindy semakin kaget dengan reaksi kedua orangtuanya, bahkan dia melihat sang ibu kini terlihat menangis dengan sedihnya.


Aditya berdiri dengan santai.


"Maaf om..saya tidak akan melakukan ini seandainya Cindy tidak mengganggu keluarga saya lagi.."


"Apa maksudmu..?" Tanya Ayah Cindy heran.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan Cindy padamu..?" Tanyanya semakin penasaran.


Aditya tersenyum, dia melihat Cindy yang masih terlihat sangat kaget dan bingung.


"Bagaimana perasaanmu sekarang Cindy..?"


"Bagaimana perasaanmu ketika kamu mengetahui jika kamu bukan anak dari kedua orangtuamu..?"


"Kamu pasti sangat kaget, sedih, terpukul dan kecewa.."


"Itulah yang sekarang dirasakan oleh Zahra anakku.."


"Di umurnya sekarang yang masih kecil, kamu sudah memprovokasi dia dengan mengatakan bahwa Fatimah bukan ibu kandungnya, bahkan kamu juga mengatakan kepadanya bahwa ibu kandungnya sekarang sedang di dalam penjara karena dijebloskan oleh aku dan istriku.."


"Tindakanmu benar benar sangat keterlaluan Cindy.." Aditya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa kamu setidaknya mempunyai sedikit hati nurani, Zahra masih terlalu kecil untuk mengetahui semua kenyataan ini.."


"Dan apa kamu tahu, karena kamu, seharian ini, dia hanya bisa menangis dan menangis.."


"Kesalahan apa yang telah dilakukan oleh Zahra sehingga kamu dengan tega melakukan semua ini kepadanya..?"


"Jika kamu membenciku, lakukan semuanya padaku, sakiti aku..jangan anakku dan keluargaku.." Aditya menatap Cindy tajam, penuh kebencian.


Cindy menitikkan air matanya.


Kedua orang tua Cindy terlihat kaget, mereka melihat Cindy yang berdiri mematung dengan lelehan air mata di pipinya.


Cindy mundur beberapa langkah, dia tak percaya dengan dengan apa yang telah Aditya katakan, terlebih dengan perkataannya yang mengatakan dirinya bukan anak kandung dari kedua orang tuanya.


"Om dan Tante..saya mohon maaf..bukan maksud saya untuk ikut campur urusan keluarga kalian..saya hanya sudah merasa sangat jengah dengan kelakuan Cindy yang mengganggu keluarga saya.. terutama putri saya, Zahra.."


"Saya harap kalian mengerti dan memaafkan saya.."


"Saya permisi.."


Aditya pergi dengan wajahnya yang masih terlihat marah.


Cindy menundukkan kepalanya, air mata terus mengalir dengan sendirinya.


"Apa semua yang dikatakan oleh Aditya benar.." Tanya Cindy menunduk.


Ayahnya terlihat menghempaskan tubuhnya pada sofa, memegang kepalanya.


Ibunya masih menangis, mendengar pertanyaan putrinya justru membuatnya semakin terisak dalam tangisnya.


"Kalian tak menjawab..itu berarti semuanya adalah benar.." Ucap Cindy lagi sembari mencoba menghapus air matanya.


"Kenapa kalian tidak pernah mengatakannya.." Tanya Cindy mencoba untuk tegar.


Kedua orang tuanya masih tidak menjawab.


"Jadi kalau Aditya tidak memberitahuku..aku tidak akan pernah tahu..?!" Teriak Cindy sembari menangis dan langsung berlari pergi ke dalam kamarnya.


Dia membanting pintu dan menguncinya dari dalam.


Cindy menangis dengan keras, kenyataan dia bukan anak kandung dari orang tuanya sangat menyakiti hatinya, dia mengasihani dirinya sendiri yang ternyata hanya seorang anak pungut.


Cindy terus menangis dengan sedihnya, perasaannya hancur berkeping-keping mengetahui orang tua yang sangat menyayangi dan disayanginya hanya orang tua angkat yang bahkan sebenarnya diantara mereka tidak ada hubungan darah sama sekali.


Namun Cindy kemudian teringat sesuatu.


Dia ingat semua perkataan Aditya mengenai Zahra.


Cindy kembali menangis kini karena rasa bersalahnya kepada Zahra.


Dia sangat menyesali perbuatan jahatnya kepada Zahra, tidak seharusnya dia mengatakan semua itu kepadanya, dia tidak bisa membayangkan perasaan sakit yang dialami Zahra, pasti akan terasa berkali-kali lipat mengingat usianya yang masih terlalu kecil.


Cindy sangat menyesali perbuatannya.


---------


"Kamu yakin akan membawa Zahra ke rutan..?" Tanya Aditya penasaran.


Fatimah mengangguk pelan.


"Zahra sangat ingin bertemu dengan ibu kandungnya..kita tidak boleh menghalanginya.."


"Kamu harus melihat matanya yang terlihat berbinar karena bahagia, ketika aku mengatakan akan membawanya ke tempat Sherly.."


Aditya mengangguk mengerti.


"Jadi kapan rencananya kita membawa Zahra kesana..?"


"Lusa.. sepulang sekolah.." Jawab Fatimah sembari melihat suaminya meminta persetujuan.


Aditya mengangguk.


"Aku takut, kesempatan bertemu dengan Zahra kali ini akan dimanfaatkan oleh Sherly untuk mempengaruhi Zahra.."


"Aku takut dia akan mengatakan hal yang tidak-tidak kepadanya.."


Fatimah menggelengkan kepalanya.


"Zahra sudah besar..dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, biarkan dia mendengar apapun yang dikatakan oleh Sherly.."


"Termasuk apabila Sherly menjelekkan kita, memutar balikkan fakta..?"


Fatimah tersenyum dan menatap Aditya lembut.


"Sayang.. Zahra kita bukan gadis kecil yang tidak tahu apa apa lagi..dia sudah besar sekarang, dia sudah bisa menilai sesuatu, baik atau buruk.."


"Termasuk menilai suatu perkataan orang lain.."


"Biarkan dia menilai sendiri perkataan yang akan diucapkan oleh Sherly kepadanya nanti.."


"Misalnya itu menjelekkan kita, biarkan Zahra sendiri yang akan memutuskan, mempercayainya atau tidak.."


Aditya mengangguk kepalanya.


"Kamu benar sayang.."


"Didikanmu sangat berpengaruh pada karakter Zahra sekarang, seandainya kalau kamu tidak mendidiknya dengan baik, dia pasti sudah termakan hasutan Cindy.."


"Karena pada dasarnya Zahra memang anak yang baik.."


-------------


Sherly terkejut ketika sipir memberitahunya bahwa ada yang datang menjenguknya, selain dirinya sudah tentu teman satu selnya juga dibuat heran, karena sudah hampir tiga tahun dia ditahan, tidak ada yang pernah datang menjenguknya sama sekali.


Sherly perlahan meninggalkan selnya, dia berjalan sembari menduga-duga siapa gerangan orang yang datang menemuinya.


Hingga akhirnya dia sampai di ruang berkunjung,


Jantungnya berdegup kencang ketika dia melihat Aditya dan Fatimah berdiri menyambutnya, Sherly menatap seorang anak yang berdiri di depan keduanya.


Air matanya mengalir ketika dia tahu anak itu pasti Zahra, putri satu-satunya.


Dia menundukkan kepalanya, merasa malu bertemu dengan mereka, orang orang yang dulu selalu ingin dia sakiti.


Terlebih kepada Zahra, anak kandungnya yang selain sudah dia telantarkan dia juga sudah pernah mencoba membunuhnya.


"Mama.." Ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Sherly kaget dan mengangkat wajahnya, dia melihat Zahra yang melihatnya dengan senyumannya yang manis.


"Dia ingin bertemu dengan kamu..ibu kandungnya.." Ucap Fatimah dengan tersenyum ramah.


Sherly tersentak kaget.


Jadi kini Zahra sudah mengetahui bahwa dirinya adalah ibu kandungnya.


"Kalian silahkan mengobrol..kami akan menunggu di luar.." Ucap Fatimah sembari menyuruh Zahra untuk mendekati Sherly.


Zahra mengangguk.


Fatimah dan Aditya meninggalkan keduanya.


------------


Besok adalah episode terakhir...


Terima kasih kepada penggemar setia novel ini.


Ada beberapa hal yang ingin saya jelaskan disini.


- Mengenai saudara tiri Fatimah, saya tidak masukkan ke dalam cerita, menurut saya terlalu berlebihan kalau saya memaksakan bila seandainya Nadya atau Sherly yang tiba-tiba menjadi saudara tiri Fatimah, kesannya seperti sinetron sekali dimana dunia terasa sempit sekali ya hehehe..itu menurut saya ya..


- Banyak yang meminta untuk kembali menceritakan tentang Ayu dan Romi, sebenarnya saya dengan senang hati untuk selalu menulisnya, akan tetapi banyak yang berkomentar novel ini terlalu panjang episodenya dan menurut saya itu iya.. hehehe..


Bisa saja saya menambah extra Part mengenai mereka berdua, namun sudah tentu harus memasukkan konflik dan sudah pasti kalian akan protes ( Jika kalian perhatikan, di setiap episode novel ini pasti ada klimaks dan anti klimaks) Saya tidak bisa menulis di setiap episode sesuatu yang menurut saya tidak penting ( Cerita yang lebay)


- Novel ini saya tamatkan karena inti ceritanya, Zahra sudah mengetahui kalau Fatimah adalah bukan ibu kandungnya, Sherly sudah bertobat, dan Zahra menerima Sherly sebagai ibu kandungnya.


Setelah itu mereka hidup bahagia, tidak ada rahasia dan konflik lagi ( Semoga ) di keluarga mereka.


Kalau saya perpanjang lagi cerita ini dan menambah konflik..saya takut kalian bully hehehe..


Saya sangat menunggu masukan, kritik dan saran dari kalian para READERS setia.


Terima kasih