My Ghost Friends

My Ghost Friends
PENYELAMATAN BRENDA



Brenda menggerakkan kakinya untuk mencari tumpuan pada batu. Karena pergerakan itu membuat Sekar kepayahan. Tubuh Brenda yang jauh lebih besar dari Sekar membuat gadis itu kesulitan menahan bobot anak majikannya itu.


"Nona, jangan banyak bergerak. Biar aku coba menarik Nona!" ujar Sekar.


Sekar menarik kuat tubuh Brenda, ujung sepatunya menekan kuat tanah yang ia pijak untuk menahan bobot keduanya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" pekik Sekar menarik.


Tangan Sekar tersayat oleh bibir tebing hingga membuat luka baru di lengan Sekar. Darah mengucur. Brenda menangis tertahan.


"Sekar ... biarkan aku jatuh," pintanya lirih.


"Tidak Nona! Nona harus kembali!" teriak Sekar.


"Aku tak kuat Sekar," ujar Brenda yang merasa genggaman tangannya mulai lemah.


Genggaman tangan Brenda yang tadinya di lengan Sekar, merosot hingga telapak tangan. Laju tubuh gadis itu sempat membuat keduanya berteriak. Sekar meraih lengan Brenda dengan kedua tangannya. Kini pertahanan hanya pada kaki Sekar yang menekan pada tanah.


"Sekar ...," isak Brenda.


"Ayo Nona. Minta pertolongan Allah!' pinta Sekar memohon.


"Nyonya dan Tuan sangat menderita Nona!' lanjutnya dengan suara bergetar.


Brenda melirik batu besar yang sedikit menonjol, tak jau dari jangkauan tangan kanannya. Ia segera bergerak cepat dan meraih batu tersebut.


Sekar terbantu dengan hal itu gadis itu tersenyum dan terus menyemangati nonanya. Akhirnya Sekar dapat menarik tubuh Brenda.


Napas keduanya terengah, kini mereka terlentang di tanah. Tubuh Brenda tak ada satu luka pun padahal gadis itu sudah tergelincir ke tepi jurang. Berbeda dengan Sekar yang banyak luka dengan memar di seluruh tubuhnya.


"Sekar," Brenda memeluk anak asisten rumah tangga yang selalu dihinanya itu.


Sekar bisa saja mengabaikan Brenda dan pura-pura tidak tau. Sekar bisa saja menolak permintaan ayah dan ibu dari Brenda.


Keduanya menangis tersedu. Brenda berkali-kali meminta maaf pada Sekar.


"Tidak masalah Nona, anda adalah pemilik rumah, pasti sombong dan angkuh," sahut Sekar mengerti.


Brenda sangat malu. Gadis itu sudah diajari oleh ibunya tentang sopan santun dan saling menghargai pada sesama.


"Kau mestinya bisa menolak membantuku Sekar," ujarnya lirih.


"Sudahlah ... sekarang ayo kita pulang!" ajak Sekar.


Keduanya pun bangkit dan berjalan. Mereka tentu senang karena cahaya terang tampak dari kejauhan.


"Sekar ... cahaya apa itu?" tanya Brenda.


"Itu Tuan muda Reynold, Nona," jawab Sekar.


Ada semburat merah muncul di pipi gadis itu ketika menyebut nama Reynold. Brenda dapat melihat itu, sebenarnya ia bukan tidak setuju sang kakak menjatuhkan pilihan pada Sekar. Ia hanya takut Reynold, kakaknya akan lebih sayang Sekar dari padanya.


Keduanya bergandengan tangan. Ndere yang belum menyempurnakan tubuhnya merasakan jika Sekar telah menemukan sukma yang ia tahan.


"Aarrggh!" pekiknya meraung.


Tanah tempat keduanya berdiri tiba-tiba bergetar hebat. Baik Brenda dan Sekar saling berpelukan. Tanah yang dipijak membelah hendak memisahkan mereka.


"Ayo lari Nona!" ajak Sekar lalu menggandeng tangan nona mudanya.


Keduanya berlari menyusuri jalan yang tiba-tiba banyak kelokannya. Retakkan jalan seakan mengejar kedua gadis itu.


Sreek! Sreekkk! Sreekkk! Rimbunan pohon pagar menghalangi keduanya. Tiba-tiba tubuh Brenda ditarik kebelakang. Genggaman tangan Sekar terlepas.


"Sekar ... tolong!" teriak Brenda ketakutan.


Sekar melompat ke arah nona mudanya. Memeluk kaki Brenda. Tarik menarik terjadi, Brenda ditarik oleh sepuluh makhluk astral dengan berbagai bentuk.


"Lepaskan nonaku!' pekik Sekar menarik kuat tubuh Brenda.


"Sekar ... ikut kami maka ia kulepaskan!" ujar para mahluk halus itu.


"Tidak akan pernah!" teriak Brenda mulai berani.


Kini Brenda berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari jeratan iblis yang menahannya. Gadis itu mulai merapal doa yang ia ingat. Brenda sedikit menyesal tidak belajar mengaji seperti kakaknya, Reynold. Ia buta huruf Hijaiyah.


"Baca surah Al-fatihah Nona!' pinta Sekar.


Sementara di tempat yang sama Reynold terus membaca doa untuk Brenda dan Sekar. Pemuda itu tak luput dari godaan para setan yang tentu tidak mau usaha mereka gagal untuk kedua kalinya.


"Ayolah Rey ... masa kau melewatkan aku," rayu sosok yang sangat cantik dan begitu seksi.


"Reynold," bisik sosok itu.


Suara itu menggelitik siapapun. Jika iman mereka setipis kertas, pasti akan terbuai dan langsung akan menerjang dan memekik nikmat bergumul dengan makhluk tak kasat mata itu.


"Rey ... ayolah sayang," pinta wanita itu begitu menggoda dan menggetarkan birahi laki-laki manapun.


Reynold yang duduk bersila, terus memusatkan fokusnya. Munafik jika ia tak sempat tertarik. Tetapi, bayangan Brenda dan Sekar di dalam mimpinya membuat ia sadar.


"Aku tak mau mengorbankan mereka demi kenikmatan sesaat!" tekadnya terus memperdalam dzikir dan doanya.


Pemuda itu benar-benar berpasrah. Ia mengingat perkataan Pak Ahmad, guru agama Sekar. Pria itu bukan hanya sekali mendapat godaan yang membakar hasratnya sebagai lelaki.


"Percayalah, apa yang kamu lihat itu tidak seindah kelihatannya," ujar pria itu.


Sementara di labirin. Sekar harus berkali-kali jatuh bangun untuk mendapatkan nona mudanya. Ndere benar-benar mengerahkan kekuatan terakhirnya.


"Ibu ... tolong Sekar Bu ... Sekar sudah nggak kuat," gumam gadis itu makin lemah.


"Sekar ... Sekar!" pekik Brenda yang hendak ditelan oleh tumbuhan berpagar.


Hanya satu dipikiran Sekar saat ini.


"Jika Nona ditelan oleh tumbuhan itu. Maka aku harus ikut Nona. Biar kami hilang bersama."


"Bismillahirrahmanirrahim!" lanjutnya bergumam secara perlahan.


Sekar melompat dan memeluk Brenda. Gadis itu terkejut ketika melihat anak perempuan dari asistennya itu memilih ikut bersamanya.


"Nona," Sekar menatap Brenda.


"Panggil aku Kakak sayang," pinta Brenda.


Titik bening jatuh dari sudut mata gadis itu. Sekar tersenyum.


"Kak," panggilnya lirih.


Brenda memeluk Sekar dan bersiap melindungi adiknya. Hingga terdengar teriakan begitu menakutkan.


Reynold datang mencabik semua iblis hingga mati mengenaskan. Ndere jadi bulan-bulanan oleh pemuda itu. Mahkluk itu menjerit minta ampun pada Reynold.


"Kak!" panggil Brenda.


"Tuan ...," Sekar menghentikan panggilannya.


"Sayang," lanjutnya begitu lirih.


Perlahan pandangannya pun gelap seketika.


Bau obat-obatan tercium di indera penciuman gadis itu. Kelopak matanya perlahan bergerak.


"Uuuhh!" keluhnya sakit.


"Sekar, kau sadar Nak!" pekik gembira dari sebuah suara yang dikenalnya.


Sekar mengintip, tubuhnya dibaluti perban, gadis itu sudah seperti mumi. Dokter memeriksanya, lalu tak lama mengangguk melihat perkembangan drastis yang diperlihatkan Sekar.


"Non Brenda!" panggilnya mengingat.


"Nona enggak apa-apa, Nak," ujar Tono lalu mencium lembut kening putrinya yang juga terbalut perban.


Hingga tiga hari balutan perban itu sudah dilepas. Kini Brenda menyuapi Sekar buah jeruk yang sangat manis.


Tono melihat betapa perubahan anak majikannya itu pada putrinya. Pria itu mengingat ketika sukma mereka kembali ke tubuh masing-masing.


"Pak ... ampun, Brenda minta maaf Pak!"


Brenda menangis memeluk kaki Tono. Pria itu tentu memaafkannya. Brenda tak pernah mau lepas dari sisi Sekar yang masih koma waktu itu.


"Benar kan Pak, kata Ibu," ujar Tinah lirih.


Tono mengangguk, anak gadisnya adalah gadis pilihan dari Allah. Ia berharap setan-setan teman putrinya tak akan mengganggu Sekar selamanya.


Bersambung.


Akhirnya ... lega.


Next?