My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Tembakan..



Sherly tertawa melihat apartemen barunya yang tak kalah mewah dengan apartemen milik Aditya, kini dia bisa kembali menikmati kembali fasilitas mewah yang sudah hampir sebulan lebih dia tidak nikmati karena Aditya telah mengambil semuanya.


Dia tidak akan melupakan penghinaan demi penghinaan yang telah dilakukan Aditya dan Fatimah kepadanya, dendamnya semakin menjadi ketika dia mengingat Aditya mengambil semua miliknya dan menyewakannya sebuah kost kostan kecil dan akan memberinya pekerjaan sebagai cleaning servis.


Kini dia bertekad akan menghancurkan Aditya, tidak akan ada hal yang akan membuat Aditya hancur kecuali membuat Fatimah dan Zahra terluka, ya Zahra, walaupun Zahra adalah anak kandungnya sendiri, darah dagingnya sendiri, dia juga tidak akan segan melukainya mengingat Zahra sangat menolak dirinya sebagai ibu kandung.


Rencana demi rencana sudah dia susun, tentu saja yang akan mengeksekusi bukan dirinya akan tetapi ada 'DIA'. Dia laki laki yang juga merusak hidupnya. Untung saja disaat dirinya dalam masa susah kemarin, Sherly mengingat laki laki itu, dia mendatanginya dan memberinya ancaman, dengan gampang lelaki itu masuk ke dalam perangkapnya dan memberinya kembali semua kebutuhan Sherly, tempat tinggal dan banyak uang, Sherly juga mempergunakan laki laki itu untuk menghancurkan Aditya.


---------


Fatimah dan Zahra berangkat ke sekolah, kali ini mereka dikawal oleh 4 orang bodyguard, walaupun sebenarnya merasa risih dengan tatapan orang kepadanya, akan tetapi Fatimah tidak memperdulikannya lagi, untuk sekarang keamanan dirinya dan Zahra adalah hal yang lebih utama.


Keamanan di sekitar sekolah juga lebih ditingkatkan karena permintaan Aditya, tidak ada lagi orang asing yang tidak berkepentingan yang bisa memasuki sekolah, semuanya akan dicek lebih teliti lagi.


Sedangkan Aditya belum mendapatkan apa apa dari beberapa orang yang melakukan investasi, ditambah dua orang pemutus rem mobil itu juga tidak banyak memberikan informasi, sepertinya mereka benar benar tidak mengetahui siapa orang yang menyuruh mereka melakukan semuanya, karena banyak bukti mereka hanya melakukan komunikasi lewat telepon dan memberikan uang melalui jasa kurir, sehingga tidak bisa dilacak sama sekali.


Aditya semakin was was, ini semua membuktikan bahwa orang yang kini dilawannya bukan orang sembarangan, paling tidak dalang dibalik semua ini mempunyai banyak uang dan koneksi yang membantunya, sehingga dia sama sekali tidak bisa disentuh.


Hal ini membuat Aditya semakin khawatir karena beberapa minggu lagi Fatimah akan melahirkan, Dokter sudah menjadwalkan operasi Caesar untuk Fatimah, karena dia memang tidak bisa melahirkan secara normal akibat dari Plasenta Previa yang dialaminya.


Ditengah kekacauan yang terjadi, Aditya dan Fatimah masih antusias menyambut kelahiran anak mereka, segala sesuatu sudah dipersiapkan dan, mereka berharap kehadiran anak mereka yang kedua menambah kebahagian di keluarga kecilnya.


Hari ini, Fatimah merasa tidak enak badan, dia meminta Zahra untuk tidak pergi ke sekolah.


"Mama istirahat saja, biar Zahra pergi ke sekolah sama Mbak Dewi.."


Fatimah terdiam. Dia merasa khawatir membiarkan Zahra pergi ke sekolah tanpa dirinya walaupun ada 4 bodyguard yang akan menjaganya.


"Iya, kamu istirahat saja biar aku yang akan mengantarkan Zahra ke sekolah.."


"Tapi.."


"Pulangnya juga nanti aku akan menjemputnya..kamu tidak usah khawatir.."


Fatimah tersenyum, kini dia merasa lega karena Aditya yang akan mengantar jemput Zahra.


Zahra dan Aditya berpamitan kepada Fatimah.


"Istirahat ya sayang.." Ucap Aditya mengecup kening istrinya.


"Aku sayang mama.." Ucap Zahra juga mencium Fatimah.


---------------


Aditya mengantarkan Zahra sampai ke pintu kelas.


"Nanti pulangnya papa jemput lagi.." Ucap Aditya sambil berjongkok dan mencium kening putrinya.


Zahra tersenyum dan memasuki kelasnya.


"Tolong jaga Zahra.." Ucap Aditya kepada 4 orang bodyguard yang menunggu Zahra diluar kelas.


Aditya sampai di kantor, sekretarisnya memperlihatkan jadwalnya hari ini.


"Kosongkan jam ini, saya harus menjemput Zahra.."


Sekertaris itu mengangguk.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada sebuah pesan masuk.


"Ada seseorang yang akan menyakiti anakmu hari ini, selamatkan dia.."


Aditya terperanjat. Dia segera berlari keluar kantor sambil berlari.


Aditya segera menghubungi Dewi.


"Dewi dimana Zahra..?" Tanya Aditya cemas.


"Zahra sedang belajar pak.."


"Awasi dia terus..aku sedang dalam perjalanan kesana.."


"Iya pak.." Dewi semakin waspada, dia tahu ada sesuatu yang membuat majikannya khawatir.


Dia berjalan mendekati jendela dan melihat Zahra yang sedang belajar, dia melihat sekeliling.


Sampai akhirnya, dia menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Dia melihat titik merah yang bergerak-gerak di baju seragam Zahra.


Dewi menyadari itu adalah bidikan senjata api dari kejauhan.


Dewi secepat kilat berlari memasuki kelas, dia menghampiri Zahra dan menggendongnya dan tiba tiba.


"Dorrrr..." bunyi senjata api yang berasal dari luar jendela memecah kaca jendela dan peluru mengenai pundak Zahra.


Semua orang berlarian, tiga teman Dewi langsung mencari arah tembakan yang sepertinya dilakukan dari jarak yang cukup jauh. Dari luar lingkungan sekolah.


Sedangkan Zahra langsung terkulai lemas tidak sadarkan diri.


Dewi dan temannya dengan sigap membawa Zahra keluar kelas dan dan akan membawanya kerumah sakit dengan diikuti oleh beberapa orang guru yang menangis melihat Zahra yang kini berlumuran darah.


Dia keluar dari mobil dan melihat Zahra yang sedang digendong oleh Dewi dengan berlumuran darah.


Badannya gemetar, seakan kakinya tak sanggup lagi berdiri, dia menghampiri Zahra dan mengambilnya dari Dewi.


"Ini papah sayang.." Ucap Aditya menangis dan terbata bata sambil membawa Zahra masuk ke dalam mobil dengan berlari.


Mereka semua membawa Zahra ke rumah sakit


Di Rumah.


Fatimah tak sengaja memecahkan gelas.


Perasaannya tidak enak, dia memikirkan Zahra seketika.


Dia mencari ponselnya, dia akan menghubungi Dewi.


Sekali panggilan tidak diangkat.


"Kemana dia tidak mengangkat telepon..?" Tanya Fatimah dalam hati.


Perasaannya semakin cemas dan khawatir memikirkan Zahra.


Dia mencoba lagi dan lagi.


Aditya memeluk Zahra erat, bajunya kini penuh dengan darah anaknya, dia memanggil Zahra berulang kali.


"Ini papah nak..maafkan papah.." Ucap Aditya menangis.


"Ibu..menelepon pak.." Ucap Dewi tiba tiba.


"Jangan diangkat.." Jawab Aditya pelan, menangis melihat Zahra dalam pangkuannya yang tidak sadarkan diri.


Mereka sampai dirumah sakit, Zahra langsung ditangani oleh beberapa orang dokter.


"Kami minta persetujuan operasi.."


Aditya segera menandatanganinya, dia memohon kepada dokter untuk menyelamatkan anaknya.


Aditya menunggu di depan ruang operasi beserta Dewi dan teman temannya.


Mereka sangat cemas dan khawatir.


Tiba tiba ada sesosok wanita menghampiri mereka.


"Sayang.." Aditya menyambut Fatimah yang berjalan terhuyung-huyung.


"Mana anakku..?" Tanya Fatimah menangis.


"Mana anakku Zahra.." Fatimah kini tak sanggup berdiri lagi.


Dewi dan Aditya memegang tubuh Fatimah.


"Dia tidak apa apa sayang..dia baik baik saja.."


Fatimah tidak menjawab, dia terus menerus melihat ke ruang operasi di depannya.


Dia menangis, memeluk Aditya di sampingnya.


"Sayang..jangan begini, tidak baik untuk bayi kita.."


"Zahra..aku ingin melihat Zahra.."


"Dokter sedang mengoperasinya.."


"Maafkan mama sayang.. harusnya mama tadi pergi ke sekolah.."


"Kenapa kalian membiarkan mereka menyakiti anakku..?" Tangis Fatimah semakin menjadi.


"Zahra akan baik baik saja.." Ucap Aditya memeluk Fatimah juga sembari menangis.


Perawat keluar ruang operasi dengan tergesa-gesa.


"Kami membutuhkan darah yang banyak, ayah kandungnya bisa mendonorkan darah.."


Aditya dan Fatimah berdiri.


"Saya ayahnya, saya akan mendonorkan darah saya.." Jawab Aditya panik.


"Ikuti saya.." Jawab Perawat.


"Ambil darah saya..saya ayah kandung dari pasien.." Kata seorang laki laki yang tanpa disadari telah berdiri di belakang mereka.


Semua melihat ke arahnya.


Aditya marah dan menghampiri laki laki itu.


"Apa maksudmu.." Tanya Aditya mendekati laki laki itu.


"Saya ayah kandung dari Zahra.."