
Kehilangan sosok Papi, suami, mertua dan juga kakek
Tuuuuuuuttttttt….
Jelas terlihat di layar monitor detak antung Tuan James terhenti…
“ Papi….Hiks….hiks….” Teriak Devian dan juga maminya histeris.
Tak hanya Devian dan maminya, Laura pun ikut merasakan kehilangan sosok mertua yang sudah dia anggap sebagai orang tua nya. Bisa Laura rasakan jika papi James sangat menyayangi dirinya. Dirinya bisa merasakan apa yang di rasakan suami nya saat ini. Dia sangat yakin jika suaminya merasa sangat kehilangan sosok papi yang selalu membuat dirinya terus bersemangat dalam menjalani kehidupan, bahkan papi James adalah sosok inspirasi
bagi dirinya. Sosok yang setia terhadap mami nya dan juga seorang pengusaha handal yang jujur dan juga bertanggungjawab.
Terlintas dalam benaknya saat dirinya dulu sempat bertengkar dengan papi nya karna membela Mira sang kekasih menyebabkan papi nya dulu sempat mendapatkan serangan jantung dan harus di larikan di rumah sakit. Bahkan dirinya sempat tak mempedulikan kedua orang tuanya. Namun semua kesalahannya terkubur saat dirinya bersikap tanggung jawab mengungkapkan sebuah rahasia bahwa dirinya memiliki anak dan juga bersikap serius menikahi Laura sebagai istrinya. Kehadiran kembar membuat kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tuanya. Di sisa hidupnya, papi James sempat merasakan sebagai seorang kakek dari anak kembar Devian.
Laura merangkul tubuh sang suami dan ibu mertua nya secara bergantian. Dirinya sangat tahu bagaimana perasaan yang di rasakan Devian saat ini. Laura teringat saat dirinya dulu kehilangan mami nya yang pergi untuk selamanya meninggalkan dunia, dan lebih sangat menyedihkan lagi dirinya tak sempat melihat saat terakhir daddy nya menghembuskan nafas terakhirnya. Laura mendekap hangat tubuh kekar sang suami. Devian terlihat sangat rapuh.
“ Jo, jemput kembar di sekolahnya. Tapi kau tak perlu memberitahu pada mereka bahwa kakeknya telah tiada. Bawalah ke rumah papi ! Aku akan mengurus kepulangan papi ke rumah duka terlebih dahulu. Hubungi orang rumah untuk mengurus semuanya ! “ Ucap Devian di sela – sela kesadarannya.
Laura tersenyum hangat, dapat dirinya rasakan jika sang suami begitu menyayangi kedua buah hati mereka. Bahkan Devian kini adalah sosok yang luar biasa yang sangat menyayangi keluarga.
“ Mi…aku berharap mami bisa lebih bersabar, mungkin ini yang terbaik untuk papi. Biar papi tak merasakan sakit lagi. Ikhlaskan papi, mi…! “ Ujar Laura saat memeluk ibu mertuanya.
“ Ya…Laura. Semoga mami bisa bersikap ikhlas. Karna mami di sini masih memiliki kalian. “ Sahut mami yang masih dalam pelukan hangat dari menantu tercintanya.
“ Selamat jalan…Kami semua kehilangan sosok papi, suami, mertua, dan juga kakek. “ Gumam Laura saat melepaskan kepergian papi James.
Kini asisten Jo telah sampai di sekolah kembar. Tak bisa di tutupi perasaannya, bahwa kini Jo pun merasakan kehilangan sosok James.
“ Om Jo, kenapa kita di jemput pulang ? Memangnya ada apa ? “ Ujar Audrey membuat Jo merasa bingung harus menjawab apa.
“ Maaf om Jo tak bisa menjelaskan saat ini ! “ Sahut Jo datar.
Mobil mewah yang membawa kembar sudah sampai di kediaman Tuan James. Sudah terpampang jelas banyaknya karangan bunga yang sudah berjejer memberikan ucapan bela sungkawa dan juga terdapat bendera kuning menandakan adanya kematian seseorang.
Axelle dan Audrey yang tak mengerti tradisi di Indonesia justru merasa bingung. Namun mereka bukan lah sosok anak kecil yang bodoh. Dirinya bisa melihat di karangan bunga mengucapkan turut bela sungkawa kakek tercintanya.
Audrey dan Axelle meraung menangisi kepergian sang kakek.
“ Kakek…Mengapa kamu pergi meninggalkan kami secepat ini. Rasanya baru kemarin kami bercanda dengan mu…Hiks…Hiks…Aku sudah tak punya kakek lagi….” Ucap Audrey dan juga Axelle.
Sirine mobil jenazah berbunyi semakin mendekat, menandakan jenazah Tuan James telah sampai. Di susul mobil yang membawa Devian, Laura, dan juga mami. Axelle dan Audrey langsung berlari menghampiri mobil jenazah yang membawa sang kakek.
Devian dan Laura langsung menghampiri kedua anak mereka. Audrey memeluk sang Mommy sedangkan Axelle memeluk sang Daddy. Jelas terlihat mereka sangat kehilangan sosok sang kakek yang begitu menyayangi dirinya.
“ Mommy…Kakek…Hiks…hiks…. “ Suara dan tangis Audrey menyambut kedatangan sang kakek.
“ Sabar ya sayang…Bukan hanya kamu saja yang kehilangan, kami semua pun merasakan kehilangan. Doakan kakek ! Ini yang terbaik untuk kakek, kakek sudah tak merasa sakit lagi. “ Ucap Laura sambil menghapus air mata di pipi putri cantiknya.
Dengan setia Laura terus mendampingi sang suami dan juga ibu mertuanya.
“ Terima kasih sayang karna kamu telah memberikan kebahagiaan untuk papi di akhir hidupnya. Kamu bisa mengabulkan keinginannya untuk memiliki cucu dari Devian. “ Ucap mami sambil memandang menantunya.
“ Sama – sama mi. Laura juga bersyukur karna mami dan papi bisa menerima Laura dan juga kembar bahkan menyayangi kami. Mungkin ini semua jalan dari Tuhan meskipun awal pertemuan kami karna sebuah kesalahan. Namun jodohlah yang mempersatukan kami. “ Sahut Laura sambil memberikan senyum termanisnya.
“ Kamu seperti malaikat bagi kami. Membuat Devian berubah dan membawa Devian Kembali pada kami bahkan kamu juga memberikan kebahagian bagi kami. “ Gumam Mami membuat Laura sangat bersyukur karna mertuanya sangat menyayangi dirinya.
“ Terima kasih mi…Laura sayang mami. Laura harap mami bisa kuat ! “ Ungkap Laura sambil memeluk tubuh ibu mertuanya.
Semua proses pemakaman sudah di lalui. Orang tercinta sudah selesai mengantarkan kepergian papi, suami, mertua, dan juga kakek tercinta. Devian memilih untuk sementara waktu tinggal di rumah orang tuanya mengikuti saran istrinya. Laura merasa iba jika harus meninggalkan ibu mertuanya seorang diri. Paling tidak sampai mami Leli siap di tinggal.
Bahkan untuk menghilangkan kesepian Mami Leli mengajak kembar untuk tidur bersamanya sedangkan Laura kini hanya berdua dengan sang suami. Namun taka da adegan wik wik karna Devian masih dalam suasana berduka.
Laura mendekap hangat tubuh kekar suaminya. Bagi Devian, Laura, kembar, dan juga maminya adalah sumber kekuatan baginya untuk bangkit. Devian kini menjadi tulang punggung untuk semuanya.
“ Terima kasih sayang…Aku bersyukur atas kehadiran kamu di hidupku. Aku tak tau jadinya seperti apa diriku jika tak bertemu dirimu. Kamu adalah malaikat bagi ku, matahari penyinar ku, dan juga seperti bulan yang penerang di hidupku. “ Ungkap Devian membuat Laura merasa Bahagia.
Mungkin jika dirinya dulu tak memaafkan Devian dan menerima Devian di hidupnya, dirinya tak akan pernah merasakan bahagianya di cintai. Berawal dari sebuah kesalahan namun berakhir dengan kebahagiaan.