My Ghost Friends

My Ghost Friends
LABIRIN SESAT 3



Danar menatap Sekar penuh kebencian. Gadis itu berlari menuju teman sekaligus pacarnya itu. Namun sayangnya, pohon-pohon bergerak menutup dan menghalangi jalan Sekar.


"Danar!" pekik Sekar.


"Bagaimana Sekar?" sosok merah berputar mengelilinginya laksana asap.


"Lepaskan Danar!" pinta Sekar lirih.


"Hihihi!" kikik sosok merah itu.


"Ikut kami Sekar ... maka Danar akan kami lepaskan!' lanjutnya dengan leher memanjang.


Sekar sampai terjatuh karena mendongak terlalu tinggi. Kepala itu menjulur seperti ular yang meliuk mendekati wajah Sekar.


"Bagaimana Sekar? Semua temanmu aku kembalikan satu persatu, begitu juga Danar," ujar sosok itu berbisik.


"Tolong!" teriak salah satu murid kelas yang dikenali suaranya oleh Sekar.


"Maria?"


"Bangsat!" teriak sosok itu.


Sekar merangkak, gadis itu mendirikan tubuhnya yang sudah sakit luar biasa. Darah menetes di bibirnya, ia tak peduli yang paling penting, Sekar bisa menolong satu temannya lagi.


Sosok merah itu mengejar Sekar yang berlari leher panjangnya mengikuti gadis itu. Berusaha mengganggunya. Sedang di tempat lain seorang ibu tengah memegang rosario. Ia meminta pada Tuhannya melindungi sang putri.


"Tuhan ... selamatkan putriku," pintanya lirih. "Ampuni juga aku Tuhan!"


Magdalena tadi pagi bertengkar hebat dengan sang putri. Wanita single parent itu membentak Maria yang terus menerus membuatnya pusing kepala itu.


"Jangan ganggu Mama ... kamu itu dari tadi ribut melulu!" sentak sang ibu pada putrinya.


"Gimana nggak ribut Ma. Selama ini Mama sibuk cari uang buat siapa? Uang sekolahku sudah nunggak dua bulan!" teriak Maria.


"Mama ada keperluan. Itu bukan urusanmu!" sentak Magdalena.


"Apa ini karena Om Pedro?" tanya Maria.


"Nggak ada hubungannya. Kau jangan bicara sembarangan!" elak Magdalena.


Wanita itu memang sedang jatuh cinta dan menjalin hubungan tak sehat. Maria menduga ibunya hanya diperalat oleh pria itu.


"Om Pedro minta uang kan ke Mama. Mama itu hanya diperalat Ma!" teriak Maria menyadarkan ibunya.


Plak! Satu tamparan keras ia layangkan ke pipi sang putri. Maria menatap ibunya nanar, air mata gadis itu perlahan turun. Maria berangkat dalam kebungkaman. Magdalena menatap telapak tangannya yang tadi menampar pipi putrinya.


"Sayang ... maafkan Mama sayang ... maafkan Mama ... hiks ... hiks!"


Sedang di tempat labirin. Sekar berusaha mengingat doa-doa yang ia tahu untuk bisa lari dengan cepat.


"Kakiku ... berat!" keluhnya.


Sekar harus menyeret kakinya untuk berlari. Maria tampak ditarik bajunya. Gadis itu sekuat tenaga berpegangan pada sebuah batu kecil.


"Maria, berdoa menurut agamamu!" pinta Sekar.


Gadis itu terjatuh, tangan Sekar menggapai tangan Maria. Ndere menarik kaki Sekar agar tak bisa menyentuh Maria.


"Sekar .... hiks ... hiks!" Maria menangis juga berusaha menggapai Maria.


"Pak Ahmad!" teriak Sekar.


Sedang di tempat Ahmad. Pria itu mendengar jeritan Sekar yang seperti meminta pertolongannya.


"A'udzu biwajhillahil karim, wabikalimatillahit-tammati lati la yujawizuhunna barrun wa fajrun, min syarri ma yanzilu minas-sama'i, wa min syarri ma ya'ruju fiha, wa min syarri ma dzara'a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahari, wamin syarri thawariqil laili, wamin syarri kulli tharinin illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman! artinya:Aku berlindung dengan zat Allah yang Maha Mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit."


"Dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi dan keburukan fitnah-fitnah siang dan malam dari keburukan petaka-petaka malam dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai zat yang Maha Penyayang!"


Sekar mampu menggerakkan kakinya dan menggapai jemari Maria. Kedua gadis itu akhirnya saling menarik satu dan lainnya. Maria langsung memeluk Sekar.


"Huuu ... uuuuu!" tangisnya tersedu-sedu.


"Kamu jalan ke sana ya, ada Pak Ahmad menunggu," suruhnya.


"Apa benar?" tanya Maria masih sesenggukan.


"Iya, cari cahaya paling terang dari cahaya yang lain. Pokoknya yang kau lihat hanya Pak Ahmad bukan lainnya ya," terang Sekar.


Maria mengangguk, gadis itu langsung berlari ke arah jalan yang dituju Sekar, gadis itu langsung bisa menemukan guru agama temannya itu.


"Pak ... Bapak!" teriaknya.


"Kemari Nak!" lambai Ahmad pada salah satu muridnya.


Gadis itu memeluk Dita. Kini mereka harus menunggu lagi yang lain. Sementara di luar sekolah beberapa wali murid datang. Mereka seperti merasa ada yang tak beres terjadi. Salah satu orang tua murid mencoba mengintip jendela di mana para murid kelas dua sedang melakukan kegiatan belajarnya.


"Ah ... nggak ada apa-apa kok," gumamnya lega.


Sedang di ruang kelas dua A, memang terlihat jika para murid menatap papan tulis dengan serius, tetapi sukma mereka terperangkap dalam labirin yang menyesatkan mereka.


Sekar sudah mendapat empat orang temannya. Tubuh gadis itu mulai lemah. Sosok merah itu makin murka dengan keberhasilan Sekar menyelamatkan salah satu tawanannya.


"Kau tak perlu susah Sekar!" teriaknya dengan suara besar.


"Percayalah jika semua akan aku lepaskan asal kau ikut kami!" lanjutnya.


Sekar memilih tak menjawab perkataan makhluk itu. Gadis itu terus berjalan dengan terseok memanggil satu persatu teman sekelasnya.


"Amir!" teriak Sekar melihat salah satu temannya hendak memanjat pohon yang menghalanginya.


Remaja jangkung itu terlihat panik dan emosional. Sekar kembali mendatangi temannya itu.


"Tadi ... tadi nggak ada jalan!" ujar remaja laki-laki itu ketakutan.


"Ada jalan jika mau berusaha Amir," ujar Sekar.


"Ayo ikut aku," lanjutnya mengajak temannya itu.


Amir memutar kepalanya, dalam penglihatan remaja itu ia berada di tebing yang sangat tinggi sedang Sekar ada di tepi jurang dengan jalan yang sangat kecil.


"Aku takut Sekar," ujarnya lirih.


Sekar berusaha menggapai tubuh temannya itu. Entah mengapa tiba-tiba mereka berjarak dengan parit besar dengan banyak hewan berbisa di dasarnya.


"Amir ... berdoalah ... minta perlindungan pada Allah!" teriak Sekar serak.


"Ibu," panggil Amir lirih.


"Ibu ... maaf, Amir yang ambil uang ibu kemarin ... hiks ... hiks!" remaja itu pun menyesali perbuatannya.


Amir ingat jika kemarin ia mengambil uang yang dikumpulkan oleh sang ibu dari berjualan di pasar. Uang itu untuk membayar uang sekolahnya dan dua adiknya yang masih kecil. Amir ingin sekali membeli game yang telah ia inginkan selama ini.


"Nak, uang itu untuk bayaran sekolah Nak!" ujar sang ibu ketika melihat tak ada uang di tempatnya.


"Kenapa tanya aku ... emang anak ibu aku aja apa!" teriak Amir.


Remaja itu mengumpat sang ibu.


"Aku juga nggak sudi lahir dari wanita miskin sepertimu!" teriak Amir meninggalkan sang ibu yang terhenyak.


"Ibu ... maafin Amir ibu ... hiks .... hiks!'


Sementara di sebuah rumah sederhana. Seorang perempuan tampak menangis bersujud, wanita itu memohon pengampunan untuk putranya yang telah kurang ajar padanya.


Bersambung.


Ah ... ada banyak air mata nih ... sepertinya teman-teman kelas Sekar bermasalah sama ibu mereka.


next?