My Kids My Hero

My Kids My Hero
Tak ada perubahan



Tak ada perubahan


Tak terasa sudah hampir empat bulan Laura belum juga sadar. Berbagai cara telah dilakukan Devian, namun hasilnya tetap sama. Tak ada perubahan dari Laura. Bahkan kini perutnya sudah terlihat membuncit.


Devian juga merasa bingung menghadapi Audrey, karna pasalnya selama Laura tak sadarkan diri Audrey sering kali menangis karna ingin selalu dekat dengan sang Mommy.


" Sayang.. bangun lah ! Kasihan anak - anak ! Dan bahkan perut mu kini sudah semakin membesar. Apa kau tak mau melihat anak - anak bertumbuh besar ? " Ucap Devian sambil mengelus rambut istri nya dengan lembut.


Pihak dokter sebenarnya menyarankan mengikhlaskan dan mencabut alat bantu pernapasan dan alat lainnya yang menempel di tubuh Laura.


Namun Devian menolaknya, karna dirinya yakin jika istri nya akan sembuh dan sadarkan kembali.


" Tuhan...ku mohon sembuhkan lah istri ku ! Angkat penyakit istri ku ! " Ucap Devian memohon pada sang pencipta.


Hari demi hari Devian lewati dengan penuh kesabaran. Tak sedikit pun dirinya meninggalkan Laura. Bahkan semua pekerjaan dirinya di kantor terpaksa di handle oleh asisten Jo. Karna dia ingin senantiasa menemani sang istri.


Penyesalan itu lah yang di rasa Devian saat ini. Mungkin bila dirinya tak melakukan kesalahan, Laura tak pernah mengalami kecelakaan. Hari - hari nya hanya mengabdi pada sang istri, sebagai bukti cinta nya pada sang istri.


Michael yang mengetahui jika Laura mengalami kecelakaan merasa kesal. Karna Devian tak bisa menjaganya.


Namun sayangnya saat Michael datang, Devian tak menyetujui Michael untuk masuk ke dalam menemui Laura. Sedih rasanya harus melihat wanita yang dia cintai harus terbaring lemah tak berdaya.


Untungnya ada sang asisten yang mencoba merelai. Jika tidak Devian akan melakukan kekerasan pada Michael.


*****


Hari dan waktu terus berganti kini usia kandungan Laura sudah menginjak sembilan bulan. Pertanda sebentar lagi Laura akan segera melahirkan. Dan terpaksa harus melahirkan secara sesar. Karna hingga saat ini Laura tak ada perubahan, dirinya masih mengalami koma.


Untungnya anak dalam kandungan Laura baik - baik saja, meskipun sang Mommy harus mengalami koma berbulan - bulan.


Pihak rumah sakit sudah mengurus segala persiapan persalinan Laura. Dan hari ini adalah jadwal operasi Laura. Tim medis sudah bersiap untuk memulai nya.


Devian dengan setia selalu mendampingi Laura. Tak ada kata lelah keluar dari mulutnya meskipun wajahnya kini sudah di penuhi bewok karna tak terurus. Rambutnya pun sudah gondrong.


Dirinya merasa sangat kehilangan. Kehilangan hidupnya, semangat dalam hidupnya.


Operasi berjalan lancar. Devian merasa terharu karna bisa menyaksikan istri nya berjuang melahirkan buah hatinya. Bagaimana sang istri berjuang untuk bertahan sampai anak nya terlahir ke dunia.


Sungguh hal itu membuat dirinya merasa bangga dengan sosok istrinya yang kuat. Ini hal kedua kali nya bagi sang istri harus melahirkan dengan penuh dramatis. Dulu harus melahirkan berjuang sendiri tanpa hadirnya dia di sisinya. Dan untuk kelahiran sekarang dirinya bisa mendampingi namun sang istri lah yang tak bisa melihat saat bayi nya hadir di dunia.


Perasaan haru menyelimuti rumah sakit. Bukan hanya Devian , Jo , ibu mertua nya. Namun pihak dokter beserta tim yang menangani kelahiran buah hati Laura merasa sedih. Karna sang Mommy masih harus mengalami koma dan tak bisa menyambut kehadiran buah hatinya.


Air mata menetes di pelupuk mata Laura. Pertanda dirinya pun merasakan kesedihan. Namun apa daya dirinya belum sanggup untuk membuka matanya untuk memberikan asi pertama nya untuk anak tercintanya.


Tim medis dan Devian hanya berharap suatu saat akan ada nya mukjizat yang membuat Laura sadar kembali.


Sungguh sangat menyesakan hati, saat bayi mungil hanya bisa di urus oleh Daddy dan neneknya.


" Sayang...ku mohon sadar lah ! Buah cinta kita sudah terlahir ke dunia. Apa kamu tak mau mengurus anak kita ? Maafkan aku ! Lebih baik aku tukar nyawa ku dengan nyawa mu ! Ku mohon bangunlah ! Audrey dan Axelle juga sangat merindukan dirimu. Ku yakin kamu adalah wanita yang kuat. " Ucap Devian sambil terisak tangis.


Bahkan Devian hampir saja merasa frustasi dan akan mengikuti saran dokter. Mengikhlaskan sang istri pergi ke dunia. Namun rasanya sangat sulit baginya untuk melakukan nya. Dirinya selalu membuang jauh - jauh dari pikirannya dan berusaha untuk sabar menunggu saat waktunya tiba.


Laura mulai menggerakkan jari jemari nya dan perlahan membuka matanya. Dirinya mulai tersadar dari tidur panjangnya. Dirinya menengok ke arah sang suami yang masih menggenggam erat tangannya. Namun saking lelahnya, Devian tak menyadari ada pergerakan dari istrinya.


Laura terlihat masih sangat lemah, dan bahkan kepalanya masih terasa sakit.


Pergerakan Laura semakin kuat hingga dirinya bisa membuat Devian terbangun dari tidurnya.


" Sayang...kamu sudah sadar..." Ucap Devian dengan bahagia.


Devian langsung bergegas berlari ke luar ruangan. Dirinya merasa panik saat melihat sang istri sudah terbangun hingga lupa di dalam ruangan terdapat tombol darurat yang terhubung pada perawat.


Devian segera menghampiri istrinya kembali. Memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah dan bibir istri nya. Dirinya merasa senang jika sang istri akhirnya bisa sadar kembali.


" Terima kasih sayang...Ku yakin semua ini berkat kekuatan diri mu yang berjuang untuk hidup. Merasakan kebahagian kita kembali. Oh ya...Anak kita sudah terlahir ke dunia. Dia seorang wanita yang cantik seperti mu dan sehat. " Ucap Devian bertubi-tubi kepada sang istri.


Namun Laura masih hanya terdiam. Mulutnya terasa kelu dan sulit mengucap hanya pergerakan mata yang memandangi wajah suami nya. Dan hanya air mata yang bisa menggambarkan perasaan hatinya saat ini.


Namun di dalam lubuk hatinya terdalam dirinya merasa bahagia bisa bernafas kembali menjadi Mommy yang sangat di rindukan ketiga buah hatinya.


Pihak dokter menyatakan bahwa kini Laura sudah terlewat dari masa kritisnya. Hanya butuh waktu untuk pemulihan karna tidur yang sangat panjang hingga menyebabkan tubuhnya yang terasa kaku. Namun tak ada hal serius yang terjadi pada Laura. Benturan kepala nya sudah sembuh dan tubuhnya pun tak ada yang mengalami kecacatan. Jika dirinya sehat nanti, Laura akan kembali seperti dulu. Tak ada yang berubah, dirinya akan kembali menjadi Laura yang dulu.


Devian memeluk tubuh sang istri sangat erat melampiaskan semua rasa rindu yang tertahan hampir 9 bulan lama nya. Kini penerang hidupnya telah kembali.


" Sa...sayang...Di..mana anak kita ? Aku ingin melihatnya ? " Ucap Laura masih terasa lemah.


" Kamu bisa segera bertemunya jika kamu sudah pindah ke ruangan rawat inap. Pihak dokter sedang mengurus kepindahan mu , bersabar lah ! " Ucap Devian dengan lembut.