
Fatimah terbangun.
Ada Aditya disampingnya yang tertidur sambil duduk dengan memegangi tangannya.
Dia melihat ke arah Zahra yang juga masih tertidur pulas.
Fatimah ingin bangun karena merasa ingin buang kecil.
Dia menarik perlahan tangannya yang dipegang oleh Aditya.
Dia berusaha agar tidak membangunkan Aditya yang tertidur dengan pulas.
Percuma.. Aditya terbangun karena tangan Fatimah yang sedang berusaha melepaskan diri dari tangannya.
"Sayang..kamu perlu sesuatu..?" Tanya Aditya.
"Aku ingin buang air kecil.." Jawab Fatimah berusaha bangun dengan hati hati takut membangunkan Zahra disampingnya.
Aditya dengan cekatan membantunya.
Dia memapah Fatimah yang kini berjalan ke arah WC sambil memegang infus yang tersambung pada tangan istrinya.
Sampai di depan kamar kecil, Fatimah meminta infus yang dipegang Aditya.
"Aku ikut masuk, kamu akan kerepotan kalau sendiri.." Pinta Aditya.
"Tidak usah.."Jawab Fatimah pelan sambil mengambil infus di tangan suaminya.
Aditya mengalah, dia tahu kalau Fatimah masih marah kepadanya.
Dia menunggu di depan pintu.
Tak lama Fatimah keluar, dia terlihat sedikit meringis kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa sayang.." Tanya Aditya.
Fatimah menggeleng
"Tidak..hanya perut aku kram lagi.." Jawab Fatimah.
"Perlu aku panggil dokter..?"
"Tidak usah..sebentar lagi juga akan baikan.."
Aditya memapah kembali istrinya.
Kaki ini Fatimah tidak berbaring, dia duduk di samping Zahra dan memperhatikan putrinya buang masih tertidur.
Aditya mendekati Fatimah dan duduk disampingnya.
"Maafkan aku.."
Fatimah terdiam.
"Aku sangat menyesal tidak mendengarkan semua perkataanmu.." Lanjut Aditya.
"Setidaknya kamu harus tetap merawat Zahra dengan baik walaupun aku tidak ada.." Ucap Fatimah pelan.
"Kenapa kamu membiarkan dia sampai sakit seperti ini.." Lanjut Fatimah kali ini sambil menangis.
"Aku mohon maafkan aku, jangan menangis lagi, jangan siksa aku dengan melihatmu menangis lagi.." Aditya memegang tangan Fatimah.
"Tapi kamu sudah benar benar menyakitiku dan Zahra.." Jawab Fatimah.
"Aku salah..aku menyesal..aku mohon maafkan aku.." Jawab Aditya memohon.
Fatimah mengangguk.
Melihat istrinya memaafkannya, Aditya memeluk Fatimah dengan erat.
"Terimakasih sayang...Aku berjanji tak akan menyakitimu lagi.." Aditya menangis bahagia karena Fatimah telah memaafkannya.
Ternyata Ayu dan Romi yang sudah terbangun daritadi melihat adegan tersebut, mereka bersyukur akhirnya sahabat mereka bisa kembali berbaikan.
Ayu menghampiri Fatimah.
Mereka saling berpelukan.
"Kamu sudah membuat kami semua khawatir.." Ucap Ayu.
"Maafkan aku..dan terima kasih sudah merawat Zahra.."
Ayu mengangguk.
--------
Zahra makan dengan lahap karena Fatimah yang menyuapinya, demamnya sudah turun dan dokter sudah membolehkannya untuk pulang.
Tak lama dokter kandungan datang.
"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya dok..?"
"Kehamilan dengan Plasenta Previa seperti yang kini istri bapak alami, memang rentan mengalami pendarahan. oleh karena itu sudah saya anjurkan kemarin, ibu harus Bedrest, jangan banyak melakukan aktifitas fisik, jangan banyak pikiran apalagi stres.."
"Apabila sering terjadi pendarahan akan sangat membahayakan ibu dan janin, oleh karena itu tolong diingat nasihat saya.."
Semuanya senang mendengar dokter yang sudah membolehkan Fatimah untuk pulang.
"Oh iya satu lagi..untuk sementara suami harus berpuasa selama kehamilan istri, karena hubungan intim bisa memicu pendarahan.." Lanjut dokter sambil meninggalkan ruangan.
"Rasain lu dit.." Sahut Romi tiba tiba.
Aditya hanya bisa menepuk keningnya dengan sedih.
Semuanya tertawa.
Kedatangan Fatimah dan Zahra disambut tangis bahagia oleh para ART mereka, satu persatu memeluk Fatimah dengan tangis bahagia, mereka bersyukur majikan kesayangannya telah kembali kerumah.
Ayu dan Romi pamit pulang, Aditya dan Fatimah mengucapkan banyak terima kasih kepada keduanya yang sudah banyak membantu, terutama mengurus Zahra.
Aditya mengajak Fatimah kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Kali ini aku akan benar-benar mengawasimu.."
Ancam Aditya meminta Fatimah untuk mendengarkan nasihat dokter.
Aditya melihat Fatimah berjalan ke arah kamar mandi.
"Mau kemana..?"
"Mandi.."
"Aku ikut, nanti kamu terpeleset.."
"Aku bisa hati hati.."
"Aku bilang aku ikut.." Paksa Aditya menggiring Fatimah masuk ke kamar mandi.
Aditya benar benar mengurus Fatimah dengan baik, dia melayani semua kebutuhan istrinya, dia hampir tak mengizinkan Fatimah untuk banyak bergerak.
Alhasil Fatimah hanya bisa terbaring sambil bermain bersama Zahra diatas tempat tidur.
"Aku seperti bayi.." Keluh Fatimah ketika Aditya menyuapinya makan bergantian dengan Zahra.
Aditya tersenyum.
Dua hari lagi nenek akan kembali dari umrah, semua orang bersiap menyambut kedatangannya dengan gembira.
Aditya mendapat sebuah telepon.
Tiba tiba dia terhuyung dan menjatuhkan telepon yang dipegangnya.
"Sayang..aku harus pergi hanya sebentar, ada hal penting yang harus aku urus.."
"Kemana..?"
"Keluar negeri,Ini urusan pekerjaan.."
"Baiklah..berapa lama?"
"Belum tahu sayang..nanti aku kabari lagi, kamu hati hati dirumah dan ingat pesan dokter.." Ucap Aditya mencium kening istrinya dan pergi dengan terburu-buru.
Fatimah merasa heran karena tidak biasanya Aditya pergi seperti ini.
Ternyata Aditya meminta Ayu untuk menemani istrinya, karena tak lama Ayu datang kerumah.
Fatimah senang dengan kedatangan sahabatnya tersebut, namun Ayu terlihat sedikit murung.
"Ada Apa Ayu..?"
"Tidak apa apa Fatimah, memangnya kenapa..?" Tanya Ayu bertanya balik.
"Kamu terlihat murung dan banyak melamun, kamu terlihat sedih..ada apa..?"
"Tidak apa-apa Fatimah..mungkin hanya perasaanmu saja.."
Bukan hanya Ayu, Fatimah melihat rona kesedihan di seluruh wajah pegawainya. Bahkan Rini yang biasanya ceria dan selalu tersenyum kini menunjukkan wajah yang teramat sedih, tentu saja Fatimah bertanya ada apa dan semuanya menjawab baik baik saja.
Hari itu tiba, hari kedatangan nenek dan Bik Minah, Fatimah bersiap menyambut keduanya yang sedang dijemput mang Redo ke Bandara.
Mang Redo sampai dirumah, bersamaan dengan mobil suaminya.
Fatimah senang ternyata Aditya juga pulang bersamaan dengan nenek.
Fatimah menyambut di teras rumah bersama Zahra.
Hanya ada bik Minah yang turun dengan lelehan air mata di pipinya, bik Minah menangis memeluk Fatimah.
"Mana nenek bi..?"
Bik Minah hanya menangis tidak menjawab.
Aditya dan semua orang yang melihat ikut menangis.
"Bik..mana nenek..?" Tanya Fatimah sekali lagi masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Nenek sudah tidak ada.."