
"Besok..?" Tanya Clara.
"Iya..semakin cepat semakin baik..papah ingin kamu segera menikah.."
Clara terdiam, dia tidak menyangka perjodohan itu akan dilakukan secepat ini, namun dia tidak bisa melakukan apapun atau bahkan menolaknya, karena dia sudah mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa dia akan menuruti semua kehendak mereka.
Entah kenapa, tiba tiba terlintas nama Angga di pikirannya.
"Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya..?" Ucap Clara dalam hati, dia mencoba menepis semua bayangan Angga.
Tak lama mereka sampai dirumah.
Kedatangannya mereka berdua disambut oleh Annisa.
Tiba-tiba mereka mendengar suara orang masuk ke dalam rumah.
Nadya datang bersama dengan Linda dan Nabila.
Mata Nadya terlihat sembab, sedangkan Linda dengan raut wajahnya yang terlihat sangat marah.
Nabila berlari ke arah kakek dan neneknya.
Mereka menyambut Nabila dan menggendongnya.
"Mamah dan papah..ada yang ingin kami bicarakan.." Ucap Nadya dengan serius.
Handoko dan Annisa berpandangan, seakan mereka sudah mengerti apa yang akan dibicarakan menantunya.
Clara segera mengambil Nabila dari gendongan ayahnya, Handoko.
Clara tahu apa yang akan dibicarakan oleh mereka, dia akan membawa Nabila bersamanya, dia tidak ingin Nabila yang masih kecil mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
Annisa dan Handoko sudah duduk, begitu juga dengan Nadya dan Linda, melihat kedua mertuanya yang tidak bertanya apapun, membuat Nadya keheranan seakan akan mertuanya sudah mengetahui materi pembicaraan.
"Mamah dan papah..apa kalian sudah mengetahui perselingkuhan Kevin..?" Tanya Nadya penasaran.
Annisa dan Handoko terdiam dan menunjukkan wajah yang tidak kaget, membuat Nadya semakin yakin bahwa keduanya sudah mengetahui perihal perselingkuhan Kevin.
Nadya tersenyum kecil.
"Jadi aku orang terakhir yang mengetahuinya..?"
"Kalian pasti sudah mengetahuinya, atau bahkan kalian juga mendukungnya.." Ucap Nadya dengan sinis.
"Tidak seperti itu, kami juga baru beberapa hari ini tahu..dan tentu saja kami tidak mendukung perselingkuhan Kevin, mana mungkin kami melakukan itu.." Annisa bersuara.
Kali ini Linda yang tersenyum.
"Bisa saja kalian mendukungnya, dari yang saya dengar, wanita itu teman kuliah Kevin di luar negeri, dia pasti anak orang kaya, tidak seperti putri saya, yang hanya seorang wanita miskin.." Ucap Linda dengan marah.
"Kami memang orang miskin yang kalian angkat derajatnya, sehingga kalian bebas memperlakukan kami seperti ini.."
"Biar miskin tapi kami mempunyai harga diri.." Ucap Linda dengan marah.
Annisa dan Handoko terkejut dengan perkataan besannya, mereka sedikit tersinggung namun ditahannya, karena biar bagaimanapun yang salah tetaplah Kevin, putra mereka.
"Siapa yang memberitahu kalian..? Tanya Nadya dengan terisak.
Annisa terdiam beberapa saat.
"Wanita itu datang kesini dan memberitahukan semuanya.."
"Apa dia juga memberitahu bahwa dia hamil..?"
"Belum bisa dipastikan bahwa dia benar-benar sedang hamil.." Jawab Annisa.
Nadya semakin terisak dalam tangisnya, membuat Linda sang ibunda semakin marah.
"Kamu mengerti kemarahan dan kekecewaan kalian, sebenarnya kami juga merasa marah dan kecewa sama seperti halnya kalian, kalau kalian berpikir kami mendukung perselingkuhan Kevin dan wanita itu, kalian salah.." Handoko bersuara.
"Kalau kalian sudah mengetahuinya, kenapa bisa sampai putri saya memergoki mereka sedang berduaan di kantor..?" Tanya Linda dengan marah.
Handoko dan Annisa kaget.
"Kalau kalian tidak mendukungnya dan tidak membiarkannya kenapa mereka masih terus bertemu bahkan di tempat kerja..?"
"Saya tidak mempercayai kalian, benar kata orang kebanyakan, kalau kita menikahkan anak kita dengan orang kaya, mereka akan selalu menindas kita dan seenaknya memperlakukan kita.."
"Entah bagaimana kalian mendidik putra kalian sehingga menjadi seorang lelaki yang tidak mempunyai norma, kalian sudah gagal menjadi orang tua.."
"Hentikan..!!!" Teriak Kevin yang ternyata sedari tadi sudah datang dan mendengarkan pembicaraan mereka semua.
"Jangan hina lagi kedua orangtuaku.." Kevin menghampiri Linda dengan marah.
"Aku yang salah, aku yang berselingkuh, aku yang tidak mempunyai norma, kalian boleh memarahiku, menghinaku bahkan memukuliku.."
"Tapi jangan sekali kali menghina kedua orangtuaku.."
"Apalagi menyalahkan mereka dengan cara mendidikku.." Bentak Kevin kepada mertuanya.
Annisa dan Handoko kaget, mereka berdiri.
Annisa memegang tangan putranya.
"Kevin..apa yang kamu lakukan.."
"Mertuamu sedang kesal dan marah, wajar jika dia mengatakan itu.."
"Aku mengerti mah..tapi aku tidak terima jika mamah dan papah disalahkan karena segalanya perbuatanku.."
Linda berdiri dengan marah.
"Lalu saya..?"
"Saya juga tidak terima dengan semua perbuatan kamu kepada anak saya, kamu sudah berselingkuh darinya dan mengkhianatinya.."
"Jangan mentang mentang kaya kamu bisa melakukan itu padanya.." Linda balik memarahi Kevin.
Nadya berdiri, masih dengan tangisnya.
"Seperti yang sudah aku katakan tadi siang di kantor, aku ingin bercerai.."
Semuanya terkejut, tak terkecuali ibunya sendiri, Linda.
"Nadya apa yang kamu katakan..?" Tanya Linda.
"Aku ingin berpisah dengan Kevin mah.." Nadya menangis dalam pelukan ibunya.
Annisa menghampiri Nadya.
"Ibumu benar, kami tidak akan merestui kalau kamu ingin berpisah dengan Kevin.." Ucap Handoko
Kevin terduduk lemas.
"Kamu harus bertahan nak..orang yang seharusnya mundur wanita murahan itu, bukan kamu, mama juga tidak akan menyetujui kalau kamu ingin berpisah dengan Kevin.." Linda menasihati Nadya.
"Pikirkan nasib Nabila.."
Nadya semakin menangis dalam pelukan ibunya.
Tentu saja dia memikirkan Nabila, putrinya. Akan tetapi rasanya sangat menyakitkan kalau harus terus melanjutkan rumah tangganya bersama dengan Kevin, karena dia akan terus mengingat perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.
Untuk sementara Linda membawa Nadya dan cucunya pergi kerumahnya, sementara Kevin kembali kerumah sendiri.
Handoko melihat Annisa yang menangis dalam doanya setelah melaksanakan shalat, dia melihat istrinya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Handoko menghampiri Annisa.
"Semoga Allah mengabulkan semua doa doa kamu.."
Annisa menatap suaminya.
"Aku hanya ingin kita dan semua anak cucu dan menantu kita hidup dengan bahagia dan tenang.."
"Semoga Allah memberikan kita jalan keluar untuk semua permasalahan Kevin dan Clara.."
Handoko menganggukkan kepalanya.
-------------
Ayu merasakan sakit di perutnya, dia berpikir mungkin ini saatnya dia akan melahirkan.
Padahal ini masih jauh dari tanggal yang diperkirakan oleh Dokter, apalagi baru saja Romi pergi ke kantor dengan tergesa-gesa karena ada pekerjaan mendadak yang sangat penting.
Ayu keluar dari kamarnya,berjalan perlahan sambil memegang perutnya yang kesakitan.
Dia mencari ibu mertuanya, beberapa kali dia memanggil Margareth tapi tidak ada jawaban.
Ayu baru teringat, mertuanya tadi mengatakan akan pergi ke supermarket bersama dua orang pegawainya
Jadi dirumah tidak ada siapapun, pegawai satu lagi sedang pulang kampung, Ayu duduk di sofa dia berpikir akan menelepon Romi, akan tetapi dia tadi lupa membawa ponselnya yang berada di dalam kamarnya.
Disampingnya ada telepon rumah, percuma dia tetap tidak bisa menelepon Romi atau siapapun karena tidak hafal nomor telepon satupun Ndari mereka, dan untuk kembali ke kamarnya rasanya dia tidak sanggup lagi, sakit yang dirasakannya semakin insten, dia berpikir haruskah dia pergi kerumah sakit sendiri.
Ayu berjalan perlahan keluar rumah, dia telah sampai di teras dan duduk sebentar di kursi, dia mencari sopir, namun tidak ada satupun mobil disana, karena rupanya Margareth membawa dua mobil sekaligus untuk belanja bulanan mereka ke supermarket.
Ayu melihat banyak taksi diluar gerbang rumahnya berseliweran.
Dia kembali berjalan perlahan dan keluar gerbang pagar rumahnya.
Tak lama dia keluar gerbang dan berdiri, ada taksi yang berhenti, Ayu langsung memberhentikannya dan segera menaiki taksi.
"Ke rumah sakit terdekat pak..saya mau melahirkan.."
Walaupun kaget, dengan segera sopir itu membawa kendaraannya dengan cepat, hingga tak butuh waktu lama, mereka sampai di IGD, sopir tadi segera turun dan memanggil perawat dan Dokter disana.
Ayu segera diturunkan, dia langsung dibawa keruang bersalin.
"Mana keluarganya..?" Tanya perawat kepada Ayu.
Ayu diam tidak menjawab karena menahan sakit yang teramat sangat.
Di Rumah Romi.
Margareth sampai dirumah, dia segera memanggil Ayu di dalam kamarnya karena dia membawa pesanan menantunya yang ingin dibelikan makanan kesukaannya.
Namun Ayu tidak juga menjawab, dia membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati siapapun disana.
Margareth keheranan, tidak biasanya Ayu dan Romi pergi tanpa memberitahunya.
Margareth kembali sibuk dengan belanjaannya di dapur, hingga Romi datang.
"Mana Ayu..?" Tanya Margareth heran melihat Romi yang datang sendiri.
"Dari mana kalian..?" Tanya Margareth lagi.
"Aku dari kantor, dan Ayu tidak ikut, tadi aku pergi sebentar karena ada urusan mendadak..
"Ayu tidak ada di kamarnya.." Ucap Margareth membuat Romi kaget.
Romi segera pergi ke kamar dan mencari Ayu, ibunya benar, ayu tidak ada di dalam kamarnya, dia mencoba meneleponnya dan ternyata ponsel ayu ada di atas tempat tidur.
Margareth dan Romi keheranan.
Dia segera menelepon Fatimah, mungkin saja Ayu merasa bosan dan pergi kerumah sahabatnya.
Dan ternyata Ayu tidak ada disana.
"Apa kamu bertengkar dengan Ayu..?" Margareth menepuk punggung Romi setengah marah.
"Tidak..kami baik baik saja.."
"Awas kamu kalau Ayu kabur.." Ucap Margareth dengan marah tapi hatinya dipenuhi rasa kekhawatiran kepada menantunya itu.
Margareth terus saja menyalahkan Romi, dia berpikir Ayu pasti pergi karena bertengkar dengan Romi.
"Kalau ternyata Ayu kabur, habis kamu sama mami.." Ancam Margareth.
Romi terus saja mengelak.
Tak lama Papi datang setelah mereka telepon, dengan segera Papi keruangan CCTV, hal yang tidak terpikirkan oleh Romi dan ibunya.
Mereka memutar tayangan cctv beberapa jam yang lalu, sampai akhirnya mereka melihat ayu yang keluar dari kamar dengan memegang perut seperti kesakitan, sampai mereka melihat rekaman di depan rumah mereka disaat Ayu menaiki taksi.
Mereka membelalakkan matanya, mereka tahu ayu kesakitan karena akan melahirkan, dan pasti Ayu pergi kerumah sakit yang terdekat.
Tanpa berkata apapun, mereka segera berlari dan pergi keluar kemudian menaiki mobil, Romi dengan segera membawa mobil kerumah sakit.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai disebuah rumah sakit, mereka mencari Ayu diruang bersalin.
"Kasihan ibu hamil yang barusan datang, dia datang kerumah sakit sendirian menaiki taksi, ketika saya tanya keluarganya dia hanya diam saja seperti akan menangis, sepertinya dia mempunyai suami dan mertua yang jahat.."
"Sampai sekarang belum ada keluarganya yang datang.."
"Aku sangat takut nanti mempunyai suami dan mertua jahat seperti ibu itu.."
Margareth dan Romi serta papi saling bertatapan mendengar percakapan para perawat di depan mereka.