
Terlalu bodoh
Devian terbangun dari tidurnya dan dirinya langsung menghampiri sang istri yang masih tertidur pulas.
Karna tak ingin mengganggu sang istri, Devian memilih langsung untuk mandi membersihkan diri.
Suara gemercik air di kamar mandi membuat Laura terbangun dari tidurnya. Dirinya tersenyum karna pasti itu suaminya yang sedang mandi, sudah setia menemani dirinya semalaman.
Suara pintu kamar mandi akan di buka, Laura menoleh ke arah pintu dan Devian keluar hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya.
" Sayang...kamu sudah bangun ? Apa sudah merasa lebih enak ? " Ucap Devian lembut.
" Ya....aku sudah merasa lebih sehat. Minta lah ke dokter agar aku bisa pulang. Rasanya aku sudah sangat bosan harus terus-menerus tidur. " Sahut Laura mengiba.
" Ya...nanti akan aku bicarakan sama pihak dokter. Yang terpenting setelah pulang kamu jangan terlalu cape ! Sayang...aku pakai pakaian dulu, aku sudah kedinginan. Makanya kamu segera sembuh donk, biar soulmate ku tak kedinginan. " Devian terkekeh menggoda Laura.
" Huh...dasar mesum. Seperti nya kamu harus puasa dulu, karna kondisi kandungan ku masih lemah. " Ujar Laura.
Laura terus memperhatikan gerak gerik suaminya lakukan, hingga selesai sudah Devian memakai pakaian.
" Aku keluar dulu ya mau membeli sarapan buat kita. Kasihan jika harus menyuruh Jo ke sini. Lebih baik dirinya mengantarkan Kembar sekolah. " Ucap Devian dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Laura.
Kini Laura sendiri di dalam ruangan rawat inap nya. Pikirannya melayang kembali pada sosok Michael yang terlihat sangat licik.
" Huhft... bagaimana aku mengungkapkan semua nya pada suamiku ? Benar - benar terlalu bodoh aku hingga harus memilih untuk diam menutupi semua ini dari suami ku. " Laura mengerutuki dirinya sendiri.
Laura terus merasa gelisah, hati nya tak tenang. Karna masih menyimpan rahasia dari suaminya. Namun dirinya berharap jika suami nya sadar dan membatalkan kontrak kerjasama.
Derap langkah Devian, menyadarkan Laura dari lamunannya.
" Hei...mengapa pagi - pagi sudah melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan ? Dokter bilang kamu tak boleh stres. Cerita kan padaku apa yang terjadi pada mu ! " Ungkap Devian yang kini sudah di hadapan Laura.
Laura menggeleng lemah namun masih diam tak bicara, membuat Devian curiga bahwa ada sesuatu yang istrinya rahasia kan.
" Aku cuma takut jika akan terjadi sesuatu pada mu...Hiks ..hiks..." Ucap Laura di iringi tangisan.
Devian merangkul tubuh sang istri dan langsung memeluk erat tubuh sang istri. Namun bukannya Laura merasa tenang, justru dirinya bertambah histeris.
" Tenang saja sayang...Apa kamu tak ingat siapa suami mu ini ? Aku tak masalah jika nantinya akan terjadi padaku nanti, tapi bagi ku keselamatan dirimu dan anak - anak ku yang terpenting. " Ujar Devian dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Laura.
Laura merenggangkan tubuhnya agar bisa melihat wajah suaminya. Sungguh ada perasaan yang begitu sedih. Saat melihat wajah tampan suaminya begitu tenang, teduh , dan sorot mata yang begitu besar adanya cinta untuk nya.
Devian menghapus air mata yang membasahi wajah cantik istrinya.
" Sebenarnya apa yang kamu rasa saat ini ? Katakan padaku ! " Ucap Devian sambil tangannya meraup wajah sang istri.
" Ayo kita makan ! Kamu dan Dede bayi perlu asupan makanan agar kamu sehat kembali. " Ucap Devian sambil menyiapkan sarapan untuk istrinya.
Dengan telaten Devian menyuapi Laura makan. Ada perasaan sesak yang di rasakan Laura harus tetap menyimpan rapat rahasia bahwa Michael akan melenyapkan Devian dari muka bumi.
Senyuman hangat selalu keluar dari wajah suaminya. Sungguh dirinya beruntung bisa mendapatkan suami yang begitu setia dan menyayangi dirinya.
Dulu dirinya sempat merasakan hidup sendiri, saat sang Daddy mengirim nya ke luar negeri. Namun siapa di sangka berkat kedua anak kembarnya dirinya bisa menemukan cinta sejatinya, cinta yang tulus dari pria yang dicintainya.
Dret....Dret..
Devian meraih ponsel nya yang ada di saku celananya. Dan menekan tombol hijau.
" Ya....kamu tidak perlu ke sini ! Kamu antar kembar aja lalu langsung ke perusahaan. Cek semua pekerjaan yang harus cepat di selesaikan. Kemungkinan dalam beberapa hari aku tak bisa datang ke kantor. Jika ada yang perlu di tanda tangani, kamu bisa temui aku ! Jangan lupa urus kontrak kerjasama Perusahaan kita dengan Michael. " Ujar Devian tegas.
" Baiklah Tuan...saya akan mengurus semuanya. " Sahut asisten Jo dan mengakhiri panggilan dengan bos nya.
" Tuan ini terlalu bodoh. Sampai - sampai tak lihat mana yang benar dan mana yang salah ? Bahkan dirinya akan terancam saja, anda tak tahu. Tapi sudahlah...Aku yakin Tuan Devian bisa mengatasi nya meskipun aku juga yang akan merasa pusing...Huhft..." Celoteh Jo.
Laura sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Devian sudah mengurus semua administrasi kepulangan sang istri. Dengan telaten Devian memapah Laura ke kursi roda dan mendorong kursi roda itu keluar rumah sakit.
Tak ada perasaan gengsi yang di rasa olehnya meskipun dirinya seorang pengusaha hebat. Baginya kenyamanan sang istri yang utama.
Devian menggendong tubuh Laura dan menaikkannya ke dalam mobil. Tak lupa Devian memasangkan safety belt istrinya.
Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah sampai di kediaman milik nya. Devian langsung menggendong tubuh Laura untuk menaiki tangga membawa istrinya ke kamar.
Mami Leli yang melihat menantu dan anak nya merasa senang. Dirinya langsung menghampiri mereka ke kamar Laura dan Devian.
Tok...Tok...
Devian menghampiri pintu dan membuka nya. Ternyata mami Leli yang datang.
" Sayang... bagaimana keadaan mu ? Maafkan mami tak menjenguk mu ke rumah sakit ! " Ucap Mami Leli.
" Tak apa mi...Memang itu yang terbaik ko mi. Aku ngerti...mami kan menemani kembar. Kalau mami ke rumah sakit pasti kembar mau ikut. Aku juga sudah membaik mi, cuma harus lebih banyak beristirahat. Karna kehamilan sekarang agak lemah tak seperti saat aku hamil kembar. " Ungkap Laura.
" Kalau begitu lebih baik kamu tidur di bawah saja sama mami, kembar biar di kamarnya. Dari pada kamu harus naik turun tangga. Takutnya kamu lelah. " Sahut Mami Leli membuat Devian kesal.
Bagaimana dirinya tak kesal jika sang istri harus berpisah ranjang dengannya, dirinya harus tidur sendiri di kamar. Pastinya dia akan merindukan sosok sang istri meskipun berada satu rumah. Jelas saja dia akan menolaknya.
" Tidak...aku tak setuju ! Mana mungkin aku bisa tahan jika harus berpisah dari istri ku. Apa mami tega membuat aku mati cepat menahan rindu....? " Ucap Devian ketus.