
Sekar berlarian di taman bunga yang begitu indah. Gadis itu menari bersama kupu-kupu yang bersayap cantik. Sosok tampan mendekatinya dengan sekuntum bunga mawar.
"Untukmu, gadis tercantik," ujar sosok tampan itu.
"Terima kasih," sahut Sekar dengan bingkai senyum indah.
"Aku ingin menciummu, bersiap lah," sahut sosok itu.
Sekar memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang. Ia menantikan kecupan yang memang sangat ia inginkan. Kemarin ia tak sengaja melihat sebuah film yang mempertontonkan adegan itu.
"Sekar!" gadis itu tersentak.
Gadis itu nyaris saja jatuh jika saja Danar tak menangkapnya. Brug! Keduanya jatuh, beberapa guru mendekati mereka. Bukan tak lihat. Sekar tadi menaiki sebuah pohon di belakang sekolah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya salah satu guru membantu keduanya.
"Sekar ... untuk apa kau naik pohon ini?" tanya Pak guru khawatir.
"Aku naik pohon ini?" cicit Sekar tak percaya.
"Iya Sekar, kau naik pohon seperti orang melayang," jawab salah satu guru.
"Besok Bapak tebang pohon ini!" lanjutnya.
"Jangan Pak!" teriak Sekar.
"Loh kenapa?"
"Nanti kelas kami kepanasan. Kan pohon ini menghalangi sinar matahari siang masuk," jelas Sekar yang benar adanya.
Kini ia dibawa ke kelasnya. Sekar menoleh pada arah pohon berada. Di sana sudah ada ratusan makhluk tak kasat mata melambaikan tangan termasuk sosok tampan itu.
"Anak itu mengganggu sekali," gerutu makhluk buruk rupa itu.
"Kami tak bisa mendekatinya. Dia baunya aneh dan membuat kami kepanasan," sahut mahkluk yang rata wajahnya.
ketika di kelas Sekar melirik kesal pada Danar. Gadis itu selalu gagal dicium oleh sosok tampan yang ia sukai. Danar yang tak tau dan tak bisa melihat hanya menatap teman sebangkunya aneh.
"Kau kenapa melihatku seperti musuhmu?" tanya Danar bingung.
"Aku sudah minta maaf berkali-kali soal waktu itu. Iya aku salah ... tak bisakah kau memaafkan aku!' cecarnya putus asa.
"Aku sudah memaafkanmu! Tapi bisakah kau tidak mencampuri urusanku?" sahut Sekar begitu dingin.
"Kau naik pohon dengan tubuh tegak Sekar," bisik Danar pada gadis itu.
Sekar menatap tak percaya, namun anggukan dan tatapan Danar yang pasti membuatnya terdiam.
"Pak Guru Bimo nyaris melihatmu berjalan seperti itu jika aku tak berteriak," lanjutnya.
Sekar diam, mestinya ia berterima kasih pada teman sebangkunya itu. Guru masuk, kini mereka fokus belajar. Soal pelajaran, Sekar berotak cemerlang. Gadis itu mendapat nilai tertinggi pertama setelah Danar. Ternyata tempat duduk di belakang tidak melulu membuat anak tidak fokus dengan pelajaran. Terbukti dengan Danar dan Sekar yang selalu bersaing nilai tinggi.
"Hari ini nilai tertinggi diambil oleh Danar ... selamat ya Nak!" ujar Bu guru ketika memberi kertas ujian beberapa hari lalu.
"Sekar juga nilainya sama dengan Danar, bahkan kemarin kau juga mengumpulkan pertama kali. Tapi. ada satu yang typo menurut ibu," ujar Bu Meneria guru matematika.
"Ini angka berapa Nak?" tanyanya dengan logat khas kental Sumatera Utara.
"Oh ... itu angka tiga, maaf Bu," ujar gadis itu.
Angka tiga Sekar berbentuk aneh, seperti trisula menghadap ke samping.
"Dan ini angka berapa Nak?" tanya Bu Mener lagi.
Sekar tak bisa menjawab. Ia yakin jika menulis jawaban yang benar kemarin.
"Jika kau tak beri tanda-tanda ini, aku pastikan kau bersama Danar yang mendapat nilai tinggi!" ujar wanita itu.
"Maaf Bu," sahut Sekar menunduk.
"Hei ... tidak apa-apa. Dari pada ada yang asal menjawabnya," lanjutnya.
Meneria menyuruh anak didiknya itu duduk di tempatnya. Perlakuan Mener yang manis, lembut tapi penuh ketegasan. membuat hati Sekar menghangat.
Jarang ada guru yang begitu baik menjelaskan kesalahan gadis itu. Jika di sekolahnya dulu Pak guru yang mengajar matematika sampai mengatainya dukun pemanggil arwah akibat angka-angka yang aneh itu. Padahal.jawaban Sekar benar adanya.
Istirahat berbunyi, Della tidak masuk lagi hari ini. Menurut berita yang beredar, gadis itu tidak ingin sekolah, ia ingin pindah setelah bersitegang dengan Sekar.
"Eh .. Sekar ... emang kamu penyihir ya?" tanya tiba-tiba salah satu teman kelas gadis itu.
"Penyihir bagaimana? Kalo aku penyihir, aku nggak mau sekolah," sahut Sekar kesal.
"Kata Della, dia melihat penjagamu seram-seram. Mereka mengganggunya dan meminta menjauhimu," lapor Dede panjang lebar.
"Ah ... ngarang dia itu," sela Danar tak suka.
"Ih ... aku denger gitu. Katanya Sekar punya banyak teman hantu!'
"Ngaco ... mana ada!' sahut Danar makin kesal.
"Hantu itu adanya di malam hari ... di kuburan bukan di sekolah!" lanjutnya mendumal.
Dede diam, ia memang mendengar berita itu dari mulut wali murid Della. Ibu gadis kaya itu datang dan mengurus kepindahan putrinya.
"Aku akan menyekolahkan putriku di sini asal anak yang bernama Sekar dikeluarkan karena telah membuat putri saya depresi!"
"Silahkan putri ibu keluar saja!" sahut wakil kepala sekolah.
"Putri ibu juga suka bikin keributan di kelas bahkan merokok di kamar mandi!" lanjutnya berang.
Ibunya Della terdiam, akhirnya dia pulang membawa surat kepindahan sekolah.
"Apa salah Sekar sampai harus dikeluarkan gara-gara Danar memilih Sekar menjadi teman dekatnya!" gerutu wakil kepala sekolah.
Sekar kembali pergi ke taman sekolah, gadis itu menatap pohon rindang yang ada di sana. Ada beberapa tukang kebun memangkas kerimbunan daun.
"Sekar ... main yuk!" ajak salah satu makhluk.
"Banyak orang di sini. Nanti aku disangka orang gila," bisik gadis itu.
"Sekar ... kapan aku bisa menciummu?" tanya sosok tampan.
Tangan sosok itu memanjang dan membelai bagian bawah gadis itu yang disumpal pembalut. Sekar berdesis, menikmati sentuhan itu.
Tubuhnya bergelinjang kegelian ketika tangan panjang sosok itu meraba pahanya, tangan itu makin masuk ke dalam.
"Sekar ... ayo kita ke tempat lain ... ke kamar mandi,' ajak sosok itu membuai sang gadis.
Perlahan Sekar berdiri dan mulai berjalan. Ia kembali melangkah begitu ringan laksana kapas. Melayang begitu saja hingga kamar mandi. Gadis itu masuk bilik, melepas kancing seragamnya.
"Uh!" keluhnya sakit ketika meremas sendiri gundukan dadanya.
"Kau salah meremasnya seperti itu Sekar," ujar sosok itu.
Tangan panjang dan hitam itu menjulur hendak membelai gundukan itu. Banyak mata merah menatap penuh harap.
"Ayo remas!" pekik salah satu kelepasan dan membuat Sekar tersadar dari lamunan panjangnya. Gadis itu terkejut ketika melihat keadaan dirinya yang nyari telanjang.
"Apa yang kulakukan?" desisnya.
Gadis itu buru-buru membenahi seragamnya lalu keluar toilet. Sedang sosok tampan yang berubah menyeramkan itu kini menyiksa salah satu anak buahnya tadi.
Sekar kembali berjalan melayang laksana kapas. Gadis itu pulang dengan wajah lelah. Tinah langsung meminta anak gadisnya tidur.
"Biar ibu yang mengerjakan semuanya. Istirahat lah Nak!'
Bersambung.
Wah ... makin serem.
Next?