
" Mi, aku berangkat dulu ya ke Inggris . Titip anak - anak. "
" Ya...mami harap kamu pulang dengan membawa menantu mami ya ! " Ucap Mami Leli penuh harap.
" Pastinya...doakan Dev ya mi...Semoga hati Laura luluh dan menerima maaf yang terucap dari Dev..."
" Berangkatlah ! Ajak Laura berbulan madu sekalian ! "
Tak lupa sebelum berangkat, dirinya naik ke atas dulu untuk berpamitan kepada kedua anak kembarnya.
Devian masuk ke kamar Axelle lebih dulu, mencium kening anaknya dan membisikkan kata pamit pada sang anak yang masih asyik memeluk guling. Bahkan sang anak tak juga terusik dengan sentuhan lembut dari Daddy nya.
Setelah itu Devian berpindah ke kamar putri kecil nya yang sudah memiliki adik. Audrey, anak yang paling dekat dengan sang Daddy. Hal sama Devian lakukan saat tadi ke Axelle. Devian selalu berbuat adil kepada tiga anaknya, dia ingin ketiga anaknya mendapatkan kasih sayang dan apapun itu secara adil.
Asisten Jo sudah menunggu di ruang tamu, karna jam 6 pagi Devian harus terbang.
" Jo, titip anak - anak dan perusahaan saat aku tak ada ! Kemungkinan aku 1 Minggu di sana. Mau skalian bulan madu dulu..." Devian terkekeh.
" Jangan terlalu senang dulu Tuan. Berdoa lah semoga Nyonya Laura mau memaafkan mu, dan menerima anda lagi." Jo terkekeh balik.
" Kau mengejekku ? Apa kau tak menyadari ketampanan ku membuat wanita tergila-gila ? Aku juga yakin Mommy nya anak - anak tak akan tahan bila terkena sengatan listrik dan belut listrik milikku. " Devian tertawa keras.
Devian memang ingin menghibur dirinya sendiri, membuat mood nya bahagia. Agar saat Laura mengamuk nanti, dirinya bisa mengatasinya
" Jangan lupa pesan ku ! Jangan terlalu banyak menghubungi ku, mengganggu ku ! " Kata yang keluar dari bibir Devian sebelum menaiki jet pribadinya.
Sedangkan di sana, Laura sudah merasa lelah karna seharian sibuk mengurus segala nya.
" Lelahnya hari ini, namun kenapa ya Aurel hari ini rewel sekali ga seperti biasanya. " Gumam Laura.
Mungkin karna perasaan Laura gelisah, membuat Aurel ikut merasakan apa yang di rasakan Mommy nya.
" Apa aku kembali saja ya ke Indonesia ? Seperti nya Aurel rindu kedua kakaknya dan Daddy nya. Tapi masa hanya segitu saja aku menghukum Daddy nya. " Ucap Laura bimbang.
" Mungkin karna Aurel terbiasa di kelilingi orang yang di sayang, sedangkan di sini hanya berdua saja. " Gumam Laura dalam hati.
Laura mencoba menenangkan Aurel, namun nyatanya Aurel masih terus merengek. Padahal tubuh Laura sudah merasa sangat lelah.
" Mengapa rasanya berat sekali ya menjadi singel parents. Padahal dulu aku harus mengurus dua anak sekaligus dan juga mencari nafkah. Apa mungkin karna sudah terbiasa hidup di kelilingi suami dan mertua. " Ujar Laura lirih.
Dirinya baru merasakan sangat kehilangan sosok suami nya yang sangat hangat dan menyayangi anak - anaknya. Yang sebisa mungkin selalu membantu mengurus, meskipun sangat sibuk.
" Ya Tuhan mengapa hati ini tidak tenang ? " Ucap Laura lirih.
Laura akhirnya mengakui kalah dan mencoba menghubungi Devian, namun ponsel Devian tak aktif. Namun Laura mau menghubungi Jo, tapi merasa malu.
" Kenapa Ponselnya tidak aktif ya ? Kemana ya dirinya ? " Laura merasa gelisah.
" Yang....kangen...Hiks....hiks..." Laura terisak.
" Aku putuskan besok aku pulang saja ke Indonesia. "
" Akhirnya tidur juga Aurel, mungkin karna aku bilang mau pulang kali ya. " Laura meletakkan Aurel di atas ranjang nya dan Laura ikut menyusul tidur karna sudah sangat lelah.
Devian sudah menginjakkan kaki nya di negara Inggris dan langsung di jemput oleh supir suruhan orang kepercayaan. Di Inggris Devian juga memiliki kantor cabang, namun memang selama ini di urus oleh orang kepercayaan nya.
" Ya.." Sang supir membunyikan klakson memberi tanda kepada Security yang menjaga.
Devian menunjukkan foto dirinya bersama ketiga anaknya dan Laura. Devian juga memberi tahu jika dirinya adalah suami dari Nyonya Laura, hingga tidak di persulit. Bahkan di bantu sampai masuk ke dalam rumah.
" Mewah juga rumah Laura di sini. " Devian sekilas melihat sekeliling rumah Laura.
" Maaf Tuan...Nyonya Laura sudah tidur di atas. Mari saya tunjukkan kamarnya ! " Ucap Ketua pelayan yang bekerja di rumah Laura.
" Silahkan Tuan...ini kamarnya ! "
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Devian langsung masuk ke dalam kamar.
" Bisa-bisa nya dia tertidur pulas, tidur sendiri tanpa aku. Bahkan berpakaian menantang orang yang ingin berbuat jahat. " Gerutu Devian.
Devian memilih langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Hanya memakan waktu 10 menit Devian sudah terlihat segar , hanya menggunakan boxer dan kaos oblong.
Perlahan dirinya memindahkan Aurel ke dalam box. Kemudian menaiki ranjang secara perlahan. Namun sampai saat itu, Laura masih tertidur pulas.
Devian memilih tidur berhadapan dengan Laura...
Bibir Devian sudah sangat dekat dengan Laura..
" Aku akan menghukum mu malam ini, karna kau sudah berani meninggalkan ku lagi tanpa izin untuk kedua kalinya. " Gumam Devian dalam hati.
Kini bibir mereka sudah sangat dekat. Nafas kedua nya sudah saling bertukar, membuat hasrat Devian memuncak. Perlahan Devian Melu*** bibir Laura dengan lembut.
Entah mengapa meskipun terpejam, bibir Laura meresponnya. Dan ternyata Laura merasakan bahwa di dalam mimpi dirinya sedang bercumbu mesra dengan suaminya.
Tangan nakal Devian menjalar mengeksplore setiap inci tubuh Laura, hingga keluar suara merdu dari bibir Laura. Membuat Devian tak bisa menahannya lagi.
" Ini orang tidurnya kebo banget, masa kami berciuman saja dia tak sadar. " Gerutu Devian.
Devian membuka kancing baju Laura dengan lembut dan membuka celana yang menempel di tubuhnya, hingga kini hanya menyisakan kain segitiga yang menempel.
Devian membenamkan bibirnya dan bermain - main di sana, dan tangannya meraba yang tersembunyi di balik kain segitiga.
" Kenapa rasanya seperti nyata ya mimpi kali ini. Seperti ada dirinya di dekatku. Apa karna aku terlalu merindukan nya ya ? " Gumam Laura dalam hati.
Devian langsung membuka pakaian yang menempel dan melempar begitu saja. Hingga menunjukkan sang soulmate sudah siapa masuk ke dalam lubang kenikmatan.
Grep...
Devian memeluk tubuh Laura erat yang sudah dalam keadaan polos.
Merasakan ada yang memeluk, membuat tidurnya Laura merasa terusik. Perlahan dirinya membuka matanya dan menemukan sang suami yang sudah di hadapan nya.
" Hiks...Hiks..." Laura terisak memeluk erat dan melepaskan kerinduan nya. Ternyata yang ada di alam mimpi nya, adalah nyata.
" Makanya jangan nakal, jika tak mau menyesal ! Berani - berani nya kau pergi lagi tanpa izinku.
" Sayang... maafkan aku yang telah meninggalkan dirimu tanpa izin, aku sangat menyesal melakukan nya. " Ucap Laura yang masih memeluk erat tubuh suaminya.