My Ghost Friends

My Ghost Friends
BRENDA 3



Sekar berjalan menyusuri lorong demi lorong labirin yang terbuat dari tumbuhan pagar yang rimbun. Entah berapa kali Sekar menemukan jalan buntu hingga ia harus kembali memutar arah.


Tidak seperti labirin yang kemarin. Banyak murid yang dicari memudahkan Sekar dalam pencarian, karena setiap menemukan temannya. Gadis itu mendapat kekuatan doa dari teman-teman yang telah ditemukan.


"Nona Brenda!" pekik Sekar memanggil anak majikannya.


Tempat itu begitu terik, panas begitu menyengat. Peluh Sekar mulai membanjiri tubuhnya. Ndere ada di sana memakai jubah kebesarannya.


"Sekar!" panggilnya.


Gadis itu terhenti langkahnya. Ia menatap tajam sosok menyeramkan di depannya. Gadis menebalkan keberaniannya.


"Apa maumu Ndere?" tanyanya dengan pandangan menantang.


"Kau ikut kami Sekar ... hanya itu. Maka semua akan kembali seperti semula," jawab Ndere.


Makhluk itu begitu cantik, dengan wujud sebagai perempuan berkulit putih, pembuluh darahnya sampai kelihatan karena kulitnya yang begitu tipis. Ndere memakai mahkota tiara yang sangat indah. Tubuhnya melayang memutari Sekar diam mematung.


"Lihat itu Sekar. Lebih indah bukan dari sebelumnya?" tanyanya berbisik.


Sekar melihat keindahan sebuah singgasana. Kursi kayu berukir dengan dilapisi emas. Belum lagi batu-batu permata yang mengerlip indah memukau mata memandang.


"Kau ingin seperti apa Sekar?" tanya Ndere.


"Aku akan mengambulkannya," lanjutnya.


Impian Sekar memiliki kamar dengan nuansa pink dan emas dibuat jadi nyata oleh Ndere. Tempat tidur dengan kasur bulu angsa yang lembut dengan banyak bantal bersusun. Seprei warna dusty pink dengan bordiran bunga benang emas. Kelambu warna putih dengan serpihan emas menggantung di ujung dinding.


"Kamar seperti ini kan yang kau inginkan Sekar?" tanya Ndere lagi tersenyum.


"Jika mimpimu begitu sederhana, aku membuatnya istimewa Sekar," lanjutnya.


Banyak aneka buah terpajang di dua nakas mengapit ranjang berukuran besar. Di sana sosok tampan yang membuat Sekar melayang dan nyaris merasakan pelepasannya.


"Hai Sekar ... kemari sayang!" ajak sosok tampan itu lalu membuka selimut.


Sosok itu bertubuh kekar dengan otot perut yang terbentuk. Makhluk itu bugil jika ia membuka semua kain yang menutupi setengah tubuhnya yang duduk di ranjang.


"Ayo sayang!" ajak sosok tampan itu begitu seksi dan menggoda siapapun.


"Tidak!" Sekar mundur.


"Sekar!" Ndere hendak menyentuh gadis itu.


Percikan api tercipta di tangan Ndere. Tangannya tembus tubuh Sekar hingga tak mampu menyentuh gadis itu.


Sekar memilih berlari, Ndere mengejarnya. Gadis itu terus berlari dengan segenap tenaganya.


"Sekar ... Sekar!" teriak Ndere.


Brug! Sekar terjatuh karena terantuk batu. Lututnya lecet dan berdarah. Suasana boleh panas tapi begitu mencekam. Napas Sekar mulai sesak dan satu-satu.


"Sekar ... kau di mana?" tanya Ndere dengan tubuh memajang.


Mahkluk itu berubah dengan wajah menyeramkan. Matanya hitam semua dengan empat taring yang menyelip diantara bibirnya.


"Sssshhhhekarrrr!" bisiknya keras.


Sekar mulai ketakutan, ia memilih masuk dalam rimbunan tanaman pagar lebih dalam, ia bersembunyi di sana.


Ndere melewati Sekar. Gadis itu menutup mulut dengan tangan dan juga matanya. Sebisa mungkin ia memperkecil gerakannya agar Ndere tak menemukan keberadaan dirinya.


"Sekar ...!" panggil Ndere.


Tubuh makhluk itu mulai memanjang. Kepalanya berputar 360°. Ndere berteriak memanggil Sekar hingga membuat tempat itu bergetar hebat.


Sekar nyaris berteriak ketika tanah di bawahnya seperti terbelah.


"Keluar Sekar ... atau Brenda akan mati tenggelam!" teriak Ndere mengancam.


Sekar tetap dalam diamnya. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, namun kali ini matanya terbuka lebar. Dadanya sesak luar biasa karena ia terlalu lama menahan napasnya.


Ndere memendekkan tubuhnya. Rambutnya yang panjang dan kaku sangat bau di penciuman Sekar.


Gadis itu nyaris muntah ketika Ndere ada di hadapannya. Jarak antar keduanya hanya setengah meter saja. Ndere menatap di mana Sekar berada. Gadis itu buru-buru menutup mata.


Tak ada kejadian yang signifikan di hunian mewah itu. Semua maid bekerja seperti biasanya. Mereka sama sekali tak merasakan apapun.


Sementara di lantai dua. Empat manusia masih duduk bersila. Tinah berinisiatif mengambil bantal untuk alas duduk suami dan tuannya.


"Tuan, biar nyaman," ujar wanita itu menyerahkan bantal empuk.


Bastian menggeleng, ia menolak. Baginya dinginnya lantai tak sebanding dengan apa yang dialami dua anak gadis yang kini duduk diam itu.


Sementara di tempat labirin. Ndere tak bisa melihat keadaan teman nyatanya itu. Tubuhnya kembali melar dan menghilang dari pandangan Sekar.


"Apa masih ada?" tanyanya gusar dalam hati.


Gadis itu memilih mengintip, ia membuka sedikit matanya melihat jika Ndere sudah pergi dari tempatnya.


"Alhamdulillah!" ujarnya lega ketika Ndere tidak ada di hadapannya.


Sekar menghirup udara rakus. Perlahan ia keluar dari persembunyian. Gadis itu berjalan merangkak agar langkahnya tak diketahui oleh Ndere.


Yakin Ndere tak lagi mengikutinya, ia pun kembali berjalan mencari keberadaan Brenda.


Sedang Brenda masih tersedu. Ia duduk bersandar di batu besar. Air matanya mengalir tiada henti-hentinya. Matanya sudah bengkak dan hidungnya sudah mampet.


"Mommy ... hiks ... maafin Brenda!' pinta gadis itu kapok.


"Brenda capek Mom, mau tidur ... lapar juga ... hiks ... hiks!" rengeknya lalu menangis pilu.


"Huuuu ... uuuu ... Mommy ... hiks ... moh ... ehemmy hiks ... hiks!" ujarnya tergugu.


Sekar terus berputar mencari keberadaan nonanya. Gadis itu terkadang harus berkali-kali memutar jalan karena mendapat jalan buntu.


Sementara itu Reynold pulang dalam keadaan lelah, ia bersama adiknya. Charlie juga turun dari mobil dalam keadaan sangat mengantuk.


"Assalamualaikum , Mom!" teriak Rey ketika masuk rumah.


"Tuan muda!" sapa salah satu maid.


Koper-koper ditarik beberapa maid laki-laki.


"Itu semua pakaian kotor!" ujar Rey.


"Oh ya, semua paper bag ini taruh kamarku!' lanjutnya memberi perintah.


"Mana Mommy?" tanya Charlie.


"Di atas Tuan muda," jawab maid.


Charlie dan Rey hanya mengangguk. Karena begitu lelah semua memilih naik lift. Bangunan itu ada tiga tingkat. Kamar Reynold dan Charlie ada di lantai paling atas. Sedang lantai dua adalah kamar adik dan juga kedua orang tuanya.


Keduanya memilih masuk kamar masing-masing. Jika Charli langsung merebahkan diri ke ranjangnya dan terlelap. Sedang Reynold memilih membersihkan diri. Pemuda itu memutuskan untuk menunaikan shalat ashar yang ia gabungkan dengan sholat dhuhur yang tertinggal karena di perjalanan.


Reynold sebisa mungkin untuk menunaikan ibadahnya secara rutin.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujarnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Pemuda itu mulai berdzikir, sejenak ia terhenti. Reynold merasakan hal aneh di sekitarnya. Tetapi, ia menggeleng untuk mengusir halusinasinya.


"Tidak ada apa-apa yang terjadi ... jangan tergoda oleh bujuk rayu setan, Rey!" peringatnya pada diri sendiri.


Sementara itu Sekar masih terus memanggil nama nonanya. Kaki gadis itu mulai kembali bengkak. Sudah lebih dari lima jam ia berjalan Tapi tanda-tanda keberadaan Brenda, sang nona tak muncul juga.


"Nona!" teriaknya lagi. "Kau di mana!"


"Pergi kau Sekar! Aku tak membutuhkanmu!" teriak suara yang Sekar kenali.


"Nona?" panggilnya.


"Pergi kau! Enyah dari hidupku!" usir suara itu.


Bersambung.


Eh ... apa itu Brenda beneran atau 😱


next?