My Kids My Hero

My Kids My Hero
Marah yang berlanjut



Marah yang berlanjut


Kondisi Laura semakin hari semakin membaik dan mulai hari ini dirinya sudah bisa di pertemukan dengan anak yang baru lahir.


Perawat datang menggendong bayi mungil yang sangat cantik dan menyerahkan pada Laura.


" Biar aku yang beri nama nya ! Aku ingin memenuhi kewajiban ku sebagai seorang Daddy. Menemani mu selama hamil , melahirkan , dan juga memberikan nama pada anak ku. " Ucap Devian membuat Laura diam terpaku.


Entah dirinya harus merasa bahagia atau kesal. Di satu sisi dirinya merasa bersyukur karna di momen kehamilan dan kelahiran putri cantiknya ini, Devian selalu ada untuknya meskipun mereka sempat bertengkar. Namun Laura masih merasa kesal dengan sikap suaminya.


" Biar aku saja ! Bukankah dulu Anda meragukan jika anak ini adalah anak anda. Dan bagaimana juga kabar selingkuhan anda sekarang ? Apa jangan-jangan kalian sudah menikah selama aku terbaring koma. " Ucap Laura ketus.


" Masih aja berlanjut marahnya. Maaf jika aku pernah menggores luka di hati mu ingat sampai saat ini masih membuat kamu tak bisa melupakan nya. " Sahut Devian.


" Aku dengan Monik tak memiliki hubungan apa - apa. Bahkan setelah kejadian itu, diriku memutuskan hubungan bisnis dengan papinya dan aku meminta dirinya untuk pergi dari hidupku ! " Ujar Devian sedangkan sang istri hanya ber o ria mendengar pengakuan sang suami.


" Terima kasih sudah hadir di hidup Mommy. " Ucap Laura pada sang anak yang kini sedang menghisap pu**** miliknya.


" Mommy akan memberi mu nama Aurelia Zifanya, yang berarti emas, bahagia , dan mahkota. Mommy berharap kehadiran mu menjadi kebahagiaan untuk semua orang yang berada di dekatnya. Dan menganggap dirimu begitu berharga seperti emas dan mahkota. " Ungkap Laura sambil mengelus pipi lembut anaknya.


" Nama yang cantik...Nama panggilan nya siapa ? " Tanya Devian yang kini ikut mengelus pipi anaknya yang satunya.


Devian hanya bisa menelan Saliva nya karna melihat penampakan yang selalu membuat nya tergila - gila yang selalu menjadi candu untuknya.


" Owh Tuhan... sungguh ini godaan yang sangat berat melebihi selama 9 bulan diriku menantikan istriku sadar. " Ucap Devian sambil menghela nafas panjang.


Laura menoleh ke arah sang suami yang ekspresi nya sudah tak karuan. Dirinya terkekeh dalam hati hingga perutnya merasa sakit hingga dirinya meringis.


" Sayang...apa yang terjadi padamu ? " Tanya Devian yang menghampiri sang istri.


" Tidak apa - apa. Hanya sedikit nyeri di bagian perut bekas operasi. " Sahut Laura datar.


" Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksa ? Sini berikan Aurel pada ku, biar kamu bisa beristirahat. " Tanya Devian khawatir.


" Tak perlu. Biar aku baringkan saja tubuhku. Mungkin belum bisa terlalu lama untuk duduk. Tolong bantu aku tidurkan Aurel di dalam box ! Laura menyerahkan Aurel ke pelukan Devian.


Laura cepat - cepat segera merapihkan kancing bajunya sebelum Devian kembali memperhatikan dirinya dengan tatapan mesum.


Dan benar saja setelah dirinya meletakkan baby Aurel, Devian langsung menghampiri Laura yang akan membaringkan tubuhnya.


" Sayang...berapa lama lagi aku harus menunggu. Asal kau tau aku sangat lah tersiksa bahkan hampir saja aku tersiksa saat harus menahan hasrat ku selama dirimu tertidur lama. " Bisik Devian di telinga Laura membuat bulu kuduknya berdiri.


" Pergi menjauh dari ku ! Jangan coba - coba dekati aku ! Bukan berarti aku mengizinkan mu di sini karna aku telah memaafkan dirimu ya ! Minta saja sana sama Monik ! " Sahut Laura ketus.


" Kamu itu masih marah aja ya ! Aku kan sudah bilang, jika aku tak pernah ada hubungan apa pun dengan Monik, masih aja mengungkit sih. Tuhan...kenapa tidak kau buat amnesia saja sih istri ku, biar dirinya tak ingat semua kesalahanku dulu ! " Ucap Devian dan langsung dapat pukulan dari Laura.


Perlahan Devian mencium bibir istrinya dan mulai mengeksplore bibir istrinya. Namun tak ada respon juga dari sang istri. ***** nya yang sudah sangat menggebu-gebu hingga dirinya menarik tengkuk Laura agar ciuman itu semakin dalam dan sang istri bisa menikmati nya.


" Aaaaw..." Laura meringis nyeri hingga akhirnya Devian menghentikan ciumannya.


" Maaf... Istirahat lah ! Biar Aurel yang menjaganya ! " Sahut Devian dan langsung dapat anggukan dari sang istri.


Dret...Dret...


Devian meraih ponsel di saku celana dan menggeser tombol hijau.


" Ya mi...Ada apa ? " Devian memulai pembicaraan.


" Dad...ini aku Rey...Aku ingin lihat Mommy dan Dede Bayur Dad..." Ucap Audrey di panggilan telpon.


" Ya udah bersiaplah ! Daddy akan menghubungi om Jo biar menjemput kalian dan membawa ke sini ! " Sahut Daddy Devian.


" Asyik...ok deh Dad...aku bersiap dulu sama nenek dan kak El...Dah Daddy...." Ujar Audrey senang.


Setelah Audrey mengakhiri panggilan, Devian langsung menghubungi Jo untuk segera menjemput kedua anak nya dan juga mami nya.


" Kak kita boleh lihat Dede bayi...cepat kakak ganti baju, aku mau kasih tau nenek dulu. " Wajah Audrey sumringah bahagia.


Audrey berlari menghampiri sang nenek yang sedang beristirahat di kamar.


" Nek...nenek ikut yuk nengok Mommy dan Dede bayi di rumah sakit ! Sebentar lagi om Jo akan jemput kita kata Daddy , kita harus segera bersiap diri ! " Ucap Audrey.


Mami Leli bangkit dari ranjang dan langsung bersiap - siap. Begitu juga hal yang di lakukan Axelle dan Audrey. Meskipun ada baby sister yang mengurus mereka, namun mereka sudah bisa mengganti pakaian sendiri. Terlepas Axelle yang sudah memiliki rasa malu jika burung nya harus di pegang wanita lain selain Mommy. Axelle lebih memilih mandi dan berpakaian sendiri, baby sister nya hanya membantu dirinya merapikan luar nya seperti menyisikan rambut dan memakaikan bedak serta merapihkan pakaian yang dia pakai.


" Jo...segera jemput kembar dan mami di rumah dan bawa mereka ke rumah sakit ! " Ucap Devian di panggilan telepon dengan Jo.


Laura yang mendengar sang suami sibuk menelpon, membuat dirinya sulit untuk memejamkan mata.


" Anak - anak dan Mami Mau ke sini ? " Ucap Laura dan langsung dapat jawaban ya dari Devian.


Mobil yang membawa kembar dan Mami sudah sampai di halaman parkir mobil rumah sakit. Audrey berjalan di gandeng dengan neneknya sedangkan Axelle berjalan beriringan dengan Jo.


Tanpa ketukan, Audrey langsung membuka pintu kamar sang Mommy. Dan langsung berhamburan ke pelukan sang Mommy.


" Mom...aku kangen. " Ucap Audrey dan langsung menggenggam tangan sang Mommy.


" Apa itu Dede bayi ku Mom ? " Kini mata nya beralih pada box berisi Dede bayi dan langsung menghampiri dirinya.


" Cantik banget Dede nya , gemes banget aku Mi. Boleh aku memegang nya ? " Ujar Audrey.