
Apa pernah kalian tau kehangatan keluarga sangat berperan penting untuk membuat otak anak menjadi cerdas. Itulah yang di rasakan Axelle dan Audrey. Meskipun dulu sejak kandungan dirinya tak pernah merasakan kasih sayang dari Daddy, namun kasih sayang dari seorang Mommy tak pernah kurang. Laura selalu berjuang keras mempertahankan anak nya sejak dalam kandungan. Dirinya tak pernah merasa kesal akan hadirnya anak kembarnya di dalam rahimnya, meskipun hasil dari pria yang awal nya tak bertanggungjawab padanya. Justru sebagai sebatang kara dirinya mensyukuri kehadiran mereka yang membuat dirinya untuk tetap kuat dan tegar dalam menjalani hidup.
" Sayang...apa yang sedang kamu lakukan ? " Laura menghampiri Axelle yang sedang sibuk merakit sebuah robot.
" Lihatlah Mom....! Bagus tidak buatan ku ? " Axelle menunjukkan hasil karya yang dia buat.
" Bukan hanya bagus tapi sangat keren. Mommy salut sama kamu. " Laura merangkul hangat sang anak.
" Jadi Mommy di sini ? Mommy hanya memuji kak El..." Gerutu Rey yang tiba - tiba saja masuk.
Laura menghampiri Rey yang sedang marah dan langsung memeluk nya hangat. Suatu pelukan yang memang yang harus di lakukan seorang ibu untuk stimulasi otak anaknya.
" Anak Mommy cemburu ya ? Kata siapa Mommy hanya memuji kak El saja. Kan Mommy selalu bilang jika Mommy sangat bangga anak - anak Mommy. Tapi tadi kan Mommy hanya berdua sama Kak El. Jadi anak cantik jangan cemburu ya. " Ucap Laura sambil mencubit gemas hidung Audrey.
" Aku sayang Mommy..." Ungkap Audrey yang masih dalam dekapan hangat sang Mommy.
" Mom...nanti Mommy ke kamar ku ya. Ajari aku. Tau ga Mom ? Bu guru bilang sebenarnya kategori lomba aku dan kak El itu bukan sesuai usia aku. Cuma pihak sekolah menyakinkan pihak panitia bahwa kami layak berjuang dengan lawan kami yang usianya jauh dari kami. " Ujar Audrey.
" Benarkah? Berarti anak Mommy ini anak - anak yang hebat, Mommy pun akui seperti itu. " Ucap Laura.
" Jadi kalian semua di sini ? " Ujar Devian yang tiba - tiba saja masuk ikut bergabung bersama mereka.
" Loch...Daddy kerjaannya da selesai ? Ko ke sini ? " Ucap Laura menatap ke arah suaminya.
" Habis Daddy tadi cari Mommy ke kamar tapi tak ada. Makanya Daddy nyusul ke sini. Karna di kamar Rey juga kosong. " Ungkap Devian.
" Dad lihatlah karyaku...bagus ga menurut Daddy ? " Ucap Axelle sambil menunjukkan sebuah robot yang dia rakit kepada Daddy nya.
" Robot ini akan terkoneksi dengan komputerisasi ? Coba kamu jelaskan pada Daddy ! " Ucap Devian penasaran.
" Bukan hanya Lewat komputerisasi. Tapi robot ini bisa di kendalikan lewat ponsel. " Jawab Axelle.
" Really ? " Devian menatap wajah anak nya penuh kagum.
" Yes, Dad..." Sahut Axelle dan langsung mendapatkan acungan jempol dari sang Daddy.
" Lalu bagaimana dengan mu Rey ? Apa saja yang sudah kamu siapkan untuk lomba ? Apa perlu kamu les matematika ? " Tanya Devian yang kini mata nya terarah pada putri cantik nya.
" Aku sih hanya belajar rumus - rumus otodidak saja dari buku dan pengajaran Mis. Naomi guru matematika kelas 6. " Sahut Axelle membuat sang Daddy terkekeh.
" What ? Kelas 6 ? Sedangkan kamu baru kelas 1...Ya ampun Genius banget anak Daddy dan Mommy. Bukan hanya pintar akting dan bergaya saja ternyata....Daddy hampir saja ketinggalan kemampuan anak Daddy...." Ungkap Devian.
" Sebenarnya aku sudah cukup dapat pelajaran dari Mis. Naomi. " Ucap Audrey.
Laura datang dengan membawa Aurel dan meletakkan di ranjang kamar El.
" Hai...anak Daddy yang pintar. " Devian menghampiri Aurel dan langsung menggendong nya.
Aurel menggerakkan kaki nya tak bisa diam, dan seperti mengerti senang dengan sapaan sang Daddy.
" Kenapa anak Daddy ? Suka ya di gendong Daddy mu yang tampan ini ? " Devian terkekeh.
Aurel terus menampilkan wajah senangnya, membuat orang yang di sana ikut gemas melihat nya.
Bukan hanya Daddy nya saja, bahkan Audrey kakak ikut menggodanya.
Tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 22.00, karna asyiknya mengobrol.
" Dad...temani aku tidur ! " Rengek Audrey.
Seperti biasanya dirinya memilih tidur dengan sang Daddy bila Daddy nya sudah pulang bekerja.
" Sayang...aku nidurin Rey dulu ya. " Ucap Devian pada Laura.
Devian keluar dari kamar Axelle bersama Audrey.
Devian memilih menidurkan Audrey, sedangkan Laura memilih untuk kembali ke kamar mereka karna Aurel sudah tertidur setelah kenyang menyusu ke payu**** sang Mommy.
" Tidurlah sayang...Daddy sangat menyayangi mu ! Devian mencium pucuk anak nya.
Setelah Rey tertidur pulas, Devian kembali ke kamar El yang letaknya bersebelahan dengan kamar Audrey.
" Son... tidurlah ! Lanjut lagi besok, tak baik seusia mu begadang. " Ucap Devian menghampiri sang anak dan merangkulnya dari belakang.
" Sebentar lagi Dad... tanggung. Setelah ini aku baru tidur.." Sahut El.
" Daddy tinggal ke kamar ga apa kan ? " Tanya Devian pada El dan langsung dapat jawaban ya dari dirinya.
Devian memilih untuk kembali ke kamar mereka.
" Sayang...aku pengen..." Ucap Devian berbisik di telinga sang istri sambil merangkul sang istri dari belakang.
Tanpa perlu adanya persetujuan sang istri, dirinya langsung menyerang sang istri dengan ciuman mesra. Bukan hanya sekedar ciuman, tangan nakalnya pun tak akan tahan hanya untuk berdiam diri.
Kecupannya kini beralih pada leher jenjang sang istri dan membuat tanda kepemilikan.
" Sayang aku masukin sekarang ya ? " Deru nafas Devian sudah tak karuan. Hasrat nya sudah menggebu-gebu.
Devian membuka lebar-lebar kedua paha Raisya dan mengarahkan sang soulmate ke lubang kenikmatan milik istrinya.
" Aaaaahh, sakit ! " Laura sedikit teriak. Karna milik nya Laura rasanya tak berubah, masih terasa sempit dan menggigit.
Laura mencoba menikmati sentuhan lembut suaminya, Rasa sakit nya kini berubah dengan rasa nikmat.
Devian menggoyangkan pinggulnya dengan Lihai. Membuat tubuh sang istri melayang ke langit ke tujuh. Devian membuat sang istri tak berdaya.
" Keluarkan lah , Jangan di tahan ! " Bisik Devian di telinga Laura yang matanya kini merem melek merasakan sensasi yang luar biasa.
Laura meremas bokong milik Devian kencang. Rasanya dirinya sudah tak kuat menahannya lagi. Bukan hanya Laura, Devian pun merasakan hal yang sama.
Hingga akhirnya erangan kenikmatan keluar dari mulut mereka. Dan Devian ambruk di atas tubuh sang istri.
" Terima kasih sayang...aku sangat puas. " Ucap Devian sambil mengecup kening sang istri mesra membuat wajah Laura memerah.
" Sayang... bolehkah aku mengajak Mami ikut ke Jepang dan Korea Selatan menemani aku ? Biar aku ada yang menemani. Aku juga akan mengajak Suster Meri ke sana. Karna rasanya aku tak sanggup jika harus berpisah sama Aurel dua atau tiga hari.
9